Bab 1

Aku disiram air keras dan mati di ruang bawah tanah.

Keluargaku tidak mengenali jasadku, mereka juga tidak melaporkan kejadian ini pada polisi.

Ibuku mengambil pisau bedah yang sudah lama tak terpakai, lalu memisahkan daging dan tulangku.

Ayahku dengan penuh semangat melapisi rangka tulangku dengan gips, hingga terbentuklah sebuah patung gips yang sangat indah.

Kakakku memamerkan patung itu dan meraih banyak penghargaan, menjadi seorang gadis genius yang dipuja banyak orang.

Namun kemudian, patung itu pecah, dan terungkaplah setengah ruas jariku yang terputus di dalamnya.

Mereka panik.

Larut malam, ruang bawah tanah.

Dengan pisau bedah, ibuku mengiris kulit dan dagingku dengan cekatan.

Mungkin karena sudah bertahun-tahun tidak memegang pisau, tangannya agak gemetar.

Lapisan demi lapisan kulit dan otot dipisahkan dengan rapi, lalu dilempar ke kantong sampah di sebelahnya.

Kakakku, Lenny Lianto, memeluk lengannya sendiri sambil meringkuk di sudut ruangan. Mata besarnya penuh ketakutan. "Bu, kita lapor polisi saja. Aku takut."

Aku melayang ke sampingnya, memandangnya dengan tatapan menyipit.

Beberapa hari lalu, aku menerima pesan dari ibuku, memintaku ke ruang bawah tanah untuk menemuinya.

Begitu masuk, sebuah benda keras menghantam bagian belakang kepalaku. Setelah rasa sakit yang tajam, aku kehilangan kesadaran.

Saat membuka mata lagi, yang kulihat adalah tubuhku sendiri yang berlumuran darah, dimutilasi hingga tak berbentuk.

Wajah dan tubuhku telah disiram air keras, sehingga sama sekali tidak bisa dikenali lagi.

Lenny gemetar ketakutan, nyaris tidak berani membuka mata.

Ibuku bahkan tidak mengangkat kepalanya. "Buat apa lapor polisi? Orang ini menerobos masuk sendiri, bukan kita yang membunuhnya. Daripada lapor polisi, lebih baik kita manfaatkan sedikit jasadnya."

"Bukannya kamu sebentar lagi akan ikut lomba mematung …?"

Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, ayahku memotong, sambil menepuk dahinya sendiri. "Benar juga, kenapa nggak terpikir olehku sebelumnya? Lenny, teknik mematungmu biasa saja, tapi kalau pakai rangka tulang asli sebagai model, hasilnya pasti beda."

Mendengarnya, aku melongo tidak percaya.

Mereka benar-benar akan menggunakan kerangka tubuhku sebagai model patung Lenny?

Dengan marah aku berjongkok, mengayunkan kedua tanganku, mencoba berdebat dengan mereka.

Pisau bedah itu menembus telapak tanganku, tak henti-hentinya membelah tubuhku.

Aku hanya bisa menyaksikan ibuku memisahkan kerangka tulangku, dengan darah yang berceceran menutupi tubuhnya.

Aku tidak pernah tahu dia begitu terampil.

Saat aku masih kecil, aku nakal dan tidak sengaja jatuh dari pohon.

Ibuku secara refleks menangkapku, melukai tangan kanannya, sehingga sejak itu dia tidak bisa lagi memegang pisau bedah.

Bakatnya yang luar biasa pun jadi sia-sia, membuatnya terjebak di apotek, menunggu waktu berlalu.

Selama bertahun-tahun, tidak heran jika dia membenciku.

Saat fajar belum menyingsing, dia mengemudikan mobilnya bersama Lenny, lalu membuang semua kulit dan dagingku ke laut.

Cairan merah itu ditelan laut sebelum sempat menyebar.

Dalam perjalanan pulang, dia tampak linglung dan menerobos beberapa lampu merah.

Ponselnya, yang tergeletak di konsol tengah, terus berdengung dengan notifikasi.

Dia meliriknya dan melemparkannya ke samping dengan sembarangan.

Aku duduk di kursi depan, dengan jelas melihat layar ponsel itu. Di layar percakapan milikku, ada dua baris pesan yang mencolok: [Bu, aku ada urusan mendadak, sudah kembali ke sekolah.]

[Aku akan sibuk sementara waktu ini, jadi nggak akan pulang.]

Aku sudah mati. Siapa yang memegang ponselku dan mengirim pesan?

Aku berusaha keras mengingat semua yang terjadi di ruang bawah tanah. Selain suara benda keras jatuh ke lantai, tidak ada lagi yang lain.

Selama beberapa hari berikutnya, ruang bawah tanah itu terang benderang.

Lenny dengan hati-hati memahat kepala plester dengan pisau pahat.

Saat ujung pisau yang tajam menelusuri kontur rongga mata, dia tertegun.

Tanpa sadar, tangannya gemetar.

Ayahku mendekat, lalu mengangguk puas.

Sambil menunjuk patung seukuran manusia yang berdiri di dekatnya, dia memanggil Lenny, "Ayah sudah mengerjakan ini selama seminggu penuh. Bagaimana menurutmu?"

Sebagai pematung terkenal, keahliannya tidak diragukan lagi.

Patung tubuh manusia setinggi orang dewasa itu memiliki garis yang halus dan sangat indah, hanya saja kepalanya belum ada.

Lenny berjinjit, menempatkan kepala yang dipegangnya ke bagian leher patung itu. Dia menepuk-nepuk sisa gips di tangannya, lalu mundur dua langkah.

Ayahku menepuk bahunya. "Lenny, pakai patung ini untuk ikut lomba. Namamu pasti akan dikenal."

Lenny berdiri di samping, matanya memancarkan sedikit kecemasan.

Aku berpegangan erat pada patung itu, merasakan cairan dingin menetes ke lehernya, tanpa meninggalkan jejak.

Bab 2

Bulan sabit akhirnya kembali bulat.

Ibuku akhirnya teringat padaku. Dia mengambil ponselnya dan melihat sekilas, lalu mencibir, "Sudah hari raya, tapi dia nggak pulang. Entah apa yang dia lakukan di luar sana."

Lenny berbaring di sofa dengan wajah penuh kebahagiaan.

Beberapa waktu terakhir, karyanya telah melewati beberapa babak dan masuk ke babak final.

Pencarian daring dengan cepat akan mengungkap banyak gambar patung itu, dan banyak ahli yang kagum dengannya.

Judul "Gadis Patung Genius" telah menyebar luas.

Penghargaan itu dibangun dari tulang-tulangku yang kering.

Namun, aku hanya bisa bersembunyi di sudut, mendengarkan semua ceritanya tentangku.

Lenny berpura-pura memeriksa ponselnya. "Hani bilang padaku kalau dia nggak akan pulang untuk hari raya. Mungkin dia bersama pacarnya atau apa."

Omong kosong. Sejak kapan aku punya pacar?

Aku mengerutkan kening, bingung dengan kebohongannya yang terang-terangan.

Mendengar ini, sorot mata ibuku berubah dingin. "Ibu sudah menduga. Lama nggak pulang, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan."

"Baru kuliah, sudah pacaran. Kalau memang sebegitu butuhnya laki-laki, kenapa nggak langsung ke bar saja buat jual diri? Mungkin dia bisa dapat pria kaya dan bawa pulang uang."

"Pacar-pacar di kampus itu apa gunanya? Bukannya cuma jadi objek tidur gratisan?"

"Kalau bukan karena menyelamatkan si cacat kecil itu, bagaimana mungkin dengan gelar master kedokteran yang bergengsi, Ibu malah berakhir di apotek? Nggak menghasilkan uang dan harus bergantung pada belas kasih orang lain."

Aku tak mengerti kalau memaki, kenapa ibuku yang bergelar master jadi seperti wanita kasar dengan kata-kata kotor.

Dulu, jelas-jelas Lenny yang telah berbohong kepadaku, mengatakan bahwa bonekanya terlempar ke pohon. Itulah sebabnya aku memanjat untuk mengambilnya.

Namun, saat aku memberi tahu Ibu, dia melotot dan menamparku, sambil berkata, "Dasar bocah nakal! Sudah salah, malah menyalahkan kakakmu?"

"Kakakmu itu penurut. Mana mungkin dia menyuruhmu manjat pohon. Kamu Cuma mengarang cerita."

Dia memutar pergelangan tangannya yang sakit, matanya merah darah. "Kalau tahu kamu akan bawa sial untukku, lebih baik dulu aku duduki kamu dan membunuhmu."

Kenangan itu membanjiri benakku, membuatku diam-diam mengusap sudut mataku.

Meskipun aku sudah mati, kenangan ini masih membuatku sedih.

Lenny tersenyum puas. Dia bangkit dari sofa, memasang ekspresi manis, dan memeluk ibuku. "Bu, jangan marah. Nggak ada gunanya marah pada orang seperti itu. Ibu masih punya aku!"

Seperti biasa, dia dengan mudahnya berganti wajah.

Kemarahan di wajah ibuku berangsur-angsur mereda. Dia membelai rambut Lenny dengan lembut. "Lenny memang anak Ibu yang paling baik. Biarkan saja Hani melakukan sesukanya. Dengan permainannya itu, dia mungkin akan kehilangan nyawanya suatu hari nanti. Kita lihat saja bagaimana akhirnya nanti."

Aku memejamkan mata. Begitulah ibuku. Satu kalimat darinya sudah cukup untuk melukaiku dalam-dalam.

Kami lahir dari rahim yang sama, tetapi kenapa orang tuaku hanya peduli pada Lenny?

Aku merasakan ketidakadilan dan memaksakan diri untuk menyelip di antara mereka berdua.

Diam-diam aku melingkarkan lenganku di pinggang ibuku, sesuatu yang selalu ingin kulakukan tetapi tidak pernah berani kulakukan.

Tetapi, meskipun aku begitu dekat, aku tidak bisa merasakan kehangatan apa pun.

Sejak Festival Musim Hujan itu, ketika mereka mengingatku sebentar, mereka telah melemparkanku kembali ke tong sampah kenangan mereka.

Sampai suatu hari, ayahku dengan penuh semangat pulang ke rumah sambil membawa undangan. Dia hampir tersandung saat memasuki ruangan.

Aku ingat terakhir kali dia begitu antusias adalah ketika aku masih di sekolah dasar.

Aku pernah memenangkan hadiah pertama dalam lomba seni tingkat provinsi, dan dia memberi pidato sebagai perwakilan orang tua siswa berprestasi.

Waktu itu, meskipun ibuku tidak menyukaiku, ayahku masih melindungiku.

Dengan penuh semangat, ayahku meletakkan undangan itu di atas meja. "Lenny, hasil final sudah keluar. Kamu dapat medali emas! Minggu ini kita diundang ke provinsi untuk menerima penghargaan secara langsung."

Lenny memutar tubuhnya beberapa kali dengan gembira. Ibuku memeluknya erat-erat. "Anak Ibu memang luar biasa! Ibu sangat bangga padamu."

Dia mengecup dahi Lenny dengan penuh kasih.

Tak jauh dari situ, patung yang terbuat dari tulang-tulangku berdiri kesepian.

Tiba-tiba, aku merasakan gejolak di perutku, dan aku hampir tidak bisa berdiri.

Mungkin tulang belulang itu sedang menangis, memohon padaku untuk membebaskannya.

Dengan susah payah, aku melayang mendekati patung itu, menyentuh tangannya, merasa tak berdaya dan putus asa.

Ayahku tampaknya menyadari sesuatu. Dia tiba-tiba menoleh ke arah kami.

Bab 3

Ayahku menghela napas, "Kalau Hani yang melakukannya, hasilnya pasti lebih baik!"

Wajah ibuku dan Lenny langsung berubah suram.

Mata Lenny berkaca-kaca. Dia mendekap ibuku dengan wajah penuh kesedihan. "Aku tahu aku nggak bisa menyaingi Hani, tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga."

Ibuku menyeka air matanya sambil melotot tajam ke arah ayahku. "Untuk apa mengungkit-ungkit anak sial itu? Meskipun dia berbakat, sekarang dia cuma sampah yang nggak berguna. Dia begitu rakus sampai berebut makanan dengan anjing. Pantas saja jarinya digigit sampai putus."

Aku memegangi kepalaku, lalu berjongkok. Ujung jariku yang buntung kembali terasa nyeri.

Dulu, ibuku memang tidak menyukaiku, sampai-sampai aku sering dibiarkan kelaparan.

Suatu kali, Lenny memberiku sepotong daging. Aku yang sangat lapar bersembunyi di bawah untuk memakannya diam-diam.

Entah dari mana, beberapa anjing besar datang menyerangku.

Aku memegangi daging itu sekuat tenaga, tidak mau melepaskannya. Akibatnya, tiga jariku digigit hingga putus, dan tangan kiriku hampir tidak berfungsi.

Saat ibuku dan Lenny tiba, aku sudah terguling di tanah menahan sakit.

Lenny menangis tersedu-sedu di pelukan ibuku. "Ibu, aku sudah bilang jangan rebut makanan dari anjing-anjing itu, tapi Hani nggak mau dengar."

Mendengar itu, ibuku langsung naik pitam dan menendangku berkali-kali. "Dasar nggak berguna! Apa rumah ini kekurangan makanan atau pakaian untukmu? Sampai harus berebut makanan dengan anjing! Kenapa nggak sekalian berebut kotoran? Kalau digigit sampai mati, itu salahmu sendiri!"

Ketika ayahku melihat jari-jariku yang rusak, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berbalik dan pergi begitu saja.

Ibuku, meski lulusan kedokteran, tetap membawaku ke rumah sakit dengan penuh omelan, takut aku terkena rabies dan malah merepotkan mereka.

Sejak saat itu, tiga jariku hilang, dan tangan kiriku hampir sepenuhnya tidak berguna.

Aku pun tidak bisa lagi memegang pisau pahat.

Ayahku mulai mencurahkan seluruh perhatiannya pada Lenny, meski dia sama sekali tidak berbakat.

Namun, ternyata, di bawah bimbingan guru yang hebat, bahkan kayu lapuk pun bisa diukir menjadi karya seni.

Hari penerimaan penghargaan tiba. Ayah dan ibuku tampil dengan pakaian mewah.

Lenny mengenakan gaun adibusana berwarna merah muda, dihiasi berlian kecil yang menggantung di bawahnya.

Sebelumnya, patung itu telah dikemas dengan hati-hati dan telah diangkut ke tempat acara penghargaan.

Di atas panggung, Lenny berdiri di samping patung itu dengan trofi di tangannya, memberikan pidato dengan penuh percaya diri.

Ibuku tak henti-hentinya menyeka air matanya karena terharu.

Ayahku berdiri tegap, menerima pujian dari berbagai penjuru.

Saat jamuan makan, Lenny seperti kupu-kupu kecil yang menarik ibuku ke sana kemari, bersosialisasi dengan semua orang.

Aku hanya bisa memperhatikan mereka dengan dingin, merasa ada api yang menyala dalam dadaku.

Bagaimana caranya agar rahasia di dalam patung itu bisa kuungkapkan?

Aku memutar ke belakang patung itu, mendorongnya dengan tangan, menendangnya dengan kaki, bahkan membenturkan tubuhku ke arahnya, sampai aku jatuh kelelahan di lantai.

Keputusasaan menerpaku seperti gelombang laut.

"Menurut kalian, bukankah patung ini terlihat tidak asing?"

Aku mendongak.

Itu suara Candra Setiadi, putra direktur sekolah.

Dia seorang pemuda berbakat, tetapi kami tidak saling kenal.

Dia berjalan mendekat, menatap patung itu dengan saksama, lalu mengangkat tangannya, menyentuh alis dan mata patung itu. "Kenapa mirip sekali?" gumamnya.

Aku menatapnya dengan tegang, jantungku berdebar kencang.

Apa dia mengenalinya?

"Candra …."

Lenny berjalan mendekat dengan gaun panjangnya, senyum manis di wajahnya. "Kamu juga datang?"

Diam-diam dia meremas jari ibuku, terlihat sangat bersemangat.

Candra mengangguk padanya dan berbalik untuk pergi. Namun, setelah beberapa langkah, dia berbalik. "Apa model patung ini adikmu?"

Lenny tertegun, tidak langsung menjawab.

"Kenapa dia nggak datang hari ini?"

Ibuku menyenggol Lenny, membuatnya tersadar. Dia memaksakan senyum. "Dia sibuk dengan pacarnya sekarang, malah sudah jarang pulang."

"Ya, putri bungsuku itu sangat liar. Dia menghabiskan sepanjang hari bermain-main di luar. Entah berapa banyak pacarnya."

Ibuku mendukung.

Candra tidak mengatakan apa pun, dan berbalik untuk pergi.

Lenny secara refleks meraih pergelangan tangannya, dan gaun panjangnya tersangkut di jari patung itu.

Dengan gerakannya, sebagian plester jatuh ke lantai, memperlihatkan tulang putih mengerikan di balik plester.

Aku menahan napas. Mataku terpaku pada Candra, berharap dia mau menoleh.

Lenny berdiri kaku, panik, kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Candra erat-erat. Dia hampir membeku di tempat.

Candra yang ditarik ke belakang secara refleks menunduk ….

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B53169" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B53169
Salin

Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya