Bab 1
Suamiku selalu dipuji oleh teman-teman sebagai suami idaman.
Semua orang bilang dia begitu mencintaiku dan menjagaku sepenuh hati.
Hingga akhirnya aku pergi melakukan pemeriksaan kehamilan.
Kakak sepupuku meneleponnya untuk berpamitan sebelum bunuh diri.
Tanpa ragu sedikitpun, dia meninggalkan aku yang sedang hamil enam bulan dan pergi menemuinya dengan panik.
Ibuku malah memintaku untuk berlapang dada dan ‘meminjamkan’ suamiku pada kakak sepupuku yang sedang depresi.
Abangku juga memarahiku, “Kamu bisa tetap tinggal di rumah ini juga karena Susan membelamu! Jadi, apapun yang dia mau, kasih saja padanya!”
Aku merasa ini sungguh keterlaluan.
Padahal aku adalah keluarga kalian yang sebenarnya, dia hanyalah pencuri yang merebut posisiku.
Namun, saat akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kalian semua, kenapa justru kalian yang menyesalinya?
Di rumah sakit kota, aku berteriak histeris padanya,
“Rizky! Kalau kamu pergi hari ini, hubungan kita selesai!”
Langkahnya sempat terhenti, lalu Rizky pun buru-buru berbalik untuk memeluk dan mencium keningku.
Aku menggenggam tangannya secara reflek dan tak ingin dia pergi.
Dia melepaskan tanganku perlahan dan membisikkan satu kalimat di telingaku,
“Sayang, jangan pikir yang aneh-aneh. Aku hanya pergi melihatnya sebentar dan langsung balik nanti.”
Kemudian, dia pun berbalik dan berlari pergi.
Meninggalkanku berdiri sendirian dengan air mata yang terus mengalir.
Menjijikkan, benar-benar menjijikkan.
Mulutnya masih memanggilku ‘sayang’, tapi tanpa ragu pergi menemui wanita lain.
Rizky, kita selesai sampai sini.
Aku tak akan memaafkanmu lagi.
Ibuku yang datang mencari Rizky menggenggam tanganku dan dengan nada memohon, berkata padaku,
“Tania, bisakah kamu berlapang dada sedikit? Kakakmu depresi dan keadaannya cukup parah. Biarkanlah Rizky pergi menemaninya sebentar, ya? Ibu mohon padamu!”
Rasanya seperti ada pisau yang menusuk dadaku.
Ibuku sendiri memintaku untuk berlapang dada dan membiarkan suamiku menemani wanita lain.
Belum sempat aku merespon, seseorang bergegas masuk lagi.
Dia adalah abangku, Tonio.
Begitu masuk, kalimat pertamanya langsung menegurku,
“Tania, bisa nggak kamu berlapang dada sedikit? Rizky hanya pergi menemani Susan, apa yang kamu ributkan, sih?”
“Kamu bisa tetap tinggal di rumah ini juga karena Susan membelamu! Jadi, apapun yang dia mau, kasih saja padanya!”
Aku terhuyung selangkah dan menatap ibuku, tapi dia malah menghindari pandanganku.
Setelah memarahiku, mereka pun buru-buru pergi.
Notifikasi Whatsapp berbunyi. Aku membuka ponsel dan melihat pesan dari Susan.
[Tania, bagaimana rasanya ditinggalkan lagi?]
[Kamu nggak seharusnya kembali lagi ke rumah ini. Kandang babi di Desa Botania adalah rumahmu sebenarnya.]
[Sudah kubilang, rumah ini hanya boleh ada aku. Semua yang ada di rumah ini adalah milikku, termasuk Rizky. Selama aku mau, mereka semua akan memilih aku, bukan kamu.]
[Kalau aku jadi kamu, hidup dengan begitu gagal, lebih baik mati saja! Untuk apalagi hidup?]
Melihat pesan jahat yang dia kirim, aku sudah merasa mati rasa.
Sejak kecil hingga dewasa, setiap kali berhadapan dengan Susan, aku tidak pernah menang.
Setelah aku pulang ke rumah, Susan tidak hanya sekali mengirim pesan provokatif seperti ini.
Aku pernah juga menunjukkan pesan jahat yang dia kirim kepada ayah dan ibu, ingin mereka melihat siapa Susan yang sebenarnya.
Namun, mereka malah menatapku dengan jijik.
“Tania, jangan pakai cara licik seperti itu untuk memfitnah Susan. Kamu benar-benar menjijikkan.”
‘Menjijikkan’, itulah kata-kata yang digunakan orang tuaku untuk menggambarkan anaknya sendiri.
Kemudian aku baru tahu, kalau Susan sudah menyiapkan semuanya lebih dulu.
Susan bilang ke ayah dan ibu bahwa aku suka mengedit foto dan menyebar gosip tentang teman-temanku, lalu meminta mereka untuk menasihatiku.
Ternyata, memang ada yang namanya kepercayaan tanpa syarat, tapi bukan untukku.
Jika diingat kembali, sejak kapan mimpi buruk yang sebenarnya dimulai?
Saat kecil, kami sekeluarga pergi berlibur dan bus pariwisata mengalami kecelakaan.
Ibuku secara reflek melindungi Tonio, sementara ayah memeluk Susan.
Mereka memeluk harta kesayangan masing-masing dan tak menyadari diriku di belakang sedang diseret oleh seorang penculik yang menutup mulutku rapat-rapat.
Air mataku terus mengalir. Aku berusaha meronta sekuat tenaga, tapi kekuatanku tak bisa menandingi orang dewasa.
Aku hanya bisa berteriak dalam hati, ‘Ayah, Ibu, kumohon! Tolong menoleh ke belakang!’
‘Putri kalian diculik! Kumohon lihat aku!’
Hingga pingsan karena obat bius, aku tetap belum melihat mereka menoleh sekali pun.
Bab 2
Begitu sampai di rumah dan melihat kamar yang kosong, aku pun langsung mengerti.
Rizky pergi ke rumah sakit untuk menjaga Susan.
Aku membuka pintu kamar bayi dan terbengong menatap kamar bernuansa merah muda itu.
Ada ranjang bayi berwarna merah muda di dalamnya, di atasnya tertata mainan anak kecil, kerincingan merah muda dan boneka stroberi merah muda….
Lemari pakaian juga penuh dengan gaun-gaun kecil berwarna merah muda untuk bayi dari lahir hingga usia tiga tahun.
Saat pertama kali tahu diriku hamil, aku sempat bingung dan belum siap menjadi seorang ibu.
Namun, Rizky sangat gembira.
Suatu malam, saat bangun untuk ke kamar mandi, aku menyadari dia tidak ada. Aku pun berjalan ke ruang kerja dan melihat dia duduk di depan komputer.
Cahaya dari komputer membuat wajah tampannya terlihat lembut.
Dia sedang mencari di internet [cara merawat ibu hamil] dan bahkan mencatat satu halaman penuh di kertas.
Saat itulah aku benar-benar tersadar bahwa diriku akan menjadi seorang ibu.
Bisa dibilang, semua harapanku pada anak ini awalnya datang dari Rizky.
Karena mengandung anak dari orang yang kucintai, aku pun dengan sendirinya mencintai bayi di dalam perutku.
Seiring perutku yang mulai membesar, rasa sayangku pada bayi itu makin dalam.
Sementara itu, Rizky jadi rajin berburu perlengkapan bayi di berbagai mal besar.
Namun entah kenapa, semua yang dibelinya selalu untuk bayi perempuan.
Aku sempat menertawakannya, “Kok kamu yakin sekali ini anak perempuan? Bagaimana kalau ternyata laki-laki?”
Rizky hanya tersenyum bangga dan menempelkan wajahnya di perutku yang mulai menonjol.
Tatapan matanya dipenuhi cahaya kebahagiaan.
“Kamu nggak mengerti. Ini adalah ikatan batin antara ayah dan anak perempuannya. Aku punya firasat, kamu pasti mengandung seorang putri cantik yang manis.”
Tuk… tuk….
Tiba-tiba, suara langkah kaki membawaku kembali ke kenyataan. Aku berbalik dan melihat Rizky sudah kembali.
