Bab 1
"Bu Juvena, apa Anda yakin ingin menayangkan foto dan video Pak Silvano dengan Nona Marisha pada hari pernikahan?"
Juvena terhenti sejenak, lalu dengan tegas menjawab, "Aku yakin."
"Oh ya, sekalian bantu aku urus visa. Pada hari pernikahan aku harus ke luar negeri, jangan sampai ada yang tahu."
Setelah menutup telepon, Juvena berdiri lama di dalam kamar.
Pagi ini saja, Juvena menemukan rumah kecil tempat tinggal tunangannya bersama cinta pertamanya.
"Marisha, kalau kamu sungguh tak rela aku menikah, sebulan lagi datanglah. Rebutlah aku, dan jadilah pengantinku!"
Begitu sampai di pintu, Juvena mendengar Silvano menyerukan kalimat itu kepada Marisha.
Detik berikutnya, keduanya tak bisa menahan diri dan saling berciuman.
Melihat adegan itu, jantung Juvena hampir meledak.
Dia menahan diri untuk tidak menerobos masuk, lalu berbalik dan pergi.
Pada saat itu juga, dirinya telah diam-diam membuat keputusan yang akan mengejutkan semua orang.
Di hari pernikahan sebulan kemudian, sebelum rencana mereka untuk merebut pengantin terjadi ... Juvena akan kabur dari pernikahan!
"Bu Juvena, apakah Anda yakin ingin menyebarkan foto dan video Pak Silvano dengan Nona Marisha pada hari pernikahan?"
Juvena Ningris terdiam sejenak, lalu dengan tegas menjawab, "Aku yakin."
"Oh ya, sekalian tolong bantu aku uruskan visa. Pada hari pernikahan itu aku akan pergi ke luar negeri, jangan sampai ada yang tahu."
Pihak di telepon segera menjawab, "Baik, Bu Juvena, akan segera aku urus."
Setelah menutup telepon, Juvena berdiri lama di dalam kamar.
Awalnya dia sama sekali tak berniat membuat keputusan yang begitu ekstrem.
Kalau saja dia tidak mendapati bahwa Silvano Lusdan diam-diam memiliki sebuah rumah kecil di luar.
Dan orang yang "disembunyikan" Silvano justru adalah wanita yang pernah melukai pria itu dengan dalam.
Dia adalah cinta pertamanya ... Marisha.
Pagi ini saja, Juvena menerima alamat dari detektif pribadi.
Mengikuti alamat itu, dia sampai di sebuah vila yang terpencil namun didekorasi dengan sangat hangat.
"Kalau kamu sungguh tak rela aku menikah, sebulan lagi datanglah. Rebutlah aku, dan jadilah pengantinku!"
"Marisha, selama kamu berani muncul di hari pernikahan, aku berani menikahimu!"
Begitu sampai di depan pintu, Juvena sudah mendengar tunangannya berkata seperti itu kepada wanita lain.
Di dalam rumah, wanita itu tertegun sejenak, lalu menerjunkan diri ke pelukan Silvano sambil bersumpah ....
"Baik, di hari pernikahan itu, aku akan merebutmu sendiri dari tangan Juvena!"
Mendengar perkataan Marisha, mata Silvano seketika memerah karena terharu.
Detik berikutnya, keduanya tak bisa menahan diri dan saling berciuman.
Berdiri di luar pintu menyaksikan adegan itu, hati Juvena terasa sakit bagaikan hampir meledak.
Silvano terlalu pandai berbohong.
Sampai-sampai Juvena percaya akan sumpah sehidup semati saat lamaran pria itu. Hingga sekarang, dirinya baru menyadari, di sinilah rumah kecilnya bersama cinta pertamanya Marisha.
Juvena menahan diri untuk tidak menerobos masuk, berbalik dan pergi.
Pada saat itu juga, dia diam-diam membuat keputusan yang akan mengejutkan semua orang.
