Bab 2
Jaylene menggigit jarinya dengan gelisah. Ketika melihatku menatapnya, Jaylene malah panik. Matanya memerah. Dia buru-buru mundur.
Setelah merasa lebih tenang, Jaylene mengelus dadanya dengan lega dan tidak menatapku lagi. Sementara itu, aku tidak bisa menerima perubahan mendadak ini.
Aku maju dan meraih tangan Jaylene. "Sebenarnya ada apa? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu merasa nggak nyaman?"
"Nggak ada kok. Ini bukan salahmu," pekik Jaylene dengan suara nyaring. Dia juga mengempaskan tanganku, seolah-olah aku adalah monster.
Aku memalingkan wajahku yang berderai air mata. Sebenarnya apa yang terjadi? Padahal aku tidak melakukan apa-apa dan bersikap sangat baik pada mereka. Lantas, kenapa Whitney dan Jaylene memperlakukanku seperti ini?
Aku mengeluarkan cermin dan berkaca. Tidak ada yang aneh denganku. Meskipun tidak termasuk sangat cantik, setidaknya tidak akan membuat orang merasa jijik melihatku.
Air mataku tidak bisa berhenti. Saat melihatku menangis, Jaylene awalnya ingin menghibur karena merasa bersalah. Namun, dia tiba-tiba terperanjat dan menggaruk punggungnya seperti orang gila. Kemudian, dia hanya bisa berteriak, "Maaf! Maaf!"
Setelah itu, Jaylene hendak melompat dari jendela! Aku dan teman lain buru-buru menariknya.
Sejak saat itu, aku mencemaskan kesehatan mental Jaylene sehingga tidak mengganggunya lagi. Aku hanya diam-diam mengamatinya karena khawatir dia melakukan hal-hal nekat.
Suatu hari saat pelajaran olahraga, aku mendapati Jaylene tidak ada di lapangan. Aku mencarinya dengan cemas.
Pada akhirnya, aku menemukannya di kelas. Dia duduk di tempatku sambil mencari sesuatu dengan panik.
Aku terbelalak dan bertanya, "Jaylene, kamu ngapain?"
Dia seolah-olah tidak mendengar pertanyaanku. Setelah menemukan selembar kertas, dia sontak berteriak kaget. Ketika menatapku, matanya pun dipenuhi ketakutan.
Sebelum pelajaran olahraga berakhir, Jaylene pergi ke ruang guru untuk meminta ganti tempat duduk.
Guru merasa tidak berdaya. "Tempat dudukmu sangat bagus. Di depan kelas. Kamu mau duduk di tengah?"
"Ya, aku nggak mau paling depan, nggak mau paling belakang. Kumohon!" Saat berbicara, Jaylene melirik ke luar jendela dengan gugup.
Kebetulan, dia melihatku dan langsung menangis, "Kumohon, Bu!"
Guru mulai kehilangan kesabaran. "Aku juga harus memikirkan perasaan murid lain. Aku nggak bisa memenuhi permintaanmu ini. Permintaanmu terlalu banyak."
Jaylene bak disambar petir. Kedua kakinya pun melemas. Dia ingin pergi, tetapi tidak berani keluar karena melihatku berdiri di depan pintu.
Aku hanya bisa mengembuskan napas panjang, lalu kembali ke kelas. Jaylene tidak kembali sejak tadi.
Keesokan hari, guru memberi tahu kami bahwa Jaylene mengambil cuti panjang. Guru mengetuk papan dan berkata dengan serius, "Jaylene sakit, jadi butuh istirahat panjang. Anak-anak, sekarang kalian masih SMA 2, tapi tetap harus fokus belajar. Faktor lingkungan nggak penting, yang paling penting adalah pikiran kalian harus tenang."
Meskipun guru berkata demikian, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk mencari jawaban. Begitu pelajaran berakhir, aku langsung mencari Regina, sahabatku. Kami sama-sama ke koridor untuk mengobrol.
Aku mengepalkan tanganku. "Aku harus cari tahu penyebabnya. Kalau nggak, aku nggak bisa tenang."
Regina tampak frustrasi. "Aku nggak tahu penyebabnya. Tapi, aku bakal membantumu menyelidiki masalah ini."
Bab 3
Regina teringat pada Jaylene yang diam-diam kembali ke kelas saat pelajaran olahraga dan mencari sesuatu di mejaku. "Pasti ada alasan dia melakukan itu."
"Ya, tapi aku nggak bisa terpikir akan alasannya." Aku menyerahkan kertas itu kepada Regina. "Cuma hasil pemeriksaan fisik. Semuanya normal."
Aku tidak mengerti kenapa Jaylene mencari hasil pemeriksaan fisikku. Regina juga tampak bingung. "Apa dia takut kamu punya penyakit menular?"
Aku mengamati tubuhku sebelum membalas, "Aku nggak terlihat seperti orang yang punya penyakit kulit, 'kan? Kulitku sangat bagus kok."
"Ya iya, aku juga tahu itu." Regina mengerlingkan bola matanya.
Masalah ini aneh sekali. Beberapa hari lalu, aku sempat bertanya kepada ketua kelas, apa ada yang aneh dariku? Dia mengamatiku dengan heran, lalu memberitahuku aku terlihat normal.
Setidaknya, aku bukan orang aneh di mata ketua kelas. Aku mungkin bisa meminta bantuannya soal ini.
Setelah memikirkan ini, aku kembali ke kelas untuk mencarinya. Kebetulan, dia juga mencariku untuk mengobrol.
"Yvonne, kamu baik-baik saja, 'kan? Kamu nggak sedih karena masalah kedua teman sebangkumu, 'kan?" tanyanya.
Aku menyahut dengan gusar, "Aku bingung sekali. Mereka bersikap seolah-olah aku ini wabah penyakit."
Ketua kelas menghiburku, "Itu bukan salahmu. Guru bilang fengsui tempat duduk itu kurang bagus. Aroma bunga terlalu kuat, jadi membuat kesadaran mereka kurang bagus."
Aku tahu dia ingin membuatku tertawa. "Nggak apa-apa. Aku tahu hal ini ada kaitannya denganku. Kamu nggak usah menghiburku."
Ketua kelas bertanya, "Kalau begitu, apa kamu ingat sejak kapan sikap mereka tiba-tiba berubah?"
Aku mencoba mengingatnya. Sikap Whitney berubah sejak bunga sakura mekar. Itu berarti beberapa hari setelah semester baru dimulai. Sementara itu, Jaylene yang awalnya ramah dan aktif menjadi dingin dan panikan setelah jam makan siang.
Ketua kelas menangkap poin penting. "Saat bunga sakura mekar, apa kamu melakukan sesuatu?"
Aku merenung sejenak sebelum membalas, "Aku, Whitney, dan Regina cuma pergi ke hutan kecil di sekolah untuk lihat bunga sakura."
"Hutan kecil? Bukannya sekolah melarang murid ke sana? Ngapain kalian ke sana?" tanya ketua kelas dengan nada bicara menyalahkan.
Tidak berselang lama, ekspresi ketua kelas menjadi takut. Setelah menatapku dengan tatapan aneh, kedua kakinya gemetaran. Kemudian, dia berlari ke luar kelas.
Regina mencebik. "Sekolah melarang kita pergi karena ada banyak serangga di sana, 'kan? Masa laki-laki takut sampai seperti itu?"
Aku akhirnya tersadar. "Ternyata alasannya karena hutan kecil itu. Gimana kalau kita ke sana setelah pulang sekolah nanti?"
"Terserah kamu." Regina merentangkan tangannya.
Ketika aku kembali dari kantin, kelas masih kosong melompong. Aku berdiri di depan pintu, melihat ketua kelas mencari sesuatu di mejaku.
Matanya merah. Dahinya berkeringat. Dia akhirnya menemukan selembar kertas. Begitu melihatnya, dia bak disambar petir.
Ketika mendongak dan melihatku, kedua kakinya pun melemas. Dia sontak berteriak ketakutan.
Aku terkejut mendengar teriakan itu. "Ngapain teriak-teriak? Guru suruh aku tanya kamu soal pemindahan tempat duduk."
"Kamu tanya guru saja. Aku nggak tahu!"
Aku khawatir ketua kelas jatuh pingsan karena terlalu panik. Pada akhirnya, aku ke ruang guru dan mencari wali kelas.
"Bu, aku benaran nggak tahu alasannya."
"Ini bukan salahmu. Pelajaran SMA terlalu sulit. Mungkin mereka stres," hiburnya. Meskipun begitu, dia tetap mengajariku cara untuk bergaul dan menyuruhku mengalah kepada teman.
"Begini saja, Bu. Lagian, nggak ada yang mau duduk sama aku. Regina sahabatku. Gimana kalau dia saja yang pindah?" Setidaknya, Regina tidak membenciku.
Tangan wali kelas yang mengetuk meja tiba-tiba membeku. Kemudian, dia menoleh dan menatapku dengan heran. "Regina? Siapa dia? Apa ada murid bernama Regina di kelas kita?"