Logo
Segitiga Penguasa - Sudut Pertama
Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

49 Bab
Tamat
Dalam Segitiga Penguasa - Sudut Pertama, Marcapada dan Soma harus memenangkan kompetisi pertarungan demi gelar Penjaga. Web novel bergenre fantasy ini mengisahkan perjuangan mereka mengungkap rahasia masa lalu yang tragis di Marcapada. Baca adventure story penuh aksi ini sekarang.
Bab 1 dari Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Di sebuah hutan, dua puluh empat tahun lalu …

Senja pergi begitu tergesa. Awan kelabu membola pekat, menculik paksa semburat jingga dari langit sore. Gerimis datang perlahan. Sesekali, kilatan cahaya di hamparan langit menyibak kegelapan. Suasana memuram. Menyisakan kengerian, sekaligus ketegangan.

Terengah-engah, kedua lelaki berbadan tegap, berpakaian perang lengkap, dengan sederet luka menghiasi sekujur tubuh, terus berlari tanpa henti. Salah seorang lelaki membawa buntelan kain yang ia peluk erat dalam dekapannya. Rimbunan semak dan perdu mereka trabas tanpa menghiraukan ratusan duri yang akan membuat luka baru. Tak jauh di belakang, puluhan orang memburu mereka dengan senjata teracung.

Nyawa kedua lelaki itu tengah menjadi perlombaan untuk sesegera mungkin dihabisi. Siapa saja yang dapat memenggal kepala salah seorang, atau keduanya sekaligus, akan mendapat kenaikan jabatan. Dan hadiah semacam itu terlalu menggiurkan untuk diabaikan.

Sambil masih terus berlari kencang, jantung kedua lelaki itu pun berdebar tak keruan. Derasnya guyuran keringat membaur pasrah dengan tetes hujan. Udara di ujung hari mendadak terasa begitu dingin. Seolah menjelma bagai ribuan jarum yang menusuk. Menghadirkan rasa sakit yang tak mungkin diabaikan. Tak langsung mematikan, namun membunuh perlahan.

Masih di dalam pelarian, mendadak, salah seorang lelaki menghentikan langkah kakinya. Pandangannya sekilas berpaling ke arah buntelan kain yang ia bawa. Rona kesedihan terpancar dari air mukanya. Dibukanya perlahan buntelan kain itu. Dan seketika, wajah mungil seorang bayi mencuat dalam dekapannya.

Sadar dengan tindakan yang diambil oleh sahabatnya, lelaki lainnya ikut menghentikan pergerakan.

“Ada apa?” lelaki itu bertanya. Raut ketegangan jelas tergambar di wajahnya. Perhatiannya lalu beralih ke arah belakang. Celingak-celinguk ia menerawang, cemas. “Kita tak boleh berhenti di sini. Mereka semua semakin dekat.”

“Aku sudah tak kuat lagi. Tolong, bawa anakku bersamamu,” salah seorang lelaki menyodorkan buntelan kain berisikan bayi kepada sahabatnya. “Pergilah, biar aku yang mengadang mereka.”

“Tidak! Aku tidak bisa.”

“Kau tidak bisa menolaknya. Hanya ini jalan satu-satunya yang kita miliki,” potong lelaki itu, memaksa. Sebulir darah mengalir jatuh dari pelipis kanannya. “Harus tetap ada yang bertahan di antara kita,” lanjutnya.

Lelaki lainnya mantap menggelengkan kepala. “Tidak! Kita harus tetap bersama. Kita tak boleh terpisah.”

Perihnya sederet luka yang menganga, terkikis habisnya tenaga, dan beberapa luka tusuk yang terus mengeluarkan darah segar, membuat tungkai-tungkai kaki lelaki itu tak kuat lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Ia tersungkur sambil terus memeluk buntelan kain berisikan bayi.

Melihat sahabatnya terjatuh, dengan sigap lelaki lainnya berusaha membantu. Ia memposisikan diri setengah berjongkok. “Sepertinya kau sudah tak mungkin lagi berjalan, biar aku yang menggendongmu.”

“Tidak usah. Bawalah saja anakku ini. Kumohon.” Sekali lagi, seorang bayi mungil yang berada dalam buntelan kain kembali disodorkan ke arah depan.

Lelaki penerima bayi itu tak dapat berkata apa pun lagi. Tak ada lagi kata-kata penolakan yang dapat ia ucapkan. Pasrah, ia pun menerima pemberian sahabatnya.

“Sembunyikan dia di tempat yang aman. Jaga ia agar terus bisa bertahan hidup.”

“Kita bisa melarikan diri bersama-sama,” lirih, lelaki itu bersuara.

“Tidak! Kau tidak akan kuat jika harus—”

“Kuat! Aku pasti kuat membawa kalian berdua.”

Lelaki dengan luka di sekujur tubuhnya itu tersenyum kecut. “Mungkin kau kuat, tapi pergerakanmu sudah pasti akan melambat. Kau seharusnya sadar betul siapa musuh kita. Walau dalam keadaan tidak terluka, kita belum tentu dapat mengimbangi mereka. Mereka ….” mati-matian, lelaki itu berusaha mengatur napas. Satu tangannya secara spontan bergerak memegangi bekas luka tusuk di bagian perut. Ia melenguh, menahan rasa nyeri yang terasa semakin menjadi-jadi. “Mereka … ditambah dengan keempat Jenderal keparat itu, sama saja bunuh diri jika melawan mereka semua.”

“Tapi ….” Buliran air mata tak dapat terbendung lagi. Tangis kegagalan menjadi penghias sempurna untuk suasana malam yang tengah memuram.

Dari celah kain yang sedikit terbuka, seorang bayi yang baru beberapa hari terlahir ke dunia merasakan lembut buliran air mata yang jatuh ke wajah mungilnya, bergerak perlahan menelusuri tubuhnya. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, ia terus tersenyum bahagia di tengah-tengah gerimis yang sedari tadi mengecupi wajahnya.

“Pergilah. Kumohon.”

“Tapi ….”

“Kumohon.”

Getir, sambil bangkit berdiri, lelaki itu sekuat tenaga menahan tangis. Ia dekap erat buntelan kain berisikan bayi dalam gendongannya. Dengan kucuran air mata, ia memandang nanar ke arah sahabatnya.

Tanpa perlu ada lagi kata di antara mereka berdua, sebuah salam perpisahan diantar oleh rintik gerimis yang terus berjatuhan. Lelaki dengan sederet luka di sekujur tubuhnya itu tersenyum hangat ke anak semata wayang, dan satu-satunya sahabatnya yang tersisa.

Akhirnya, derap langkah seorang lelaki yang sejatinya tak ingin meninggalkan kawannya sendiri harus terjadi. Ia dihadapkan pada pilihan yang teramat sulit. Di situasi genting semacam ini, tak mungkin baginya berlama-lama untuk bernegosiasi. Keadaan mengharuskannya mengabaikan hati nurani. Jika ia tak segera melarikan diri, maka benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, tak akan ada lagi yang tersisa di antara mereka. Kisah perjuangan mereka akan pasti berakhir dengan akhir yang tragis.

Sambil memandang nanar ke arah punggung sahabatnya, lelaki itu berkata lembut kepada buah hatinya yang semakin dibawa jauh dari sisinya. Selamat tinggal, anakku. Dengan cerih-cerih tenaga yang sudah tak seberapa, ia pun berusaha bangkit berdiri.

Lelaki itu lalu membalikkan badan, bersiap kembali memulai pertarungan. Kedua tangannya kuat mengepal. Ini akan menjadi pertarungan terakhirku, batinnya menegaskan. Tak berselang lama, puluhan orang dengan senjata di tangan telah berada di dekatnya.

Menyaksikan banyaknya musuh di depan mata, lelaki itu justru menyeringai bak pemangsa. “Majulah, kalian semua!” serunya lantang.

Di bawah guyuran sinar purnama, di atas hamparan bukit, seorang lelaki berambut panjang, mengenakan jubah putih, berdiri tegap menatap langit malam yang terang benderang. Kedua tangannya bertaut di belakang pinggang. Kedua bola matanya tetap awas mengamati riak air yang keberadaannya tak begitu jauh di depan.