Di hari pernikahan sebulan kemudian, sebelum rencana rebutan pengantin mereka dijalankan ... dirinya akan kabur!
Juvena tidak membawa mobil, berjalan pulang sepanjang jalan.
Melihat penampilannya yang penuh debu dan angin, seorang pelayan merasa ketakutan. Dengan buru-buru sang pelayan merangkulnya masuk ke dalam untuk menghangatkan diri, lalu tergopoh-gopoh menuangkan air panas.
"Nona, kenapa Anda keluar tanpa berpakaian tebal, kalau sampai masuk angin nanti Pak Silvano pasti marah lagi!"
Namun Juvena seakan tak merasakan apa-apa. Tanpa sepatah kata yang diucapkan, dia berbalik menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, Juvena menahan dadanya, lalu perlahan terduduk di lantai.
Selama ini, dia tidak pernah meragukan cinta Silvano padanya.
Pria itu pernah, hanya karena satu kata "suka" dari Juvena, pergi jauh ke Benua Selatan untuk membuatkan gelang berlian mewah khusus baginya.
Dia juga pernah, hanya karena Juvena dipaksa minum dua gelas lagi, tanpa ragu membalik meja, bahkan merobek kontrak ratusan miliar.
Seorang direktur yang sudah terbiasa dengan kerasnya dunia bisnis, justru rela merendahkan diri untuk melamarnya. Bahkan saking gugupnya, si pria sampai gemetaran di tempat lamaran.
Setelah lamaran itu berhasil, seluruh kalangan terpandang di Kota Samudra menantikan pernikahan termewah abad ini sebulan kemudian.
Namun hanya Juvena yang tahu, itu tidak mungkin terjadi, karena ... Silvano berselingkuh.
Kali ini dia sebenarnya ingin duduk bersama Silvano untuk berbicara baik-baik, tetapi tak disangka, dirinya segera mendengar kata-kata yang begitu menghancurkan jiwanya.
Rebut jadi pengantin? Sebenarnya Silvano menganggapnya apa?
Bagaimana pula dengan harga diri Keluarga Ningris?
Juvena mengelus cincin pertunangan di jarinya, lalu perlahan memejamkan mata.
Dia berpikir, kalau saja tidak ada pernikahan, bagaimana mungkin Silvano membiarkan Marisha merebutnya?
Dan yang harus dia lakukan adalah, sebelum adegan rebutan pengantin itu terjadi ... kabur di depan semua orang.
Di hari pernikahan sebulan kemudian, dia akan lenyap sepenuhnya dari dunia Silvano!
Dan sekaligus memberikan pria itu hadiah yang tak akan pernah dilupakannya ....
Bab 2
Hingga larut malam, Silvano baru tergesa kembali ke rumah. Bahkan belum sempat mengganti pakaian, dia segera maju memeluk Juvena untuk meminta maaf ....
"Maaf ya Juv, hari ini sibuk rapat dengan klien jadi pulang terlambat."
Detik berikutnya, dia melihat masakan di meja yang belum tersentuh. "Kenapa kamu nggak makan, apa masakannya nggak sesuai selera?"
Juvena menggeleng pelan, lalu tanpa kentara menjauh darinya sedikit.
Aroma manis parfum yang bukan miliknya terpancar dari tubuh pria itu, memenuhi udara di sekitarnya, membuat Juvena pusing dan mual.
Namun Silvano tidak menyadari keanehannya. Pria itu hanya tersenyum pasrah, menarik kursi dan duduk di samping Juvena, lalu mengambilkan seekor udang untuknya.
"Akhir-akhir ini urusan perusahaan banyak sekali, terlalu sibuk, mungkin aku nggak bisa menemanimu makan, jangan sampai kamu kelaparan."
Saat menunduk, Juvena melihat di pakaian pria itu ada bekas merah bagian kerah baju
Perutnya segera bergejolak, dia berusaha keras menahan rasa mual.
Dulu Silvano pernah berkali-kali marah hanya karena Juvena lupa menemaninya makan.
