Bab 1

Seluruh Divisi Khusus Kepolisian tahu, Zaki Sadam adalah ahli negosiasi krisis paling profesional. Di saat genting antara hidup dan mati, dia bisa dengan mudah meruntuhkan pertahanan psikologis seseorang.

Namun, hanya terhadap air mata Cindi Wiryo, dia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.

Semua orang berkata, Zaki mencintai Cindi setengah mati, seolah-olah dia rela memberikan bintang dan bulan untuk Cindi.

Namun, hanya Cindi sendiri yang tahu bahwa cinta sejati Zaki bukanlah dirinya.

Seluruh Divisi Khusus Kepolisian tahu, Zaki Sadam adalah ahli negosiasi krisis paling profesional. Di saat genting antara hidup dan mati, dia bisa dengan mudah meruntuhkan pertahanan psikologis seseorang.

Namun, hanya terhadap air mata Cindi Wiryo, dia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.

Semua orang berkata, Zaki mencintai Cindi setengah mati, seolah-olah dia rela memberikan bintang dan bulan untuk Cindi.

Namun, hanya Cindi sendiri yang tahu bahwa cinta sejati Zaki bukanlah dirinya.

Pada hari cinta sejati itu kembali ke Tambar, Cindi menerima kabar bahwa Zaki mengalami kecelakaan di tengah hujan deras pada malam hari. Dia keluar rumah dengan perasaan panik, tetapi mengalami kecelakaan mobil dan keguguran di tengah perjalanan. Padahal kandungannya sudah memasuki usia empat bulan.

Zaki datang dari acara penyambutan cinta sejati itu dengan tergesa-gesa, dengan suara bergetar dia berkata, "Itu hanya permainan saat mabuk, kenapa kamu anggap serius?"

Saat tubuh dan hatinya masih sakit, Cindi kembali mendengar Zaki yang memaksakan diri untuk berkata dengan tenang, "Nggak punya anak sekarang juga lebih baik. Pekerjaanku membuatku punya terlalu banyak musuh. Kalau punya anak, malah bisa dijadikan alat untuk mengancamku."

Kalimat itu seakan menyayat hatinya, tetapi Cindi tak bisa membantah.

Hari kesepuluh setelah cinta sejati itu pulang, Cindi memergoki mereka berdua di ruangan yang sama dan terlihat sangat dekat. Dengan mata memerah, Zaki menggenggam tangan Cindi sambil berjanji, "Cindi, percayalah padaku. Kami hanya rekan kerja, saat ini sedang membahas suatu kasus."

Cindi tak membalas. Dia hanya berbalik dan pergi dengan tenang.

Pada hari ke-60 sejak cinta sejati itu kembali, seorang penculik menodongkan pisau ke leher Cindi, lalu menyeringai ke arah Zaki sambil berkata, "Tuan Negosiator, kau harus memilih antara istrimu dan kekasihmu!"

Zaki tampak sedih, tetapi dia menjawab dengan jelas dan tegas,

“Sukma lulusan luar negeri dan punya keahlian tinggi, kepolisian membutuhkannya.”

Pada saat itu, Cindi hanya bisa menatap Sukma berlari ke pelukan Zaki, sementara penculik yang kalap menusuknya enam kali.

Cindi koma selama dua bulan. Saat bangun, hal pertama yang dia lakukan adalah membawa surat nikah ke markas dan mengajukan perceraian.

Namun bukan kepastian perceraian yang dia dapatkan, melainkan pertanyaan dari petugas yang tampak kebingungan.

"Bu Cindi, Anda dan Pak Zaki … tidak pernah menikah. Apa surat nikah ini palsu?"

Cindi mengira dirinya salah dengar. Surat nikah yang sudah dia simpan selama enam tahun dan pernikahan yang dia pikir nyata dan bahagia, ternyata palsu?

"Nggak mungkin. Tolong cek lagi. Kami sudah menikah selama enam tahun .…"

Petugas itu menatapnya penuh keraguan, namun tetap memeriksa di sistem lagi. Setelah berkali-kali mengecek, petugas itu berkata dengan nada serius,

"Bu, membuat dokumen palsu itu melanggar hukum, tapi saya akan menganggap Anda hanya sedang bercanda."

Cindi berdiri terpaku. Dia menatap foto di surat nikah, yang memperlihatkan mereka berdua berdampingan dan tersenyum, membuatnya merasa semuanya tak masuk akal.

Mengingat kini Sukma telah kembali, ia tak lagi buta.

Zaki bersedia pura-pura menikah demi menutupi kenyataan bahwa dia sedang menunggu wanita yang dia cintai kembali.

Begitu Cindi kembali ke rumah sakit, Zaki langsung datang menghampiri dengan wajah khawatir, "Cindi, kamu belum benar-benar sembuh, kenapa kamu asal pergi saja?"

Namun, Cindi menepis tangan Zaki dan terus berjalan.

Zaki menatapnya lama, lalu berkata, "Kamu masih marah padaku? Tapi kamu tahu ‘kan, sejak aku memilih profesi ini, negara dan rakyat jadi prioritas utama.

Apalagi, Sukma juga terluka waktu mencoba menyelamatkanmu."

Cindi menatap suami yang sudah bersamanya selama enam tahun itu, tapi sekarang terasa sangat asing.

Ya, karena Zaki memang tak pernah benar-benar mengenalnya.

"Benar. Dia terluka dan menjadi pahlawan. Lalu aku apa? Hanya orang bodoh yang tak tahu diri."

Cindi menggenggam erat surat nikah di sakunya, matanya mulai berkaca-kaca.

Zaki, bagimu aku ini apa? Hanya pelarian sementara saat menunggu Sukma kembali?

Cindi menghindarinya, lalu kembali ke kamar.

Dia tidur karena kelelahan dan terbangun saat sudah sore. Tidak lama kemudian, seorang polisi dan rekan kerja Zaki, datang mengantarkan makanan.

Pria itu tidak langsung pergi. Dia tampak ragu, lalu berkata,

"Seharusnya Kak Cindi nggak marah ke Kak Zaki. Kamu hanya berprasangka buruk pada kami."

Cindi belum sempat menjawab, polisi itu sudah berkata dengan penuh emosi lebih dulu.

"Memang benar, Nona Sukma pernah membuat kesalahan besar saat misi penyelamatan ibumu. Tapi kami hanya manusia biasa, Kak. Kami mempertaruhkan nyawa tiap kali bertugas, tapi nggak bisa menjamin semuanya akan aman seratus persen!"

"Kamu nggak boleh membenci Nona Sukma karena hal itu. Itu namanya nggak adil! Lagi pula, setelah kejadian itu Nona Sukma langsung dapat sanksi berat dan dikirim ke luar negeri. Butuh usaha besar untuk bisa kembali ke sini."

Mendadak, kepala Cindi terasa kosong.

Enam tahun lalu, ibunya menjadi sandera dalam kasus perampokan bank.

Dalam proses negosiasi, seorang negosiator wanita muda bertindak gegabah dan justru membuat penculik marah hingga membunuh sandera.

Setelah itu, Cindi dengar bahwa negosiator itu dihukum. Keluarga Cindi pun menerima kompensasi negara. Baru setelah itu, Zaki masuk ke hidupnya.

Jadi, negosiator itu Sukma?

Dan Zaki, hanya berusaha menebus kesalahan orang lain?

Cindi tak bisa mendengar apa pun lagi. Dia bahkan tak sadar kapan polisi itu pergi.

Dia duduk lama, diam dalam kehampaan. Lalu perlahan mengangkat ponsel dan menghubungi satu nomor.

Begitu tersambung, dia mendengar suaranya sendiri. Dia berkata dengan sangat tenang, bahkan terlalu tenang, "Cindi menerima tugas dari markas. Siap bertugas kapan saja."

Bab 2

Bau cairan disinfektan rumah sakit yang menyengat membuat Cindi merasa sangat tersiksa. Dia mengabaikan nasihat dokter dan memaksa untuk pulang lebih awal.

Ponselnya berdering terus-menerus. Sekilas dia melihat nama di layar ponsel, Zaki.

Tanpa pikir panjang, dia menolak panggilan itu dan langsung memasukkan nomor itu ke dalam daftar blokir.

Begitu tiba di rumah, Cindi mulai mengobrak-abrik seluruh ruangan.

Cincin pertunangan mereka masih tergeletak di dalam kotak beludru. Sebuah kotak musik buatan khusus menampilkan figur sepasang pengantin pria dan wanita. Sebuah buku harian tebal berisi kenangan masa pacaran mereka, berisi tiap percakapan mereka yang penuh cinta. Dan di dinding ada foto pernikahan mereka yang besar dan indah.

Cindi hanya menatap semua itu sejenak, lalu mulai memasukkan semua benda itu satu per satu ke dalam kotak. Setelah penuh, dia membuang semuanya ke tempat sampah.

Seolah beban lama yang selama ini menempel di pundaknya akhirnya terlepas sepenuhnya.

Dia lalu membuka galeri ponsel, menatap satu per satu foto kenangan mereka. Setiap gambar membuatnya mengingat kenangan bahagia mereka saat itu.

Seperti saat mereka bermain adonan di dapur hingga wajah mereka belepotan tepung, atau duduk berdua di atas bianglala dan berciuman tepat di titik tertinggi.

Cindi menghapus foto-foto itu satu per satu. Setiap foto yang terhapus seperti pisau yang menusuk langsung ke jantungnya. Semua gambar itu mengingatkan betapa indah masa lalu itu dan betapa palsunya semua itu sekarang.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Zaki masuk dengan langkah besar.

Wajahnya tampak muram, tapi saat melihat Cindi, dia seakan terlihat sedikit lega.

"Cindi, kenapa nggak angkat teleponku?" Suaranya mengandung nada tekanan yang menakutkan. "Aku sudah meneleponmu lima puluh empat kali!"

Cindi terdiam, tentu saja dia tidak mengangkat panggilan Zaki, karena sudah masuk daftar blokir.

"Kenapa kamu keluar dari rumah sakit?" Zaki melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangan Cindi dengan kuat, dia berkata, "Kamu tahu bagaimana rasanya saat aku nggak bisa menemukanmu? Aku kira kamu ...."

Zaki menghentikan kalimatnya, memejamkan mata dengan marah.

Cindi mengernyit, dia berkata dengan nada acuh, "Lepaskan, kamu sudah menyakitiku!"

Namun, Zaki tak melepaskannya. Tatapan Zaki menyapu dinding yang kini kosong dan sorot matanya seakan penuh badai.

"Kenapa kamu buang foto pernikahan kita? Aku tahu kamu masih marah, tapi Cindi, kamu tahu siapa aku. Aku melakukan semua ini bukan untuk diriku, tapi untuk negara! Sekarang kami butuh Sukma, tidak boleh terjadi sesuatu pada Sukma."

"Cukup!" Cindi tiba-tiba melepaskan tangannya dengan kasar. "Aku nggak mau dengar kebohonganmu lagi!"

Surat nikah palsu itu dan perhatian Zaki pada Sukma tak akan bisa menipu siapa pun lagi. Cindi bukan orang buta!

Zaki menatapnya dengan kecewa, "Cindi, kamu sudah berubah."

Cindi nyaris tertawa. Ya, dia memang berubah, karena akhirnya dia berhenti jadi orang bodoh.

"Aku hanya ingin kamu tahu, orang yang paling aku cintai adalah kamu. Aku nggak bisa hidup tanpamu, aku!"

Mata Zaki mulai memerah. Tiba-tiba, dia melangkah dengan cepat dan langsung memeluk Cindi.

Meski Cindi berusaha melepaskan diri, Zaki menyeretnya ke tempat tidur. Dia mengeluarkan sepasang borgol perak dari sakunya, lalu memborgol tangan Cindi ke kepala ranjang!

Mata Cindi membelalak tak percaya. "Zaki, kamu sudah gila?"

"Aku benar-benar mau gila saat nggak bisa menemukanmu!"

Zaki menindih tubuh Cindi, lalu mulai menciumnya dengan paksa. "Cindi, jangan marah lagi. Kumohon ...."

Pada saat napasnya mulai terenggut, Cindi merasa mual luar biasa.

Dengan tangan bebasnya, Cindi menampar wajah Zaki sekuat tenaga.

"Plak!"

Zaki berhenti.

Cindi terengah-engah, matanya memerah dan berkata, "Pergi! Siapa yang memberimu izin untuk menciumku?"

"Aku .…"

Belum sempat dia menjelaskan, dering ponsel Zaki tiba-tiba berbunyi. Zaki melihat siapa yang menelepon, raut wajahnya langsung berubah.

Dia segera berdiri dan terburu-buru berjalan ke luar.

"Cindi, tunggu aku. Aku ada urusan sebentar. Aku akan segera kembali."

Dalam sekejap, dia pergi.

Di dalam kamar, hanya suara napas Cindi yang tersisa. Dia berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya cepat memerah karena bergesekan dengan logam borgol.

Rasa sakit dari luka yang belum sembuh, kembali menyerang saat dia banyak bergerak.

Ia terdiam sebentar, lalu menangis pelan. bibirnya yang pucat hanya bisa terkatup rapat.

Langit mulai gelap.

Pria yang katanya akan segera kembali itu, tak kunjung muncul.

Ponsel Cindi masih tertinggal di sofa.

Cindi mencoba membongkar kunci borgol dengan jepit rambutnya. Gagal.

Dia mencoba menyeret ranjang dan membuka penyangga tempat tidur, semua gagal.

Lebih parah lagi, kepalanya mulai pusing, lukanya berdenyut sakit, dan perutnya lapar, semuanya datang menyerang bersamaan. Dia meringkuk lemas di atas ranjang, dilanda rasa sakit dan kelaparan.

Siang berganti malam. Selama semalaman penuh, Zaki tidak kembali.

Bab 3

Saat dalam kondisi tak sadar, Cindi seolah bermimpi kembali ke hari ketika Zaki melamarnya. Saat itu, Zaki menatapnya dengan penuh kelembutan, dia berkata dengan pelan dan serius, “Aturan paling penting bagi seorang negosiator adalah selalu tetap tenang. Tapi sejak bertemu denganmu, setiap hari aku melanggarnya.”

Zaki memasangkan cincin ke jarinya dengan sangat lembut dan mencium dirinya dengan penuh kasih sayang. Semua itu, bagaimana mungkin semua itu adalah kebohongan?

Perutnya terasa sakit hebat, dia tersadar sesaat, terombang-ambing di antara rasa sakit dan kesadaran, hingga hampir berpikir bahwa dirinya akan mati begitu saja.

“Braak!”

Pintu tiba-tiba didobrak terbuka, lalu terdengar suara panik Zaki, “Cindi!”

Borgol yang mengikatnya bergetar hebat saat dibuka dengan tangan gemetar.

Dia langsung menggendong Cindi dan segera membawanya keluar.

“Maaf, maafkan aku!”

Suara Zaki hampir seperti menangis. Dia membawa Cindi masuk ke dalam mobil, penuh ketakutan berkata, “Aku bukan sengaja melupakanmu, Cindi, tolong bangun!”

......

Saat Cindi membuka mata lagi, Dia kembali berada di kamar rumah sakit yang disinari lampu putih menyilaukan. Dalam beberapa bulan terakhir, dia sudah tiga kali masuk rumah sakit. Semua karena pria yang dulu sangat dia cintai.