Wajahnya terlihat lelah. Dia berjalan mendekat dan menuntunku ke sofa.
“Sayang, jangan berdiri terlalu lama saat hamil, kakimu bisa bengkak.”
Melihat aku diam saja, dia pun melanjutkan,
“Sayang, hari ini hanya kebetulan. Keadaan di sana sangat mendesak, jangan marah, ya?”
“Aku yang salah, nggak seharusnya meninggalkanmu di rumah sakit. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi.”
Nada suaranya terdengar begitu tulus, seolah dia benar-benar bisa menepati janjinya.
Namun, ini bukan pertama kalinya dia berbicara seperti itu. Setiap kali Susan mengalami ‘kecelakaan’, dia selalu memprioritaskan Susan.
Usai bicara, Rizky pun memijat kakiku.
Saat aku hendak berbicara, tiba-tiba tercium aroma parfum manis yang kuat dari tubuhnya.
Itu adalah aroma mawar kesukaan Susan.
Aku merasa mual dan tak bisa menahannya, langsung muntah.
Wajah Rizky panik. Dia mengambilkan tempat sampah untukku dan bertanya, “Kenapa? Kok mual-mual lagi?”
Setelah agak pulih, aku pun bicara dengan lelah, “Ini bukan mual karena hamil, tapi karena jijik.”
“Apa kamu bilang?” tanyanya karena tak mendengar jelas.
“Ini bukan mual karena hamil, tapi karena jijik mencium aroma parfum di tubuhmu.”
Dia pun memperlihatkan ekspresi sedihnya.
“Sayang, aku….”
Aku memotongnya, “Kita cerai saja!”
Dia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mendekat dan memelukku erat.
Suaranya sedikit bergetar,
“Sayang, kata cerai nggak boleh sembarang diucapkan, itu sangat menyakitkan. Kita sudah punya anak, mana mungkin bercerai? Kita harus hidup bersama sampai tua.”
Aku mendorongnya dan menatap matanya, lalu menjawab, “Rizky, bukankah sudah kubilang hari ini, kalau kamu pergi, hubungan kita selesai? Kamu nggak dengar?”
Dia pun panik dan menjawab, “Bukan seperti yang kamu pikirkan….”
Aku mendorongnya menjauh dan tak ingin mendengar penjelasannya.
Sejak Susan kembali, antara aku dan Susan, dia tak pernah memprioritaskan diriku.
Aku berjalan masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Mengabaikan ketukan Rizky, air mataku terus menetes.
Bayi di perutku pun sepertinya merasakan emosiku dan mulai gelisah.
Aku mengelus perutku untuk menenangkannya.
Maaf, nak. Gara-gara ibu, kamu harus lahir tanpa ayah.
Namun, ibu tak ingin kamu sama sepertiku, berulang kali ditinggalkan ayahmu untuk pergi mencari orang lain.
Bab 3
Tengah malam, aku mimpi buruk lagi tentang pengalaman masa lalu mengerikan bertahun-tahun yang lalu. Dalam mimpi, aku begitu ketakutan hingga tubuhku penuh dengan keringat dingin.
Aku terbangun dengan ketakutan, memikirkan masa-masa kelam yang rasanya lebih buruk dari kematian itu, air mataku tak terbendung.
Para penculik itu menjualku ke desa terpencil dan dibeli oleh seorang kakek untuk dijadikan calon menantu, untuk melayani putra mereka yang bodoh.
Sejak hari itu, aku harus bangun sebelum subuh untuk bekerja, mencuci seember besar pakaian kotor, memberi makan babi, pergi ke ladang dan menyuapi si bodoh itu.
Mereka bahkan membelikan rantai besi dan mengikatku bersama si bodoh.
Setiap selesai bekerja, aku harus mengikutinya dan menerima semua perundungan yang seharusnya dia terima dari anak-anak seusianya.
Jika ada luka sedikit saja di tubuh si bodoh, mereka akan memukuliku dua kali lipat lebih parah.
Setiap malam, aku meringkuk tidur di bawah ranjang si bodoh.
Setengah tahun berlalu seperti itu. Kami berdua makan dan tidur bersama. Si bodoh pun mulai punya sedikit perasaan padaku.
Aku pun menipunya agar membantuku membuka rantai dan berencana kabur dari desa itu. Tapi, baru sampai di gerbang desa, aku tertangkap lagi.
Aku dipukuli habis-habisan. Dua batang bambu sampai patah dan tubuhku penuh luka berdarah.
Kakiku bahkan patah.
Kalau saja mereka tidak butuh aku untuk menjaga si bodoh itu, mereka mungkin tak akan repot-repot mengobati lukaku.
Sebagai hukuman karena mencoba kabur, mereka mengikatku di kandang babi dan membiarkanku kelaparan selama tiga hari.
Aku begitu lapar sampai kepalaku pusing dan menatap makanan babi dengan pandangan berkunang.
Namun, aku dirantai di sudut kandang, tak bisa bergerak sedikit pun dan bahkan tidak bisa meraih makanan babi.
Setelah tiga hari, abang si bodoh membawakan semangkuk nasi basi.
Nasi itu sudah berjamur hijau, lengket dan berlendir.
Asam dan busuk sekali.
Perutku yang sudah kelaparan berhari-hari pun tak sanggup mencium baunya.
Aku ingin muntah.
Namun, abang si bodoh menginjak wajahku ke dalam mangkuk nasi.
Dia tersenyum sinis dan berkata, "Kamu nggak mau makan ini? Kalau begitu, lanjut kelaparan tiga hari lagi!"
Aku tidak ingin lagi merasakan rasanya kehilangan nyawa perlahan-lahan. Aku ingin hidup.
Meskipun tanpa harga diri sekalipun.
Aku menahan napas dan menelan nasi basi itu sedikit demi sedikit.
Dia berbalik pergi dengan gembira.
"Hahaha, aku menang taruhan. Istri si bodoh bahkan mau makan nasi yang si Blacky saja nggak mau...."
Setelah dia pergi, aku memuntahkan semua nasi basi itu.
Sejak saat itu, aku menderita sakit lambung yang parah.
Setelah mengenal Rizky dan tahu tentang penyakit lambungku, dia pun bangun lebih awal setiap pagi untuk memasakkan bubur penghangat untuk menjaga lambungku, lalu mengantarkannya ke bawah asramaku.
Teman-temanku semua memuji bahwa aku punya pacar idaman, yang sungguh tergila-gila padaku.
Namun, aku sungguh tidak tahu bahwa Rizky pernah punya hubungan dengan Susan. Andai tahu, aku tidak akan mungkin bersamanya.
Aku sudah cukup trauma setelah orang tua dan abangku yang semua direbut oleh perempuan itu. Aku tidak ingin orang yang kucintai punya hubungan apapun dengannya.
Namun, saat aku mengandung lima bulan, Susan kembali dari luar negeri dan barulah aku tahu bahwa mereka adalah cinta pertama satu sama lain.
Di hari Susan kembali, aku melihat Rizky kehilangan kendali untuk pertama kalinya. Dia merokok semalaman di balkon.
Padahal demi anak dalam kandunganku, dia sudah berhenti merokok berbulan-bulan.
Mungkin sejak saat itu seharusnya aku sadar, jika berhadapan dengan Susan, aku akan kalah total.
Pagi harinya, aku bangun dan melihat Rizky yang tidak tidur semalaman sedang sibuk di dapur.
Melihatku, dia langsung menyendokkan semangkuk bubur dengan wajah penuh perhatian.
"Sayang, lambungmu nggak sehat, cepat minum bubur penghangat yang kumasak ini."
Hatiku sempat menghangat sesaat.
Namun, saat melihat dia memegang termos bekal, seketika pandanganku menjadi dingin.
Wajahnya sempat terlihat panik dan menyembunyikan termos bekal itu di belakangnya.
"Sayang, jangan salah paham. Ibu bilang Susan nggak nafsu makan, jadi dia memintaku untuk memasakkan bubur untuknya."
Aku tersenyum miris.
"Rizky, saat memasak bubur itu, kamu sedang mengkhawatirkan istrimu yang sedang hamil atau mantan pacarmu yang sedang depresi dan mau bunuh diri?"