Yang paling parah, pria itu bahkan sampai meneteskan air mata karena merasa sedih.
Pria itu pernah berkata hidup ini singkat, tak ingin melewatkan satu pun waktu makan bersama Juvena.
Namun kini, yang pertama melupakan janji itu justru pria itu sendiri.
Juvena menatap udang di mangkuknya sambil tersenyum pahit.
Sejak kapan Silvano berubah seperti ini?
Mungkin sejak pertunangan dua bulan lalu.
Hari itu, Silvano tidak seperti biasanya, terlihat gelisah dan tidak berfokus.
Padahal itu hari bahagia, namun sepanjang waktu pria itu sibuk memegang ponsel mencari sesuatu. Beberapa kali Juvena berbicara padanya pun tak didengarnya.
Bahkan setelah menerima satu panggilan telepon, Silvano malah meninggalkan acara lebih awal, meninggalkan Juvena sendirian menghadapi kecanggungan kedua keluarga.
Belakangan Juvena baru tahu, rupanya hari itu bertepatan dengan kembalinya Marisha ke negara ini.
Wanita yang membuat Silvano cinta sekaligus benci, dan terjerat dalam hubungan yang penuh luka.
Empat tahun lalu, Silvano tertipu oleh janji manis Marisha, hampir seluruh hartanya diinvestasikan ke proyek besar yang disarankan Marisha.
Namun yang didapat justru Marisha membawa lari uang itu ke luar negeri, lalu menghilang tanpa jejak.
Para rekanan yang tidak menemukan Marisha pun berbondong-bondong menuntut Keluarga Lusdan.
Itu adalah yang masa paling sulit bagi Silvano. Perusahaannya hampir bangkrut. Dalam menghadapi tekanan dari orang tua maupun semua pihak, Silvano bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri.
Saat Silvano berdiri di tepi jembatan hendak melompat, Juvena dengan nekat mempertaruhkan nyawanya sendiri berlari dan menahannya erat-erat.
Setelah itu, Juvena melakukan investasi ke Grup Lusdan.
Lalu siang malam si wanita menemaninya bekerja keras, hingga akhirnya membangun Grup Lusdan menjadi perusahaan terdepan di Kota Samudra sekarang.
Sejak itu, Silvano menutup cintanya pada Marisha, lalu mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Juvena.
Butuh satu tahun untuk mengejar Juvena, tiga tahun kemudian, Silvano berhasil melamarnya.
Namun, semua itu berubah ketika Marisha kembali.
Kini, Silvano bahkan berniat untuk membiarkan Marisha merebutnya untuk dijadikan pengantin.
Mengingat hal itu, Juvena dengan pelan berkata ....
"Nggak usah, aku nggak berselera, dan aku nggak makan udang."
Silvano agak tertegun, terutama saat bertemu dengan tatapan Juvena yang bagai air tenang tanpa riak.
Bagaimana dirinya bisa lupa, Juvena memang tidak pernah makan makanan laut, sekali coba saja segera muntah.
Pria itu tiba-tiba merasa bersalah, lalu dengan suara keras memanggil pelayan yang sudah tertidur.
"Bukankah aku bilang di rumah jangan ada makanan laut? Apa yang kalian lakukan?"
Pelayan seketika hilang rasa kantuknya, buru-buru menjelaskan ....
"Pak Silvano, bukankah udang ini Anda sendiri yang menyuruh orang kirim? Bahkan berpesan agar segera dimakan selagi segar, jadi aku ...."
Mata Silvano segera melotot. "Mana mungkin aku menyuruh orang mengirimkan makanan laut ke rumah?"
Namun tiba-tiba, seolah teringat sesuatu, tatapannya sedikit menghindar.
Pelayan segera mengangkat piring udang itu untuk dibuang.
Namun Juvena mengangkat tangan menghentikan gerakan berikutnya.
"Sudahlah, jangan membuang makanan, bungkus saja dan masukkan ke dalam freezer."
Sambil berkata, dia menoleh pada Silvano. "Besok kamu bawa ke kantor saja, pasti ada yang suka makan."
Pelayan bingung harus bagaimana, lalu menoleh ke arah Silvano.
Hati Silvano mendadak panik, buru-buru menggenggam tangan Juvena dan bertanya, "Juvena, ada apa denganmu? Bukankah kamu memang nggak suka udang?"
"Ya, makanya untuk tambahan makanan karyawan. Akhir-akhir ini mereka juga lembur, udang ini lumayan mahal."
Juvena menjelaskan tanpa celah, Silvano pun merasa lega.
"Memang Juvena selalu begitu perhatian. Bungkuslah."
"Baik, Pak Silvano."
Bagaimana dia bisa berpura-pura begitu sempurna tanpa ada celah seperti ini?
Juvena diam-diam menatap Sivano yang sedang membungkus udang itu sendiri, bahkan menempelkan catatan kecil bertuliskan [Perhatian dari istri tercinta Juvena].
Silvano, semoga saat menerima hadiah itu, kamu juga bisa terus berpura-pura seperti sekarang.
Bab 3
Tengah malam Juvena dengan gelisah berguling ke sana kemari. Terasa sesak di dada, dirinya sama sekali tak bisa terlelap.
Saat itu, ponsel di atas mejanya menyala sekilas.
Dia menggeser layar, ternyata akun familier itu lagi-lagi mengirimkan pesan.
Isinya beberapa tangkapan layar percakapan tanpa foto profil, tulisannya seperti biasa penuh dengan rayuan ambigu.
Tak perlu ditebak, Juvena tahu itu pasti sengaja dikirim Marisha, percakapan antara dia dan Silvano.
Sudah berlangsung selama dua bulan ini.
Juvena kembali mengklik foto profil Marisha, lalu melihat ke status teman-temannya.
Posting terbaru dua jam lalu: [Hari ini bersama orang tersayang mengadopsi bayi mungil yang lucu!]
Foto yang disertakan adalah seekor kucing.
Silvano selalu sangat menyukai kucing, bahkan foto profilnya pun seekor kucing.
Namun sayangnya Juvena alergi parah bulu kucing, sehingga di rumah mustahil bisa memeliharanya.
Tak disangka pria itu justru mengadopsi kucing bersama Marisha.
Dan postingan Marisha itu jelas mengisyaratkan, hanya dialah yang bisa memberikan keluarga kecil impian Silvano, keluarga hangat mereka berdua bersama seekor kucing.
Juvena menatap status update Marisha. Matanya sampai perih diterpa cahaya layar, barulah dia meletakkan ponsel.
Padahal Silvano tidur di sampingnya, tetapi hati keduanya sudah dipisahkan jurang yang tak bisa diseberangi.
Di tengah malam, rasa sakit membangunkan Juvena secara tiba-tiba.
Dirinya memang sudah lama mengidap sakit lambung. Hari ini, karena hampir tak makan dan terbawa gelombang emosi yang hebat, perutnya nyeri mencekam, seperti disayat-sayat pisau yang tajam.
Ketika meraba-raba hendak menyalakan lampu meja, tak sengaja dirinya menumpahkan gelas air.
Suara itu mengejutkan Silvano dari tidur, dan di sisinya dia melihat wanita yang meringkuk kesakitan.
Pria itu buru-buru menyalakan lampu. Melihat wajah Juvena yang penuh keringat, dirinya makin panik.
"Juvena, apa yang terjadi? Penyakit lambungmu kambuh lagi?"
"Obat ... obat ... ada di laci."
Mendengar suara lemah itu, dengan cepat Silvano bangkit, lalu dengan panik mengacak-acak laci mencari obat.
Saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering.
Silvano sudah gelisah karena tak menemukan obat, kini suara dering terus berbunyi membuatnya makin terganggu.
Dirinya dengan kesal meraih ponsel dan menekan tombol jawab.
"Siapa, apa urusannya? Apa pun itu jangan ganggu aku sekarang! Mengerti?"
Sebelum sempat dia menutup panggilan dengan marah, dari seberang terdengar tangisan, membuat gerakannya terhenti.
Juvena samar juga mendengar suara manja seorang wanita di telepon.
"Silvan, Milkie hilang, aku sudah mencari ke mana-mana tapi nggak ketemu. Semua salahku nggak menjaganya baik-baik ...."
"Dia masih begitu kecil, begitu rapuh. Kalau dia sampai terjadi sesuatu, aku juga nggak mau hidup lagi ...."
"Jangan, jangan panik dulu, pasti nggak akan terjadi apa-apa."
Raut wajah Silvano menjadi cemas.
Dia menoleh sebentar pada Juvena, lalu menutupi ponsel dan berjalan keluar, suaranya makin pelan.
"Sekarang sudah larut, kamu sendirian di luar mencari kucing juga nggak aman. Tunggu lima menit, aku segera datang ...."
Beberapa saat kemudian, Silvano buru-buru kembali ke kamar, meraih jaket dan menyampirkannya di tubuh, lalu berkata ada urusan mendadak di perusahaan, tanpa menoleh segera pergi.
Juvena yang merasa kesakitan di lambung sampai tak bisa bersuara, hanya bisa menatap punggung Silvano yang menjauh, hingga lenyap dari pandangan.
Rasa sakit yang mencekam dadanya kini bahkan lebih menyiksa daripada sakit di lambung.
Akhirnya, Juvena hanya bisa berjalan dengan terseret-seret untuk mencari obat.
Namun karena salah langkah, dirinya terjatuh dari tempat tidur, lalu terbaring di lantai dan perlahan tak sadarkan diri.
Saat sadar kembali, Juvena mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit.
Perawat muda yang hendak memasang infus melihat matanya terbuka, merasa girang seolah melihat penyelamat.
"Syukurlah Anda sadar, Pak Silvano mengerahkan segala cara untuk mengobati Anda. Melihat Anda tak kunjung sadar, dia bahkan marah besar di rumah sakit!"
Nada suara perawat tak bisa menyembunyikan rasa iri.
Namun Juvena hanya bisa dengan susah payah menampilkan senyum pahit.
Dia sedang menertawakan dirinya sendiri. Dulu demi membantu Silvano yang putus asa, dirinya rela meminum alkohol berlebihan di saat jamuan, sampai merusak lambung dan meninggalkan penyakit kronis.
Kini dirinya dalam keadaan seperti ini, tapi di hati Silvano bahkan tidak sebanding dengan seekor kucing milik mantan pacarnya.
Karena tidak menyukai bau menusuk cairan disinfektan di ruang rawat, Juvena bangkit dan berjalan keluar.
Baru melangkah beberapa langkah, dia melihat sosok yang sangat dikenalnya terlintas di kejauhan.
Hati Juvena menegang, diam-diam mengikutinya.
Detik berikutnya, dia melihat Silvano bersembunyi di koridor, diam-diam menelepon.
Silvano tersenyum tipis, suaranya penuh helaan napas pasrah sekaligus manja.
"Nggak bisa, aku benar-benar nggak bisa pergi sekarang, dia belum sadar."
"Kamu jangan cemas, aku pasti akan menyempatkan diri untuk menjumpaimu, sebentar lagi saja."
Entah apa yang dikatakan dari seberang, Silvano tersenyum hingga lesung pipitnya muncul, lalu dengan manis menjawab ....
"Aku tahu, aku juga rindu kamu."
"Baik, sampai nanti."
Setelah menutup telepon, Silvano tampak mengernyit.
Pria itu merasa jelas ada sepasang mata yang menatapnya tajam dari belakang barusan.
Namun dirinya menoleh berkali-kali memastikan, koridor itu memang tidak ada sosok siapa pun.