“Tuan.” Seorang prajurit bertubuh kurus bergegas berlutut. Air mukanya memperlihatkan raut kepanikan.

“Apa anak itu sudah lahir?”

“Su—sudah, Tuan.”

“Lalu apa yang kau lakukan bersama dengan anak buahmu?”

Prajurit itu terdiam. Bingung harus menjawab apa.

Lelaki itu menoleh ke arah prajurit yang masih berlutut di dekatnya. “Berdirilah,” perintahnya.

Air muka prajurit itu pucat pasi. Meski ragu, perlahan ia mulai bangkit berdiri. “Ma—maafkan aku, Tuan. Aku sadar, aku sudah berbuat salah. Maafkan aku,” pinta prajurit muda itu. Penuh dengan ketidakyakinan, dan terselimuti rapat ketakutan.

“Kau tak perlu merasa bersalah. Semua ini sudah berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan.”

“Benarkah itu, Tuan?”

Lelaki itu mengangguk. Tersenyum tipis.

Pelan-pelan, prajurit muda itu lalu memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, melihat wajah Tuannya. Tak ada raut kemarahan di sana. Sebersit senyum seketika tergambar. Kepanikan yang sempat hinggap seketika lenyap.

“Pergilah,” ucap lelaki itu seraya tersenyum.

“Terima kasih, Tuan.” Prajurit itu berbalik. Bersiap pergi.

Sambil menyunggingkan senyum simpul, prajurit yang baru beberapa hari menjalankan tugasnya itu akhirnya menjauh dari tempat keberadaan Tuannya. Langkahnya ringan. Kelegaan tergambar jelas di setiap embusan napasnya. Tapi tunggu, tepat setelah batinnya bersuara, langkah kakinya sejenak tertunda. Kenapa bayi itu dibiarkan hidup? Bukankah seharusnya bayi itu dihabisi?

“Ada apa prajurit?” tanya lelaki berambut panjang. Melihat ada gelagat tak baik yang kentara dari seorang prajurit di depannya.

Merasa telah melakukan tindakan yang keliru, prajurit itu buru-buru menoleh ke belakang. “Ti—tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa. Saya permisi,” katanya, disisipi cengiran lebar. Langkah kakinya pun kembali berlanjut.

