Bab 1
Aku punya sembilan nyawa, dan enam nyawa sudah kuhabiskan untuk Rico.
Kali pertama, aku tertimbun dalam longsoran salju saat mencoba menyelamatkannya. Air dari lelehan salju memenuhi mulut dan hidungku.
Kali kedua, aku diburu oleh musuhnya dan ditusuk 24 kali hingga tubuhku hancur lebur.
Awalnya, dia gemetar dan berjanji tidak akan menyakitiku lagi.
Pada kali ketujuh, dia sudah terbiasa dan sengaja menabrakkan mobilnya padaku hanya untuk menyenangkan seorang wanita.
"Nyawanya nggak ada harganya. Asal kamu bahagia, dengan senang hati aku suruh dia mati 99 kali."
"Kamu mau lihat kematian macam apa lagi? Aku akan mengaturnya sesuai keinginanmu."
Aku terhempas sepuluh meter jauhnya seperti baju bekas yang terkoyak. Darah segar mengucur dari mulut dan hidungku. Namun, aku tersenyum dan menghitung dengan jariku.
"Dua kali lagi, utang budiku akan terbayar lunas."
Rico Sarihan tidak tahu aku hanya punya sembilan nyawa.
Setelah aku mati untuk kesembilan kalinya, aku tidak akan kembali lagi.
Ironisnya, saat aku benar-benar mati, dia memeluk erat mayatku yang hangus dan berbau busuk itu, tidak mau lepas. Air matanya bercucuran tak terkendali.
"Tiara, kumohon bangunlah. Jangan tega begini sama aku. Kelak aku nggak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Sayangnya, tidak akan ada lagi seseorang yang menghapus air matanya dengan tangan gemetar berlumuran darah.
Aku tergeletak di tengah jalan berlumuran darah. Darah juga keluar dari mulutku saat aku terbatuk-batuk.
Ada serpihan-serpihan yang bercampur di sana. Semua organ dalam tubuhku terkoyak dan sakit.
Rico Sarihan melemparkan pandangan dingin dari dalam mobil. Lalu dengan tangan lembut menyibakkan rambut Jessa Tamari.
"Nggak usah merasa terbebani. Nyawanya terlalu murah, nggak akan mati."
"Lagi pula, bisa membuatmu senang sebelum kematiannya adalah keberuntungan baginya.”
Tubuhku perlahan mendingin, dan aku tahu kematianku yang ketujuh semakin mendekat.
Darah terus mengucur dari mulut dan hidungku. Rasa sakitnya membuat kepalaku pusing, tapi aku mengulurkan jari-jariku dan menghitung dengan susah payah.
"Dua kali lagi, utang budiku akan terbayar lunas."
Lalu aku tidak perlu lagi menanggung kematian berulang kali.
Rico melaju melewatiku tanpa melirikku sedikit pun.
Saat aku terbangun lagi, ternyata aku hanya dibuang begitu saja di taman bunga pinggir jalan. Untungnya, hari sudah larut malam. Tidak ada yang memperhatikan bahwa tubuhku yang telah tak bernyawa tiba-tiba terduduk.
Ponselku menampilkan pesan dari Rico setengah jam lalu. Hanya berisi beberapa kata singkat.
[Kalau sudah bangun, cepat pulang.]
Aku menyeret tubuh penuh lukaku ke pinggir jalan, mengambil sepeda listrikku, dan bergegas pulang.
Sebelum aku sempat menyalakan lampu, Rico menyeretku ke dalam bak mandi. Wajahnya berkerut jijik.
"Kamu penuh darah. Menjijikkan."
Air dingin yang membekukan di bak mandi membasahi lukaku yang belum sembuh. Rasa sakitnya membuat gigiku bergemeletuk tak terkendali.
Tapi dia tidak merasa kasihan sama sekali dan menarikku keluar, mengimpitku ke dinding untuk melampiaskan nafsunya.
Napasnya yang terengah-engah dan bisikan setannya memenuhi telingaku.
"Mati itu biasa bagimu, kamu nggak rugi apa-apa. Asal Jessa bahagia, imbalan apa pun yang kamu mau, akan kuturuti."
Gesekan yang kasar antara tubuh kami membuatku meringis dan mengerutkan kening. Aku hampir tidak sanggup, tapi hanya bisa memendam sakitnya dengan menggigit bibirku.
Tidak mendapat respons dariku, Rico semakin mempercepat gerakannya.
Tepat ketika aku akhirnya tidak tahan dan berteriak kesakitan, bel pintu tiba-tiba berbunyi di tengah liarnya suasana.
Rico awalnya tidak mau peduli, tapi suara tangisan Jessa datang dari kamera pengintai di pintu.
"Kak Rico, aku takut. Aku mimpi tentang orang tuaku lagi."
Orang tua Jessa dibunuh secara kejam oleh musuh mereka. Seluruh keluarga terbunuh, hanya menyisakan Jessa.
Selama bertahun-tahun, dia selalu memanfaatkan alasan ini untuk menemui Rico. Dan Rico selalu memakan umpannya.
Seperti dugaanku, pria di atasku membeku dan segera menarik tubuhnya. Dia melilitkan handuk di pinggang dan berjalan menuju pintu.
Seolah teringat sesuatu, dia berbalik dan mendorongku ke dalam lemari sambil memberiku ancaman.
"Dia nggak suka lihat kamu. Jangan bersuara."
"Kalau nggak, kamu tahu konsekuensinya."
Tubuhku meringkuk dalam ruang sempit itu. Lukaku tertekan, membuatku meringis kesakitan.
Dari luar lemari, terdengar suara gemeresik pakaian yang dilepas. Jessa menangis dan melemparkan dirinya ke pelukan Rico.
"Kak Rico, kamu bercinta sama dia? Apa pun yang bisa dia berikan padamu, aku juga bisa!"
Rico melirik sekilas ke arah lemari sebelum menutupi tubuh wanita di depannya dengan bajunya.
Jessa menyeka air mata dan memasang wajah pura-pura kuat.
"Kalau kamu nggak mau aku, biar kucari orang lain yang mau mencintaiku!"
Mata Rico berubah kelam, lalu dia memeluk Jessa dan menciumnya dengan paksa.
Dalam sekejap, orang yang baru saja seranjang denganku malah tidur dengan wanita lain.
Perutku terasa diaduk-aduk dan ingin muntah. Aku sudah berusaha memasukkan jariku ke tenggorokan, tapi yang keluar hanya cairan pahit.
Rico yang telah selesai bersandar di kepala tempat tidur sambil menghisap sebatang rokok.
Sementara Jessa menggambar lingkaran-lingkaran kecil dengan sentuhan lembut di dada pria itu.
"Kak Rico, aku sangat ingin menang kompetisi ini. Kamu bisa bantu?"
Tatapan Rico terhenti ke arah lemari, tenggelam dalam pikiran. Dia hanya mengeluarkan suara bergumam dengan nada bertanya.
"Hm?"
Melihat titik celah, Jessa buru-buru meyakinkan, "Jurinya sudah lama suka Kak Tiara. Bisa tolong minta Kak Tiara ketemuan sama dia?"
"Asal bisa membuatnya senang, aku pasti menang."
Jantungku berdebar kencang. Mataku memandang Rico melalui celah pintu lemari.
Begitu tegangnya sampai lupa bernapas. Pikiranku memanjatkan doa-doa putus asa.
Dia pasti akan menolak. Rico tidak akan mengorbankanku.
Pria itu membeku sesaat, lalu berdiskusi dengan suara agak tercekat, "Aku bisa memberinya uang."
Jessa tidak menyangka Rico akan berdiri di pihakku. Senyumnya jadi sedikit dipaksakan.
"Ikut kompetisi ini adalah keinginan terbesar orang tuaku dulu. Aku cuma ingin membuat mereka bahagia."
Mataku terpejam. Ketika satu-satunya harapan terakhirku sirna, hatiku pun jatuh tenggelam.
Orang tua Jessa pernah membantu Rico, sehingga mereka menjadi titik lemahnya.
Rokoknya sudah terbakar sampai ke ujung. Bara apinya membakar ujung jari Rico.
Pikirannya tersadar kembali dan dia mematikan rokoknya.
"Oke."
Bab 2
Saat mereka selesai, aku sudah mati rasa dan tidak sadarkan diri.
Rasanya seperti bermimpi selama berabad-abad.
Sebenarnya, Rico dan aku telah menghabiskan masa-masa yang indah bersama selama beberapa tahun.
Dia suka berpetualang, jadi aku menemaninya meluncur menuruni gunung salju yang menjulang tinggi.
Di antara desiran angin, suaranya tetap sejernih salju.
"Tiara, hidupku sudah sempurna dengan kamu di sampingku."
Suatu ketika, dia tersapu longsor salju yang langka terjadi dan terkubur di dalamnya, menghilang tanpa jejak.
Aku memaksa perutku yang sedang hamil lima bulan dan tertatih-tatih menggalinya keluar dari tumpukan salju.
Anakku terkubur dalam longsor itu, dan nyawaku juga hilang di sana.
Di tahun ketika kariernya mulai melesat, dia diburu oleh pesaing-pesaingnya. Aku mendorongnya ke samping dan menerima tusukan yang ditujukan padanya dengan tubuhku sendiri.
Dia gemetar dan bersumpah tidak akan pernah mengecewakanku seumur hidup ini. Aku menyeka air matanya dengan tanganku yang berlumuran darah.
Sayangnya, yang dia sebut seumur hidup ternyata sangat singkat. Teman dekat masa kecilnya tiba-tiba muncul dengan wajah menangis karena kehilangan orang tuanya.
Dia pun berubah menjadi perisai pelindung bagi teman masa kecilnya itu. Hak istimewaku beralih kepada orang lain.
Melalui kabut dalam pikiranku, aku mendengar suara lembut Rico saat jarinya menyentuh pipiku dengan lembut.
"Tiara, ini terakhir kalinya. Tahan sebentar lagi, sebentar lagi selesai."
"Aku nggak akan pernah bisa membalas budi orang tua Jessa seumur hidupku. Kamu nggak akan menyalahkanku, 'kan?"
Tapi Rico, utangku padamu sudah hampir lunas.
Melalui kelopak mataku yang terlalu berat untuk dibuka, setetes air mata jatuh dari sudut mataku.
Rasa sakit yang membara memaksaku terbangun.
Tampak seorang lelaki paruh baya yang tidak kukenali memegang sebotol minuman keras. Sedangkan tangan lainnya memegang cambuk yang ujungnya dihiasi duri tajam.
Ada bercak darah bercipratan di cambuk itu.
Aku terengah-engah, butiran keringat bercucuran di wajahku.
Tubuhku terikat di kursi. Rasa takut luar biasa mendorongku untuk memohon belas kasihan.
"Tolong lepaskan aku. Aku bersedia memberikan apa pun yang kamu inginkan."
Tatapan pria itu seperti predator berdarah dingin. Dia memainkan daguku dan menjawabku dengan nada menghina, "Nona Tiara, kamu lupa siapa aku?"
Keringat membasahi pakaianku. Aku berusaha mengingat-ingat, tapi pikiranku kosong.
"Nggak masalah kalau kamu lupa. Aku jamin, hari ini akan kupastikan kamu mengingatku dengan baik."
"Pak Rico sudah menjelaskan padaku. Asal aku bisa membantu kekasihnya menang, dia bersedia pasang badan kalau terjadi apa-apa."
Punggung tegangku semakin membungkuk tanpa daya. Aku tidak bisa menentukan mana yang lebih sakit, tubuhku atau hatiku.
Kata-katanya langsung diiringi lecutan cambuk yang brutal di tubuhku, menghamburkan tetes-tetes darah.
Aku menjerit memohon ampun, tapi pria itu justru menekan puntung rokok ke tulang selangkaku.
Bau menyengat daging terbakar bercampur nikotin menyerang hidungku.
Rasa sakit itu mencapai puncaknya hingga aku tertawa sambil meludahkan darah ke wajahnya.
"Suatu hari nanti, aku akan membuatmu merasakan apa yang kurasakan hari ini."
Meskipun telah mati berkali-kali, aku tetap takut menghadapi proses menuju kematian.
Tenggelam dalam salju, ditusuk pisau 24 kali, jari-jari dipatahkan satu per satu, kukira aku sudah mengalami rasa-rasa yang paling sakit di dunia ini.
Aku tidak menyangka akan ada sesuatu yang lebih menyakitkan.
Pria itu menuangkan sebotol minuman keras ke lukaku dengan dendam kesumat membuncah dalam suaranya.
"Apa istimewanya Rico? Dia membiarkan orang lain menyiksamu dan menyerahkanmu padaku demi wanita itu."
Kepalaku terkulai lemah ke satu sisi, dan aku mulai mempertanyakan diriku sendiri.
'Ya, apa istimewanya Rico?'
Dalam pikiran setengah sadar, aku seakan melihat ikan kering yang dia sodorkan kepadaku bertahun-tahun lalu.
Sepasang tangan yang hangat mengusap buluku dan menghiburku dengan lembut, "Aku nggak akan membiarkanmu mati."
Namun, sekeras apa pun aku berusaha, aku tidak bisa lagi melihat wajah orang itu dengan jelas.
Diiringi suaranya yang halus, kematianku yang kedelapan pun tiba.
Bab 3
Saat aku terperanjat bangun, aku sudah di rumah sakit.
Rico duduk di sofa tidak jauh dari tempat tidur dan memandangku dengan tatapan rumit.
"Kamu biasanya paling keras kepala. Kenapa kamu nggak melawan sedikit pun di depan orang lain?"
Dia sedikit emosi. "Tampar dia, tendang dia! Bahkan kalau dia sampai mati, aku bisa membereskannya."
Sinar matahari menerobos jendela, jatuh di tanganku.
Aku tersenyum dalam diam dan tidak membantah.
Aku diserahkan kepada orang lain untuk disiksa dengan tangan dan kaki diikat. Mana bisa aku melawan?
Aku cuma bisa tidak mati saja. Itu bukan berarti aku punya kekuatan super.
Terlarut dalam pikiran, aku tertawa sampai air mataku keluar, dan aku menjawab dengan tenang.
"Rico, kamu tahu nggak orang itu bilang apa?"
"Dia menempelkan puntung rokok ke kulitku dan bilang kalau kamu bersedia menanggung apa pun yang terjadi, asal dia bisa bantu buat Jessa menang."
Ketika kepentingan Jessa bertentangan dengan kepentinganku, aku tahu dengan pasti kepada siapa dia akan berpihak.
Kenapa sekarang dia harus pura-pura peduli kepadaku?
Luka bakar di tulang selangkaku berdenyut tajam tanpa henti. Aku menutup mata untuk beristirahat dan menyuruhnya pergi.
"Cukup. Aku mau istirahat."
Tahan sedikit lagi. Satu kali lagi, aku akan bebas.
Beginilah caraku menghibur diri sendiri.
Dia seperti ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi dia menerima telepon dan bergegas pergi.
Lamat-lamat terdengar suara Jessa yang penuh kebahagiaan.
"Kak Rico, aku menang."
Aku tidak bisa merasakan kesedihan, yang kurasakan hanya ketenangan.
Sebelum aku mati untuk terakhir kalinya, aku ingin bertemu nenek Rico lagi.
Setiap kali bangun dari kematian, aku menjadi semakin lemah, seolah energiku terkuras setetes demi setetes.
Luka yang dulunya cepat sembuh kini hanya mengering sedikit.
Setelah beristirahat selama lebih dari dua minggu, aku menyeret tubuhku ke rumah nenek Rico. Sialnya, aku bertemu Jessa dan Rico lagi.
Berbeda dengan Jessa yang tersenyum cerah, wajahku pucat dan kurus, seakan hari-hariku sudah dihitung mundur.
Nenek menggenggam tanganku dan bercakap tanpa henti, sengaja mengabaikan Jessa.
Dari sudut mataku, aku melihat kebencian yang mematikan dalam tatapan Jessa.
Ekspresi Rico tampak rumit melihatku, tapi aku tidak bicara sepatah kata pun kepadanya sepanjang waktu.
"Kamu nggak mau istirahat beberapa hari lagi?" Dia akhirnya menyela.
Aku tidak menjawab, pura-pura tidak dengar.
Jessa membuat sebuah alasan dan izin keluar. Tidak ada yang memperhatikan.
Tapi baru sebentar dia keluar, api besar mendadak berkobar di rumah itu.
Dia berlari kembali penuh panik dan melemparkan dirinya ke pelukan Rico. Tampak ada tanda-tanda terbakar di ujung roknya.
"Kak Rico, kebakaran! Aku takut!"
Rumah ini adalah bangunan tua dari kayu tanpa sistem keamanan kebakaran. Api dengan cepat melalap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Rico menenangkan Jessa, lalu segera membasahi handuk dengan air dari atas meja.
Dia memberikan dua handuk itu kepada neneknya dan Jessa.
Kepadaku, dia hanya mengerutkan kening dan memberi perintah, "Aku yang bawa Jessa. Kamu jaga Nenek baik-baik dan bawa dia keluar."
Aku menatapnya dalam-dalam selama beberapa saat sebelum akhirnya menunduk.
Dia mungkin mengira aku tidak akan mati, jadi aku disuruh menjaga dari belakang.
Tapi, dia lupa aku baru saja disiksa sampai di ambang kematian. Berjalan saja sudah sulit bagiku.
Setelah mengatur semuanya, dia melepas mantelnya untuk menutupi Jessa dan bergegas menggendongnya keluar.
Api berkobar semakin hebat. Tidak ada waktu untuk ragu. Aku membantu Nenek tertatih-tatih keluar.
Luka-lukaku yang baru agak kering kembali berdarah. Aku memaksakan senyuman menenangkan kepada Nenek.
"Nenek, jangan takut. Aku pasti bisa membawamu keluar."
"Kita sudah melewati ujian yang jauh lebih buruk. Kalau kamu bisa melewati ini, kamu pasti tambah panjang umur."
Di hadapan situasi antara hidup dan mati, Nenek malah tertawa mendengar kata-kataku.
Pakaianku basah kuyup karena darah. Tubuhku gemetar dan pandanganku berangsur-angsur kabur.
'Tiara, bertahanlah! Tahan sedikit lagi!'
'Kita hampir sampai!' Aku terus menyemangati diriku sendiri.
Tinggal lima langkah dari pintu. Aku akhirnya bisa menghela napas lega.
Tapi tiba-tiba, sebuah tiang mengeluarkan suara berderit. Aku langsung tahu ini pertanda buruk.
Dalam kepanikan, aku hanya punya waktu untuk mendorong Nenek ke depan dengan lembut.
Detik berikutnya, tiang besar menghantam pinggangku. Aku terimpit ke lantai dan mengerang pelan karena tidak kuasa menahan sakit.
Dari sudut mataku, aku melihat Nenek jatuh dengan aman dalam pelukan Rico yang bergegas datang untuk menjemput. Hatiku lega.
Nenek berbalik setiap tiga langkah dan berteriak meminta Rico untuk menyelamatkanku.
Namun Rico hanya melirik ke arahku dan mengerutkan kening.
"Dia akan baik-baik saja."
Punggung mereka perlahan-lahan menjauh dan api melahap penglihatanku.
Aku mengalihkan pandangan dan tersenyum lega, lalu bergumam sambil menutup mataku, "Rico, kita sekarang impas."