Bab 1
Seseorang bisa sekaya apa?
Suamiku sangat kaya, orang-orang menjulukinya Bayang Kota, karena hampir separuh properti di Kota Bara adalah miliknya.
Selama lima tahun menikah, setiap dia pergi menemani cinta pertamanya, dia akan memberikan sebuah rumah padaku.
Setelah aku memiliki 99 rumah, suamiku menyadari bahwa aku berubah.
Aku tidak menangis dan mengeluh, bahkan tidak memohon padanya untuk menemaniku.
Aku memilih sebuah vila terbaik di Kota Bara, lalu menyiapkan surat pengalihan properti dan memintanya untuk menandatangani surat itu.
Setelah menandatangani surat pengalihan properti, suamiku mencoba untuk menghiburku. "Tunggu aku pulang, aku akan membawamu pergi melihat kembang api."
Aku menyimpan surat itu dengan tenang sambil mengiakan.
Namun, aku tidak memberitahunya bahwa surat yang ditandatangani kali ini adalah surat perceraian kami.
Di kantor, berita kepulangan Livy Pradana sedang disiarkan di televisi.
Mata Josh Yuanda tertuju pada berita itu.
Sekalipun sedang menerima dan menandatangani surat pengalihan properti yang kuberikan.
Vila nomor 1 di pinggiran Barat adalah properti yang belum tentu dapat dimiliki oleh orang kaya di Kota Bara.
Namun, bagi Josh, vila itu tidak penting.
Sama sepertiku, aku bukanlah sosok yang penting di hidupnya.
Setelah berita itu berakhir, suasana hati Josh sontak membaik. Dia menandatangani surat pengalihan properti, lalu memutar-mutar pena di tangannya sambil menyerahkan surat itu padaku.
Dia berkata dengan nada bercanda, "Aku sudah mengalihkan lebih dari 60 rumah padamu, 'kan? Sekarang, kamu sudah menjadi wanita kaya."
Nada bicaranya diselimuti dengan kegembiraan, tetapi dia bukan berbahagia atas pencapaianku, melainkan karena cinta pertamanya sudah kembali.
Aku berdiri di hadapannya sambil mengangguk. "Vila di pinggiran Barat itu berada di dekat laut, aku sangat suka."
Aku tidak memberitahunya bahwa sebenarnya ini adalah rumah ke-100 yang dia berikan padaku.
Ketika Josh mengejarku, aku menolaknya sebanyak 99 kali.
Dia mencintaiku dengan begitu gigih. Jadi, setelah dia menyatakan cinta sebanyak 100 kali padaku, kami menikah.
Cintanya padaku tidak bertahan lama, hanya bertahan sampai hari di mana Livy pulang ke dalam negeri.
Hari itu juga adalah hari peringatan satu tahun pernikahanku dengan Josh.
Aku menikmati makan malam romantis yang disiapkan Josh dan menantikannya pulang dengan bahagia.
Namun, aku hanya menerima selembar surat pengalihan properti dan permintaan maaf.
"Maaf, Lusi. Aku melewatkan hari peringatan pernikahan kita. Maafkan aku, oke?"
Aku mengabaikan bau parfum yang menyengat di tubuhnya dan memaafkannya untuk pertama kali.
Agar adil, aku memutuskan untuk memaafkannya sebanyak 99 kali setelah menikah.
Namun, datanglah permintaan maaf yang kedua, ketiga, keempat ....
Selama lima tahun menikah, dia berkali-kali meninggalkanku demi menemani cinta pertamanya.
Sejak saat itu, sebelum dia pergi menemui cinta pertamanya, dia akan memberikan sebuah rumah padaku.
Dari rumah pertama hingga rumah ke-99.
Aku selalu memaafkannya.
Ini adalah yang ke-100 kali.
Josh, mulai sekarang, aku tidak perlu memaafkanmu lagi.
Ketika memikirkan hal ini, aku tersenyum lega dan menatapnya dengan tenang.
Josh tertegun sejenak, lalu menundukkan kepala dan mengalihkan pandangannya.
Aku melihat rasa bersalah di balik matanya.
Kemudian, dia berkata dengan ragu-ragu, "Tunggu aku pulang, aku akan membawamu pergi melihat kembang api."
Dulu, setiap Josh bersikap lembut, aku akan menjadikannya alasan untuk mempertahankan hubungan ini.
Aku akan memohon dan menangis, lalu berakhir kecewa.
Karena Josh selalu melepaskan jari-jariku dan berkata dengan nada dingin, "Dasar gila."
Untungnya, aku sudah gila sebanyak 99 kali.
Kini sudah 100 kali.
Aku tidak perlu terus membohongi diri sendiri lagi.
Karena aku diam-diam menyelipkan surat cerai di dalam tumpukan dokumen yang kuberikan padanya.
Josh.
Tiga puluh hari lagi, hubungan kita resmi berakhir.
Bab 2
Tersisa 25 hari.
Selama lima hari ini, status Instagram Josh yang semula sepi menjadi sangat ramai.
Siang hari, mereka melepaskan merpati di lapangan terbuka. Malam hari, mereka menonton parade kendaraan hias dari teras hotel di taman hiburan.
Aku tidak melewatkan satu pun momen kebersamaan mereka.
Mengenai janji Josh padaku, aku sudah lama melupakannya.
Ketika aku berdiri untuk mengemas koperku dan membereskan barang-barang yang berserakan di lantai, aku menerima telepon dari asisten Josh. "Nyonya, jangan lupa datang ke pertunjukan kembang api di Jembatan Anta pada pukul 8."
"Kalau ada kesalahan, Pak Josh nggak akan memaafkanku."
Selama delapan tahun menikah, hanya asistennya yang memanggilku nyonya.
Dialah satu-satunya orang yang mengetahui hubungan pernikahanku dengan Josh.
Karena aku tidak ingin mempersulit asistennya, aku pun menyetujui permintaannya.
Ketika aku hendak pergi ke Jembatan Anta, aku teringat akan sesuatu.
Lima tahun yang lalu, ketika aku baru menikah dengan Josh, dia menyiapkan pertunjukan kembang api untukku. Saat itu, asistennya juga yang memberitahuku.
Lima tahun berlalu, aku akan pergi ke tempat yang sama.
Namun, suasana hatiku berbeda jauh.
Sesampai di dekat Jembatan Anta, tempat itu dipenuhi dengan banyak turis dan wartawan.
Aku kebingungan dan berpikir bahwa aku mungkin salah tempat. Jadi, aku menelepon Josh.
Terdengar nada dering sibuk dari sambungan telepon.
Aku menelepon ulang.
Aku seolah-olah sedang mengharapkan sesuatu.
Namun, Josh tetap tidak dapat dihubungi dan aku pun tidak menemukan sosoknya.
Setelah melihat jam, pukul 8 segera tiba.
Seseorang yang berada di tengah kerumunan berteriak, "Pertunjukan kembang api sudah mau dimulai."
"Ini pertunjukan kembang api yang disiapkan Pak Josh untuk istrinya, kita beruntung sekali."
Aku tercengang.
Selama ini, Josh dikenal sebagai pria lajang.
Istri yang mereka bicarakan pasti bukan aku, melainkan orang lain.
Aku tahu bagian Utara Jembatan Anta adalah tempat terbaik untuk menyaksikan kembang api.
Karena aku sudah datang, aku memutuskan untuk menonton kembang api.
Bagaimanapun, kembang api tidak bersalah.
Hanya saja, tempat ini terlalu ramai.
Aku menerobos kerumunan dan tiba di barisan paling depan.
Akhirnya, aku melihat Josh.
Dia berdiri di posisi terbaik sambil memeluk Livy dengan mesra.
Kembang api sudah bermekaran dengan indah di langit malam.
Aku mendengar setiap ledakan kembang api yang menggelegar.
Di tengah hiruk pikuk kerumunan yang dibaluti dengan suara kembang api, aku mendengar Josh menyatakan cinta pada Livy.
Seorang wartawan mengarahkan mikrofon ke Livy sambil bertanya, "Nyonya, apa jawaban Anda?"
Josh merangkul bahu Livy dengan lembut sambil menatapnya dengan penuh harapan.
Ketika Livy mengambil mikrofon itu dengan malu-malu dan hendak menjawab, aku saling bertatapan dengan Josh.
Josh tertegun sejenak, lalu bergumam, "Lusi ...."
Saat ini, suasana di seluruh Jembatan Anta menjadi sunyi.
Bahkan suara kembang api pun nyaris tidak terdengar.
Perhatian semua orang tertuju pada perkataannya dan sorot matanya.
Livy menatapku, lalu mengangkat alisnya sambil bertanya pada Josh, "Siapa dia?"
Josh menjilat bibirnya dengan canggung sambil memikirkan cara untuk menangani situasi ini.
Aku tersenyum, lalu menatap semua orang sambil menjawab, "Namaku Lusi Hosana, aku ...."
Josh sangat gugup dan hendak menghentikanku, tetapi aku berkata, "Sepupunya Pak Josh."
Begitu melontarkan kalimat ini, jari-jariku yang terkepal erat di telapak tanganku pun mengendur.
"Bibi menyuruhku memastikan apakah Kak Livy cantik. Kalian kaget, 'kan?"
Josh tampak sangat lega, dia mengangguk puas padaku.
Dia selalu melarangku untuk mengungkapkan identitasku di depan umum, begitu pula dengan ibu mertuaku.
Jadi, setiap kali aku bepergian dengan ibu mertuaku, ibu mertuaku menyuruhku memanggilnya bibi.
Bab 3
Inilah alasan dia menyuruhku memanggilnya bibi selama lima tahun.
Pertunjukan kembang api dilanjutkan, tidak ada yang memperhatikanku lagi.
Namun, cuaca kurang baik, tiba-tiba hujan deras.
Josh segera membubarkan penonton. "Livy kurang sehat, nggak boleh terkena hujan. Semuanya, tolong minggir."
Dia membawa Livy ke mobil dengan hati-hati.
Meninggalkanku sendirian di tempat semula.
Hujan sangat deras, tetapi aku sama sekali tidak merasa dingin.
Mungkin setelah lima tahun menikah, aku sudah terbiasa dengan situasi ini.
Sesampai di rumah, aku mandi air panas.
Ketika keluar, aku bertemu dengan Josh yang berada di ruang tamu.
Setelah ragu-ragu sejenak, dia berterima kasih padaku. "Tadi, terima kasih sudah membantuku."
"Kita ... bagaimanapun pernikahan kita dirahasiakan. Kalau diumumkan di depan umum, nggak baik untuk reputasi Livy."
"Lain hari ... aku akan mencari kesempatan untuk mengumumkan hubungan kita."
Aku tidak memberitahunya bahwa hubungan ini tidak perlu diumumkan lagi.
Hubungan ini sudah berakhir, anggap saja tidak pernah ada.
Ini adalah akhir terbaik untukku dan dia.
Dia tiba-tiba bertanya, "Tapi, kenapa kamu berada di sana?"
Aku tersenyum dan menatapnya tanpa mengucapkan sepata kata pun.
Ketika dia hendak menghindari tatapanku, aku berkata, "Yudi yang menyuruhku pergi ke sana."
Kemudian, dia ingat bahwa awalnya pertunjukan kembang api hari ini disiapkan untukku.
Namun, karena terlalu menikmati momen kebersamaannya dengan Livy, dia melupakan hal ini.
"Maaf. Minggu depan ... minggu depan nggak bisa, aku mau dinas. Bulan depan, aku pasti akan mengajakmu pergi menonton kembang api."
Aku menggelengkan kepala sambil berkata, "Nanti kita bicarakan lagi."
Josh sangat puas dengan tanggapanku, dia memelukku dengan lembut.
Ini adalah pertama kalinya aku merasa pelukannya sangat dingin.
Keesokan harinya, Josh pergi dinas.
Namun, dia membawa Livy.
Ketika memiliki waktu senggang, mereka akan menikmati makan malam romantis, mengunjungi museum di sekitar dan makan di warung makanan laut yang tidak pernah dikunjungi bersamaku.
Dia berkata padaku, "Sebagai seorang CEO, makan di tempat seperti itu hanya akan menurunkan statusku."
Namun, di hadapan Livy, Josh tidak memiliki status apa pun. Dia hanyalah pria biasa yang sangat mencintai Livy.
Tersisa 3 hari.
Akhirnya, Josh pulang.
Selama dua minggu dia dinas, aku tidak pernah mencarinya satu kali pun.
Dia memandang vila yang bersih, dia seolah-olah menyadari pengorbananku selama lima tahun ini. Dia berkata padaku, "Sayang, kamu sudah bekerja keras."
Lima tahun ini, aku tidak dapat mengingat kapan terakhir kalinya dia memanggilku dengan begitu mesra.
"Tadinya, lusa aku mau membawamu pergi menonton kembang api, tapi tiba-tiba ada larangan menyalakan kembang api ...."
Aku memahami maksudnya, dia hanya tidak ingin membawaku pergi menonton kembang api.
Mungkin Livy mengatakan sesuatu padanya.
"Lupakan saja."
Josh tertegun. Dia tidak menyangka bahwa aku akan mengakhiri masalah ini begitu saja.
"Kamu ... nggak marah?"
Dulu, aku pasti akan marah dan mengeluh karena dia tidak menepati janjinya.
Namun sekarang, aku sudah tidak peduli dengan janji palsunya. "Cuma pertunjukan kembang api, bukan apa-apa."
Sama halnya seperti Josh, aku bisa hidup tanpanya.
Setelah terdiam untuk cukup lama, Josh kembali berkata, "Kalau begitu, lusa aku akan menemanimu pergi melihat vila di pinggiran Barat."
"Kudengar ada festival lampion apung. Kita bisa melihatnya dari vila itu."
Aku memeriksa ponselku, kalender menunjukkan lusa adalah Hari Kasih Sayang.
Dia akan menemuiku di hari yang begitu penting?
Dia hanya ingin menghiburku.
"Lusa, kamu nggak perlu menemani Livy?"