Bab 1

Ayah membawaku ke sebuah pesta yang diadakan oleh seorang bibi. Saat makan kue, aku tanpa sengaja memakan ceri yang ada di lapisan tengahnya, lalu segera memuntahkannya. Karena dulu pernah mengalami alergi parah sampai seluruh tubuhku merah dan hampir meninggal, aku masih mengingat rasa itu dengan sangat jelas meskipun usiaku waktu itu masih kecil.

Namun, bibi itu terlihat sangat kecewa dan berkata, "Seperti tradisi saat Imlek, kalau menemukan koin di dalam pangsit itu berarti membawa keberuntungan. Aku sengaja menyembunyikan ceri di dalam kue ini. Tapi ternyata Keenan nggak menghargainya."

Ayah tidak mau mendengar penjelasanku dan langsung mengusirku keluar untuk berdiri di halaman sebagai hukuman. Aku selalu mendengar Ibu berkata bahwa akhir-akhir ini suhu sangat panas dan aku harus tetap berada di dalam rumah.

Ternyata, cuaca memang panas sekali! Tubuhku mulai terasa sangat gatal dan aku merasa sulit bernapas. Aku ingin mencari Ayah, tetapi tidak peduli seberapa keras aku mengetuk pintu, Ayah tetap tidak mau membukakannya.

Melalui jendela kaca yang besar, aku bisa melihat Ayah hanya melirik ke arahku dengan tatapan dingin dari dalam rumah. Dia benar-benar tidak mau membukakan pintu untukku.

Ibu menemukanku dengan melacak posisi dari jam tangan pintarku. Saat itu, aku tergeletak di tanah dengan kulit yang terlihat penuh dengan ruam merah. Ayah masih saja mengomel di sebelahku.

"Kamu memang nggak tahu mendidik anak! Kurang ajar sekali! Masa meludah langsung di atas meja, memangnya nggak bisa ke tempat sampah? Nggak menghargai orang lagi. Dia itu benar-benar mirip kamu ...."

Ibu yang sudah tidak tahan, langsung memberikan tamparan keras pada Ayah, lalu memelukku dan berlari ke rumah sakit.

Aku melihat semuanya dari atas dengan melayang di udara. Aku benci sekali sama Ayah! Dia tidak pernah peduli padaku ataupun Ibu.

Ya, aku sudah meninggal. Jadi begini rasanya kematian. Kalau begitu, apakah tahun lalu saat kakek tua di sebelah rumah meninggal, dia juga melayang di udara seperti ini? Aku tidak melihatnya waktu itu, jadi apakah itu artinya Ayah dan Ibu juga tidak bisa melihatku sekarang?

Namun, aku bisa melihat mereka. Aku melihat Ibu memeluk tubuhku sambil menangis tersedu-sedu dan panik menunggu ambulans di pinggir jalan. Dia memohon kepada dokter untuk menyelamatkanku. Dokter hanya menghela napas sambil menatap layar monitor. Di layar itu, terlihat tiga garis lurus yang datar.

Ibu sibuk mengurus semuanya sendirian. Aku melihat tubuhku dimasukkan ke dalam sebuah lubang. Kemudian, seorang pria memberikan Ibu sebuah kotak kecil. Ibu memeluk kotak kecil itu sambil duduk di pinggir jalan dan menatap kosong ke arah arus kendaraan yang lewat. Sampai malam tiba, Ibu baru pulang ke rumah.

Di rumah, Ibu berbaring di atas tempat tidur. Kadang menangis terisak di balik selimut, kadang hanya menatap kosong ke langit-langit.

Aku berbaring perlahan di sampingnya, berharap bisa menepuk lembut tubuhnya seperti saat Ibu menemaniku tidur dulu. Namun, aku hanya bisa menyaksikan tanganku menembus tubuh Ibu. Aku terkejut dan berteriak, tetapi Ibu sama sekali tidak menyadarinya. Ibu tetap terbaring tanpa bergerak.

