Bab 2
"Hah?"
Kepala Delara langsung berdengung.
Dia sama sekali tidak menyangka Shanaya yang biasanya pendiam bisa mengucapkan satu kata itu.
Namun, yang lebih tak disangka adalah Adrian, bajingan itu bisa sebegitu hinanya mempermalukan orang.
Delara mengumpat pelan, lalu berkata, "Tidak usah kurir lagi. Aku antar sendiri, habis antar langsung kembali lembur."
Kurir dua roda mana mungkin bisa menyaingi kecepatan mobil empat roda miliknya.
Begitu menutup telepon, Shanaya pun tak menyangka dirinya bisa mengucapkannya dengan begitu lugas.
Mungkin karena emosi itu sudah lama mengendap dalam dada.
Menyesakkan, membuat tubuh dan hati terasa sempit penuh kekesalan.
Sama seperti yang dikatakan Adrian malam itu di klub. Dia tak pernah menyentuhnya, sekalipun tak pernah.
Jika dikatakan ke orang lain, mungkin tak ada yang percaya. Menikah selama tiga tahun, tetapi tetap perawan.
Awalnya Shanaya sempat berpikir, mungkinkah Adrian memiliki masalah dalam hal ranjang?
Namun, kemudian dia beberapa kali memergoki Adrian di ruang kerja, memeluk album foto sambil melampiaskan hasratnya sendiri.
Rintihan pria itu...
Seperti tamparan demi tamparan yang keras menampar wajah Shanaya.
Suatu kali, Adrian memergoki dirinya. Dia langsung memeluk Shanaya, menggesekkan wajah ke lehernya, lalu dengan suara tertahan berkata, "Shanaya, maaf... aku takut kalau berbuat begitu bisa melukaimu. Aku tidak tega, jadi hanya bisa... melihat fotomu saja..."
Yang paling menyedihkan adalah...
Shanaya memercayainya. Bahkan, wajahnya sempat memerah karena tersipu.
Namun malam itu juga, setelah pulang ke Kota Panaraya, seusai minum obat penurun panas dan dalam kondisi setengah sadar, dia pergi ke ruang kerja dan membuka lemari yang selama ini selalu dikunci.
Dia pun melihat album itu.
Penuh sesak oleh foto-foto Bianca.
Bianca yang hidup, segar, dan menawan. Setiap ekspresi, setiap senyuman, disimpan dan dijaga Adrian bagai harta karun.
Shanaya hanya bisa merasa dirinya seperti sebuah lelucon.
Dalam kebingungan itu, dia teringat masa lalu. Saat dulu dirinya sering mengikuti Adrian ke mana pun dia pergi.
Sebenarnya bukan karena ingin mengikutinya.
Namun, karena kakaknya selalu bersama Adrian.
Karena terlalu sering melihatnya, lama-lama timbul pikiran, seandainya bisa menikah dengannya, mungkin akan sangat menyenangkan.
Adrian punya temperamen baik, sabar, lembut. Setiap kali mengunjungi kakaknya, dia selalu membawa hadiah kecil untuk Shanaya.
Dari semua teman kakaknya, Adrian yang paling sopan, paling terhormat.
Namun pria yang tampak sopan itu... Lebih memilih melampiaskan hasratnya pada istri kakaknya sendiri, daripada menyentuh istri sahnya yang berada dalam jarak sedekat itu.
Shanaya tidak menyangka Delara bisa datang secepat itu.
Baru saja selesai mencuci muka dan belum sempat turun ke bawah, bel pintu sudah berbunyi.
Seolah kalau kantor catatan sipil belum tutup, Delara akan langsung menyeret dirinya dan Adrian untuk mengurus berkas.
Shanaya menerima berkas perjanjian itu dengan perasaan sedikit tenang. Namun, suara keras tiba-tiba terdengar dari lantai atas.
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, Bi Santi berlari turun dengan wajah tak sedap, tampak ingin bicara tetapi ragu, "Nyonya Shanaya..."
"Ada apa?"
"Foto keluarga yang Anda letakkan di kamar... dirusak Verzio."
Mendengarnya, Shanaya mengira hanya bingkai yang pecah. Namun, Bi Santi menyodorkan beberapa potongan sobekan.
Wajah Shanaya seketika pucat pasi.
Foto itu satu-satunya peninggalan dari orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan saat dia berusia lima tahun.
Satu-satunya kenangan yang dia miliki.
Shanaya menerima potongan foto yang sudah disobek menjadi beberapa bagian, lalu melangkah lebar menuju atas!
Bianca kebetulan sedang menggendong Verzio keluar dari kamar Shanaya.
Tatapan Shanaya dingin dan menusuk, "Kak Bianca, yang kalian masuki barusan itu kamarku."
"Om bilang, mulai sekarang ini akan jadi rumah Verzio."
Verzio membantah keras, dengan suara lantang berkata, "Om juga bilang, nanti dia akan menjaga Verzio dan Ibu seperti Ayah!"
Shanaya melihat Bianca sama sekali tidak mencoba mengoreksi atau mendidik anaknya. Tiba-tiba dia tersenyum.
Shanaya menatap Verzio. "Tahu tidak, beberapa hari lagi adalah Natal. Kamu tahu apa yang akan dilakukan Santa padamu?"
Anak itu mengangkat dagunya, "Dia akan memberiku banyak permen!"
"Salah."
Shanaya menggeleng pelan dan tersenyum, "Dia akan memotong tanganmu yang baru saja merusak fotoku, lalu memanggangnya dalam oven, dan memberikannya pada monster untuk dimakan."
"Waaa..."
Akhirnya, tetaplah dia seorang anak-anak.
Verzio ketakutan dan langsung memeluk Bianca sambil menangis kencang.
Bianca mengernyit, tatapannya tak senang saat menatap Shanaya. "Dia masih anak-anak. Tidak perlu menakutinya seperti itu."
"Satu anak saja tidak bisa kamu didik. Selain main olahraga ekstrem, apa lagi yang bisa kamu lakukan?"
Shanaya meninggalkan kalimat itu, lalu berbalik masuk ke kamarnya.
Larut malam, mobil Maybach hitam perlahan memasuki halaman.
Shanaya berdiri di balik jendela besar, dan melihat saat pria itu turun dari mobil, Verzio langsung berlari memeluknya bersama Bianca.
Pemandangan yang sangat serasi, layaknya keluarga kecil bahagia.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu dibuka.
Adrian masuk dengan langkah lebar, mengenakan kemeja putih, nadanya tidak ramah, "Kamu menakuti Verzio?"
"Benar."
Shanaya menunjuk ke arah meja kecil di sisi ranjang, "Dia merobek foto keluarga satu-satunya milikku."
Adrian tertegun.
Baru sadar kalau dia belum tahu seluruh cerita.
Dia mengulurkan tangan untuk mengelus kepala Shanaya, tetapi gadis itu menghindar. Dia kira karena masih marah, jadi dia melunakkan suaranya.
"Aku mengaku salah, dan aku minta maaf juga atas nama Verzio. Kalau ada yang kamu mau, bilang saja. Aku akan menggantinya."
Shanaya tersenyum tipis. "Apa pun bisa?"
Adrian dengan tulus mengangguk. "Tentu."
"Aku hanya ingin dua hal."
Saat berkata begitu, Shanaya menyerahkan dua berkas yang sudah disiapkan sejak lama.
Adrian menerimanya. Baru melihat sebentar dan mengetahui itu adalah sertifikat properti, dia langsung menandatanganinya.
Berkas kedua bahkan langsung dibuka ke bagian akhir, tanda tangannya cepat dan tegas.
Dalam hal uang, dia memang selalu royal.
Setelah selesai menandatangani, dia menarik pinggang ramping Shanaya, lalu memeluknya ke dalam dekapan. "Shanaya, bagaimana kakakmu bisa mendidikmu jadi gadis sebaik dan sepintar ini?"
Shanaya merasa muak, dan baru hendak menolaknya, pintu kamar yang setengah tertutup tiba-tiba diketuk.
Melihat siapa yang datang, Adrian langsung refleks mendorong Shanaya menjauh.
Shanaya sempat terdiam, tetapi kemudian langsung paham.
Demi menjaga perasaan wanita yang dia cintai, Adrian sanggup menikah tiga tahun tanpa menyentuh istrinya sendiri.
Kini tinggal serumah, tentu dia harus menunjukkan sikap yang lebih baik lagi.
Bianca tampak agak canggung. "Adrian, Verzio tidak bisa tidur. Dia ingin kamu menemaninya."
"Akan kuurus."
Adrian menjawab, lalu menoleh ke Shanaya. "Tidak marah, 'kan?"
"Tidak."
Begitu Adrian membalikkan badan dan pergi, Shanaya menarik keluar berkas kedua, surat cerai.
Dia memang gadis yang baik dan pengertian.
Bahkan untuk bercerai pun, dia sudah menyiapkan suratnya sendiri dan menyerahkannya secara langsung.
Bab 3
Keesokan harinya.
Shanaya terbangun karena jam biologisnya. Begitu membuka tirai, yang terlihat di luar hanyalah awan gelap.
Ramalan cuaca tidak menyebutkannya.
Namun, hujan turun dengan deras.
Bahkan dari balik kaca, Shanaya bisa merasakan dinginnya merambat masuk.
Dia mengganti pakaian dengan gaun rajut, dan saat sedang mencuci muka, terdengar suara gaduh dari koridor.
Suara itu cukup besar.
Sangat berisik.
Orang yang tidak tahu pasti mengira ada tukang renovasi yang masuk rumah.
"Bi Santi, ada apa ini..."
Shanaya mengangkat rambut panjangnya sembarangan, membuka pintu kamar, dan belum selesai bicara, dia sudah terpaku di tempat.
Bukan tukang renovasi yang masuk rumah, tetapi seolah ada pasukan menyerbu desa.
Biasanya rumah selalu bersih dan tertata rapi.
Namun, sekarang sudah kacau balau.
Bantal sofa yang seharusnya berada di lantai satu, kini muncul di depan pintu kamarnya, dengan noda coklat tua yang entah apa.
Vas bunga pecah terguling di lantai.
Lukisan cat minyak di koridor yang nilainya mencapai miliaran juga sudah rusak.
Singkatnya, benar-benar pemandangan yang membuat mata terbelalak lebar.
Bi Santi hampir memohon saat mengejar Verzio dari belakang. "Tuan Verzio, jangan main yang itu, itu set teh kesayangan Nyonya Shanaya..."
Brak!
Belum selesai ucapannya, barang itu sudah pecah berantakan.
Verzio menjulurkan lidah seperti penguasa kecil, bersungut-sungut. "Heh! Aku mau main! Om bilang rumah ini sekarang milikku! Kamu cuma pembantu, tidak berhak mengaturku!"
Begitu kata-kata itu meluncur, dia mendongak dan melihat Shanaya yang menatapnya dingin.
Refleks, dia langsung menyusutkan lehernya.
Perempuan jahat ini!
Dia sampai bermimpi buruk semalam.
Dikejar Santa Claus dan monster semalaman.
Dia harus mengusir perempuan jahat ini dari rumah!
Ibu bilang, selama perempuan ini pergi, maka Om hanya akan menjadi milik dia dan Ibu!
Tatapan Shanaya tenang. "Silakan main, teruskan saja."
"Serius?"
Verzio hampir tidak percaya.
Dia sudah menghancurkan begitu banyak barang kesukaan perempuan jahat ini, tetapi dia sama sekali tidak marah?
Shanaya berdiri di dekat pagar tangga, melirik ke bawah pada Bianca yang tampak tidak tahu apa-apa, lalu tersenyum sambil mengangguk. "Tentu. Tapi ada satu syarat. Lukisan cat minyak yang tergantung di ruang tamu bawah, jangan kamu sentuh. Itu barang favoritku."
Dia tidak tahu, apakah semua ini hasil hasutan Bianca atau ide Verzio sendiri.
Namun, itu tidak penting.
Bagaimanapun, dia bukan orang suci.
Seseorang pernah mengajarinya, kalau sampai diperlakukan tidak adil, maka balaslah sepuluh kali lipat.
Mata Verzio berkilat. "Oke!"
Selesai berkata, dia langsung lari seperti anak panah yang melesat.
Bi Santi tampak tak berdaya, "Nyonya Shanaya, Anda dan Tuan terlalu memanjakan anak itu..."
"Tidak apa-apa."
Shanaya menenangkan. "Anda tidak perlu melarangnya juga. Dia cucu satu-satunya Keluarga Pranadipa, selama dia senang, itu yang terpenting."
"Toh, Kakak Ipar juga tidak menegur, bukan? Kita harus menghormati gaya pengasuhan Kakak Ipar. Kalau sampai terjadi sesuatu, baik kamu maupun aku, tak akan bisa menanggung akibatnya."
"Baiklah."
Bi Santi menjawab dengan enggan. "Anda ini terlalu baik hati, sampai semua orang ingin menindas Anda."
Shanaya hanya tersenyum, tidak menanggapi, lalu bertanya, "Di rumah masih ada kotak hadiah cadangan?"
"Seperti apa?"
"Terserah, yang penting cukup untuk ukuran kertas A4."
"Di gudang ada."
Ingatan Bi Santi tajam. "Akan kuambilkan sekarang."
Setelah menerima kotaknya, Shanaya masuk kembali ke dalam kamar.
Dia meletakkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani ke dalamnya, lalu dengan teliti mencari pita untuk membuat simpul kupu-kupu di atas kotaknya.
Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari lantai bawah.
Shanaya seolah tidak mendengar apa-apa, jemari rampingnya mengikat pita dengan tenang, lalu mengangguk puas.
Sungguh indah.
Kerja bagus.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk keras. Suara Bi Santi terdengar cemas. "Nyonya Shanaya, cepat turun! Lukisan peninggalan Tuan Besar dirusak oleh Tuan Verzio!"
Shanaya segera bangkit dan keluar dengan wajah muram, "Apa katamu? Lukisan yang di ruang tamu itu?"
"Benar..."
Bi Santi mengangguk.
Shanaya buru-buru turun, saking terburu-burunya sampai keseleo kaki.
Saat dia sampai, Verzio dengan bangga mengangkat dagunya, seolah berkata, mau apa kau?
Shanaya menoleh ke Bi Santi. "Sudah telepon ke rumah utama?"
"Belum."
"Telepon sekarang."
Baru saja Shanaya selesai bicara, Verzio langsung menyeruduk seperti peluru. "Jangan! Perempuan jahat, kamu tidak boleh mengadu!"
Shanaya tidak sempat menghindar, dan tidak menyangka serangan seorang anak bisa begitu kuat, sampai-sampai dia terjatuh.
Tulang ekornya menghantam lantai.
Perihnya luar biasa.
"Shanaya, kamu tidak apa-apa?"
Bianca segera menghampiri dan menopangnya dengan cemas. Dengan nada setengah menyalahkan, dia berkata, "Verzio memang jadi manja karena aku. Kalau lagi main sama orang lain suka kelewatan. Tapi namanya juga anak-anak... jangan dimarahi, ya?"
Mendengar itu, Shanaya sampai terdiam.
Shanaya memegangi pinggang dengan satu tangan, lalu menatap ke arah lukisan cat minyak yang kini bolong besar, mengejek. "Jadi membiarkan dia merusak barang milik orang lain, itu juga karena kamu memanjakannya?"
Mata Bianca langsung memerah. "Aku cuma lengah sebentar, kenapa kamu langsung menuduhku seperti itu?"
"Oh, lengah sebentar?"
Shanaya mengangguk pelan, memandangi rumah yang kini seperti kapal pecah. "Baru satu pagi, tapi sudah menghancurkan begitu banyak barang. Jadi, boleh tahu, kapan tepatnya kamu benar-benar menjaga dia?"
"Shanaya!"
Tak ada orang lain di sekitar, jadi Bianca tak mau lagi berpura-pura ramah. "Kenapa kamu harus terus memperpanjang masalah? Mau lapor ke rumah utama juga? Menurutmu, Nenek akan menghukumku hanya karena satu lukisan rusak?"
"Perlu kuperjelas, itu bukan sekadar lukisan biasa. Itu adalah karya terakhir Kakek semasa hidupnya."
Begitu kata Shanaya selesai, sebuah mobil sedan hitam perlahan memasuki halaman rumah.
Orang dari rumah utama sudah datang dengan cepat.
Bab 4
Ekspresi Bianca seketika membeku.
Melihat mobil yang begitu dikenalnya di luar sana, hatinya pun dilanda kepanikan.
Mata indahnya menatap tajam ke arah Shanaya. Kamu sengaja, ya? Kamu sengaja melakukannya, kan?!"
"Kakak ipar, maksudmu apa? Barusan aku jelas-jelas sedang di atas, menyiapkan hadiah untuk Adrian. Kenapa malah menyalahkanku…"
Mata Shanaya berkaca-kaca, seakan tertimpa kesedihan yang begitu dalam.
Begitu masuk, Pak Salim, kepala pelayan rumah tua itu langsung disuguhi pemandangan tersebut.
Tatapannya menyapu rumah yang berantakan dan tak layak dipandang, lalu beralih ke arah Bianca, wajahnya tampak tak senang. "Nyonya Bianca, pesan dari Nyonya Gayatri. Karena Anda gagal mendidik anak, maka beliau akan mulai dengan mendidik ibunya dulu."
Bianca menggertakkan gigi. "Apa maksudnya?"
Pak Salim memberi isyarat tangan, mempersilakannya ikut. "Silakan ke halaman, dan berlutut tiga jam."
"Pak Salim…"
Shanaya hendak membuka suara, tetapi Pak Salim langsung menebak arah ucapannya, menyela dengan lembut. "Nyonya Shanaya, tidak perlu memohonkan ampun untuknya. Beberapa hari lalu, Anda sudah sangat lelah saat pemakaman Tuan Darren. Jaga kesehatan, ya."
Shanaya sontak terdiam.
Bukan.
Dia sebenarnya hanya ingin menanyakan, apakah kondisi Nenek sudah agak membaik.
Agar bisa memilih waktu yang tepat untuk membicarakan soal perceraian.
Grup Pranadipa memang dipegang oleh Adrian, tetapi urusan keluarga tetap tunduk pada aturan rumah tua.
Jadi sekalipun Bianca masih tidak terima, dia tetap tak punya pilihan selain berlutut di halaman.
Musim hujan tiba, tanah pun basah kuyup
Kalau dipikir-pikir, dia memang mampus.
Shanaya bahkan tak meliriknya, langsung bersiap naik ke lantai atas.
Bi Santi tampak ragu. "Nyonya Shanaya, lukisan itu bagaimana?"
Shanaya bahkan tak meliriknya, langsung bersiap naik ke lantai atas.
Bi Santi tampak ragu. "Nyonya Shanaya, lukisan itu bagaimana?"
"Tidak perlu diurus. Nanti akan ada orang yang datang menjemputnya. Setelah diperbaiki, akan dikirim kembali," jawab Shanaya singkat.
Tentu saja dia tidak akan memberitahu siapa pun bahwa lukisan yang tergantung itu palsu.
Yang asli sudah dia titipkan di galeri milik temannya untuk dipamerkan.
Utuh, tanpa cacat.
Bagaimanapun, semasa hidup, keinginan terbesar almarhum Kakek adalah agar karyanya bisa dilihat oleh lebih banyak orang.
Menggantungnya di rumah, rasanya terlalu sia-sia.
"Perempuan jahat!"
Shanaya baru hendak menaiki tangga ketika Verzio berkata dengan penuh amarah, "Aku sudah telepon Om! Kalau dia pulang, kamu akan tamat!"
"Ya sudah, aku tunggu."
"Dia akan menceraikanmu! Nanti kamu jadi perempuan bekas yang tidak laku!"
Shanaya tertawa. "Dia tidak akan dengar omonganmu."
Dia dan Bianca masih butuh dirinya sebagai tameng.
Begitu dia dicerai, adik ipar dan kakak ipar akan tinggal serumah, laki-laki dan perempuan dewasa tanpa status sah.
Nama baik Bianca akan hancur total.
Adrian tidak akan membiarkan itu terjadi.
……
Adrian pulang lebih cepat dari dugaan.
Bianca belum genap dua puluh menit berlutut, pria itu sudah tiba.
Mantel kasmir hitam membungkus tubuhnya yang tegap dan penuh wibawa.
Begitu turun dari mobil, dia hampir berlari menghampiri Bianca dan langsung mengangkatnya ke dalam rumah.
Ditempatkannya perempuan itu di sofa, kemudian mengoleskan obat ke lututnya yang merah karena dingin, tanpa menyembunyikan rasa iba di matanya. "Kamu bodoh ya. Disuruh berlutut langsung nurut."
"Nenek sudah memerintahkan, aku bisa apa."
Bianca menarik lengan bajunya pelan, matanya memerah, suaranya gemetar, "Adrian… kamu bisa tidak… ceraikan dia? Dia terlalu menyeramkan…"
Adrian mengernyit samar. "Maksudmu Shanaya?"
"Ya."
Bianca menggigit bibir. "Kamu tahu kenapa Verzio bisa merusak lukisan peninggalan Kakek? Karena dia sengaja memprovokasi."
"Ibu benar!"
Verzio merengek, air mata menggantung di bulu matanya. "Om, Tante hari ini sengaja menakut-nakuti aku lagi. Katanya monster pemakan tangan bersembunyi di dalam lukisan itu, jadi aku…"
"Tidak mungkin."
Adrian langsung menyangkal, tangan besarnya menepuk kepala anak itu dengan lembut.
"Verzio mungkin salah dengar. Tantemu itu paling lembut di keluarga ini. Tadi malam dia sudah bilang tidak marah, jadi tidak mungkin menakut-nakuti kamu."
"Lagi pula, semasa hidup, Kakek paling sayang padanya. Dia tidak akan main-main dengan lukisan Kakek."
Kata-kata itu ditujukan pada Bianca.
Bianca menatapnya tak percaya. "Maksudmu, aku dan Verzio memfitnah dia?"
"Adrian!"
"Kamu sudah berubah!"
Nada tuduhannya membuat amarah Adrian berkobar, tetapi saat bertemu dengan tatapan kecewa itu, dia hanya bisa menahan emosi. "Bianca, dari awal sampai sekarang… aku tidak pernah berubah."
Bianca menatapnya. "Berani sumpah? Kamu benar-benar tidak pernah punya perasaan sedikit pun ke Shanaya? Tidak pernah menyentuhnya?"
Adrian selalu merasa tidak bersalah di hadapannya.
Tapi begitu mendengar pertanyaan itu, dia malah tidak bisa menjawab dengan tegas.
Punggungnya menegang, bulu matanya menunduk. "Aku memang tidak pernah menyentuhnya."
Adrian yang bersalah pada Shanaya.
"Aku tidak pernah menyentuhnya."
Dengan satu tangan menopang pinggang dan satu lagi membawa kotak hadiah, Shanaya turun dari lantai atas. Tapi yang dia dengar… adalah kalimat itu.
Singkat. Jelas. Tanpa keraguan.
Shanaya tersenyum pahit, bibirnya terangkat pelan. Dia pun melangkah mendekat. "Adrian, besok malam ada acara makan malam di Keluarga Wiraatmadja. Nenek menyuruhku bertanya, apakah kamu bisa hadir?"
Nyonya Gayatri dari Keluarga Wiraatmadja adalah teman lama kedua orang tuanya.
Sejak mereka meninggal dalam kecelakaan, Shanaya dibawa ke Keluarga Wiraatmadja dan dibesarkan di sana.
Bagi orang luar, Shanaya sudah dianggap setengah bagian dari keluarga itu.
Sejak dia menikah dengan Adrian, kerja sama bisnis antara Keluarga Wiraatmadja dan Pranadipa tetap berjalan lancar.
Mendengar itu, mungkin karena merasa bersalah setelah ucapannya tadi, Adrian langsung menyanggupi. "Oke, besok malam aku jemput kamu. Kita pergi bersama."
"Hmm."
Shanaya melirik kotak hadiah di tangannya, lalu memandangi ibu dan anak yang duduk di sofa. Dia pun tahu diri, tak berkata apa-apa lagi.
Lalu membalikkan badan hendak pergi.
Delara yang hari ini menang besar di pengadilan, jadi dia mengajaknya jalan-jalan.
Akan tetapi, karena tahu kakinya cedera, akhirnya rencana diganti jadi makan malam saja.
"Shanaya."
Adrian tanpa sadar, memanggilnya. "Apa yang kamu bawa itu?"
Shanaya menoleh, menggoyangkan kotak di tangannya. "Hadiah."
"Hadiah? Hari ini ulang tahun siapa?"
"Hadiah ulang tahun pernikahan yang ketiga. Tadinya mau aku kasih ke kamu."
"Shanaya, maaf…"
"Tidak apa-apa. Kamu sibuk kerja, wajar kalau lupa."
Tatapan Shanaya tetap jernih seperti biasa, menatapnya lurus-lurus. Lalu dia menyerahkan kotak itu, suaranya lembut dan penurut. "Lagi pula, sebentar lagi juga ulang tahunmu. Anggap saja ini hadiah ulang tahun."
"Selamat ulang tahun lebih awal, Adrian."
Dan juga… Selamat bercerai.