Bab 2

Ibu mertua terdiam, kemudian melihat hasil tes yang tergeletak di lantai.

Aku melihat kilatan kepanikan di wajahnya. Saat aku bertanya-tanya terhadap reaksinya, ibu mertuaku mengangkat tangannya dan menamparku. "Eza bukan cucu kita? Kenapa kamu bisa melakukan hal seperti itu? Apa Hamdi kurang baik kepadaku? Kenapa kamu melakukan hal hina seperti itu?"

Ayah mertua menimpali, "Panggil orang tuamu, aku ingin bertanya kepada mereka bagaimana mereka membesarkan anak perempuan mereka. Kamu melakukan semua ini apa nggak takut karma?"

Aku menahan emosiku. "Untuk terakhir kalinya aku jelaskan, Eza anak kandung Hamdi. Kalau nggak percaya, kita lakukan tes DNA lagi setelah Hamdi pulang nanti."

Ayah mertua tidak menjawab dan hanya memelototiku.

Ibu mertua menegurku, "Kamu sudah melakukan sesuatu yang memalukan, sekarang kamu masih seberani ini? Kalaupun Hamdi pulang, dia nggak akan memaafkanmu. Masih mau tes DNA? Bukannya hasilnya sudah jelas di depan mata? Kalau Eza anak kandung Hamdi, bagaimana mungkin dia nggak sedarah sama ayah mertuamu? Kamu mau bekerja sama dengan rumah sakit untuk menipu kami?"

Aku baru akan membantah, tiba-tiba melihat Eza keluar dari kamar. "Kakek, Nenek, kenapa kalian ribut-ribut? Apa makan malam sudah siap?"

Melihat Eza keluar, ayah mertua seperti kehilangan akal sehatnya. "Siapa yang kamu panggil Kakek Nenek? Jangan panggil kami begitu! Aku nggak tahu kamu anak haram dari keluarga mana, keluar dari sini!"

Eza belum pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya, jadi dia langsung melompat ke dalam pelukanku dan mulai menangis tersedu-sedu. Dia tidak tahu kenapa kakek dan nenek yang biasanya memperlakukannya dengan baik, saat ini begitu galak kepadanya.

Suara tangisannya membuat ayah mertua makin kesal. Dia melempar Eza ke sofa dan mencekik Eza. "Kamu nangis? Apa selama ini kami terlalu memanjakanmu? Pergi dari sini dan temui ayah kandungmu! Jangan tinggal di rumah kami!"

Ibu mertua berdiri mematung, tidak tahu harus berkata apa.

Melihat wajah Eza mulai memerah, aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman tangan ayah mertua, lalu menarik Eza ke belakangku.

Aku tidak kuasa menahan tangis. "Kita tunggu sampai Hamdi kembali dan membicarakan langkah selanjutnya. Apakah Eza anak kandungnya atau bukan, dia bisa memutuskannya sendiri."

Ayah mertua menjatuhkan tangannya, menatapku tanpa mengatakan apa pun dan kembali ke kamarnya.

Aku kembali ke kamarku sambil menggendong Eza. Aku mengirim pesan kepada Hamdi terkait apa yang barusan terjadi.

Namun yang mengejutkanku adalah, dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya membalas empat kalau dia akan segera kembali.

Melihat balasan yang begitu dingin itu, hatiku tiba-tiba menjadi tidak enak.

Ketika suamiku pulang, waktu sudah mendekati tengah malam.

Mendengar gerakan di luar, aku dengan hati-hati menutupi tubuh Eza dengan selimut, lalu keluar dari kamar.

Ketika melihat Hamdi, kesedihanku tidak bisa ditahan lagi, "Apa kamu tahu bagaimana Ayah memperlakukan Eza hari ini? Semuanya masih belum jelas, tapi dia mencekik Eza. Ayah juga bilang akan mengusir kami, apa kamu akan diam saja? Kalau nggak ada aku ...."

"Masih mau bicara? Aku baru pulang, apa kamu nggak kasih aku waktu buat istirahat sebentar?"

Hatiku terasa dingin saat melihat tatapan matanya yang begitu acuh.

Hasil tes DNA masih tergeletak di atas meja, tetapi dia tidak terlihat ingin membacanya.

Di mataku, sikapnya ini seakan dia sudah menerima hasil ini.

Ayah dan ibu mertuaku pun keluar saat mendengar keributan kami.

"Hamdi, akhirnya kamu pulang juga. Kalau kamu nggak pulang, keluarga ini akan berantakan! Tanya sama dia, sebenarnya Eza anak siapa?" Ibu mertuaku bertanya lebih dahulu.

Ayah mertuaku tidak bersuara, hanya menatapku dengan tajam.

Setelah beberapa saat, barulah suamiku berbicara, "Di mana anak itu?"

Bab 3

Anak yang dia maksud adalah Eza.

Menyadari hal ini, aku langsung mengerti bahwa dia sendiri pun tidak percaya bahwa Eza adalah anak kandungnya.

Aku menarik napas panjang. "Hamdi, kita sudah menikah selama empat tahun, sudah saling mengenal selama enam tahun, kamu masih nggak tahu aku ini orang seperti apa? Nggak masalah kalau kamu nggak percaya padaku, tapi jangan pernah meragukan Eza."

Suamiku terdiam sejenak. "Baru empat tahun, apa yang bisa dibuktikan? Terlebih lagi, Eza nggak mirip denganku sejak dia lahir. Semua orang juga bilang begitu. Kamu ingin aku berpikir bagaimana?"

Aku benar-benar tercengang, tidak tahu bagaimana akan melanjutkan pembicaraan dengan keluarga ini.

"Baiklah, karena kalian nggak percaya kalau Eza anak kandung Hamdi, ayo kita ke rumah sakit dan lakukan tes DNA. Kita pergi sekarang juga dan aku akan membangunkan Eza."

Setelah mengatakan ini, aku hendak melangkah ke kamar, tiba-tiba Hamdi menarik lenganku.

Dia melemparku ke samping dan berkata dengan penuh kemarahan, "Masih belum cukup? Kamu masih mau buat keributan di rumah sakit? Apa kamu nggak malu? Kamu ingin semua orang tahu tentang hal memalukan ini? Kamu ingin semua orang tahu kalau aku membesarkan anak orang lain?"

Aku merasa perkataannya sangat lucu. "Kenapa harus malu? Aku nggak melakukan kesalahan apa pun! Bukankah kalian nggak percaya? Kalau begitu lakukan tes DNA lagi saja!"

Dalam keheningan malam, suaraku terdengar sangat jelas dan tegas.

Tepat ketika suamiku akan berbicara, ibu mertua tiba-tiba menyela, "Mau ngapain ke rumah sakit? Bukankah hasil tes ini sudah bisa dijadikan jawaban? Apa kamu mau bilang kalau ayah mertuamu mengarang cerita dan ingin menjebakmu? Atau kamu sudah melakukan persiapan di rumah sakit, jadi tinggal menunggu kami masuk jebakan? Apa masih belum cukup kamu membodohi kami selama ini?"

Mendengar kata-kata yang tidak masuk akal ini, aku menatap ibu mertuaku dengan sorot tidak percaya.

Dia biasanya lembut dan sabar, tidak pernah bersikap kasar dan keras kepala seperti ini.

Apa yang salah dengannya?

Aku mengepalkan tangan, tahu bahwa apa pun yang aku katakan sekarang, mereka tidak akan mempercayaiku.

Suasana menjadi hening untuk waktu yang lama. Tiba-tiba, suamiku mengambil hasil tes DNA dan meliriknya sekilas.

Dia melemparkan kertas itu ke arahku. "Sudah jelas tertulis bahwa Eza nggak punya hubungan darah sama Ayah. Kalau dia memang anak kandungku, mana mungkin dia nggak punya hubungan darah sama Ayah? Apa lagi yang ingin kamu katakan? Atau menurutmu pihak rumah sakit memalsukan hasil ini?"

Aku menggertakkan gigi dan menjawab, "Aku nggak tahu kenapa hasilnya bisa seperti ini, tapi aku yakin kalau ada yang salah dengan laporan ini. Kalau kamu percaya padaku, pergi lakukan tes lagi sama Eza. Setelah hasilnya keluar, semuanya akan jelas."

Suamiku mencibir, "Kamu pikir antara kamu dan ayahku, aku akan lebih mempercayaimu?"

Mendengar hal ini, seluruh tubuhku menegang.

Meskipun aku sudah tahu bahwa dia tidak akan mempercayaiku, mendengarnya mengucapkan kata-kata ini secara langsung tetap membuat hatiku bergidik.

Aku tidak ingin berdebat lebih jauh, jadi aku langsung bertanya dengan terus terang, "Lalu, apa yang kamu mau sekarang? Mengusir kami dari rumah ini?"

Mendengar itu, ayah mertua berdiri dengan marah, "Kamu akhirnya ngaku juga! Kamu nggak bisa pura-pura lagi, ya? Harusnya sejak awal Hamdi nggak usah nikah sama kamu! Kamu bikin kita ngurus anak orang lain selama tiga tahun! Kamu mau kasih ganti rugi pakai apa?"

Ibu mertuaku juga menimpali, "Ya, dari pagi sampai malam aku memperlakukan seperti anak sendiri, sekarang kamu malah memperlakukan kami seperti ini? Di mana hati nuranimu?"

Aku tidak bisa menahan diri lagi dan membalas dengan suara keras, "Kapan aku mengakuinya? Kalian jangan main-main dan bicara omong kosong! Kalian hanya mau menyalahkanku tanpa mau tahu kebenarannya. Kalianlah yang nggak akan percaya dengan apa pun yang aku katakan!"

"Plak!"

Pipiku terasa panas dan sakit. Saat ini, tangan suamiku masih menggantung di udara.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B56988" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B56988
Salin

Suami Labil

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya