Bab 2
Aku berbalik dan tersenyum lebar kepada Bi Tati yang sedang duduk di lantai.
"Baiklah, karena kakak iparku berkata demikian, kamu masih bisa bekerja di sini."
Bi Tati terlihat sangat senang dan buru-buru ingin bersujud di kakiku.
"Tapi ...." Aku berhenti sejenak, "Gajimu akan dikurangi menjadi satu juta dulu."
Aku pikir Bi Tati akan terkejut mendengar hal ini karena dia bilang seluruh keluarganya bergantung pada gajinya.
Jumlah mereka bahkan cukup banyak.
Uang satu juta tidak akan cukup untuk biaya hidup di ibu kota.
Namun, dia sangat lega mendengar hal ini dan langsung bersujud dengan senang.
Sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, Ina di sampingku berdiri dengan wajah ceria.
"Anita, kamu benar-benar berhati mulia!"
"Kalau begitu, nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku pergi dulu. Aku ada janji siang ini!"
Setelah mengatakan itu, dia meraih tas Hermès-nya dan memberikan peringatan kepada Bi Tati.
"Bi Tati, kamu sudah lama bekerja untukku, jadi jangan lakukan kesalahan lagi! Jaga semuanya dengan baik!"
"Adikku orang yang baik. Nanti gajimu akan naik dengan sendirinya!"
"Kalau kamu melakukan kesalahan lagi ... aku nggak akan bisa membelamu!"
Sejak kesalahan itu, Bi Tati menjadi lebih berhati-hati dan patuh.
Setiap hari, setelah memasak dan membersihkan rumah, dia kembali ke kamarnya dan tidak berkeliaran lagi.
Dia bahkan lebih patuh lagi saat aku di rumah.
Namun, aku masih khawatir. Jadi, saat Bi Tati pergi berbelanja, aku memasang kamera pengawas.
Aku memasangnya dari dalam hingga luar.
Baik itu ruang tamu, kamar mandi, atau kamar tidur.
Meskipun memecatnya adalah cara yang paling aman, aku tetap merasa ada yang aneh.
Terutama dengan sikap kakak iparku, Ina.
Aku sering berurusan dengan berbagai jenis orang licik dalam bisnis, jadi aku sangat waspada.
Jika ada sesuatu yang mencurigakan, aku akan menyelidikinya sampai tuntas, meskipun harus melalui banyak kesulitan.
Setelah mengantar tukang pasang kamera pengawas pergi, tiba-tiba ponselku berdering.
Itu pesan dari anakku.
Beberapa hari lagi dia akan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi dan sekarang dia sedang belajar di kelas bimbingan privat.
Kemarin aku mengajaknya untuk ikut ke luar negeri setelah ujian. Kebetulan aku ada urusan pekerjaan dan dia bisa bersantai setelah belajar keras.
Sekarang, dia mengirimkan balasan kepadaku.
Dia bilang dia ingin mengadakan pesta kelulusan di rumah bersama teman-temannya, jadi dia menolak ajakanku.
Aku tersenyum dan tidak membalas lagi.
Bagaimanapun juga, anakku sudah dewasa.
Sebagai ibu, aku tidak mau terlalu banyak ikut campur.
Tiba-tiba, terdengar suara dari luar.
Bi Tati kembali sambil membawa banyak barang belanjaan.
Dia terkejut melihatku berdiri di tengah ruang tamu.
"Nyo ... Nyonya."
Aku meliriknya sesaat dan mematikan layar ponsel.
"Lusa aku akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, dan Nichol akan mengadakan pesta kelulusan di rumah bersama teman-temannya."
"Belilah lebih banyak bahan makanan dan siapkan beberapa makanan penutup yang disukai anak-anak."
"Oh ya, beri tahu Nichol ...." Aku berhenti sejenak dan mengubah ucapanku, "Oh, nggak apa-apa ...."
Anak-anak jarang sekali bisa bahagia seperti ini.
Kalau mereka mau minum alkohol, aku akan mengizinkannya.
Lagi pula, mereka berada di rumah sendiri.
Mendengar itu, Bi Tati segera mengangguk. Matanya tidak fokus seolah memikirkan sesuatu, dan senyuman tipis muncul di wajahnya.
"Tenang saja, Nyonya. Serahkan semuanya padaku."
Melihat ekspresi yakin di wajahnya, aku langsung kembali ke kamar tidur untuk melanjutkan tidur tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku benar-benar tidak memperhatikan secercah kegembiraan dan rona merah di wajah Bi Tati saat aku pergi.
Bab 3
Pada hari keberangkatanku, aku berulang kali mengingatkan anakku.
"Jangan bermain terlalu larut. Suruh teman-temanmu pulang lebih awal."
"Tenang saja, Bu!"
Anakku meyakinkanku sambil tersenyum, lalu mengantarku ke pintu keberangkatan.
Di pesawat, aku meninjau kembali jadwal kerja di tempat tujuan, lalu tertidur sebentar.
Keesokan paginya, saat langit masih agak gelap, pesawat akhirnya mendarat.
Saat sedang menunggu untuk mengambil koper di tempat pengambilan bagasi, aku mematikan mode pesawat di ponsel.
Belasan panggilan tak terjawab dan puluhan pesan tiba-tiba muncul bersamaan.
Semuanya dari anakku.
Hatiku tiba-tiba merasa panik.
Perasaan tidak enak langsung muncul di benakku.
Aku mengabaikan koperku, mencari sudut yang sepi, dan segera menelepon balik.
Baru tersambung sekali, telepon langsung diangkat.
Namun, tidak ada yang berbicara. Hanya keheningan yang menyapa.
Kalau bukan karena suara napas terengah-engah anakku, aku hampir mengira tidak ada siapa-siapa di ujung telepon.
Setelah beberapa saat, dia berkata dengan suara gemetar, "Bu ... apa yang harus aku lakukan?"
Aku menggenggam ponsel dengan erat dan merasa panik.
"Ada apa? Kenapa? Kenapa kamu menelepon Ibu berkali-kali!"
Apakah dia menyesal karena tidak pergi bersamaku?
Kalau benar begitu, aku pasti akan memberi pelajaran pada bocah tidak tahu diri ini saat aku pulang nanti.
"Ibu ... aku ... aku ...."
Dia tergagap lama tanpa ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
Aku sangat cemas hingga aku ingin sekali masuk ke dalam ponsel dan menarik lehernya untuk memaksanya bicara.
"Apa yang terjadi? Cepat katakan! Ibu harus pergi rapat sebentar lagi!"
Anak ini benar-benar suka membuat masalah.
Aku melihat waktu di ponsel, sementara dia masih tergagap.
Aku sudah tidak tahan lagi. Saat aku hendak memarahinya, suara familiar tiba-tiba terdengar dari sana.
"Tuan Muda! Kenapa kamu melakukan ini? Kehormatanku! Harga diriku! Aku ... aku nggak mau hidup lagi!"
Diiringi suara isak tangis Bi Tati, anakku berkata dengan suara lemah dan penuh penyesalan, "Bu ... aku tidur ... aku tidur di ranjang yang sama dengan Bi Tati!"
Aku sangat terkejut.
Aku terdiam di tempat sambil menggenggam erat ponselku yang terasa seperti batu bata panas.
Dalam sekejap, pikiranku kosong.
Aku tampak kebingungan.
Lalu, aku berteriak tak percaya, "Apa kamu bilang? Nichol! Ulangi sekali lagi!"
Biasanya, anak ini memang suka bercanda.
Dia sering mengerjaiku.
Sebelumnya, aku tidak pernah menghiraukannya. Namun sekarang, dia berani bercanda seperti ini.
Dengan tangan gemetar, aku membuka halaman pembelian tiket penerbangan pulang sambil mendengarkan anakku yang mencoba menjelaskan di telepon.
"Bu! Aku benar-benar nggak tahu apa yang terjadi!"
"Kemarin aku hanya minum sedikit dengan teman-teman, lalu ... setelah mereka pulang, aku kembali ke kamar tidur."
"Pagi ini, saat aku bangun, aku ...."
Dia gemetar tanpa melanjutkan kata-katanya.
Belum sempat aku bicara, telepon itu sudah direbut.
"Nyonya! Nyonya harus menjadi penengah! Aku sudah setua ini, tapi dia masih ... masih ... aduh!"
"Apa yang kamu katakan! Aku sama sekali nggak menyentuhmu!"
"Tuan Muda, kenapa kamu masih berbohong? Kamu ...."
Telepon di sana tampaknya tak sengaja terputus.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik koper di sampingku dan bergegas kembali ke ruang tunggu.
Saat ini, aku sangat menyesal telah membiarkan Bi Tati tetap bekerja di rumahku hanya karena dorongan sesaat.
Dan juga membiarkan anakku mengadakan pesta di rumah.
Kalau saja aku memaksanya ikut, semua masalah ini tidak akan terjadi.
Aku menutup mata yang penuh dengan garis-garis merah karena kelelahan, lalu membuka ponsel untuk memberi tahu bahwa rapat dibatalkan.
Semua urusan ditunda sementara.
Yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan masalah ini.
Sejak panggilan telepon itu, anakku tidak mengirim pesan lagi.
Aku juga mencoba meneleponnya, tetapi ponselnya sudah dimatikan.
Awalnya, aku panik seperti cacing kepanasan.
Namun, setelah ketakutanku mereda, aku mulai kembali tenang.
Aku menatap ponsel yang kugenggam erat dan tiba-tiba teringat sesuatu.
Aku buru-buru membuka ponsel dan mulai menghubungkannya ke kamera pengawas di rumah.
Setelah beberapa saat, aku tersenyum dan menghela napas lega.
Lalu, aku menyimpan rekaman video kamera pengawas dengan tatapan penuh tekad.
Aku paling benci trik-trik kecil yang dibuat-buat seperti ini.
Kalau berani mengusikku, mari kita lihat siapa yang menang.
Saat sampai di rumah, aku melihat sebuah van tua parkir di luar rumah.
Dan juga ...
Aku menyipitkan mata saat melihat nomor plat mobil yang tidak asing.
Pintu rumah setengah terbuka.
Dari dalam, terdengar suara orang marah-marah.
Para tetangga berkumpul di sekitar dan menonton dengan penuh minat.
Para wanita yang biasanya minum teh sore bersamaku sekarang berkumpul dan mulai berbisik satu sama lain.
Mereka semua adalah orang-orang yang aku kenal.
Saat melihatku, mereka tersenyum canggung dan menyapaku.
Tiba-tiba, terdengar suara tangisan dari dalam rumah.
Ekspresiku langsung berubah, dan aku segera berlari masuk.