Bab 1
Suamiku bekerja lembur, jadi di rumah hanya ada aku dan adik ipar. Suatu malam, dia memberiku segelas susu dan menggagahiku ....
Setelah rutinitas bercinta kami, aku berbaring telanjang di tempat tidur, merasakan sisa-sisa perasaan nikmat di tubuhku.
Suamiku berbisik pelan di telingaku dan dengan santai mengeluarkan beberapa lembar tissue, "Lain kali kamu melakukannya, jangan berteriak terlalu keras."
Aku memahami maksudnya. Setelah adik iparku, Yoga Januar, pindah ke rumah beberapa hari yang lalu, keberadaannya sebagai seorang pemuda yang penuh semangat di rumah memang membuat segalanya jadi agak kurang nyaman. Aku tidak bisa lagi bertindak sebebas sebelumnya.
Namun, suamiku menyukai teriakanku dan ingin mendengarnya, jadi dia hanya bisa memintaku untuk mengecilkan suaraku.
"Sayang, aku masih mau ...."
Setelah aku tenang, aku merasa masih kurang puas.
Aku menoleh dan melihat bahwa dia ternyata sudah mengenakan celana, bersiap untuk pergi kerja lembur.
Belakangan ini, suamiku sangat sibuk dengan pekerjaannya, sering kali tidur di kantor. Kali ini dia pulang hanya karena masa ovulasiku tiba, demi program hamil saja.
Melihat punggungnya yang menjauh, hatiku terasa agak hampa.
Pria ini selalu kembali terburu-buru, melepas celananya dan menindihku di ranjang sekali, lalu menepuk bokongku dan pergi!
Dia tidak peduli apakah aku puas atau tidak.
Apa dia tidak takut aku selingkuh?
Berbaring di ranjang, aku mengambil ponsel dan membuka riwayat obrolan dengan sahabatku, lalu dengan cepat menggulir ke atas.
Sampai foto telanjang seorang pria kekar tampil di depan mataku.
Di bawah foto itu, ada teks yang dipamerkan sahabatku kepadaku: Biar kutunjukkan tubuh adik iparmu. Bisa disebut sebagai Ken Arok zaman modern, benar-benar luar biasa!
Gatal.
Hatiku terasa gatal.
Aku menggigit bibir dan menatap lekat-lekat tubuh pria di foto itu. Tanpa sadar, aku meringkuk di tempat tidur, menahan rasa gatal yang nyaris membuatku kehilangan kesadaran dan pingsan.
Sahabatku dan aku sudah berteman sejak masa kuliah. Yang satu terang-terangan genit dan yang lainnya diam-diam suka menggoda.
Hal yang paling sering kami lakukan adalah berkumpul dan membandingkan pria.
Bahkan saling menggoda pria satu sama lain.
Beberapa waktu lalu, sahabatku sedang dalam masa kosong, jadi aku memperkenalkan adik iparku yang baru saja lulus dari universitas kepadanya.
Malam itu, keduanya tidur bersama.
Setelah itu, sahabatku memuji keterampilan Yoga di ranjang dan diam-diam mengirimiku rekaman video dan foto di ranjang.
Sayangnya, aku hanya bisa menontonnya dan tidak bisa menikmatinya sendiri.
Aku membelai dadaku, mengenakan gaun tidur berenda, turun dari ranjang dengan lembut, dan pergi ke ruang tamu.
"Kakak."
Suara yang datang dari bawahku membuatku terkejut, rupanya Yoga hanya mengenakan celana dalam, sedang berbaring di atas alat penguat otot perut untuk berolahraga.
Aku terdiam sejenak, "Kok belum tidur?"
"Karena suaramu bikin aku nggak bisa tidur."
Yoga diam-diam melirik ke bawah rokku, lalu melanjutkan latihannya.
Sialnya, aku tidak menghindari tatapannya.
Alih-alih, aku duduk di sofa, memperhatikan punggung lebar Yoga dan bokong kencangnya yang terus bergerak. Segera, wajahku memerah dan jantungku mulai berdebar.
Bagaimana mengatakannya, posisinya benar-benar sangat mirip dengan posisi untuk melakukan hal itu.
Jika benda di bawahnya diganti dengan wanita, gerakannya mungkin akan sama.
