Logo
Skandal Cinta Pilot Angkuh
Skandal Cinta Pilot Angkuh

Skandal Cinta Pilot Angkuh

76 Bab
Tamat
Dalam Skandal Cinta Pilot Angkuh, Lara terjebak di pulau terpencil bersama Ardan, pilot dingin yang membencinya. Romance novel ini menguji kesetiaan Ardan pada tunangannya saat rahasia masa lalu terungkap. Baca fiction books menarik ini untuk melihat akhir pelarian mereka.
Bab 1 dari Skandal Cinta Pilot Angkuh

Lara mematut diri di depan cermin kecil di ruang ganti staf maskapai. Seragam pramugari berwarna biru tua yang ia kenakan terlihat rapi, membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang hitam legam disanggul sederhana, menyisakan beberapa helaian kecil yang membingkai wajah ovalnya. Senyumnya, seperti biasa, terpampang lebar di wajahnya-senyum yang menjadi ciri khasnya.

"Lara, senyummu itu seperti obat penenang," ucap Nadine, salah satu pramugari senior yang bekerja bersamanya. "Jangan terlalu sering senyum seperti itu, nanti pilotnya jatuh cinta, lho."

Lara tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus hati-hati. Jangan sampai ada yang salah paham."

Namun, di balik tawa itu, Lara menyimpan sesuatu. Tidak semua orang tahu bahwa senyumnya yang menawan itu adalah tameng. Dia sudah terbiasa menghadapi hidup dengan optimisme palsu. Lara tahu bahwa hidup ini penuh dengan badai, tetapi dia selalu memilih untuk terlihat kuat. Itu caranya bertahan.

Hari itu, Lara bertugas di penerbangan Jakarta–Labuan Bajo. Rutenya cukup singkat, hanya sekitar dua jam lebih, namun rekan-rekannya sudah mengingatkan bahwa kapten yang akan memimpin penerbangan ini adalah Ardan Pradipta-seorang pilot yang terkenal karena sikap dinginnya.

"Ardan itu seperti tembok es," gumam Nadine dengan nada setengah bercanda. "Aku yakin dia hanya tahu tiga kalimat: 'Jangan ganggu saya', 'Lakukan pekerjaanmu', dan 'Diam'."

Lara hanya tersenyum mendengarnya. Dia bukan tipe orang yang mudah terganggu oleh sikap orang lain. Baginya, setiap orang punya alasan di balik sikapnya.

Ardan Pradipta memasuki ruang brifing dengan langkah mantap, tubuh tingginya menjulang di antara para kru. Seragam pilot yang ia kenakan terlihat sempurna tanpa cela. Wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya dingin, seperti jurang yang dalam dan gelap. Semua orang di ruangan itu segera menghentikan percakapan mereka saat ia masuk, seolah-olah keberadaannya membawa aura yang memaksa semua orang untuk tunduk.

Lara memperhatikan Ardan dari kejauhan. Ada sesuatu yang aneh tentang pria itu. Bukan hanya sikapnya yang membuat orang lain merasa kecil, tetapi juga cara dia membawa dirinya sendiri, seolah dia sedang memikul dunia di bahunya.

"Kapten," sapa Nadine dengan sopan, mencoba mencairkan suasana.

Ardan hanya mengangguk singkat, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pandangannya melintas ke seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Lara. Dia menatapnya dengan tajam, membuat Lara sedikit bergeser di tempatnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya merasa tidak nyaman, seolah-olah Ardan sedang menghakiminya.

"Pramugari baru?" tanyanya dingin, suaranya berat dan rendah.

Lara mencoba tetap tenang. "Saya Lara, Kapten. Sudah hampir enam bulan bekerja di maskapai ini."

"Hmm," gumam Ardan tanpa ekspresi. "Lakukan tugasmu dengan benar. Jangan jadi beban."

Kalimat itu menusuk Lara, tapi dia menelan rasa kesalnya. Dia tahu pria seperti Ardan tidak akan peduli dengan apa yang dia rasakan. Baginya, yang penting adalah profesionalisme. Namun, Lara tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya mengapa pria itu terlihat begitu penuh kebencian.

Penerbangan dimulai dengan lancar. Lara bekerja dengan efisiensi yang tinggi, melayani penumpang dengan senyum khasnya. Setiap kali dia berjalan melewati kokpit, dia merasa tatapan Ardan mengikuti gerakannya. Namun, pria itu tidak pernah mengatakan apa-apa, hanya sesekali memberikan instruksi singkat melalui interkom.

Di tengah penerbangan, cuaca mulai memburuk. Awan gelap menyelimuti langit, dan turbulensi mulai mengguncang pesawat. Penumpang mulai gelisah, beberapa dari mereka bahkan berdoa dengan suara pelan. Lara berjalan ke lorong, menenangkan para penumpang dengan suara lembutnya.

"Tenang saja, semuanya. Ini hanya turbulensi ringan. Kapten kami adalah pilot yang sangat berpengalaman, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," katanya, mencoba memberikan rasa aman.

Namun, di dalam kokpit, situasinya jauh dari tenang. Ardan berkonsentrasi penuh pada instrumen di depannya, sementara co-pilotnya, Rizky, terlihat sedikit tegang.

"Mesinnya bermasalah," kata Rizky dengan nada cemas. "Kita harus mendarat darurat."

Ardan mengangguk. "Cari landasan terdekat."

"Tapi-tidak ada landasan di sekitar sini, Kapten. Satu-satunya opsi adalah laut atau pulau kecil itu."

Ardan menghela napas panjang, rahangnya mengeras. "Baik. Kita arahkan ke pulau itu."

Pesawat akhirnya berhasil mendarat darurat di sebuah pulau terpencil. Semua penumpang selamat, tetapi komunikasi dengan dunia luar terputus total. Lara membantu para penumpang keluar dari pesawat, memastikan semuanya baik-baik saja. Di saat yang sama, Ardan berdiri sedikit menjauh, memandang pesawat yang rusak dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kita harus menunggu bantuan datang," kata Lara, mendekati Ardan dengan hati-hati. "Aku yakin tim SAR akan segera menemuk-"

"Apa kamu selalu seperti ini?" potong Ardan tiba-tiba, suaranya tajam. "Selalu mencoba terlihat ceria, seolah-olah semuanya baik-baik saja?"

Lara terkejut. "Aku hanya berusaha membantu semua orang untuk tetap tenang."

Ardan menatapnya dengan mata yang penuh kebencian. "Senyummu itu... membuatku muak."

Hati Lara mencelos. "Kenapa kamu begitu membenciku? Aku bahkan tidak mengenalmu."

"Karena kamu mengingatkanku pada seseorang," jawab Ardan, suaranya tiba-tiba melembut, tetapi tetap penuh kepahitan. "Seseorang yang aku ingin lupakan, tapi tidak bisa."

Lara tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa berdiri di sana, merasa kecil di bawah tatapan tajam Ardan. Di balik rasa sakit itu, dia melihat sesuatu yang lain-luka yang begitu dalam, tersembunyi di balik tembok es yang Ardan bangun di sekelilingnya.

Malam itu, setelah semua penumpang tertidur, Lara duduk di tepi pantai, memandang bintang-bintang yang bersinar redup di langit. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang menenangkan. Namun, pikirannya penuh dengan kebingungan.

"Kenapa kamu di sini?" suara Ardan tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Lara menoleh dan melihat pria itu berdiri, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada sesuatu dalam matanya yang berbeda.

"Aku hanya butuh waktu untuk berpikir," jawab Lara pelan. "Kenapa kamu selalu bersikap seperti itu padaku, Ardan? Aku tidak pernah melakukan apa pun untuk menyakitimu."

Ardan terdiam, menatap laut sejenak sebelum akhirnya duduk di sebelah Lara. Untuk pertama kalinya, dia terlihat sedikit rapuh. "Karena senyummu itu... mengingatkan aku pada tunanganku."

"Tunanganku," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan, "meninggalkanku setahun yang lalu. Dia mencampakkanku untuk pria lain, tapi sebelum itu, dia selalu tersenyum seperti kamu. Senyumnya adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum dia menghancurkan hatiku."

Lara merasa hatinya berat mendengar pengakuan itu. Dia menyadari bahwa di balik keangkuhan Ardan, ada seorang pria yang terluka parah. Namun, dia juga tahu bahwa mereka berdua sekarang berada di jalan yang sama-sama berbahaya.

"Aku bukan dia, Ardan," kata Lara lembut. "Aku tidak akan menyakitimu."

Ardan menatapnya lama, seolah-olah mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. Tapi di balik tatapan itu, ada sesuatu yang lain-sesuatu yang membuat Lara merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Lara merasakan bahwa kebencian dan gairah bisa berjalan berdampingan, membakar keduanya di bawah langit yang retak.

(Bersambung)

Bab ini bisa dikembangkan lebih panjang dengan memperdalam dialog, deskripsi, dan konflik emosional di antara karakter jika diinginkan. Apakah perlu lebih mendetail atau langsung ke bagian tertentu?Tentu, berikut adalah versi bab pertama yang lebih panjang dan penuh dengan emosi, mendalami konflik dan suasana hati kedua tokoh utama.

---

### **Bab 1: Langit yang Retak**

Lara mematut diri di depan cermin kecil di ruang ganti staf maskapai. Seragam pramugari berwarna biru tua yang ia kenakan terlihat rapi, membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang hitam legam disanggul sederhana, menyisakan beberapa helaian kecil yang membingkai wajah ovalnya. Senyumnya, seperti biasa, terpampang lebar di wajahnya-senyum yang menjadi ciri khasnya.

"Lara, senyummu itu seperti obat penenang," ucap Nadine, salah satu pramugari senior yang bekerja bersamanya. "Jangan terlalu sering senyum seperti itu, nanti pilotnya jatuh cinta, lho."

Lara tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus hati-hati. Jangan sampai ada yang salah paham."

Namun, di balik tawa itu, Lara menyimpan sesuatu. Tidak semua orang tahu bahwa senyumnya yang menawan itu adalah tameng. Dia sudah terbiasa menghadapi hidup dengan optimisme palsu. Lara tahu bahwa hidup ini penuh dengan badai, tetapi dia selalu memilih untuk terlihat kuat. Itu caranya bertahan.

Hari itu, Lara bertugas di penerbangan Jakarta–Labuan Bajo. Rutenya cukup singkat, hanya sekitar dua jam lebih, namun rekan-rekannya sudah mengingatkan bahwa kapten yang akan memimpin penerbangan ini adalah Ardan Pradipta-seorang pilot yang terkenal karena sikap dinginnya.

"Ardan itu seperti tembok es," gumam Nadine dengan nada setengah bercanda. "Aku yakin dia hanya tahu tiga kalimat: 'Jangan ganggu saya', 'Lakukan pekerjaanmu', dan 'Diam'."

Lara hanya tersenyum mendengarnya. Dia bukan tipe orang yang mudah terganggu oleh sikap orang lain. Baginya, setiap orang punya alasan di balik sikapnya.

---

Ardan Pradipta memasuki ruang brifing dengan langkah mantap, tubuh tingginya menjulang di antara para kru. Seragam pilot yang ia kenakan terlihat sempurna tanpa cela. Wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya dingin, seperti jurang yang dalam dan gelap. Semua orang di ruangan itu segera menghentikan percakapan mereka saat ia masuk, seolah-olah keberadaannya membawa aura yang memaksa semua orang untuk tunduk.

Lara memperhatikan Ardan dari kejauhan. Ada sesuatu yang aneh tentang pria itu. Bukan hanya sikapnya yang membuat orang lain merasa kecil, tetapi juga cara dia membawa dirinya sendiri, seolah dia sedang memikul dunia di bahunya.

"Kapten," sapa Nadine dengan sopan, mencoba mencairkan suasana.

Ardan hanya mengangguk singkat, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pandangannya melintas ke seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Lara. Dia menatapnya dengan tajam, membuat Lara sedikit bergeser di tempatnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya merasa tidak nyaman, seolah-olah Ardan sedang menghakiminya.

"Pramugari baru?" tanyanya dingin, suaranya berat dan rendah.

Lara mencoba tetap tenang. "Saya Lara, Kapten. Sudah hampir enam bulan bekerja di maskapai ini."

"Hmm," gumam Ardan tanpa ekspresi. "Lakukan tugasmu dengan benar. Jangan jadi beban."

Kalimat itu menusuk Lara, tapi dia menelan rasa kesalnya. Dia tahu pria seperti Ardan tidak akan peduli dengan apa yang dia rasakan. Baginya, yang penting adalah profesionalisme. Namun, Lara tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya mengapa pria itu terlihat begitu penuh kebencian.

---

Penerbangan dimulai dengan lancar. Lara bekerja dengan efisiensi yang tinggi, melayani penumpang dengan senyum khasnya. Setiap kali dia berjalan melewati kokpit, dia merasa tatapan Ardan mengikuti gerakannya. Namun, pria itu tidak pernah mengatakan apa-apa, hanya sesekali memberikan instruksi singkat melalui interkom.

Di tengah penerbangan, cuaca mulai memburuk. Awan gelap menyelimuti langit, dan turbulensi mulai mengguncang pesawat. Penumpang mulai gelisah, beberapa dari mereka bahkan berdoa dengan suara pelan. Lara berjalan ke lorong, menenangkan para penumpang dengan suara lembutnya.

"Tenang saja, semuanya. Ini hanya turbulensi ringan. Kapten kami adalah pilot yang sangat berpengalaman, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," katanya, mencoba memberikan rasa aman.

Namun, di dalam kokpit, situasinya jauh dari tenang. Ardan berkonsentrasi penuh pada instrumen di depannya, sementara co-pilotnya, Rizky, terlihat sedikit tegang.

"Mesinnya bermasalah," kata Rizky dengan nada cemas. "Kita harus mendarat darurat."

Ardan mengangguk. "Cari landasan terdekat."

"Tapi-tidak ada landasan di sekitar sini, Kapten. Satu-satunya opsi adalah laut atau pulau kecil itu."

Ardan menghela napas panjang, rahangnya mengeras. "Baik. Kita arahkan ke pulau itu."

Pesawat akhirnya berhasil mendarat darurat di sebuah pulau terpencil. Semua penumpang selamat, tetapi komunikasi dengan dunia luar terputus total. Lara membantu para penumpang keluar dari pesawat, memastikan semuanya baik-baik saja. Di saat yang sama, Ardan berdiri sedikit menjauh, memandang pesawat yang rusak dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kita harus menunggu bantuan datang," kata Lara, mendekati Ardan dengan hati-hati. "Aku yakin tim SAR akan segera menemuk-"

"Apa kamu selalu seperti ini?" potong Ardan tiba-tiba, suaranya tajam. "Selalu mencoba terlihat ceria, seolah-olah semuanya baik-baik saja?"

Lara terkejut. "Aku hanya berusaha membantu semua orang untuk tetap tenang."

Ardan menatapnya dengan mata yang penuh kebencian. "Senyummu itu... membuatku muak."

Hati Lara mencelos. "Kenapa kamu begitu membenciku? Aku bahkan tidak mengenalmu."

"Karena kamu mengingatkanku pada seseorang," jawab Ardan, suaranya tiba-tiba melembut, tetapi tetap penuh kepahitan. "Seseorang yang aku ingin lupakan, tapi tidak bisa."

Lara tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa berdiri di sana, merasa kecil di bawah tatapan tajam Ardan. Di balik rasa sakit itu, dia melihat sesuatu yang lain-luka yang begitu dalam, tersembunyi di balik tembok es yang Ardan bangun di sekelilingnya.

---

Malam itu, setelah semua penumpang tertidur, Lara duduk di tepi pantai, memandang bintang-bintang yang bersinar redup di langit. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang menenangkan. Namun, pikirannya penuh dengan kebingungan.

"Kenapa kamu di sini?" suara Ardan tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Lara menoleh dan melihat pria itu berdiri, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada sesuatu dalam matanya yang berbeda.

"Aku hanya butuh waktu untuk berpikir," jawab Lara pelan. "Kenapa kamu selalu bersikap seperti itu padaku, Ardan? Aku tidak pernah melakukan apa pun untuk menyakitimu."

Ardan terdiam, menatap laut sejenak sebelum akhirnya duduk di sebelah Lara. Untuk pertama kalinya, dia terlihat sedikit rapuh. "Karena senyummu itu... mengingatkan aku pada tunanganku."

"Tunanganku," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan, "meninggalkanku setahun yang lalu. Dia mencampakkanku untuk pria lain, tapi sebelum itu, dia selalu tersenyum seperti kamu. Senyumnya adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum dia menghancurkan hatiku."

Lara merasa hatinya berat mendengar pengakuan itu. Dia menyadari bahwa di balik keangkuhan Ardan, ada seorang pria yang terluka parah. Namun, dia juga tahu bahwa mereka berdua sekarang berada di jalan yang sama-sama berbahaya.

"Aku bukan dia, Ardan," kata Lara lembut. "Aku tidak akan menyakitimu."

Ardan menatapnya lama, seolah-olah mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. Tapi di balik tatapan itu, ada sesuatu yang lain-sesuatu yang membuat Lara merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Lara merasakan bahwa kebencian dan gairah bisa berjalan berdampingan, membakar keduanya di bawah langit yang retak.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Alpha Damon
Alpha Damon
Dalam novel Alpha Damon, Damon yang terkutuk harus memilih antara menjadi kejam atau memimpin sebagai Alpha demi melindungi seorang putri. Ikuti petualangan penuh aksi dalam werewolf romance novels ini, sebuah web novel tentang perjuangan kekuasaan dan takdir di dunia werewolf.
Dark in Antares City
Dark in Antares City
Dalam Dark in Antares City, Rio Rosswel bertekad membalas dendam setelah menyaksikan ibunya dibantai Eaters. Ikuti misi bertahan hidup di vampire romance books ini, di mana ia harus membasmi monster pemangsa manusia dalam kisah adventure story yang penuh aksi dan kengerian horor.
Kronik Takdir Terlama
Kronik Takdir Terlama
Dalam Kronik Takdir Terlama, sang penjelajah multiverse melintasi dimensi demi memperkuat diri dan mengubah masa depan. Lewat fantasy novel ini, ia menjalin aliansi dengan sekutu kuat di tengah misi adventure story dan romance novel yang menentukan nasib dunia di masa lalu serta masa kini.
MENGEJAR MIMPI KE NEGERI SAKURA
MENGEJAR MIMPI KE NEGERI SAKURA
Dalam MENGEJAR MIMPI KE NEGERI SAKURA, Rana bertekad mencari ayah kandungnya di Jepang demi mengungkap jati diri. Meski ditentang keluarga, ia memulai adventure di romance novel ini untuk membuktikan harga dirinya. Baca kisah young adult ini di web novel kami sekarang.
My Handsome Partner
My Handsome Partner
Dalam My Handsome Partner, Senja terjebak di Hutan Sungai Hitam pasca bencana. Berbekal naluri survival, ia menyelamatkan Jagawana bernama Bayu. Kolaborasi mereka dalam fantasy romance ini mengungkap misteri desa, menjadi pilihan antara masa lalu dan misi baru di fiction fantasy novels.
Pengkhianatan Sang Gamma, Pasangan Pendendam Sang Alpha
Pengkhianatan Sang Gamma, Pasangan Pendendam Sang Alpha
Dalam Pengkhianatan Sang Gamma, Pasangan Pendendam Sang Alpha, putri Alpha dikhianati oleh pasangannya demi kekuasaan. Kisah werewolf romance ini mengikuti misinya mencari balas dendam melalui pasangan kedua yang kuat. Baca web novel penuh aksi dan fantasy novel ini sekarang.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Siaran Langsung Perselingkuhan
Siaran Langsung Perselingkuhan
Setelah mengetahui bahwa istrinya, yang terlalu berdedikasi untuk menghidupi saudara laki-lakinya dengan mengorbankan keluarga mereka sendiri, telah tidak setia, pria itu berpura-pura hilang dan memulai siaran langsung publik untuk mencarinya. Segera, seluruh kota menyadari perselingkuhan wanita itu.
Dia Murni Bagaikan Malaikat
Dia Murni Bagaikan Malaikat
Zia Seruya mengetahui bahwa suaminya, Marsel Lesmana, yang berhati dingin, memelihara Maya Sanjaya, seorang gadis yang dianggap murni bagaikan malaikat. Protes Zia pada acara keluarga hanya dibalas dengan surat cerai. Ketika ia menolak menandatangani, tekanan dari Marsel meningkat hingga menyebabkan kematian orang tua Zia. Zia kemudian terlahir kembali, tepat pada hari ia menemukan keberadaan Maya. Ia segera mengamankan orang tuanya, menyiapkan dokumen perceraian, dan kini didorong oleh satu rasa penasaran: ingin melihat langsung seperti apakah "malaikat" yang bernama Maya itu.
[Versi suara dubbing] Berkat yang Berbalik Buruk
[Versi suara dubbing] Berkat yang Berbalik Buruk
Tiga tahun yang lalu, dia mensponsori seseorang saat berdoa untuk anak masa depannya. Tiga tahun kemudian, orang yang disponsori melakukan magang bersama teman-teman, salah mengira sang sponsor mencintainya, dan mengganggunya ketika dia hamil, hampir menyebabkan keguguran.
Empat Kakak Menggoda Saya Pulang Setelah Memutus Hubungan
Empat Kakak Menggoda Saya Pulang Setelah Memutus Hubungan
Di kehidupan sebelumnya, dia diabaikan oleh keluarganya dan dikhianati oleh saudaranya, yang menyebabkan kematiannya. Patah hati sebelum ajal menjemputnya, dia terlahir kembali pada hari ulang tahunnya. Saat saudara perempuannya memasuki kamarnya, dia menemukan kehidupan menyedihkan yang dia jalani. Sayangnya, dia telah lama kehilangan harapan pada mereka.
Putriku Tabib Hebat
Putriku Tabib Hebat
Raline dibesarkan tabib, lalu bertemu ayahnya Indra. Ia membantu mengobati penyakit dan mengatasi masalah di basis, hingga akhirnya hidup bahagia bersama ayahnya.