Bab 1
[Pa, aku setuju berimigrasi ke Prancis untuk menikah. Cepat, atau aku akan menyesal.]
Pak Agus, ayah Tania Sane, langsung menjawab:
[Putriku sayang, paling lama sebulan lagi semua prosedur selesai!]
Tania diam-diam menyeka air matanya dan menyimpan ponselnya.
Satu jam yang lalu, dia masih di dalam Bentley, mendesah pelan karena ciuman Chaz Limex.
Ketika ponsel Chaz berdering, dia menjawab dalam bahasa Georgia, "Ngapain nelpon sekarang?"
Orang di ujung sana tertawa. "Kenapa? Emangnya kau lagi sibuk dengan apa? Yang ini seberapa mirip dengan Nina Lopez?"
Chaz membelai wajah Tania yang lembut dan berkata dengan acuh tak acuh, "70%. Kalau nggak ada yang penting, aku tutup ya!"
Pria itu buru-buru berkata, "Jangan! Nina akan balik besok dengan pesawat! Rencananya akan merintis karir di sini. Baik kan aku infokan padamu? Cinta pertamamu sudah akan balik, penggantinya bisa nggak disinggirkan?"
Chaz berkata dengan dingin, "Nggak ada yang nggak bisa diselesaikan dengan uang."
Kepala Tania setengah terkulai di kursi, air mata mengalir di wajahnya.
Chaz sama sekali tidak tahu bahwa dia mengerti bahasa Georgia.
Ternyata cinta tulusnya selama tiga tahun sama sekali tidak berarti di mata Chaz.
[Pa, aku setuju berimigrasi ke Prancis untuk menikah. Cepat, atau aku akan menyesal.]
Pak Agus, ayah Tania Sane, langsung menjawab:
[Putriku sayang, paling lama sebulan lagi semua prosedur selesai!]
Tania diam-diam menyeka air matanya dan menyimpan ponselnya.
Satu jam yang lalu, dia masih di dalam Bentley, mendesah pelan karena ciuman Chaz Limex.
Peredam suara di Bentley diaktifkan sehingga sopir tidak bisa mendengar apa pun yang terjadi di bagian belakang.
Chaz membuka paksa bibir Tania.
Tania mencintainya dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, tanpa pengendalian diri.
Selama tiga tahun bersama Chaz, mereka telah berhubungan dalam segala situasi, terutama di dalam mobil.
Ponsel Chaz berdering.
Ekspresinya muram karena diganggu, tetapi setelah melihat ID penelepon, Chaz tetap menjawabnya.
Tania melirik ID penelepon, ternyata adalah nama asing.
Bahasa Georgia, bahasa yang sangat khusus, hampir tidak ada yang memahaminya di Indonesia.
Chaz mengumpat dengan dingin, "Ngapain nelpon sekarang!"
Orang di ujung sana tertawa, "Kenapa? Emangnya kau lagi sibuk?”
Chaz mencubit pinggang ramping Tania, memberi isyarat, lalu berkata dengan nada dingin dan malas, "Kalau sudah tahu ya cepat ngomong."
Pria itu bertanya dengan nada bergosip, "Yang ini seberapa mirip dengan Nina Lopez?"
Sambil mengelus wajah halus Tania, Chaz dengan santai berkata, "Sekitar 70%."
Pria itu tertawa dan mengumpat, "Sial, kau benar-benar hebat! Apa baiknya cewek ini?"
Chaz mencium leher Tania. "Suci, seperti boneka kecil yang penurut dengan tatapan yang jernih dan bodoh. Bersih."
Napas pria itu menjadi lebih berat. Chaz mengerutkan kening tidak senang.
"Jangan menggila. Kalau nggak ada yang penting, aku tutup ya!"
Pria itu buru-buru berkata, "Nina akan balik besok dengan pesawat! Rencananya akan merintis karier di sini.”
Chaz terdiam, napasnya berat. "Benarkah?!"
"Nina ingin merahasiakannya, tapi aku tetap beri tahu kau, baik kan aku? Cinta pertamamu sudah mau balik, penggantinya bisa nggak disinggirkan?"
Chaz berkata dengan dingin, "Nggak ada yang nggak bisa diselesaikan dengan uang."
Setelah itu, dia melempar ponselnya dan melanjutkan.
Tania menundukkan kepalanya di kursi, memperhatikan ponsel yang masih tergeletak di karpet mobil.
Chaz tidak tahu dia bisa bahasa Georgia.
Keluarganya punya bisnis di Georgia, dan dia telah belajar bahasa Georgia selama lebih dari lima tahun, jadi dia sangat menguasainya.
Air mata Tania menggenang, membasahi rambutnya.
Ternyata cinta tulusnya selama tiga tahun sama sekali tidak berarti di mata Chaz.
Matahari bersinar terang.
Rasanya musim kemarau sudah mulai.
Vila mewah bergaya Eropa tiga lantai itu bermandikan sinar matahari.
Chaz perlahan turun dari lantai atas, mengancingkan kancing berlian kemeja mewahnya dengan anggun.
Dia adalah putra kedua dari PT. Limex, salah satu dari 100 perusahaan kelas atas dunia, dan mengelola beberapa perusahaan media milik Keluarga Limex.
Tinggi dan ramping, dia memiliki aura dingin dan sifat acuh tak acuh yang menjadi ciri khas pria sukses.
Tiga tahun yang lalu, ketika masih merupakan mahasiswa baru di perguruan tinggi, Tania langsung terpikat dengan Chaz saat melihatnya.
Mata Chaz juga berbinar saat melihatnya di antara kerumunan, dan Chaz pun mulai mengejarnya. Setelah tiga bulan menahan diri, akhirnya Tania menerima Chaz.
Sejak saat itu, Tania kehilangan kepribadiannya sendiri, hanya ada Chaz di hati dan matanya.
Tapi…
Tania memalingkan wajahnya dengan dingin.
Chaz yang tidak menyadari keanehannya, menangkup pipinya dan menciumnya dengan penuh gairah.
"Aku ada rapat di kantor. Tunggu aku di rumah. Kubawakan kue saat balik."
Setelah itu, dia berbalik dan pergi.
Sosoknya yang tinggi memancarkan sedikit ketidaksabaran.
Tania tersenyum getir dan mulai memilah barang-barangnya.
Pertama, dia membuang semua barang yang melambangkan cinta seperti gelas minum pasangan, gelas sikat gigi, gantungan kunci, syal, kaos, dan boneka pasangan ke tong sampah.
Barang-barang itu biasanya berserakan di sekitar vila, ternyata saat dirapikan jumlahnya cukup banyak hingga dia berkeringat setelah menyelesaikannya.
Setelah membuang sekotak barang, dia kembali ke ruang tamu tepat ketika TV menyiarkan berita tentang kembalinya bintang internasional Nina untuk pengembangan karier.
Lobi bandara dipenuhi penggemar yang berteriak dan bersorak.
Rambutnya bergelombang, tubuhnya tinggi dengan wajah yang cantik dari segala sudut. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kamera, mengundang sorak sorai dari para penggemar.
Kamera menyorot, dan Tania sekilas melihat sosok yang familiar di sudut lobi bandara.
Ding ding ding.
Whatsapp di komputer berdering.
Chaz tidak punya kebiasaan mematikan komputernya, dan Whatsapp komputer masih aktif. Tania berjalan mendekat, membuka pesannya.
Bab 2
Nina: [Chaz, di mana? Kok nggak melihatmu?]
Chaz: [Aku sudah kembali ke mobil. Fans-mu terlalu banyak, nggak baik aku muncul.]
Nina: [Kalau gitu, kita ketemuan di hotel saja.]
Chaz mengirim emoji oke.
Nina: [Sudah lima tahun nggak ketemu. Aku sudah sangat rindu.]
Tania mencibir dan terus menyibukkan diri membuang barang-barang.
Saat Chaz pulang, hari belum terlalu malam.
Dia sudah minum alkohol, dan seulas senyum masih tersungging di wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi.
Dia memegang sebuket besar mawar merah di tangannya dan berkata dengan suara baritone-nya, "Aku sudah pulang."
Tania meringkuk di sofa, mengunggah foto-foto ke situs web penjualan barang bekas. Dia berencana menjual beberapa barang berharga lalu menyumbangkan uang hasil penjualannya.
Mendengar suaranya, Tania menutup komputernya dan melihat ke arah Chaz.
Chaz menghampiri dan menyelipkan bunga itu ke dalam pelukannya. Lalu memeluk Tania bersama dengan buket bunga itu, dan mencium bibirnya.
"Kenapa? Rindu aku?"
Tania manyun dan diam, sambil melihat dan mengendus aroma mawar.
Seolah-olah disulap, Chaz mengeluarkan sebuah kotak panjang dari kertas pembungkus bunga mawar dan membukanya.
Matanya yang bulat besar dan penuh kasih sayang kini sedang menatapnya dengan saksama, terlihat begitu memikat.
Tania melirik dan menyadari bahwa itu adalah kalung berlian yang dia incar, senilai lebih dari enam miliar rupiah.
Tania hanya meliriknya sesaat beberapa hari yang lalu ketika mereka berbelanja bersama. Tak disangka, Chaz benar-benar membelinya hari ini.
Melihat Tania melongo menatap kalung itu, Chaz membungkuk dan mencium pipinya. "Begitu senangnya sampai nggak bisa bicara? Sini kupakaikan!"
Tangan ramping Tania yang putih mengelus kalung itu, dan dia berkata lembut, "Mawar dan berlian? Kukira kau sedang melamar."
Chaz berhenti sejenak dan melirik Tania.
Nadanya sedikit cuek, "Ada yang lebih baik saat aku melamar nanti."
Tania mencibir, "Harus tunggu berapa lama lagi?"
Senyum di wajah Chaz memudar, yang tersisa hanyalah tatapannya yang dingin.
Tania mengalihkan pandangan, mengulurkan tangan untuk melepas kalungnya.
Chaz meraih tangannya, mencium bibirnya, dan menekannya ke sofa.
Tubuhnya langsung menegang, dan dia memalingkan wajahnya dari bibir Chaz, menekan tangannya.
"Aku... aku sedang berhalangan."
Kata-kata Chaz terdengar mendominasi dan dingin.
"Jangan sembarangan, mens-mu baru kelar."
Kemudian, Chaz meraih tangannya.
Tania panik.
Saat itu, telepon Chaz berdering.
Tania segera mendorongnya ke samping. "Teleponmu, cepat angkat."
Chaz yang merasa sedikit kesal, mengeluarkan ponselnya dari saku.
Tania berada di bawahnya, sehingga melihat layarnya dengan jelas.
ID Penelepon: [Nina].
Chaz segera meletakkan ponselnya di sofa, dan saat melihat Tania masih berekspresi normal, Chaz berdiri dan berkata, "Kuangkat dulu."
Lalu, sambil membetulkan celananya, dia mengambil ponselnya dan naik ke atas.
Sesaat kemudian, dia turun dengan setelan jas yang dibuat khusus.
"Seorang temanku punya masalah. Aku pergi bantu. Kau tidur saja dulu."
Dia tidak menyadari bahwa banyak barang kecil yang telah hilang dari vila itu, sehingga villa tampak agak kosong.
Chaz sudah tiga hari tidak pulang.
Dia menelepon untuk memberi tahu bahwa dia sedang sibuk dengan pekerjaan.
Tania cukup tenang.
Namun Tania tidak tahan dan memeriksa akun media sosial Nina.
Nina memperbarui akunnya setiap hari.
Pada hari pertama, ada foto yang memperlihatkan dua tangan yang berdenting dengan dua gelas anggur merah, keterangan bertuliskan: [Beberapa persahabatan bagaikan anggur merah, semakin kuat seiring bertambahnya usia.]
Tangan lainnya adalah tangan seorang pria.
Tania mengenali tangan ramping itu dan cincin di jari manisnya. Itu adalah sepasang cincin pasangan yang dibuat khusus. Tania juga memiliki cincin yang sama.
Dia melepas cincin itu dan berkata dengan senyum masam, "Terlalu terbiasa memakainya, sampai lupa menjualnya."
Keesokan harinya, ada foto yang menampilkan matahari terbenam di pantai. Keterangannya berbunyi: [Seandainya bisa menua di sini.]
Tania mengenali dua pohon kelapa yang bersebelahan di foto tersebut.
Itu adalah pohon-pohon yang dia dan Chaz tanam bersama di pantai dekat vilanya, dan dihiasi dengan prakarya yang Tania buat sendiri.
Hari ketiga adalah foto yang diambil di bandara, sosok Chaz yang tinggi dan mengesankan muncul di tengah keramaian.
Para penggemar Nina menggila, bertanya apakah dia sedang pacaran.
Nina membalas: [Nggak, aku hanya kembali ke tempat yang familiar, dan merasa emosional.]
Tania menahan kepahitan di hatinya.
Dia dengan cermat mengirimkan barang-barang yang terjual kepada para pembeli dan menyumbangkan hasilnya ke yayasan amal selebritas.
Karena ada beberapa perhiasan sangat berharga sehingga tidak ada yang mau membelinya secara online, jadi dia pergi ke balai lelang.
Dia juga pergi ke universitas untuk menyelesaikan prosedur pengunduran diri dari program pascasarjana, lalu ke kantor imigrasi, ambil foto, dan sidik jari.
Seanjutnya, dia menghapus akun media sosial dan akun belanja online yang jarang digunakan, hanya menyisakan dua akun yang sering digunakan, yang akan dia hapus sebelum naik pesawat.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Setelah tengah malam, pesan-pesan ucapan selamat dan panggilan telepon terus berlanjut.
Dari orang tuanya, kakaknya, teman sekelasnya, teman-temannya, mentor dan profesornya.
Tapi tak sepatah kata pun dari Chaz.
Tania mendongak dan melihat bingkai foto di dinding.
Dia meringkuk dalam pelukan Chaz, tersenyum manis, bahagia, dan puas, seolah dia memiliki segalanya.
Namun wajah tampan Chaz tampak dingin, tatapannya dalam dan tanpa ekspresi.
Tania tertawa ironis dan menggeser kursi untuk menyingkirkan bingkai foto itu.
Tiba-tiba, pintu terbuka.
Chaz masuk.
Wajah tampannya muram, dan dia memancarkan aura dingin.
Bab 3
Melihat Tania memanjat tinggi, dia menghampiri dengan cepat sambil mengerutkan kening.
"Ngapain manjat begitu tinggi?"
Tania tersenyum tipis.
"Kenapa kau kembali?"
Chaz menggendongnya dari kursi dan mencium bibirnya.
"Dasar bodoh, kau lupa hari apa ini?"
Hati Tania tiba-tiba sakit, dan matanya memerah tak terkendali.
Chaz memegang wajahnya dan mencium matanya.
"Jangan sedih lagi. Aku ingat kok."
Tania menunduk dan mendorongnya sebagai bentuk perlawanan.
Dia memeluknya erat dan terkekeh, "Merasa nggak ada hadiah? Ayo kita lihat hadiahmu."
Dia meraih tangannya dan berjalan menuju pintu.
Saat membuka pintu, mereka melihat sebuah Ferrari merah di halaman.
Mobil ini harganya lebih dari 20 miliar rupiah, sangat cocok untuk gadis muda seperti Tania.
Chaz meletakkan kunci di tangan Tania dan berkata dengan penuh kasih sayang, "Ini hadiah ulang tahunmu. Suka?"
Tania tersenyum. "Ya."
Dalam hati, Tania sebenarnya ingin bertanya apakah itu hadiah putus darinya.
Chaz membungkuk untuk mencium telinganya.
Melalui baju tipis itu, Chaz menyentuh tubuhnya.
Napasnya semakin berat. Chaz membungkuk, menggendongnya, dan berjalan masuk.
Tania mengerutkan kening, memikirkan cara untuk menolak ketika teleponnya berdering lagi.
Tania tak kuasa menahan tawa. Dia bahkan tidak perlu memikirkan alasan untuk menolak, selalu saja ada telepon pada saat yang tepat.
Chaz menurunkannya, mengelus rambutnya, dan berkata, "Ganti bajumu. Kuajak ke suatu tempat nanti."
Tania seolah-olah terbebas dari hukuman mati, berbalik dan berlari ke atas.
Terdengar suara Chaz menjawab telepon dari belakangnya.
"Halo, Nina..."
Tania kembali ke kamarnya dan berganti pakaian dengan gaun satin sutra biru safir.
Gaunnya di bawah lutut, hanya memperlihatkan sedikit belahan dadanya di bagian depan dan sebagian besar punggungnya, tetapi rambutnya yang panjang dan gelap mampu menutupinya.
Dia memakai make-up tipis dan mengenakan sepasang anting mutiara sebelum turun ke bawah.
Chaz yang masih menelepon, terpaku saat melihat Tania berjalan turun.
Biru safir adalah warna yang paling menantang.
Namun, kulit Tania cerah dan halus, memberinya penampilan yang anggun dan elegan.
Pakaian satin yang pas badan mudah memperlihatkan kekurangan tubuh seseorang.
Namun, Tania memiliki sosok yang indah, sempurna.
Wajahnya yang cantik dan sikapnya yang elegan memikat bahkan tanpa perhiasan yang mewah.
Chaz menutup telepon, memasukkannya ke dalam saku celana, dan memeluk pinggangnya, lalu mencium bibirnya tanpa bisa menahan diri.
"Kenapa nggak pakai kalung berlian itu?"
Tania tersenyum tipis. "Terlalu mahal."
Chaz berkata tanpa daya, "Beli ya untuk dipakai. Kubelikan sesuatu yang lebih bagus besok."
Tania mengangkat kuncinya.
"Ayo pergi! Aku nggak sabar mengendarai mobil baru."
Chaz mengelus bagian belakang kepalanya dengan sayang.
"Oke, ayo pergi."
Setelah masuk ke dalam mobil, Chaz duduk di kursi penumpang, mengatur sistem navigasi.
Tania melihat bahwa itu adalah klub kelas atas di pinggiran kota yang hanya melayani anggota, dengan biaya tahunan satu miliar.
Mereka pernah ke sana tahun lalu untuk merayakan ulang tahun Chaz. Hanya mereka berdua, dan mereka tinggal selama dua hari tanpa keluar dari kamar.
Saking lupa diri hingga Tania mimisan dan dia pun di-opname.
Tania mengerutkan kening, bertanya-tanya apakah Chaz masih ingin merayakan ulang tahunnya seperti itu.
Namun sekarang Tania sudah kehilangan antusiasme dan minatnya, hanya merasa jijik.
Sepanjang perjalanan, Tania terus memikirkan cara melarikan diri, dan rasanya mereka tiba terlalu cepat.
Gerbang listrik terbuka, dan Ferrari merah itu perlahan masuk, berhenti di depan sebuah bangunan tua berlantai dua.
Chaz keluar lebih dulu.
Dia mengambil sepatu hak tinggi Tania, berjalan ke kursi pengemudi, dan meletakkannya di lantai.
Tania keluar dengan memegang lengannya dan memakai sepatu haknya.
Baru saja berdiri tegak, dia mendengar dua ledakan keras.
Tania terkejut.
Kelopak mawar merah jatuh dari langit menunjukkan pemandangan yang bagaikan mimpi.
Chaz merangkul bahu Tania, melindunginya.
Pasangan pria tampan dan wanita cantik yang berpelukan sambil bermandikan hujan mawar.
"Oh! Hahaha..."
Kerumunan orang berhamburan keluar dari segala arah, tertawa dan bercanda, dipenuhi kegembiraan.
"Selamat ulang tahun, Kakak Ipar!"
"Selamat ulang tahun!"
"Kakak ipar sangat cantik! Pantas saja Pak Chaz menyembunyikanmu dengan baik!"
"Pasangan yang sangat serasi!"
Tania sedikit bingung.