Dia terus mendorong dirinya ke depan dengan sekuat tenaga sambil menatap pahaku. Amplitudonya begitu besar sehingga bahkan peralatan kebugaran itu bergetar hebat, hampir hancur berantakan karena latihannya.
Dikombinasikan dengan erangan teredam sesekali, itu membuatku merasakan kegembiraan yang menggelikan di hatiku—
Dia mengawasi dan menggagahiku!
Bab 2
Aku bukanlah gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, pengalamanku dapat membuat wanita muda mana pun seusianya merasa rendah diri, tetapi tindakan pemerkosaan mata Yoga yang diam-diam dan berani itu entah mengapa menyentuh titik sensitifku.
"Seandainya yang ada di bawahnya sekarang bukanlah alat penguat otot perut, tetapi aku …."
"Dia menggunakan posisi seperti itu secara intens …."
Mau tak mau aku berfantasi tentang tubuhku yang makin tak terkendali, terasa gatal dan mati rasa seolah-olah segerombolan semut merayapi diriku. Adegan dalam video sahabatku yang dimanipulasi secara sembarangan olehnya kembali terlintas di benakku .
"Teruskan berlatih, aku … aku akan kembali ke kamar tidur ...."
Akhirnya, rangsangan yang tabu dan memalukan ini membuatku tak sanggup lagi menahannya. Aku melarikan diri ke kamar tidur seperti sedang dikejar, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur.
Aku tak sabar untuk melepas baju tidurku, mengambil sebuah benda kecil dari dalam meja samping tempat tidur, merentangkan kakiku, dan menekan tombol ke arah Yoga di ruang tamu, membayangkan diriku dicambuk dengan paksa olehnya sambil menjambak rambutku.
Sampai detik sebelum aku kehabisan tenaga dan kehilangan kesadaran, aku masih berpikir, mungkin ... aku tidak akan pernah bisa menghilangkan perasaan ini lagi.
Tubuhku tampaknya memiliki keinginan alami untuk dipaksa oleh dominasi pria. Tidak perlu keterampilan apa pun, hanya kekuatan murni untuk menaklukkan!
Keesokan harinya, aku terbangun oleh telepon dari suamiku.
Saat itu, aku masih sangat mengantuk, aku bahkan tak bisa membuka mata. Kedua lututku terasa seperti telah berlutut seharian, dan pinggangku pun terasa sangat pegal. Aku hanya asal menjawab beberapa kali sebelum menutup telepon.
Baru setelah sore harinya bangun, aku teringat bahwa suamiku di telepon bilang, hari ini dia harus lembur lagi dan tidak akan pulang malam ini.
Aku berusaha bangkit dari tempat tidur, berniat memastikan apakah Yoga ada di rumah atau tidak, sekaligus berpikir apakah perlu memasakkan makanan untuknya.
Namun, aku sama sekali tidak menyangka, ketika memutar kenop pintu, aku mendapati pintunya tidak terkunci. Dari dalam kamar bahkan terdengar suara napas yang samar-samar, membuatku tak bisa menahan diri untuk membungkuk mengintip melalui celah pintu.
Yoga duduk tegak di depan meja belajarnya, terlihat sangat fokus menatap komputer di depannya. Tangannya bergerak naik-turun, sementara di layar terlihat sebuah film dewasa yang tidak pantas ditonton.
Di layar, seorang wanita ramping dengan tubuh telanjang bulat berlutut di tempat tidur, bokongnya yang montok menungging tinggi, memperlihatkan warna putih berminyak.
Pria itu mencengkeram pinggang ramping wanita itu dengan erat dengan kedua tangannya, memperlihatkan perut bagian bawahnya yang berotot dan berkilau, dan menyerbu ke depan dengan kekuatan tak terbatas seperti banteng.
Wanita itu terengah-engah, tetapi tubuhnya masih terpaku erat oleh pria itu, tanpa ampun mengulangi gerakan kasarnya.
Aku menggigit bibirku pelan.
Meskipun aku punya firasat, saat aku benar-benar melihat kejadian ini, wajahku memerah dan telingaku memerah.
Yang membuatku makin terengah-engah adalah kain ungu muda yang dimainkan Yoga di tangannya. Itu celana dalam yang baru saja hilang beberapa hari lalu!
Ternyata dia mencurinya!
Seluruh tubuhku terasa panas dan sangat terangsang, dan kepalaku juga pusing. Namun, sebelum aku sempat memilah-milah pikiranku, di layar komputer, wanita dengan bokong yang menungging itu dicengkeram dan ditarik rambutnya oleh pria itu, dengan dua jari menjulur ke dalam mulutnya dan bergerak-gerak.
Wanita itu terpaksa mengangkat kepalanya, memperlihatkan ujung dagunya, menjulurkan lidah dan mengisap jari-jari di depannya, dan air liurnya perlahan mengalir dari sudut mulut ke dadanya, tampak mengigau.
"Obat ini benar-benar manjur. Kamu nggak apa-apa?"
"Mantap!" Kata itu meluncur dari mulut wanita yang tampak linglung itu.
Suara keduanya membuatku merasa sangat akrab, lalu aku melihat wajah pria dalam film itu dengan jelas.
Bab 3
Ternyata itu Yoga!
Aku mengamati gambar di layar dengan cermat, ingin melihat siapa wanita itu.
Namun, kameranya benar-benar berguncang dengan sangat hebat, apalagi wanita itu hanya menampakkan sebagian kecil wajahnya, yang sebagian besar tertutupi oleh rambut, sehingga hanya bisa dipastikan bahwa dia bukan sahabatku.
Tepat ketika aku makin merasa wajah itu tidak asing, bahkan berpikir bahwa wanita itu agak mirip denganku, video itu selesai.
"Kalau saja kamu bisa selalu sepatuh ini, betapa bagusnya ...."
Yoga mengambil sebuah botol kecil berwarna cokelat dari laci, lalu mematikan komputernya.
Karena takut ketahuan olehnya, aku segera kembali ke kamar tidur, mengganti celana dalam, lalu duduk di atas tempat tidur sambil melamun.
Siapa sebenarnya wanita di video yang tidak menampakkan seluruh wajahnya itu?
Membayangkan dirinya dijepit oleh Yoga, dibuat tidak sadar diri, dan dengan putus asa mendorong pinggulnya, rasa malu yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda seluruh tubuhku.
Bahkan pelacur tidak akan begitu bebas saat melayani, aku mau tak mau berpikir sendiri.
"Kak, kamu sudah bangun?" Suara Yoga terdengar dari luar pintu.
"Sudah … sudah bangun!" Aku buru-buru keluar dari kamar tidur, menundukkan kepala, tidak berani melihat pria tinggi di depanku yang hanya mengenakan celana pendek.
Aku tidak berani mengakui bahwa barusan, hanya dengan membayangkan diriku dipaksa oleh Yoga, telah memicu gelombang kenikmatan yang luar biasa di dalam tubuhku.
"Kulihat kamu tidur seharian, aku kira kamu sakit."
"Ng … nggak, kamu lapar? Aku bisa buat mi untukmu."
"Aku sudah makan." Yoga menyerahkan segelas susu padaku. "Kelihatannya kamu belum cukup istirahat, habiskan ini lalu tidurlah lagi."
Aku mengangguk, meminum susu itu sampai habis.
Mungkin karena terlalu banyak menerima rangsangan, begitu aku berbaring di tempat tidur yang hangat dan wangi, rasa kantuk dengan cepat menyerang, kelopak mataku makin berat.
Tepat saat aku hampir tertidur dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan gelombang panas samar-samar muncul dari dalam tubuhku, terpusat di area perut bagian bawah.
"Klik," terdengar suara pintu kamar tidur dibuka, kemudian kasur terasa tenggelam. Seseorang naik ke atas tempat tidur.
Tubuhku langsung menegang. Apakah itu Yoga?!
Saat itulah aku baru sadar dan teringat akan botol kecil berwarna cokelat yang dia keluarkan dari laci, apakah dia menaruh obat di dalam susu itu?
Dia ingin menggagahiku!
Aku membenamkan wajahku di bantal. Seluruh tubuhku selembut adonan, dan tubuhku yang berkeringat menjadi lebih sensitif dari sebelumnya. Setiap inci kulitku terasa panas, perih, dan gatal. Satu-satunya hal yang dapat kudengar adalah detak jantungku yang intens, dan sebuah pertanyaan terus muncul di benakku, "Apa aku harus pura-pura tidur?"
Namun segera, aku tidak merasa berada dalam situasi yang sulit lagi, karena pria di belakangku telah melepaskan celana tidurku.