Sambil memandangi punggung prajurit yang mulai menghilang di dalam kegelapan malam, seorang lelaki dengan kedua tangan yang masih bertaut di belakang pinggang menyunggingkan senyum lebar. Bagus, rencanaku berjalan sempurna.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Asa di Ujung Senja
Asa di Ujung Senja
Dalam novel modern Asa di Ujung Senja, Nada terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Abian, mantan pembalap yang buta akibat kecelakaan. Di tengah tekanan keluarga besar, mampukah ia menghadapi sikap dingin Abian? Baca romance novel ini untuk mengikuti kisah perjuangan dan rahasia mereka.
Balas dendam
Balas dendam
Dalam novel Balas dendam, Jenni bertransformasi menjadi wanita kuat untuk menghancurkan pengkhianat masa lalunya. Didukung sahabat setianya, ia menjalankan misi pembalasan dalam modern romance penuh aksi ini. Baca kisah selengkapnya di webnovel ini sebagai pilihan fiction books terbaik.
Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
Dalam Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi, jiwa Hito Aswatama merasuki tubuh Adit untuk mengungkap dalang pembunuhannya. Melalui genre mystery dan action, ia harus memenangkan perebutan takhta keluarga. Baca modern novel ini sebagai pilihan fiction books terbaik Anda.
Bersama Kita Bangkit Dari Abu
Bersama Kita Bangkit Dari Abu
Dalam Bersama Kita Bangkit Dari Abu, pengkhianatan Kian merenggut nyawa calon anak dan karier kakakku. Kini, misi balas dendam dimulai di modern novel penuh intrik ini. Baca romance novel penuh aksi ini untuk mengungkap konsekuensi pengkhianatan dalam salah satu web novel terbaik.
Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
Dalam Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa, Indra berkelana melawan Raja Iblis yang menyebarkan virus di dunia Nobel. Bersama Aruna dan Rai, ia memulai adventure di fantasy novel ini demi membalas dendam desanya dan mengungkap asal-usul orang tuanya melalui misi penuh action yang mendebarkan.
Pembalasan Janda Talak Tiga
Pembalasan Janda Talak Tiga
Ditalak tiga sesaat setelah ijab kabul, pengantin wanita dalam Pembalasan Janda Talak Tiga memulai misi balas dendam terhadap mantan suaminya. Baca romance novel penuh intrik ini di webnovel untuk melihat transformasi sang janda dalam menghadapi pengkhianatan di tengah modern novel yang keras.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Bangkit Bersama Putriku
Bangkit Bersama Putriku
Kiki Julius tumbuh dalam keluarga patriarki. Pada usia 18 tahun, dia jatuh cinta dengan Randi Lewis dan mengikuti ke kota setelah melahirkan putri mereka. Namun, keluarga Lewis meremehkan asal-usul Kiki, memfitnah putrinya, dan terus menyulitkan hidupnya. Tak tahan lagi, Kiki melarikan diri bersama putrinya dan bertemu Niko Juan, mantan tentara cacat. Dengan dukungan Niko, Kiki membuka pabrik pakaian, menulis ulang takdir hidupnya, dan menemukan cinta baru.
Dia, sang Konspirator
Dia, sang Konspirator
Miya Muran, pekerja modern, tiba-tiba pindah zaman dan jadi Permaisuri Penjaga Utara. Untuk lepas dari nasib dikubur hidup-hidup, dia bunuh utusan kekaisaran dan picu pemberontakan. Dengan strategi cerdas, dia bantu sang pangeran rebut tahta dan kuasai negeri. Setelah tahta aman, sang kaisar ingkar janji dan ingin mengurungnya di istana. Tak mau hidup terpenjara, Miya meracuni kaisar dan akhiri kekuasaan lama. Dia bersumpah mengubah nasib rakyat dan membangun tatanan baru.
Tersesat dalam Bayanganmu
Tersesat dalam Bayanganmu
Demi menyelamatkan kekasihnya dari kebangkrutan, wanita itu rela mengorbankan kesempatan pengobatannya untuk membiayai investasi pria itu. Saat menyadari penyakitnya tak lagi tertolong, dengan berlinang air mata, dia memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal. Tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sang pria akhirnya mengetahui keberadaan putra mereka, namun wanita itu bersikeras membantah dan mengaku bahwa anak tersebut bukanlah darah dagingnya. Tertipu oleh seorang penipu yang mengklaim telah berjasa, sang pria pun semakin tersesat dalam kesalahpahaman. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terungkap, dirinya pun dihantui penyesalan yang tak berujung.
Istri Sah Hidup Kembali
Istri Sah Hidup Kembali
Ami dan adiknya Dian menikah di hari yang sama, tapi ditukar dan salah menikah. Setelah mati tragis, ia terlahir kembali, bertekad membalas dendam, melindungi keluarganya, merebut kembali kehormatan, dan akhirnya menemukan cinta sejati.
Menikah lagi di Era 90-an
Menikah lagi di Era 90-an
Di kehidupan lalu, Maya Lestari dibohongi suaminya, Wira. Wira pura-pura mati dan ambil identitas adik kandungnya, demi Lidya, adik iparnya. Ia habiskan hidupnya mengurus mereka dan ibu mertuanya. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Di kehidupan ini, Maya memilih jalan berbeda, menerima cinta sejati, dan memulai kariernya. Dan mantan suaminya sekeluarga hidup dalam kekacauan.
Pelayan Munafik
Pelayan Munafik
20 tahun lalu, putri keluarga kaya Amel Liman memiliki kehidupan bahagia yang membuat orang iri, tetapi karena intervensi guru keluarga Lusi Jaya, sehingga ayah Amel selingkuh, adiknya kecelakaan dan mati, serta ibunya menjadi gila karena terpukul. Keluarga bahagia itu hancur dalam sekejap karena seorang wanita. Dia bersumpah akan membuat Lusi juga merasakan penderitaan kehilangan segalanya. 20 tahun kemudian, dia mengganti nama menjadi Jeni Wira dan masuk ke rumah Lusi sebagai pelayan, memulai balas dendamnya...