Bab 1

Di meja makan, salah satu sahabat suamiku tiba-tiba berbicara dalam Bahasa Italia.

“Tiga tahun lalu, demi membantu Liora mendapatkan surat damai dari Amara, kamu menikahi Amara dengan pesta yang megah. Selama ini aku melihat sendiri, Amara makin lama makin peduli padamu. Tapi kamu masih saja terus membohonginya. Jelas-jelas itu pil KB, tapi kamu bilang obat depresi. Kamu nggak takut, kalau suatu hari dia tahu kebenarannya… hatinya akan hancur?”

Suamiku tersenyum pahit, wajahnya dipenuhi kerumitan.

“Seorang anak yang nggak diharapkan, nggak perlu lahir ke dunia. Soal Amara… selama dia nggak mengganggu kebahagiaan Liora, aku akan menepati janjiku, melindunginya seumur hidupku.”

Tak ada yang tahu, demi bisa mengikuti langkah suamiku, aku sudah menguasai Bahasa Italia sejak lama.

Aku berdiri di ambang ruang tamu. Bekas ciuman masih membekas di leherku. Tanganku menggenggam obat yang katanya “obat depresi”, padahal…

Tubuhku membeku.

Jadi… semua rasa yang suamiku tunjukkan padaku hanyalah kebohongan semata.

Yang kukira sebagai penyelamatan, rupanya hanya tipu daya yang direncanakan dengan rapi.

Kalau begitu, aku memilih untuk merelakan mereka semua.

Aku menelan obat itu tanpa ragu sedikit pun. Rasanya pahit, lebih pahit dari sebelum-sebelumnya.

Suara di meja makan masih berlanjut, tapi wajah Farez menunjukkan penuh rasa iba.

“Kita kesampingkan dulu soal kehamilan. Waktu Liora lompat ke sungai mau bunuh diri, ibu Amara mati-matian menyelamatkannya. Tapi Liora malah menginjak kepala ibu Amara sampai tenggelam. Raf, siapa pun yang nonton video itu pasti mikir dia sengaja. Jadi, wajar kalau Amara menuntutnya,” kata Farez panjang lebar.

“Tapi demi Liora nggak masuk penjara, kamu malah jadi wali sah Amara secara hukum dan diam-diam menandatangani surat damai. Liora hidup tenang, tapi Amara? Dia depresi berat, Raf. Tiap hari dia menyalahkan diri sendiri. Kalau nanti dia tahu kebenarannya, bisa-bisa dia benaran gila, Raf!” imbuh Farez tampak khawatir.

Raut wajah Rafael menegang, matanya terlihat gelisah, tapi suaranya tetap dingin dan tegas.

“Liora nggak sengaja melakukannya. Dia juga hampir tenggelam waktu itu. Itu semua tanpa sadar. Ibu Amara memang meninggal karena kejadian itu, tapi Liora sangat menyesal!”

“Aku simpan surat damai itu dengan baik. Selamanya Amara nggak akan tahu kebenarannya. Aku akan baik pada Amara, menebus semuanya dengan sisa hidupku. Aku akan berikan dia keluarga yang hangat. Dia pasti akan melupakan rasa sakit itu… dia akan baik-baik saja.”

Farez menghela napas panjang.

“Jangan marah, ya! Aku cuma kasihan sama Amara. Saat hatinya hancur, kamu hadir dalam hidupnya. Dia mulai mencintaimu, tapi kamu cuma mencintai Liora.”

“Sudahlah! Semoga kamu bisa simpan rahasia itu selamanya. Dan… semoga kamu nggak akan menyesal.”

Rafael meneguk birnya, lalu berkata dengan tegas, kata demi kata.

“Aku … nggak akan … menyesalinya!”

Aku nggak akan menyesal…

Kalimat itu membuatku tak sanggup lagi mengendalikan diri. Aku lari keluar dari rumah yang selama ini kuanggap sebagai tempat pulang.

Besok malam tahun baru, jalanan penuh dengan warna dan tawa. Tapi hatiku hancur.

Pagi tadi, Rafael masih memelukku dengan penuh gairah, membisikkan kata-kata manis, berulang kali mengatakan kalau dia mencintaku.

Sekarang, semua itu berubah menjadi belati, menusukku berkali-kali, membuat hatiku tercabik dan berdarah.

Aku berlari ke taman, duduk terpuruk di sana, air mata jatuh tanpa henti.

Kenangan yang selama ini terkubur perlahan muncul, bergulung bersama cinta yang telah hancur, membanjiri pikiranku.

Hari aku bertunangan dengan Ronald, Liora tak terima. Dia mencintai Ronald sepenuh hati. Dia meninggalkan surat, niatnya bunuh diri dengan melompat ke sungai.

Dia sangat pandai berenang. Meski anak haram ayahku, ibu tetap melompat ke sungai untuk menyelamatkannya.

Banyak yang merekam kejadian itu. Aku lihat sendiri, ibu berusaha mendorong Liora ke permukaan, tapi Liora malah menginjak bahu ibu dan sekuat tenaga mengayunkan kakinya ke kepala ibu sampai tenggelam.

Dan ibu meninggal tenggelam.

Aku segera berlari ke sana. Liora tampak menangis tersedu, air matanya deras seperti hujan.

“Aku cuma kalut sesaat, Kak. Jangan salahkan aku. Saat menyelamatkanku, mama pasti ingin aku hidup…”

Hatiku hancur saat itu. Aku tanya kenapa, padahal jelas dia bisa berenang, kenapa malah menginjak ibu sampai tenggelam. Namun, dia hanya bisa menangis, terus bilang itu tak sengaja.

Aku tuntut dia atas tuduhan pembunuhan berencana.

Namun Ronald justru membatalkan pertunangannya denganku dan menikah dengan wanita itu.

Bab 2

“Aku nggak akan biarkan kamu sakiti Liora,” ucapnya padaku.

Tak lama setelah itu, berbagai teori konspirasi merebak di dunia maya. Mereka menuduhku memanfaatkan kematian ibuku untuk mencari simpati, menaikkan popularitas dan menghasilkan uang.

Mereka menyebutku “anak durhaka online”, yang iri pada adikku sehingga tunanganku membatalkan pertunangan.

Tekanan netizen yang sangat besar membuatku sulit bernapas. Mentalku sempat runtuh, aku pun jatuh sakit dengan depresi berat.

Namun, aku tak pernah menyerah memperjuangkan keadilan untuk ibu.

Ibu telah merawat dan melindungiku selama dua puluh tiga tahun. Mana mungkin aku berani menyerah untuk menuntut keadilan baginya?

Di saat itulah, Rafael mulai mendekatiku dengan intens.

Perhatian yang penuh detail, perlindungan yang tak pernah luput dari hal sekecil apa pun. Aku menganggapnya sebagai penyelamat dalam hidupku, hingga akhirnya aku menerima lamarannya.

Setelah menikah, pengadilan memutuskan Liora tak bersalah.

Aku berusaha keras untuk melupakan masa lalu, berusaha menjadi lebih baik, bermimpi memiliki seorang anak dengan Rafael dan membangun keluarga yang bahagia dan utuh.

Namun, tanpa kusadari, penyelamat yang kuanggap sebagai harapan itu justru menjadi bukti cinta yang dalam kepada Liora sejak awal.

Rafael membuka payungnya dan entah sejak kapan sudah berdiri tepat di depanku. Saat dia memandangku, kerut di dahinya yang tegang perlahan mengendur, ada seberkas iba di matanya.

“Kenapa pergi nggak bilang-bilang? Aku khawatir…” katanya lembut.

“Cuaca juga makin dingin. Apalagi masuk akhir tahun, kerjaanku sedang sibuk. Kalau kamu sakit, gimana aku menjagamu nanti?”

Aku tak terkejut dia bisa menemukanku. Di ponselku, dia memasang aplikasi pelacak lokasi. Katanya, dia takut depresiku kambuh dan aku kenapa-kenapa. Dia ingin bisa menjagaku setiap saat.

Dulu aku percaya.

Tapi sekarang aku tahu, dia takut aku akan membuat masalah dengan Liora, jadi dia terus mengawasiku.

Aku mengedipkan mata, air mataku sudah kering. Aku terpaku menatap butiran salju yang terus berjatuhan dari langit tanpa henti

“Aku dengar… kalau membuat harapan saat salju pertama turun, bisa jadi kenyataan. Jadi aku ke sini.”

Keinginan pertamaku, semoga proses perceraian dengan Rafael berjalan lancar.

Keinginan kedua, semoga setelah bercerai, aku tak perlu bertemu dengannya lagi.

Keinginan ketiga, semoga ibu… tak membenciku.

Tak membenciku karena telah mencintai pria yang melindungi pembunuhnya, bahkan pernah ingin memiliki anak dengan pria itu.

Rafael meletakkan jaket di pundakku, menyentuh hidungku sambil tersenyum hangat.

“Kalau gitu pakai baju tebal. Coba lihat, tanganmu dingin sekali.”

“Harapan apa saja yang kamu minta barusan?” tanyanya.

Aku menatapnya kosong, membiarkan dia terus bermain dalam sandiwaranya yang penuh kasih.

“Ada yang tentang kita. Dan… tentang mama juga.”

Ekspresi Rafael sedikit berubah. Dia menatapku dalam-dalam.

“Gimanapun, Liora itu adik tirimu. Sekalipun kalian tidak akur, hubungan darah itu nggak bisa diputus. Mama meninggal, Liora pasti juga sedih. Kalian adalah keluarga satu-satunya bagi satu sama lain. Tiga tahun sudah berlalu, baiknya...”

“Aku tahu, aku nggak akan ribut lagi,” potongku cepat, aku mengerti apa maksudnya.

Aku pernah membawa kasus itu ke pengadilan. Liora dinyatakan tidak bersalah. Saat itu, aku tidak mengajukan banding. Sekarang pun, meski menarik kembali surat damai yang pernah ditandatangani diam-diam, hasilnya takkan berubah.

Dengan wajah tenang tanpa ekspresi, Rafael tampak lega. Senyum kecil menghiasi bibirnya, menandakan hatinya kini lebih lapang.

“Sayang… aku senang kamu akhirnya bisa ikhlas.”

“Tahun baru, awal yang baru. Mulai sekarang, kita akan menjalani hidup berdua dengan baik, pasti akan bahagia dan penuh cinta.”

Aku hanya diam mendengarkan, tanpa berkata apa pun.

Rafael membawaku pulang.

Farez sudah pergi. Sementara Rafael bilang dia ingin ke ruang kerja untuk menyelesaikan laporan.

Aku duduk terpaku dalam kesendirian. Perasaanku tak menentu. Semua emosi menumpuk, sampai akhirnya… aku mencetak surat cerai.

Aku menandatanganinya tanpa ragu, lalu berjalan ke ruang kerja Rafael.

Kusadari pintu ruang kerja terbuka sedikit. Saat kutengok, ruangan itu kosong.

Untuk pertama kalinya, aku masuk ke ruang kerjanya. Ruangannya rapi dan bersih.

Di atas meja ada sebuah bingkai foto—foto Liora.

Sementara di lantai, berserakan kertas coretan dengan nama Liora. Huruf demi huruf tersirat penuh cinta dan kerinduan.

Aku pikir aku sudah bisa menerima kenyataan dengan tenang.

Namun ternyata tidak.

Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungku… sakitnya menusuk sampai ke tulang.

Bab 3

Di atas meja, sebuah kotak perhiasan yang tampak mewah dan elegan. Di dalamnya, terdapat kalung safir biru yang sangat indah.

Kalung itu langka—nilai dan keindahannya tak ternilai, sulit didapat walau punya harta melimpah.

Aku sangat suka batu safir biru, suka akan keindahannya yang dingin dan angkuh. Namun selama ini, Rafael selalu memberiku perhiasan emas.

Katanya, yang penting itu nilai investasinya. Lagipula, aku sudah cantik, pakai apa pun pasti terlihat mewah.

Aku percaya kata-kata manisnya.

Aku mengeluarkan kalung berlian biru dari kotak perhiasan. Sangat cantik, begitu indah. Batu safir sebesar telur burung puyuh di tengah, dikelilingi berlian kecil yang berkilau saat kalung bergoyang pelan.

Mataku tertuju pada ukiran di balik kalung itu: LV

Liora Valeska.

Napasku tercekat. Aku menangis dan tertawa dalam kehancuran membingungkan. Dengan menahan sakit yang tak tertahankan, aku memutuskan kabur dari penjara cinta palsu yang dirajut Rafael.

Cukup. Sudah cukup.

Aku memang harus pergi sejauh mungkin.

Perusahaan pemalsuan kematian sudah kuhubungi, semua persiapan sudah matang.

Sekarang, aku cuma tinggal menunggu polisi menemukan bukti surat damai yang disembunyikan Rafael selama tiga tahun.

Malam itu, Rafael tak pulang.

Keesokan harinya saat pulang, dia tersenyum dan berkata padaku, “Sayang, besok ‘kan ulang tahun adikmu, gimana kalau kita rayakan?”

“Aku sudah undang dia makan malam, atas namamu. Kalian sudah lama bertengkar, saatnya berdamai. Anggap saja ini demi aku… boleh, ya?”

Aku menatap Rafael. Dia bicara lembut membujukku, matanya yang gelap penuh kasih dan tulus.

Entah kenapa, ingatanku melayang ke masa tergelap dan paling hancur dalam hidupku. Saat dia menatapku seperti itu dulu, merampas pisau dari tanganku, menyelamatkanku saat aku mencoba bunuh diri.

“Baik,” jawabku akhirnya, “Aku akan datang.”

Kalau itu yang dia mau, kuberikan saja. Anggap ini balas budi, karena selama bertahun-tahun, saat depresiku kambuh, dia selalu ada.

Malam Tahun Baru tiba.

Rafael menyewa restoran mewah.

Liora berjalan anggun dengan balutan gaun putih bersih selutut.

Tanpa ragu, Rafael melepaskan tanganku dan berjalan ke arahnya.

“Liora, selamat ulang tahun. Ini hadiah dariku.”

Aku melirik hadiah itu——kotak yang sangat familier.

Kalung safir biru yang semalam kulihat.

Jelas itu hadiah untuknya.

Mungkin sadar aku masih di sana, Rafael tersenyum canggung.

“Hadiah ini aku siapkan bersama kakakmu.”

Liora mengangkat alis dan tersenyum.

“Makasih, aku suka sekali.”

Setelah Rafael pergi ke dapur pesan makanan, senyum Liora memudar. Dia melangkah ke arahku.

“Istri seorang Rafael ternyata masih ingat adik malang sepertiku, ya? Luar biasa.”

“Tapi, pria yang kamu miliki cuma cadangan yang nggak aku mau. Kamu tahu itu, ‘kan?”

Aku meliriknya sebentar, lalu duduk.

“Kamu cuma mau pamer itu?”

Liora tak peduli kesedihanku. Dia tersentak, lalu senyum sinis muncul di wajahnya.

“Tentu nggak. Kamu kasih aku hadiah, aku juga punya sesuatu untukmu.”

Dia mengeluarkan gelang batu giok hijau, lalu melemparkannya di depanku seperti membuang sampah.

Saat aku melihat jelas gelang itu, wajahku langsung berubah pucat.

Itu gelang yang ada di kotak abu ibuku!

Bagaimana mungkin gelang itu bisa ada di tangan Liora?

Aku langsung meraih lengannya dengan kasar.

“Kamu dapat gelang itu dari mana? Jawab!”

Liora tersenyum puas, menatapku penuh provokasi.

“Ya jelas dari gali kuburannya. Aku ‘kan baik, masih ingat simpan gelang itu buatmu.”

“Amara… kalau ibumu nggak keras kepala nggak mau ceraikan ayahku, ibuku nggak akan depresi sampai mati di rumah sakit. Jadi… kematian ibumu memang pantas!”

“Meski sudah mati, ibumu tetap nggak pantas dihormati. Makanya aku buang abunya ke selokan. Tempat itu… lebih cocok buat dia!”

Amarahku membara. Mataku memerah, kedua tanganku mencengkeram lehernya dengan kuat.

“Liora! Jadi benar kamu sengaja bunuh mama! Aku bunuh kamu!”

Setelah Dua Kali Dikhianati, Aku Dinikahi Sang Penguasa

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya