Bab 1
Lima tahun setelah aku meninggal, putriku, Elsy menelepon Gavin Geraldy. Elsy bertanya pada Gavin, "Kamu suka ibuku?" Dia melihat kalimat yang tertera di buku harianku. "Gavin, kamu suka aku?" Tak disangka, Gavin malah menjawab dengan nada sinis, "Ibumu yang suruh kamu tanyakan ini? Anak sendiri pun dia tega manfaatkan? Wanita murahan ini. Sudah nikah sama ayahmu, masih mengharapkanku?"
Karena mengkhawatirkan putriku, Elsy, setelah meninggal, aku terus berada di sisinya.
Ketika Elsy berusia satu tahun, ayahku meninggal karena kecelakaan.
Tiga bulan kemudian, aku membawa anjingku, Baba pergi berobat. Oksigen di ruang perawatan meledak dan aku tewas di tempat.
Setelah aku meninggal, teman masa kecilku, Rudy Yantoro mengadopsi Elsy.
Ketika Elsy berusia lima tahun, Rudy pergi menjemput Elsy dan mobil yang mereka tumpangi ditabrak dari belakang.
Elsy mengikuti Rudy keluar dari mobil. Melihat wajah pengendara mobil, dia pun tercengang.
Dari barang peninggalanku, Elsy berulang kali melihat foto orang tersebut.
Gavin Geraldy.
Mantan suamiku.
Hatiku menegang. Aku tidak ingin mereka mengetahui hubungan satu sama lain.
Gavin mendekat. Melihat Rudy, dia otomatis mengangkat sudut bibirnya.
Aku paling familier dengan senyumannya yang sinis dan penuh amarah ini.
Kemudian, dia mengalihkan pandangannya ke samping Rudy. Melihat Rudy menggandeng Elsy, lengkungan di sudut bibirnya menjadi makin dalam.
Bahkan dibaluti dengan sarkasme.
"Anakmu sama Tannie?"
Elsy mirip denganku.
Wajar kalau Gavin berkata demikian.
Namun, ketika mendengar ucapan ini, entah mengapa aku merasa konyol dan sedih.
Hatiku terasa sangat sakit.
Memang benar, aku tidak boleh bertemu dengannya.
Kalau tidak, aku tidak akan bisa pergi dengan tenang.
Rudy melihat ke bagian cat mobilnya yang terkelupas. "Sudahlah, aku nggak minta ganti rugi."
Saat ini, cinta pertama Gavin, Julie Cesana turun dari mobil dan berjalan mendekat.
Ketika melihat Elsy, dia tertegun sejenak. Suatu cahaya panik melintasi matanya.
Dia tampak sangat tertekan.
Julie meraih lengan Gavin. Gavin melirik ke samping dengan ekspresi datar, tetapi tidak melepaskan genggamannya.
Apa yang aku pikirkan? Mana mungkin dia lepaskan.
Setelah Elsy tidur, terkadang Rudy akan menonton video pendek dan aku pun ikut menonton dari samping.
Setiap muncul berita soal Gavin dan Julie, Rudy akan menonton sampai habis.
Tentu saja, aku tahu betapa mesranya mereka.
Sepertinya berita terbaru melaporkan mereka akan segera bertunangan.
Gavin perlahan-lahan melepaskan tangannya dari genggaman Julie, lalu berjalan ke depan Elsy dan memberikan sebuah kartu nama. "Nak, ke depannya, kalau butuh ganti rugi atau kompensasi, suruh ayah atau ibumu telepon aku."
Mendengar kata "ibumu", ketiga orang di tempat tercengang.
Termasuk aku.
Aku tahu, Gavin tidak mempunyai perasaan padaku.
Sekalipun Julie berada di tempat, dia tidak menganggap serius masalah ini dan menyuruh mantan istrinya meminta kompensasi darinya.
Sekian lama tidak bertemu, sifatnya masih sama.
Rudy tidak ingin berbasa-basi dengan Gavin, dia langsung membawa Elsy masuk ke dalam mobil dan pergi.
Tentu saja, aku mengikuti mereka.
Setelah melihat wajah Gavin, Elsy terus melamun.
Akhirnya, dia memberanikan diri untuk menatap Rudy yang sedang mengemudikan mobil. "Paman Rudy, paman tampan itu ayahku, 'kan?"
Bab 2
"Di kotak tempat ibu menyimpan surat cerai, aku melihat banyak fotonya. Ibu mengumpulkan banyak fotonya, foto dia berdiri di atas panggung sambil pegang piala saja ada belasan lembar. Juga ada foto nikah, dia berlutut ke Ibu, dia mencium wajah Ibu ...."
Aku agak menyesal. Setelah bercerai, seharusnya aku membuang foto-foto itu.
Namun, saat itu, aku tidak rela.
Elsy memandang Rudy dengan penuh harapan. "Dia ayahku?"
Rudy tidak tega membohongi Elsy, dia menjawab dengan jujur, "Ya."
Elsy tersenyum gembira. "Teman-temanku mengejekku karena aku nggak punya ayah dan ibu. Sekarang, aku punya ayah. Haha."
Tiba-tiba, dia cemberut. "Paman, kenapa Ayah tinggalin aku dan Ibu?"
Rudy mengelus kepala Elsy sambil berkata, "Nggak apa-apa, Paman nggak bakal tinggalin Elsy."
Ekspresi Elsy yang mendambakan kasih sayang ayah membuatku tidak tega.
Aku sungguh ingin memeluknya dan menghiburnya. Namun, tubuhnya menembus tubuh Elsy.
Seketika, aku lupa, aku sudah meninggal empat tahun.
Keesokan harinya, waktu istirahat main-main, Elsy pergi mencari guru untuk meminjam ponsel.
Dia bersembunyi di toilet, lalu mengeluarkan kartu nama yang diberikan Gavin dan menghubungi nomor yang tertera.
"Halo ...."
"Aku anak kecil yang terima kartu nama dari kamu kemarin, aku boleh tanya sesuatu?"
Untung, Elsy tidak memanggilnya ayah.
Namun, aku sangat gelisah. Saking panik, aku bergegas maju untuk mengambil ponsel Elsy.
Kemudian, tubuhku kembali menembus tubuh Elsy.
Setelah diizinkan oleh Gavin, Elsy bertanya dengan ragu-ragu, "Kamu suka ibuku?"
Aku tercengang.
Semalam, Elsy menggeledah barang-barang peninggalanku. Ketika melihat tulisan yang tertera di belakang buku harianku "Gavin, apa kamu suka aku?", dia tertegun untuk cukup lama.
Elsy tidak ingin mengungkapkan identitasnya, melainkan ingin membantuku menanyakan hal ini.
Namun, lebih baik tidak ditanyakan.
Kami sudah bercerai lima tahun dan aku sudah meninggal empat tahun.
Jawaban ini tidak lagi penting bagiku.
Namun, Gavin malah menjawab dengan nada sinis, "Ibumu yang suruh kamu tanyakan ini? Anak sendiri pun dia tega manfaatkan? Wanita murahan ini. Sudah nikah sama ayahmu, masih mengharapkanku?"
Gavin melontarkan serangkaian kalimat kasar dengan fasih. Sepertinya Elsy tidak memahami maksudnya.
Hatiku terasa sangat perih. Pada saat yang sama, aku juga bersyukur Elsy hanya memahami sebagian kosakata.
Suara Elsy menjadi lebih keras. Dia bertanya pada Gavin, "Kamu marahi ibuku?"
"Ck ... wanita nggak bermoral macam ini nggak boleh dimarahi?"
Wanita tidak bermoral?
Aku tidak bersalah. Kamu dan cinta pertamamu yang punya hubungan gelap!
Air mata mengalir dari sudut mata Elsy. Dia segera menyeka air matanya.
Aku gagal menyentuhnya lagi.
"Ibuku sudah meninggal empat tahun, kamu masih marahi dia. Kamu jahat. Huhuhu ...."
Benar, aku sudah meninggal empat tahun. Tepatnya, di tahun pertama aku bercerai denganmu.
Namun, Gavin tidak percaya. "Meninggal? Orang licik panjang umur. Aku mati pun, dia nggak bakal mati."
Elsy sedih dan kesal. "Kamu jahat. Aku nggak bakal cari kamu lagi. Aku bakal bilang ke papan arwah ibuku, suruh ibuku jangan suka kamu lagi. Aku juga mau bakar semua barang ibuku yang berhubungan sama kamu. Huhu ...."
Elsy menangis hingga kesulitan bernapas.
Aku panik.
Terdengar suara berat dari ujung lain telepon.
"Ibumu benaran sudah meninggal?"
Bab 3
"Pasti ibumu yang suruh kamu bilang begitu, 'kan?"
"Wanita ini suka permainkan aku."
Kekacauan ini berakhir. Guru membuka pintu toilet dan masuk untuk mengambil kembali ponselnya.
Setelah kelas berakhir di malam hari, Elsy masih kesal dan tidak gembira.
Aku sangat mengkhawatirkan Elsy.
Malam hari, Rudy datang menjemput Elsy. Ketika mereka keluar dari gerbang, mereka dihadang oleh mobil Gavin.
Elsy menundukkan kepalanya sambil mendelik Gavin.
Gavin menatap Rudy dengan dingin. "Tannie sudah meninggal?"
Rudy menjawabnya dengan kasar, "Kalian sudah bercerai, kamu sudah mau tunangan. Ngapain tanyakan kabarnya?"
Mendengar kata "tunangan", tubuh Elsy bergidik. Dia makin marah dan matanya tertuju pada pria yang berpakaian rapi di depannya.
Jangan marah, Elsy. Nggak apa-apa, Ibu nggak ada hubungan sama dia lagi.
Kali ini, beberapa anak-anak yang dititip di kelas penitipan malam pun keluar.
Begitu melihat Elsy, mereka langsung mengkritiknya.
"Hei, bukannya si nakal itu nggak punya ayah dan ibu? Kok hari ini ada dua paman datang jemput dia?"
"Dua paman itu mau daftar jadi ayahmu?"
"Kenapa nangis? Biasanya kamu galak ke kami?"
"Ibumu sudah meninggal. Nangis pun, nanti pulang, nggak ada yang lap air matamu."
Rudy menggendong Elsy, Elsy terus meneteskan air mata.
Saking kesalnya, aku mengentakkan kakiku. Aku sungguh ingin menghajar anak-anak nakal ini.
Tiba-tiba, sebuah tangan mengangkat anak kecil yang baru selesai berbicara.
Saat ini, Gavin tampak seperti Raja Neraka yang galak. "Kelak, kalau kalian tindas Elsy lagi, aku bukan cuma buat orang tua kalian kehilangan pekerjaan, aku juga bakal potong lidah kalian."
Setelah berkata demikian, dia melirik setiap anak-anak dengan galak.
Anak-anak ketakutan hingga mengompol di celana.
Setelah mengusir anak-anak yang menindas Elsy, Gavin seolah-olah sedang memikirkan ucapan anak-anak itu.
Dia tampak agak kebingungan.
Dia memandang Rudy sambil bertanya, "Tannie benaran sudah meninggal?"
Sudah dibilang, aku sudah meninggal. Kenapa masih tidak percaya?
Mata Rudy diselimuti dengan hawa dingin. "Ya, tapi kamu nggak perlu tahu."
Rudy tahu segala sesuatu yang terjadi pada kami.
Jadi, Rudy sama sekali tidak menghargai Gavin.
"Aku nggak perlu tahu? Kalau kamu bukan ayah Elsy, mungkin wanita kejam itu diam-diam melahirkan anakku. Kasih tahu aku, Elsy anakku, 'kan?"
Aku hampir jatuh.
Tidak! Rudy, kamu tidak boleh kasih tahu dia!
Kalau sampai dia tahu Elsy adalah putrinya, dia mungkin bakal merebut Elsy dan memperlakukan Elsy dengan buruk.
Gavin akan segera bertunangan. Seperti kata pepatah, ibu tiri akan membuat seorang anak kehilangan ayah kandung.
Rudy memeluk erat Elsy, Elsy melingkarkan sepasang tangan di leher Rudy. Mereka tampak seperti ayah dan anak yang harmonis.
Namun, Rudy malah tidak membantah. "Kalau benar, memangnya kenapa? Kamu sudah mau nikah, calon istrimu mau terima anak dari mantan istrimu?"
Setelah terdiam sejenak, Rudy lanjut berkata, "Kamu tahu kenapa aku mau kasih tahu Elsy adalah anakmu? Aku mau kamu merasa bersalah atas semua perbuatanmu pada Tannie. Kamu tahu kenapa Tannie memilih untuk melahirkan anak dan membesarkan anak sendirian?"
"Orang sepertimu bisa merasa bersalah?"