Aku merasa bosan, lalu berjalan ke arah mainan balok yang belum sempat kami selesaikan kemarin. Aku ingin melanjutkannya, tetapi tanganku menembus balok itu. Aku tidak bisa mengangkatnya sama sekali.

Aku mencoba menyalakan televisi untuk menonton kartun, tapi tidak bisa. Tidak ada yang bisa kulakukan, jadi aku kembali berbaring di tempat tidur. Diam-diam menemani Ibu seperti ini juga tidak apa-apa.

Tapi, apa Ibu tidak lapar, ya? Dia tidak bangun untuk makan. Aku mulai merindukan ayam kecap buatan ibu! Tapi aku sudah mati. Apakah itu berarti aku tidak akan pernah bisa memakannya lagi?

Ketika aku menghitung dengan jariku hingga hari ketiga, akhirnya Ibu bangun dari tempat tidur. Dia melihat ponselnya sekilas ... ternyata kosong. Tidak ada pesan apa pun.

Aku sudah meninggal. Ibu begitu sedih, tapi Ayah sama sekali tidak menelepon. Apakah ayah-ayah lain juga seperti ini?

Aku melihat Ibu mengambil beberapa lembar kertas dari laci meja di samping tempat tidur. Aku mengenali tulisan besar di atasnya ... "Surat Cerai".

Kertas itu sudah ada di laci meja Ibu sangat lama. Ibu selalu melihatnya, kemudian menatapku, dan akhirnya memasukkannya kembali ke laci.

Akhirnya, Ayah pulang. Dia duduk di sofa dengan wajah marah dan langsung mulai memarahi ibu dengan keras.

"Anakmu benar-benar nggak sopan! Nala sudah susah payah persiapkan kejutan di pesta itu. Maknanya bagus sekali. Tapi, anakmu malah memuntahkannya begitu saja! Aku hukum dia berdiri sebentar, dia malah mengadu padamu!"

"Kamu juga sama saja! Itu rumahnya Nala! Dia nanya kenapa kamu datang, tapi kamu bahkan nggak menjawab dan langsung dorong dia!"

"Kamu nggak bisa bicara baik-baik? Tahu nggak, Nala sampai terjatuh karena doronganmu. Tangannya terluka sampai berdarah!"

Ibu mendengarkan semuanya dengan ekspresi datar, seolah-olah kata-kata Ayah sudah tidak bisa lagi menyakitinya.

Sejak wanita bernama Nala itu muncul di hidup kami, Ayah semakin tidak sabar dengan Ibu dan selalu mengucapkan hal-hal yang membuat Ibu sedih.

Aku ingin mengatakan kepada Ayah, "Aku sudah mati. Apakah itu cukup sebagai permintaan maaf kepada Tante Nala? Bisakah Ayah berhenti menyalahkan Ibu?"

Bab 2

Melihat Ibu tidak menanggapinya, Ayah kembali meninggikan volume suaranya. "Aku lagi ngomong sama kamu. Kamu tuli ya? Tahu nggak, tamparanmu di depan umum tadi benar-benar buat aku malu!"

"Semua kebiasaan buruk anakmu itu dari kamu! Dia itu laki-laki, tapi malah kalah sama anak perempuan Nala gara-gara kamu manjain!"

Sambil bicara, Ayah berjalan menuju kamarku. "Mulai sekarang, aku yang ngurus anak kita saja. Kalau kamu yang urus lagi, dia bakal jadi anak nggak berguna!"

Ibu mengadangnya dengan senyuman sinis. "Kamu masih ingat kalau Keenan itu anakmu? Tiap kali kamu bilang 'anakmu', aku sampai ngira Keenan itu anakku seorang! Tapi nggak masalah, kita cerai saja."

Ayah memandang surat cerai yang Ibu sodorkan dengan penuh ejekan. "Kamu ini gila, ya? Dulu kamu yang nangis-nangis minta nikah. Sekarang kamu mau cerai begitu saja?"

Ibu menghela napas panjang, terlihat sangat lelah. "Benar, aku yang memintanya dulu. Tapi kamu nggak mencintaiku, juga nggak mencintai Keenan. Kenapa kita harus saling menyiksa? Tanda tangan saja, kamu bisa pergi bersama wanita idamanmu. Bukankah itu lebih baik?"

Ayah mendorong tangan Ibu dengan kasar, membuat Ibu terhuyung-huyung mundur "Kamu benar-benar gila! Kamu maksa masuk ke rumah orang saja, Nala nggak mempermasalahkannya. Kalau nggak, kamu itu sudah dianggap masuk tanpa izin!"

"Anakmu itu sama sekali nggak tahu sopan santun, sama sepertimu! Aku cuma menghukumnya berdiri sebentar di luar, dia langsung pura-pura seperti mau mati! Kamu yang selalu manjain dia, sekarang malah mau ribut cerai denganku? Apa yang kamu pikirkan?"

Suara Ibu gemetar karena marah. "Apa yang kupikirkan? Aku justru mau tanya, apa yang kamu pikirkan? Kamu tahu nggak Keenan alergi sama ceri?"

"Pertama kali dia makan ceri, seluruh tubuhnya dipenuhi ruam merah, tenggorokannya membengkak, dan dia nggak bisa bernapas. Kue itu ada cerinya, kenapa dia nggak boleh memuntahkannya?"

"Aku menyelamatkan anakku, kenapa aku nggak boleh masuk ke rumah itu? Kalau saja ... kalau saja Nala nggak menghentikanku waktu itu, mungkin Keenan nggak akan ...."

Sambil bicara, air mata Ibu kembali mengalir. Aku ingin sekali memeluknya seperti dulu untuk menenangkannya.

Namun, Ayah justru menunjukkan ekspresi tidak peduli dan bahkan mendengus dingin. "Sudahlah, makan ceri saja bisa kenapa? Alergi ceri? Kenapa nggak sekalian bilang dia alergi udara saja?"

"Kalau benar waktu kecil dia pernah seperti itu, kenapa aku nggak tahu? Kamu selalu saja mencoba mengikatku dengan alasan anak, tapi kamu nggak pernah ngasih tahu aku soal itu? Kamu ini pintar sekali ngarang cerita!"

"Anak-anak lain kenapa nggak ada yang alergi? Cuma anakmu saja yang semanja itu? Hari ini aku harus menyembuhkan kebiasaannya itu! Tahunya cuma nangis dan buat keributan setiap hari! Kalau ada yang dengar, bisa-bisa mereka pikir anakmu sudah mati!"

Setelah berkata demikian, Ayah langsung menuju dapur, lalu membuka kulkas dan mengambil ceri yang dia bawa beberapa hari lalu. Kemudian, dia berjalan cepat ke kamarku. Ibu hanya memandangnya sambil menggelengkan kepala, lalu duduk di sofa tanpa berkata apa-apa lagi.

Nala sangat suka ceri. Setiap kali Ayah pulang dari rumahnya, dia selalu membawa sekantong ceri, katanya untuk kami makan. Namun, karena tidak pernah kami sentuh, ceri itu akhirnya membusuk dan Ibu akan membuangnya.

Beberapa kali Ayah melihat Ibu membuang ceri itu, dia langsung memarahi kami karena dianggap tidak menghargai kebaikan orang. Setiap kali, Ibu selalu mengatakan padanya bahwa aku alergi ceri. Namun, Ayah tidak pernah percaya.

Pernah suatu kali saat Ibu tidak ada di rumah, Ayah sengaja membeli segelas jus ceri dan memaksaku untuk meminumnya Sambil mencoba memaksaku, dia berkata, "Ibumu selalu bilang kamu alergi ceri. Aku nggak percaya. Menurutku, dia cuma cari alasan untuk nggak menerima kebaikan Nala!"

Akhirnya aku menangis sambil menggigit tangannya, barulah dia melepaskanku. Namun setelah itu, dia mendorongku hingga jatuh ke lantai dan menendangku beberapa kali sebelum pergi keluar rumah. Jus ceri itu tumpah di lantai, bahkan sebagian mengotori pakaianku.

Bab 3

Aku takut Ibu akan khawatir, jadi aku mencoba meniru apa yang biasanya dilakukan Ibu. Aku memasukkan pakaian ke mesin cuci untuk mencucinya dan mengepel lantai hingga bersih.

Ketika Ibu pulang, dia bertanya kenapa aku mengganti pakaian. Aku hanya berpura-pura malu dan berkata bahwa aku mengompol. Karena masalah itu, Ibu mengejekku selama beberapa hari.

Ayah tentu saja tidak menemukan aku di kamarku, karena "aku" sudah berada di dalam kotak kecil itu. Dia memandang Ibu dengan tidak puas dan berkata, "Virly, hebat juga kamu! Sebelum mengajukan cerai, kamu masih sempat menyembunyikan anak!"

"Kamu nggak punya uang, pekerjaan, atau latar belakang keluarga. Kamu sendiri tahu kamu nggak bakal bisa menang dariku kalau cerai, 'kan? Kamu pasti mau manfaatin anak untuk tetap mengikatku, 'kan? Mau pakai cara begini untuk minta uang dariku, ya? Kamu memang penuh akal licik!"

"Kukasih tahu nih, boleh saja kalau mau cerai. Aku bahkan bisa mengasihanimu dengan ngasih kamu sedikit uang. Tapi Keenan harus ikut aku!"

Ibu hanya mendengarkan ucapan Ayah yang penuh hinaan tanpa bereaksi. Dia berdiri dan mengambil koper yang sudah lama dibereskannya, lalu membawa kotak kecil berisi abu jenazahku dan pergi tanpa menoleh ke belakang.

Ayah mengejar Ibu keluar rumah dan berteriak marah, "Pergi! Pergi sejauh mungkin! Kalau bukan karena orang tuaku, aku nggak bakal nikah sama kamu! Jangan pernah datang menangis memohon padaku lagi!"

Meskipun aku tahu Ayah tidak bisa mendengarku, aku tetap berteriak kepadanya, "Aku nggak mau ikut kamu! Aku mau Ibu! Ayah jahat!" Aku berlari kecil mengejar Ibu dan pergi bersamanya meninggalkan tempat yang kubenci ini.

Aku ingat Ibu pernah bercerita tentang kisahnya dengan Ayah saat dia menidurkanku. Ibu mengira aku tidak mengerti atau tidak mengingatnya, tapi aku mengingatnya dengan sangat jelas.

Ibu dan Ayah adalah teman masa keci dan keluarga mereka adalah sahabat dekat. Mereka bahkan dijodohkan sejak kecil. Namun ketika Ibu masih remaja, keluarganya mengalami musibah dan bangkrut. Kakek dan nenek dari pihak Ibu tidak mampu menanggung beban itu dan meninggal satu per satu.

Kakek dan nenek dari pihak Ayah mengadopsi Ibu yang saat itu masih duduk di bangku SMP dan bersikeras untuk tetap melanjutkan perjodohan mereka.

Awalnya, mereka masih terlalu muda untuk memahami hal-hal ini, jadi mereka tidak keberatan. Mereka hanya menikmati kebersamaan sehari-hari, makan dan bermain bersama, menjalin persahabatan yang erat.

Namun ketika mereka masuk perguruan tinggi, Ayah jatuh cinta pada Nala. Sayangnya, Nala tidak menyukai Ayah. Dia justru mencintai dosennya, seorang pria berusia 40-an yang sudah menikah. Nala bahkan nekat mengejar pria itu hingga ke luar negeri.

Ayah ingin ikut pergi ke luar negeri juga, tetapi Kakek dan Nenek marah besar. Mereka langsung mengurung Ayah di rumah dan memaksanya menikahi Ibu.

Ibu pernah bilang, dia sebenarnya tidak terlalu mencintai Ayah. Namun sejak kecil, dia selalu dimanjakan oleh kakek dan neneknya. Setelah tinggal di rumah Ayah, dia juga tidak pernah merasakan kesulitan. Hidupnya seperti bunga yang tumbuh di dalam rumah kaca, terlindungi dari kerasnya dunia luar.

Ibu tidak tahu harus pergi ke mana jika dia tidak menikah. Dia juga tidak tahu apa yang bisa dia lakukan dengan hidupnya. Terlebih lagi, Kakek dan Nenek membesarkan Ibu dengan harapan agar dia menikah dengan Ayah. Karena alasan itu saja, Ibu merasa dia tidak bisa menolak.

Ibu berpikir bahwa dengan mengandalkan hubungan mereka sejak kecil, setidaknya dia dan Ayah bisa hidup dengan saling menghormati. Namun, Ayah malah mulai membenci Ibu sejak saat itu.

Ayah merasa Ibu menikahinya hanya karena ingin menikmati kekayaan keluarga mereka. Dia mengira Ibu takut jika Ayah menikahi orang lain, Ibu tidak bisa lagi memanfaatkan status sebagai tunangan atau istrinya untuk hidup nyaman.

Ayah yakin Ibu yang diam-diam mengadu dan memohon pada Kakek dan Nenek untuk memaksanya menikah dengan Ibu. Ayah menyalahkan Ibu karena telah menghalangi jalannya untuk mengejar cinta sejatinya, membuatnya kehilangan wanita yang dia cintai.

Dalam ingatanku, Ayah sangat jarang pulang ke rumah. Terutama setelah Tante Nala muncul kembali dalam hidup mereka. Setiap kali bertemu, mereka selalu bertengkar hebat.

Ibu akhirnya membawaku pergi ke sebuah apartemen kecil yang sudah dialihkan ke namanya sebelum Kakek dan Nenek meninggal. Mungkin Kakek dan Nenek sudah memperkirakan hari ini akan datang, sehingga mereka memberi Ibu tempat berlindung.

Apartemen kecil itu didekorasi dengan sangat nyaman. Ibu meletakkan "aku" di atas lemari pendek di sudut ruangan. Aku mendengar Ibu berbicara padaku.

"Keenan, maaf ya, untuk sementara kamu harus tinggal di sini. Beberapa hari ini Ibu terlalu larut dalam kesedihan, belum sempat mencarikan makam untukmu. Sebentar lagi Ibu akan pergi mencarinya, oke?"

Aku mengangguk, tetapi langsung teringat bahwa Ibu tidak bisa melihatku. Perasaan kehilangan kembali muncul di hatiku.

Ah, Ibu tidak akan pernah bisa melihatku lagi. Kami tidak akan pernah bisa membuat kue bersama lagi, bermain balok bersama, atau mendengarkan cerita bersama ....

Aku mengikuti Ibu saat dia pergi mencari makam untukku.

Ibu memilih tempat di puncak gunung yang tinggi. Dari sana, aku bisa melihat taman hiburan di kejauhan, lengkap dengan bianglala besar yang berputar perlahan.

Saat seorang pria yang terlihat seperti seorang manajer membawa beberapa dokumen untuk ditandatangani Ibu, Ibu tiba-tiba mendapat telepon dari pengelola apartemen. Mereka memberi tahu bahwa seseorang telah memaksa masuk ke dalam rumah.

Ibu segera memanggil taksi dan kembali ke apartemen dengan tergesa-gesa. Saat tiba, dia melihat manajer properti dan petugas keamanan dihadang oleh beberapa pengawal besar yang kekar.

Dari dalam rumah terdengar suara Ayah yang sedang marah, "Cuma beberapa ruangan kecil! Kenapa nggak bisa ketemu juga?"

Ibu langsung masuk ke rumah dan bertanya,"Kalian ngapain?"

Ayah berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Dengan ekspresi kesal, dia melirik Ibu dan berkata, "Kamu datang tepat waktu. Serahkan Keenan, aku mau bawa dia untuk minta maaf sama Nala!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B93826" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B93826
Salin

Sejak Kehadiran Pelakor...

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya