Bab 1

Aku adalah putri kandung Keluarga Setiawan, juga memiliki “sistem pengamat drama”. Aku memang terlihat penurut dari luar, tetapi sebenarnya penuh perlawanan dalam hati. Hanya saja, aku tidak tahu bahwa isi hatiku bisa dibaca.

Kakak-kakakku berkata, “Meski kamu itu adik kandung kami, kami hanya akui Cheryl sebagai adik. Sebaiknya kamu tahu diri.”

Aku bergumam dalam hati, ‘Kayaknya aku sudah singgung Raja Neraka di kehidupan sebelumnya, makanya aku dilahirkan di Keluarga Setiawan di kehidupan ini.’

Langkah kakak-kakakku tiba-tiba terhenti.

“Cheryl sangat penurut, juga sayang sama semua orang di keluarga ini. Kamu jangan coba-coba cari perhatian atau buat onar.”

Aku mencibir dalam hati, ‘Dia sangat penurut sampai sebabkan orang di seluruh keluarga ini tewas. Cintanya pada kalian juga begitu besar sampai-sampai dia khianati kalian.’

Kali ini, ekspresi para kakak terlihat sangat aneh.

Aku mendapat sebuah “sistem pengamat drama”. Ini adalah sistem yang bisa memberitahuku bahwa dunia tempat aku berada saat ini sebenarnya adalah kisah dalam sebuah buku.

Sementara itu, aku adalah karakter pendukung yang nasibnya paling tragis dalam buku ini. Pemeran utamanya adalah Cheryl Setiawan, putri gadungan Keluarga Setiawan yang dimanja habis-habisan.

Setelah berulang kali membaca tentang kebodohan anggota Keluarga Setiawan dan nasib sialku sebagai Lara Setiawan dalam cerita asli, aku memutuskan untuk menyerah pada alur cerita. Aku melepaskan semua harapan terhadap anggota keluargaku, juga menghormati takdir mereka yang akan berjalan menuju kehancuran dan kebangkrutan.

Anggota Keluarga Setiawan menyayangi putri gadungan itu dan sama sekali tidak peduli pada aku, putri kandung keluarga ini yang penurut dan sudah telantar di luar sejak kecil.

Sesuai dugaan, baru saja aku melangkah masuk ke rumah, ketiga kakak laki-lakiku langsung mengadang di depanku.

“Meski kamu itu adik kandung kami, kami hanya akui Cheryl sebagai adik. Sebaiknya kamu ....”

Sebelum sempat menyelesaikan kata-kata mereka, ketiga orang itu menatapku seperti sudah melihat hantu. Mereka tidak berhenti saling memberi isyarat kepada satu sama lain, sedangkan ekspresi mereka juga terlihat aneh.

Sementara itu, aku memainkan peran putri kandung tak berharga yang mereka rendahkan dengan baik.

‘Nggak masalah, aku mengerti. Oke. Aku sudah hafal kalimat basi ini. Mau rendahkan aku, ya rendahkan saja aku. Kalian kira aku sudi datang ke rumah kalian? Kalian kira aku begitu nggak hargai hidup dan bersikeras terlibat sama urusan keluarga kalian? Ini semua gara-gara bajingan seperti kalian! Aku tolak kembali, kalian nggak setuju. Habis aku kembali, kalian malah nggak senang.’

“Jangan ngomongnya saja nggak peduli, tapi nanti malah celakai Cheryl,” ejek Leon Setiawan, kakak ketigaku sambil menatapku.

‘Dengan temperamennya yang begitu buruk, pantas saja si pria lidah tajam ini akhirnya dilecehkan.’

Kak Leon mengernyitkan keningnya, lalu tiba-tiba mencengkeram bahuku dengan kuat.

“Leon! Kamu minta dihajar, ya! Begini sikapmu terhadap adikmu!” seru seorang pria paruh baya dari belakangku.

“Lara!” Seorang wanita paruh baya yang cantik langsung memelukku dengan erat sambil berkata, “Putri kesayanganku, akhirnya kamu pulang juga!”

‘Orang tuaku ini cakep juga! Kecantikanku pasti diwariskan mereka,’ pikirku dengan narsis.

Wanita yang sedang memelukku tiba-tiba menegang. Dia melirik putra-putranya sejenak, lalu menatapku yang menutup mulut dan berujar dengan hati-hati, “Lara, aku sudah masakkan sup untukmu. Ayo kita makan!”

Ayahku juga berkata, “Aku suruh beberapa anak busuk ini pergi jemput kamu, tapi mereka nggak bawa kamu masuk sampai sekarang. Nanti, Ayah akan kasih mereka pelajaran.”

‘Sayang banget. Ayah dan ibuku yang lembut ini akhirnya mengusirku dan nggak mau akui aku gara-gara hasutan Cheryl. Tapi, akhir mereka juga menyedihkan. Yang satu mati, yang satu jadi gila. Haih, kenapa nasib anggota Keluarga Setiawan begitu tragis.’

Semua orang seketika menghentikan langkah mereka. Entah dari mana datangnya kekuatan ibuku, genggamannya hampir meninggalkan bekas di tanganku. “Ibu?”

Ibuku tersenyum canggung, lalu melepaskan genggamannya. Dia mengamatiku dengan hati-hati dan bertanya, “Lara, kamu ... apa kamu nggak enak badan?”

Aku menggeleng dengan patuh dan menjawab, “Nggak kok.”

‘Aku baik-baik saja. Hatiku cuma terasa kurang nyaman karena lihat ketiga putramu yang bodoh dan pilih kasih.’

“Lara!” seru Kak Leon dengan marah.

‘Apaan sih! Aku cuma berdiri diam, kenapa malah kamu yang menggila!’

“Leon!” Ayahku memberi isyarat pada Levi Setiawan, kakak sulungku supaya dia bisa menenangkan Kak Leon.

“Lara, jangan pedulikan dia. Ayo kita makan!”

Setelah duduk di meja makan, aku pun bersemangat untuk makan. Namun, selalu saja ada yang merusak suasana hatiku.

Liam Setiawan, kakak keduaku menaruh sebuah piring kosong di sampingnya dan berkata dengan pelan, “Lara, kamu seharusnya tahu masih ada seseorang di keluarga ini. Aku harap kamu bisa hidup rukun dengannya. Kesehatannya kurang bagus, kamu harus lebih mengalah padanya.”

Orang lainnya tidak mengatakan apa-apa. Jelas saja mereka juga memiliki pemikiran yang sama.

“Oke.”

‘Mulai lagi, mulai lagi. Dia itu memang kakak kandungku, tapi sebenarnya cuma pengekor Cheryl. Tubuh Cheryl lemah karena lahir prematur. Tapi, penyakit ringannya itu sudah sembuh dari dulu. Dia cuma sandiwara demi bohongi kalian yang bodoh. Aku benar-benar salut sama IQ kakak-kakakku yang rendah ini!’

“Ayah, Ibu, Kak!”

Baru saja aku selesai mengumpat, terdengar suara manis seorang wanita dari atas tangga. Orang tua dan kakak-kakakku berdiri secara refleks untuk menyambut gadis kesayangan mereka.

Ibu menatapku dengan khawatir, lalu tersenyum pada Cheryl, seolah-olah takut aku dan putri gadungan itu tidak bisa hidup rukun.

Sementara itu, aku memang terlihat patuh dan pendiam. Namun, aku malah diam-diam berkomentar soal Cheryl, ‘Oops! Si penghancur keluarga sudah datang!’

Bab 2

Cheryl menyadari suasana tegang di lantai bawah, lalu tersenyum dan hendak memelukku.

“Ini Lara, ‘kan? Selamat pulang ke rumah!” kata Cheryl sambil hendak melemparkan diri ke arahku.

Aku buru-buru menghindar. ‘Sial! Untung aku kaburnya cepat! Kalau nggak, aku pasti kena tusuk jarum yang dipegangnya, lalu mendorongnya secara refleks. Orang rumah ini kira aku sengaja cari masalah sama Cheryl karena latar belakang keluargaku. Hal ini pun jadi salah satu alasan aku diusir dari rumah kelak. Dasar wanita licik! Kamu itu reinkarnasi nenek sihir, ya!’

Berhubung aku tiba-tiba menghindar, Cheryl tidak sempat menghentikan gerakannya dan jatuh menabrak meja. Makanan yang terjatuh dari meja pun membasahi sekujur tubuhnya. Kemudian, dia menatapku dengan tampang kasihan dan lanjut bersandiwara.

“Lara, kamu membenciku? Aku tahu aku sudah tempati posisimu. Wajar saja kamu membenciku. Tapi, aku benar-benar nggak rela pisah dari Ayah, Ibu, dan kakak-kakak sekalian. Huhuhu ....”

Awalnya, semua orang terpaku di tempat. Alhasil, ada orang bodoh yang termakan omongannya. Leon segera memapah Cheryl berdiri, lalu berseru marah padaku, “Lara! Buat apa kamu menghindar! Cheryl cuma mau menyapamu!”

‘Cuma orang bodoh yang nggak menghindar. Seharusnya matamu yang ketusuk jarum nenek sihir ini. Biar kamu bisa tersadar dari kebodohanmu!’ umpatku dalam hati. Namun, aku hanya mengedipkan mataku dengan tampang tak berdosa dan menjawab, “Aku cuma bereaksi secara refleks.”

Cheryl yang tampangnya menyedihkan ingin menjelaskan sesuatu, “Ayah, Ibu, aku benar-benar nggak ....”

Namun, Kak Leon langsung memotong ucapannya dan berkata tanpa ragu, “Lara itu orang lama di industri hiburan. Entah seberapa jahat hatinya. Memangnya omongannya bisa dipercaya?”

Cheryl yang berada dalam pelukannya diam-diam tersenyum menantang sambil menatapku.

Aku benar-benar emosi.

‘Dasar bajingan! Memangnya aku salah karena terjun di industri hiburan? Selain Kak Levi yang adalah presdir, Kak Liam dan Cheryl itu bintang film, sedangkan kamu sendiri itu penyanyi. Bukannya kalian juga terjun ke industri hiburan!’

‘Aku salah karena aku miskin? Kalau bukan karena aku nggak sengaja terjun ke industri hiburan, aku bahkan nggak punya uang untuk makan atau sekolah! Iya, iya! Kalian yang mulia, kalian yang suci!’

‘Aku kerja begitu keras, tapi masih belum tenar sampai sekarang karena aku tolak untuk korbankan prinsipku! Kalian nggak tahu adik kesayangan kalian itu pakai statusnya sebagai putri keluarga kaya, lalu tidur dengan lebih dari 2 pria untuk rebut sumber daya orang lain, ‘kan? Cuma kalian saja yang anggap dia masih suci!’

“Sembarangan!” Dibandingkan dengan Kak Leon yang memiliki temperamen buruk, ada seseorang yang terlebih dahulu bersuara. Cheryl yang wajahnya sudah semerah tomat menunjukku dengan tangan gemetar dan menekankan kata-katanya sekali lagi, “Jangan asal bicara!”

“Hah?” Aku pun bertanya dengan bingung, “Memangnya aku ada bicara?”

Tuhan bisa jadi saksiku. Mulutku sama sekali tidak bergerak. Aku paling-paling hanya mengumpat dalam hati.

“Kamu bilang tit ... tit ... tit ...,” seru Cheryl.

Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya, “Apa sistem bahasamu bermasalah?”

Kak Leon lanjut berkata, “Tadi, kamu bilang tit ... tit ... tit ... tit ....”

‘Gawat! Apa mungkin anggota Keluarga Setiawan mengidap penyakit menular? Apa sebaiknya aku kabur secepat mungkin? Kalau sekarang aku pura-pura marah, lalu tampar Cheryl, apa anggota Keluarga Setiawan akan langsung usir aku?’

“Leon! Bawa Cheryl kembali ke kamar untuk istirahat!” seru Ayah yang dari tadi menonton pertunjukan ini dalam diam.

Aku mau tak mau harus mengurungkan niatku tadi. Sementara itu, Cheryl memelototiku dengan galak, seolah-olah ingin membunuhku. Namun, pada detik selanjutnya, dia tiba-tiba terisak dan menatapku dengan berlinang air mata. Napasnya juga terengah-engah, seolah-olah akan segera pingsan. Kemudian, dia menatapku dengan ketakutan.

‘Buat apa kamu lihat aku? Apa kemampuanku untuk membuat kesal orang sudah capai tingkat di mana orang bisa langsung mati kesal tanpa aku buka mulut?’

“Ekhem. Leon, cepat pergi!” desak ibuku.

Kak Leon dan Cheryl pun berjalan pergi dengan ekspresi kesal.

Sementara itu, aku duduk kembali dan menatap makanan yang berantakan di hadapanku dengan tampang sedih. ‘Lapar .... Makananku ....’

“Lara, tunggu bentar, ya. Pembantu sudah siapkan makanan baru,” hibu Ibu dengan lembut.

Aku pun mengangguk dengan patuh.

Untuk memecah suasana yang canggung ini, Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan selama menunggu. Dia pun berkata pada Kak Levi, “Pak Jimmy sudah pulang. Kami berniat untuk makan bareng dalam minggu ini, sekalian bahas masalah pernikahanmu sama Yossie.”

‘Yossie ... kok nama ini familier banget?’

Gerakan orang lainnya mendadak terhenti sejenak. Sementara itu, aku berusaha mencari informasi orang bernama Yossie itu dalam sistem pengamat drama di otakku.

Ayah tersenyum sambil melirik semua anak-anaknya, lalu tatapannya berhenti padaku. Dia bertanya, “Sayang, gimana pendapatmu kalau putri Keluarga Cendana itu jadi kakak ipar kalian?”

Kak Levi menatapku lekat-lekat.

Aku sudah menemukan informasinya dan mengangguk dengan serius sambil menjawab, “Lumayan bagus.”

Semua orang terlihat jelas merasa lega. Namun, sebelum sempat bergembira lebih lanjut, aku tiba-tiba menambahkan dalam hati, ‘Pria bodoh dan wanita licik mana mungkin nggak serasi! Ini kombinasi terbaik! Sempurna!”

Bab 3

Tangan Kak Levi tiba-tiba gemetar dan sendok yang dipegangnya jatuh ke lantai.

Aku diam-diam melirik Kak Levi yang berjongkok untuk memungut sendoknya itu dan bergumam dalam hati, ‘Kok semuanya aneh banget? Selain IQ yang rendah, sepertinya tubuh mereka juga kurang sehat. Aku memang harus cepat kabur. Aku nggak pengen mati bareng mereka, apalagi mereka juga nggak baik sama aku.’

‘Umm ... Ayah dan Ibu sepertinya lumayan baik.’ Aku melirik Ayah dan Ibu yang sedang memandangku dengan penuh perhatian dan lanjut bergumam, ‘Nggak yakin juga. Diamati lagi dulu deh.’

Ibu menatapku dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, lalu bertanya, “Apa Lara pernah ketemu sama Yossie?”

“Nggak pernah ketemu, tapi pernah dengar.”

‘Aku nggak pernah ketemu Yossie, tapi pernah dengar tentang dramanya! Wanita itu sahabat terbaik Cheryl, makanya orang di rumah ini baru pertimbangkan dia sebagai kandidat menantu yang pertama. Dia itu sama licik dan kejam dengan Cheryl. Dia bahkan lagi hamil. Begitu nikah nanti, Kak Levi akan langsung jadi ayah. Hehehe ....’

Kak Levi menggenggam erat sendok yang baru dipungutnya tadi.

“Levi dan Yossie belum kenal lama. Menurutku, sebaiknya kita pertimbangkan lagi saja dulu,” ucap Ayah dengan tiba-tiba.

Kak Levi buru-buru mengangguk, sedangkan Ibu juga menyetujui pendapat Ayah.

Aku menatap mereka dengan bingung. Bukankah tadi mereka baru saja mengatakan mau diskusikan soal pernikahan? Kenapa tiba-tiba berubah?

‘Tapi, meski begitu, pernikahan ini pasti tetap berlangsung. Siapa suruh Cheryl punya hubungan baik sama dia. Sebenarnya, kedua orang itu bisa bersahabat baik karena Yossie itu biseksual! Wanita yang paling dicintainya itu sebenarnya Cheryl!’

Kak Levi tiba-tiba tersedak air soda yang sedang diminumnya.

‘Tapi, Yossie sebenarnya lumayan menjaga diri. Dia bisa hamil murni karena kecelakaan. Lagian, dia lebih suka sama perempuan. Apa! Wanita itu juga mau menodaiku!”

“Apa!” Ayah tiba-tiba berseru terkejut, lalu menggebrak meja dengan kuat.

Aku pun mendongak dengan bingung.

Ayah tersenyum canggung dan berkata, “Ayah tiba-tiba teringat sebuah hal menyebalkan di perusahaan. Maaf, Ayah mengejutkanmu. Nggak apa-apa kok. Nggak apa-apa.”

Melihat ekspresi orang lainnya yang normal, aku pun memalingkan wajah dan lanjut membaca informasi dari benakku.

‘Oh, ternyata itu karena Cheryl mengeluh padanya aku sudah mau kembali, juga kasih lihat fotoku ke Yossie supaya dia bisa menindasku. Tapi, Yossie malah jatuh cinta pada penampilanku dan mau aku menemaninya bermain.’

‘Cih! Jangan mimpi dia! Kalaupun aku jadi lesbi, aku juga mau cari kakak yang cantik dan lembut. Siapa yang mau sama wanita licik berhati busuk!’

Ibu tiba-tiba mengangguk. Aku pun menoleh ke arahnya dengan bingung. Dia tiba-tiba memijat lehernya dan mengeluh salah tidur semalam.

Aku mengalihkan pandanganku dan lanjut membaca.

‘Apa? Apa! Dia juga kurung seorang mahasiswi di vilanya? Sudah hamil masih begitu nafsuan? Tindakan wanita jalang ini jelas melanggar hukum! Sial! Dia harus dijebloskan ke penjara! Gimana ini? Yossie sudah dalam perjalanan pulang ke vila. Aku harus gimana baru bisa tinggalkan meja ini, lalu diam-diam pergi lapor polisi?’

Aku tiba-tiba berdiri dan berseru, “Aku mau ke toilet!”

Seusai berbicara, aku langsung berlari keluar.

Kak Leon kebetulan lagi menuruni tangga. Mendengar aku yang berseru begitu di meja makan, dia pun mengejekku, “Dasar nggak berpendidikan!”

‘Untung aku lagi nggak sempat perhitungan denganmu!’ umpatku dalam hati sambil memelototinya. Kemudian, aku lanjut berlari keluar.

Sementara itu, Kak Levi tiba-tiba menepuk kepala Kak Leon dan mengumpat, “Diam!”

Seusai menelepon dan memastikan polisi akan tiba ke vila Yossie tepat waktu, aku baru kembali ke ruang makan. Kebetulan, aku melihat mereka sekeluarga sedang berbisik. Aku juga mendengar Kak Leon berkata, “Tapi, Cheryl bilang dia mau tinggalkan keluarga kita. Dia nggak mau jadi putri keluarga ini lagi.”

Aku menatap dia yang jelas-jelas sangat bodoh dengan penuh kasihan. ‘Dasar bego! Itu karena dia mau jadi kakak iparmu!’

Semua Orang Bisa Mendengar Gosip di Pikiranku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya