Bab 3
Keesokan harinya.
Shanaya terbangun karena jam biologisnya. Begitu membuka tirai, yang terlihat di luar hanyalah awan gelap.
Ramalan cuaca tidak menyebutkannya.
Namun, hujan turun dengan deras.
Bahkan dari balik kaca, Shanaya bisa merasakan dinginnya merambat masuk.
Dia mengganti pakaian dengan gaun rajut, dan saat sedang mencuci muka, terdengar suara gaduh dari koridor.
Suara itu cukup besar.
Sangat berisik.
Orang yang tidak tahu pasti mengira ada tukang renovasi yang masuk rumah.
"Bi Santi, ada apa ini..."
Shanaya mengangkat rambut panjangnya sembarangan, membuka pintu kamar, dan belum selesai bicara, dia sudah terpaku di tempat.
Bukan tukang renovasi yang masuk rumah, tetapi seolah ada pasukan menyerbu desa.
Biasanya rumah selalu bersih dan tertata rapi.
Namun, sekarang sudah kacau balau.
Bantal sofa yang seharusnya berada di lantai satu, kini muncul di depan pintu kamarnya, dengan noda coklat tua yang entah apa.
Vas bunga pecah terguling di lantai.
Lukisan cat minyak di koridor yang nilainya mencapai miliaran juga sudah rusak.
Singkatnya, benar-benar pemandangan yang membuat mata terbelalak lebar.
Bi Santi hampir memohon saat mengejar Verzio dari belakang. "Tuan Verzio, jangan main yang itu, itu set teh kesayangan Nyonya Shanaya..."
Brak!
Belum selesai ucapannya, barang itu sudah pecah berantakan.
Verzio menjulurkan lidah seperti penguasa kecil, bersungut-sungut. "Heh! Aku mau main! Om bilang rumah ini sekarang milikku! Kamu cuma pembantu, tidak berhak mengaturku!"
Begitu kata-kata itu meluncur, dia mendongak dan melihat Shanaya yang menatapnya dingin.
Refleks, dia langsung menyusutkan lehernya.
Perempuan jahat ini!
Dia sampai bermimpi buruk semalam.
Dikejar Santa Claus dan monster semalaman.
Dia harus mengusir perempuan jahat ini dari rumah!
Ibu bilang, selama perempuan ini pergi, maka Om hanya akan menjadi milik dia dan Ibu!
Tatapan Shanaya tenang. "Silakan main, teruskan saja."
"Serius?"
Verzio hampir tidak percaya.
Dia sudah menghancurkan begitu banyak barang kesukaan perempuan jahat ini, tetapi dia sama sekali tidak marah?
Shanaya berdiri di dekat pagar tangga, melirik ke bawah pada Bianca yang tampak tidak tahu apa-apa, lalu tersenyum sambil mengangguk. "Tentu. Tapi ada satu syarat. Lukisan cat minyak yang tergantung di ruang tamu bawah, jangan kamu sentuh. Itu barang favoritku."
Dia tidak tahu, apakah semua ini hasil hasutan Bianca atau ide Verzio sendiri.
Namun, itu tidak penting.
Bagaimanapun, dia bukan orang suci.
Seseorang pernah mengajarinya, kalau sampai diperlakukan tidak adil, maka balaslah sepuluh kali lipat.
Mata Verzio berkilat. "Oke!"
Selesai berkata, dia langsung lari seperti anak panah yang melesat.
Bi Santi tampak tak berdaya, "Nyonya Shanaya, Anda dan Tuan terlalu memanjakan anak itu..."
"Tidak apa-apa."
Shanaya menenangkan. "Anda tidak perlu melarangnya juga. Dia cucu satu-satunya Keluarga Pranadipa, selama dia senang, itu yang terpenting."
"Toh, Kakak Ipar juga tidak menegur, bukan? Kita harus menghormati gaya pengasuhan Kakak Ipar. Kalau sampai terjadi sesuatu, baik kamu maupun aku, tak akan bisa menanggung akibatnya."
"Baiklah."
Bi Santi menjawab dengan enggan. "Anda ini terlalu baik hati, sampai semua orang ingin menindas Anda."
Shanaya hanya tersenyum, tidak menanggapi, lalu bertanya, "Di rumah masih ada kotak hadiah cadangan?"
"Seperti apa?"
"Terserah, yang penting cukup untuk ukuran kertas A4."
"Di gudang ada."
Ingatan Bi Santi tajam. "Akan kuambilkan sekarang."
Setelah menerima kotaknya, Shanaya masuk kembali ke dalam kamar.
Dia meletakkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani ke dalamnya, lalu dengan teliti mencari pita untuk membuat simpul kupu-kupu di atas kotaknya.
Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari lantai bawah.
Shanaya seolah tidak mendengar apa-apa, jemari rampingnya mengikat pita dengan tenang, lalu mengangguk puas.
Sungguh indah.
Kerja bagus.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk keras. Suara Bi Santi terdengar cemas. "Nyonya Shanaya, cepat turun! Lukisan peninggalan Tuan Besar dirusak oleh Tuan Verzio!"
Shanaya segera bangkit dan keluar dengan wajah muram, "Apa katamu? Lukisan yang di ruang tamu itu?"
"Benar..."
Bi Santi mengangguk.
Shanaya buru-buru turun, saking terburu-burunya sampai keseleo kaki.
Saat dia sampai, Verzio dengan bangga mengangkat dagunya, seolah berkata, mau apa kau?
Shanaya menoleh ke Bi Santi. "Sudah telepon ke rumah utama?"
"Belum."
"Telepon sekarang."
Baru saja Shanaya selesai bicara, Verzio langsung menyeruduk seperti peluru. "Jangan! Perempuan jahat, kamu tidak boleh mengadu!"
Shanaya tidak sempat menghindar, dan tidak menyangka serangan seorang anak bisa begitu kuat, sampai-sampai dia terjatuh.
Tulang ekornya menghantam lantai.
Perihnya luar biasa.
"Shanaya, kamu tidak apa-apa?"
Bianca segera menghampiri dan menopangnya dengan cemas. Dengan nada setengah menyalahkan, dia berkata, "Verzio memang jadi manja karena aku. Kalau lagi main sama orang lain suka kelewatan. Tapi namanya juga anak-anak... jangan dimarahi, ya?"
Mendengar itu, Shanaya sampai terdiam.
Shanaya memegangi pinggang dengan satu tangan, lalu menatap ke arah lukisan cat minyak yang kini bolong besar, mengejek. "Jadi membiarkan dia merusak barang milik orang lain, itu juga karena kamu memanjakannya?"
Mata Bianca langsung memerah. "Aku cuma lengah sebentar, kenapa kamu langsung menuduhku seperti itu?"
"Oh, lengah sebentar?"
Shanaya mengangguk pelan, memandangi rumah yang kini seperti kapal pecah. "Baru satu pagi, tapi sudah menghancurkan begitu banyak barang. Jadi, boleh tahu, kapan tepatnya kamu benar-benar menjaga dia?"
"Shanaya!"
Tak ada orang lain di sekitar, jadi Bianca tak mau lagi berpura-pura ramah. "Kenapa kamu harus terus memperpanjang masalah? Mau lapor ke rumah utama juga? Menurutmu, Nenek akan menghukumku hanya karena satu lukisan rusak?"
"Perlu kuperjelas, itu bukan sekadar lukisan biasa. Itu adalah karya terakhir Kakek semasa hidupnya."
Begitu kata Shanaya selesai, sebuah mobil sedan hitam perlahan memasuki halaman rumah.
Orang dari rumah utama sudah datang dengan cepat.
Bab 4
Ekspresi Bianca seketika membeku.
Melihat mobil yang begitu dikenalnya di luar sana, hatinya pun dilanda kepanikan.
Mata indahnya menatap tajam ke arah Shanaya. Kamu sengaja, ya? Kamu sengaja melakukannya, kan?!"
"Kakak ipar, maksudmu apa? Barusan aku jelas-jelas sedang di atas, menyiapkan hadiah untuk Adrian. Kenapa malah menyalahkanku…"
Mata Shanaya berkaca-kaca, seakan tertimpa kesedihan yang begitu dalam.
Begitu masuk, Pak Salim, kepala pelayan rumah tua itu langsung disuguhi pemandangan tersebut.
Tatapannya menyapu rumah yang berantakan dan tak layak dipandang, lalu beralih ke arah Bianca, wajahnya tampak tak senang. "Nyonya Bianca, pesan dari Nyonya Gayatri. Karena Anda gagal mendidik anak, maka beliau akan mulai dengan mendidik ibunya dulu."
Bianca menggertakkan gigi. "Apa maksudnya?"
Pak Salim memberi isyarat tangan, mempersilakannya ikut. "Silakan ke halaman, dan berlutut tiga jam."
"Pak Salim…"
Shanaya hendak membuka suara, tetapi Pak Salim langsung menebak arah ucapannya, menyela dengan lembut. "Nyonya Shanaya, tidak perlu memohonkan ampun untuknya. Beberapa hari lalu, Anda sudah sangat lelah saat pemakaman Tuan Darren. Jaga kesehatan, ya."
Shanaya sontak terdiam.
Bukan.
Dia sebenarnya hanya ingin menanyakan, apakah kondisi Nenek sudah agak membaik.
Agar bisa memilih waktu yang tepat untuk membicarakan soal perceraian.
Grup Pranadipa memang dipegang oleh Adrian, tetapi urusan keluarga tetap tunduk pada aturan rumah tua.
Jadi sekalipun Bianca masih tidak terima, dia tetap tak punya pilihan selain berlutut di halaman.
Musim hujan tiba, tanah pun basah kuyup
Kalau dipikir-pikir, dia memang mampus.
Shanaya bahkan tak meliriknya, langsung bersiap naik ke lantai atas.
Bi Santi tampak ragu. "Nyonya Shanaya, lukisan itu bagaimana?"
Shanaya bahkan tak meliriknya, langsung bersiap naik ke lantai atas.
Bi Santi tampak ragu. "Nyonya Shanaya, lukisan itu bagaimana?"
"Tidak perlu diurus. Nanti akan ada orang yang datang menjemputnya. Setelah diperbaiki, akan dikirim kembali," jawab Shanaya singkat.
Tentu saja dia tidak akan memberitahu siapa pun bahwa lukisan yang tergantung itu palsu.
Yang asli sudah dia titipkan di galeri milik temannya untuk dipamerkan.
Utuh, tanpa cacat.
Bagaimanapun, semasa hidup, keinginan terbesar almarhum Kakek adalah agar karyanya bisa dilihat oleh lebih banyak orang.
Menggantungnya di rumah, rasanya terlalu sia-sia.
"Perempuan jahat!"
Shanaya baru hendak menaiki tangga ketika Verzio berkata dengan penuh amarah, "Aku sudah telepon Om! Kalau dia pulang, kamu akan tamat!"
"Ya sudah, aku tunggu."
"Dia akan menceraikanmu! Nanti kamu jadi perempuan bekas yang tidak laku!"
Shanaya tertawa. "Dia tidak akan dengar omonganmu."
Dia dan Bianca masih butuh dirinya sebagai tameng.
Begitu dia dicerai, adik ipar dan kakak ipar akan tinggal serumah, laki-laki dan perempuan dewasa tanpa status sah.
Nama baik Bianca akan hancur total.
Adrian tidak akan membiarkan itu terjadi.
……
Adrian pulang lebih cepat dari dugaan.
Bianca belum genap dua puluh menit berlutut, pria itu sudah tiba.
Mantel kasmir hitam membungkus tubuhnya yang tegap dan penuh wibawa.
Begitu turun dari mobil, dia hampir berlari menghampiri Bianca dan langsung mengangkatnya ke dalam rumah.
Ditempatkannya perempuan itu di sofa, kemudian mengoleskan obat ke lututnya yang merah karena dingin, tanpa menyembunyikan rasa iba di matanya. "Kamu bodoh ya. Disuruh berlutut langsung nurut."
"Nenek sudah memerintahkan, aku bisa apa."
Bianca menarik lengan bajunya pelan, matanya memerah, suaranya gemetar, "Adrian… kamu bisa tidak… ceraikan dia? Dia terlalu menyeramkan…"
Adrian mengernyit samar. "Maksudmu Shanaya?"
"Ya."
Bianca menggigit bibir. "Kamu tahu kenapa Verzio bisa merusak lukisan peninggalan Kakek? Karena dia sengaja memprovokasi."
"Ibu benar!"
Verzio merengek, air mata menggantung di bulu matanya. "Om, Tante hari ini sengaja menakut-nakuti aku lagi. Katanya monster pemakan tangan bersembunyi di dalam lukisan itu, jadi aku…"
"Tidak mungkin."
Adrian langsung menyangkal, tangan besarnya menepuk kepala anak itu dengan lembut.
"Verzio mungkin salah dengar. Tantemu itu paling lembut di keluarga ini. Tadi malam dia sudah bilang tidak marah, jadi tidak mungkin menakut-nakuti kamu."
"Lagi pula, semasa hidup, Kakek paling sayang padanya. Dia tidak akan main-main dengan lukisan Kakek."
Kata-kata itu ditujukan pada Bianca.
Bianca menatapnya tak percaya. "Maksudmu, aku dan Verzio memfitnah dia?"
"Adrian!"
"Kamu sudah berubah!"
Nada tuduhannya membuat amarah Adrian berkobar, tetapi saat bertemu dengan tatapan kecewa itu, dia hanya bisa menahan emosi. "Bianca, dari awal sampai sekarang… aku tidak pernah berubah."
Bianca menatapnya. "Berani sumpah? Kamu benar-benar tidak pernah punya perasaan sedikit pun ke Shanaya? Tidak pernah menyentuhnya?"
Adrian selalu merasa tidak bersalah di hadapannya.
Tapi begitu mendengar pertanyaan itu, dia malah tidak bisa menjawab dengan tegas.
Punggungnya menegang, bulu matanya menunduk. "Aku memang tidak pernah menyentuhnya."
Adrian yang bersalah pada Shanaya.
"Aku tidak pernah menyentuhnya."
Dengan satu tangan menopang pinggang dan satu lagi membawa kotak hadiah, Shanaya turun dari lantai atas. Tapi yang dia dengar… adalah kalimat itu.
Singkat. Jelas. Tanpa keraguan.
Shanaya tersenyum pahit, bibirnya terangkat pelan. Dia pun melangkah mendekat. "Adrian, besok malam ada acara makan malam di Keluarga Wiraatmadja. Nenek menyuruhku bertanya, apakah kamu bisa hadir?"
Nyonya Gayatri dari Keluarga Wiraatmadja adalah teman lama kedua orang tuanya.
Sejak mereka meninggal dalam kecelakaan, Shanaya dibawa ke Keluarga Wiraatmadja dan dibesarkan di sana.
Bagi orang luar, Shanaya sudah dianggap setengah bagian dari keluarga itu.
Sejak dia menikah dengan Adrian, kerja sama bisnis antara Keluarga Wiraatmadja dan Pranadipa tetap berjalan lancar.
Mendengar itu, mungkin karena merasa bersalah setelah ucapannya tadi, Adrian langsung menyanggupi. "Oke, besok malam aku jemput kamu. Kita pergi bersama."
"Hmm."
Shanaya melirik kotak hadiah di tangannya, lalu memandangi ibu dan anak yang duduk di sofa. Dia pun tahu diri, tak berkata apa-apa lagi.
Lalu membalikkan badan hendak pergi.
Delara yang hari ini menang besar di pengadilan, jadi dia mengajaknya jalan-jalan.
Akan tetapi, karena tahu kakinya cedera, akhirnya rencana diganti jadi makan malam saja.
"Shanaya."
Adrian tanpa sadar, memanggilnya. "Apa yang kamu bawa itu?"
Shanaya menoleh, menggoyangkan kotak di tangannya. "Hadiah."
"Hadiah? Hari ini ulang tahun siapa?"
"Hadiah ulang tahun pernikahan yang ketiga. Tadinya mau aku kasih ke kamu."
"Shanaya, maaf…"
"Tidak apa-apa. Kamu sibuk kerja, wajar kalau lupa."
Tatapan Shanaya tetap jernih seperti biasa, menatapnya lurus-lurus. Lalu dia menyerahkan kotak itu, suaranya lembut dan penurut. "Lagi pula, sebentar lagi juga ulang tahunmu. Anggap saja ini hadiah ulang tahun."
"Selamat ulang tahun lebih awal, Adrian."
Dan juga… Selamat bercerai.
Bab 5
Adrian menerima kotak hadiah itu, seolah ada sesuatu yang sangat halus dan cepat menggores di dadanya.
Bukan rasa sakit, tetapi membuat napas jadi tak lancar.
Pita di atas kotak hadiah itu diikat dengan sangat rapi dan teliti.
Terlihat betapa dia sungguh-sungguh menyiapkan hadiah itu, dan berapa lama dia telah menyiapkannya.
Namun, dirinya justru berengsek, menyimpan niat egois yang tak layak dilihat terang-terangan.
Belum sempat dia berkata apa pun, Shanaya sudah berjalan ke arah pintu masuk, mengenakan mantel wol warna krem dan syal. Wajah oval kecilnya hampir tertutup, hanya menyisakan sepasang mata hitam putih yang jelas menatap.
Lalu, dia pun keluar rumah.
Hanya saja, cara jalannya terlihat agak aneh.
Adrian hendak bertanya, tetapi saat itu terdengar suara Bianca di sampingnya yang meringis pelan. "Sakit sekali…"
Adrian refleks kembali sadar, menopangnya untuk duduk kembali. "Lututmu sangat sakit? Aku antar ke rumah sakit, ya?"
"Tidak mau."
Bianca menggigit bibirnya, melirik kotak di tangan Adrian sambil bergumam. "Katanya tak punya perasaan, tapi barang pemberian dia saja kamu jaga seperti harta karun."
Adrian sontak terdiam.
Alisnya mengernyit. "Bianca, aku sudah sangat merasa bersalah pada dia."
Bianca menatap kosong, membiarkan air matanya jatuh. "Lalu bagaimana denganku, Adrian? Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Kenapa kau membiarkan dia menyakiti aku dan Verzio?"
"Aku sudah bilang, Shanaya bukan orang seperti itu."
"Cukup, Adrian! Kamu tidak sadar, ya? Setiap kata yang kamu ucapkan selalu membela dia!"
Begitu kata-kata itu terucap, Bianca langsung menangis tersedu-sedu. Sambil berdiri, dia menarik Verzio menuju lantai atas.
Adrian terpaku beberapa saat, kemudian mengembuskan napas berat.
Dia pun tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan.
Dia hanya tidak ingin mendengar siapa pun mengatakan hal buruk tentang Shanaya.
……
Hujan rintik turun selama dua hari tanpa henti.
Pagi itu, Shanaya pergi ke klinik pengobatan tradisional untuk praktik. Sore harinya, ada dokter luar negeri yang datang khusus untuk belajar akupunktur dari seniornya.
Karena seniornya ada urusan mendadak, pekerjaan itu diserahkan padanya.
Selesai pukul lima sore, dia buru-buru pulang ke rumah untuk berganti pakaian dan merias wajah tipis.
Shanaya punya paras cantik alami, mata bersinar dan gigi putih bersih. Sedikit berdandan saja, cukup membuat orang tak bisa mengalihkan pandang. Saat turun ke bawah, dia merasa suasana rumah terlalu tenang.
Ibu dan anak itu hari ini tampaknya sangat tenang.
"Shanaya."
Baru saja mengganti sepatu bot panjang, terdengar suara Bianca yang penuh senyum dari belakang. "Menurutmu, dia akan memilih kamu atau aku?"
Shanaya tertegun sesaat, lalu tersenyum. "Kakak ipar, maksudmu apa? Aku kurang paham."
"Maksudmu, kamu ingin bermain drama menantu janda menggoda adik ipar di Keluarga Pranadipa?"
"Shanaya!"
Ucapannya terlalu menusuk, membuat Bianca menggertakkan gigi karena marah.
Shanaya dengan tenang mengenakan mantel wol kasmirnya, tersenyum ringan. "Tak mau bicara panjang, Adrian sudah menungguku."
Bianca mengikuti arah pandangnya. Lewat kaca besar, terlihat mobil Adrian sudah terparkir di halaman.
Dia begitu kesal, rasanya ingin muntah darah.
Dulu dia setuju Adrian menikahi perempuan murahan ini hanya karena dia terlihat penurut dan mudah dikendalikan. Siapa sangka, sekarang berubah menjadi kelinci liar yang bisa menggigit kapan saja!
Shanaya masuk ke mobil, lalu menatap Adrian. "Tidak terlalu lama menunggu, 'kan?"
"Tidak, aku juga baru datang."
Adrian menggenggam telapak tangannya, lalu menunduk melihat bagian bawah rok Shanaya, tampak sepasang betis putih yang ramping bersinar, membuatnya mengernyit. "Kenapa hanya pakai pakaian setipis ini?"
Shanaya tersenyum kecil. "Cuma di mobil dan rumah tua, ada pemanas juga."
Saat praktik di klinik, dia tak henti-hentinya mengingatkan pasien untuk menjaga tubuh tetap hangat.
Namun, kalau dirinya sendiri, justru tak peduli.
Adrian pun hanya bisa pasrah. "Kalau kamu sampai masuk angin dan demam, jangan salahkan aku nanti."
"Ya tinggal minum obat."
Masuk angin paling mudah disembuhkan, satu resep sudah cukup. Dia sangat berpengalaman.
Tiga tahun terakhir, setiap kali begitu.
Dia pun tidak berharap Adrian akan merawatnya.
Tak bisa berharap.
Tak bisa berharap pada siapa pun.
Adrian melihat dia sangat cuek pada kondisi tubuhnya sendiri, perasaannya jadi tidak nyaman. "Dari caramu bicara, seperti aku ini suami yang tidak peduli padamu."
Shanaya sedikit terkejut. "Hadiah yang kuberikan kemarin, belum kamu buka?"
"Belum."
Adrian menjawab datar, "Bukannya itu hadiah ulang tahun? Kupikir akan kubuka saat hari ulang tahunku."
Shanaya sontak terdiam.
Ya sudah.
Kebetulan dia jadi punya lebih banyak waktu untuk menyiapkan yang lain.
Topik obrolan mereka tak banyak, jadi sepanjang jalan hanya diam.
Adrian menoleh, melihat Shanaya hanya diam memandang jalanan yang sibuk di luar jendela, tak tahu sedang memikirkan apa. Wajahnya terlihat tenang dan lembut.
Tidak terlihat seperti bisa menyakiti siapapun.
Tapi entah kenapa Bianca bisa begitu membencinya.
Adrian membuka sedikit mulutnya, hendak mencari topik pembicaraan, tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Pak Adrian, Nona Bianca sedang ikut kencan buta."
Suaranya datar.
Namun, Shanaya mendengarnya dengan jelas.
Suasana dalam mobil mendadak menegang. Shanaya benar-benar bisa merasakan Adrian sedang menahan amarah.
Dia selalu tenang, jarang marah.
"Kirimkan lokasinya padaku."
Nada suara Adrian dingin dan dalam.
Setelah menutup telepon dan menoleh ke arah Shanaya, ekspresinya kembali tenang, tetapi ucapannya tak bisa ditolak. "Shanaya, ada urusan mendadak. Aku tidak bisa menemanimu ke acara keluarga."
Urusan mendadak apa.
Shanaya tak berniat menggali lebih jauh.
Kalau pun ditanya, itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Aku mengerti."
Dia menunduk sedikit. "Pak Dani, berhenti di tepi jalan sebentar."
Mobil pun berhenti perlahan.
Namun, Adrian tetap diam di tempat. Shanaya menoleh dengan bingung. "Adrian, cepat turun. Kita tidak bisa berhenti lama di pinggir jalan."
"Baiklah."
Adrian tampak sedikit terkejut. Melihat sorot mata Shanaya yang lembut, dia tak tahu harus berkata apa.
Akhirnya, dia hanya bisa turun sendiri.
Acara Keluarga Wiraatmadja yang digelar sebulan sekali, jauh berbeda dari keluarga besar lainnya yang biasanya ramai dan hangat.
Keluarga Wiraatmadja hanya berisi lima orang, dan itu sudah termasuk Adrian.
Bagaimana menggambarkannya, sangat sunyi.
Sunyi seperti suasana di kuburan.
Dan memang mirip.
Begitu Shanaya masuk ke rumah besar itu, kepala pelayan langsung menuntunnya ke ruang makan.
"Nona Shanaya, Nyonya sudah lama menunggu Anda. Sejak pagi beliau menanti-nanti Anda pulang."
"Ya."
Shanaya mengangguk pelan, tetapi tangannya menggenggam erat karena gugup.
Di ruang makan.
Nyonya Gayatri duduk di kursi utama. Di sisi kirinya duduk dua anak perempuannya, yang sulung dan yang kedua.
Shanaya pun masuk, lalu menyapa satu per satu. "Nenek, Tante Lidya, Tante Anita."
Dia mengikuti panggilan yang biasa digunakan di Keluarga Wiraatmadja.
Kedua tante itu hanya menjawab seadanya. Tapi Nyonya Gayatri justru menoleh ke belakangnya, melihat tak ada siapa-siapa, wajahnya langsung mengernyit tajam, kerutan di antara alisnya begitu dalam. "Adrian mana?"
Shanaya menjawab jujur, "Dia ada urusan mendadak, jadi harus pergi."
Detik berikutnya, terdengar teriakan keras disertai cangkir teh yang dilempar ke arahnya.
"Keluar! Berlutut di luar!"