Pria yang selalu berkata mencintainya, tetapi tak pernah berhenti menyakitinya.

Kepalanya terasa sangat sakit. Begitu jarinya yang terkulai mulai sedikit bergerak, langsung ada seseorang yang menggenggamnya.

“Cindi?” Suara Zaki serak dan penuh kecemasan. “Apa masih ada yang terasa sakit?”

Begitu mendengar suaranya, Cindi langsung menarik tangannya dengan kuat. Namun, gerakannya yang mendadak justru membuat luka di tubuhnya kembali terasa perih, hingga dia menghirup napas dalam-dalam menahan sakit.

“Jangan bergerak!”

Zaki langsung memegang pundaknya, dan Cindi melihat matanya yang memerah.

Tanpa pikir panjang, dia menggunakan seluruh tenaganya untuk menampar wajah Zaki.

Sayangnya, tubuhnya sangat lemah, tamparan itu kurang kuat. Namun, Zaki tetap terdorong hingga wajahnya menoleh.

“Tamparan yang bagus.” Dia berbalik menatapnya, bahkan masih tersenyum.

Pipinya yang ditampar memerah. “Aku pantas menerimanya. Kalau perlu tampar aku beberapa kali lagi, asal kau bisa lega.”

Dengan suara serak, Cindi berkata, “Aku nggak mau melihatmu lagi.”

Senyuman di wajah Zaki menghilang. Dia segera menggenggam tangan Cindi, lalu berkata lembut, “Sayang, jangan berkata seperti itu. Semua ini salahku. Aku tiba-tiba dapat tugas darurat, negosiasi seharian semalam, tolong maafkan aku.”

Cindi menutup mata.

Sebenarnya dia ingin berkata. dia tahu siapa yang menelpon malam itu. Itu adalah Sukma.

Hanya karena satu panggilan dari wanita itu, Zaki langsung pergi, meninggalkannya terborgol di tempat tidur selama satu hari satu malam.

Bagaimana mungkin Cindi bisa memaafkannya?

Cindi mengangkat pergelangan tangannya. Luka dari borgol sudah berubah menjadi memar ungu kebiruan, sangat menakutkan.

Matanya memerah. “Zaki, dulu kamu nggak pernah memperlakukanku seperti ini.”

Wajah Zaki berubah.

“Karena kamu terus marah soal Sukma akhir-akhir ini. Aku waktu itu takut, dan juga marah.”

Cindi berkata pelan, “Lalu kenapa kamu terus melakukan hal-hal yang membuatku marah?”

Kali ini Zaki terdiam lama. Akhirnya dia bicara lagi, suaranya penuh penderitaan, “Cindi, jangan bersikap emosional, kumohon. Kami hanya rekan kerja, sedang menjalankan misi penting bersama.”

“Kamu pergi saja. Aku mau istirahat.”

“Baiklah, aku akan menjagamu di sini.”

Keesokan harinya, Cindi keluar dari rumah sakit. Zaki tetap menemaninya siang dan malam selama seminggu. Mengganti perban, menyuapi makanan, bahkan saat diperlakukan dingin, Zaki tetap tidak marah.

Namun, Cindi menyadari, Zaki sering diam-diam menelepon dari balkon. Setiap kali selesai menelepon, Zaki tersenyum lembut.

Dia tahu, siapa yang di seberang telepon dan itu membuat hatinya makin sakit.

Tiga hari setelah pulang dari rumah sakit, Sukma pindah ke unit sebelah, menjadi tetangga mereka. Sejak itu, makanan yang dimasak Zaki selalu dibagi dua, satu untuk Sukma. Setiap kali mengantar makanan ke sana, Zaki akan menemani Sukma makan dulu, baru kembali.

Saat kembali dan bertemu Cindi, dia hanya berkata, “Ini semua markas, kami tadi mendiskusikan detail misi.”

Cindi melihat senyum yang belum sepenuhnya menghilang di wajahnya dan rasanya seperti pisau menancap di jantungnya.

Zaki selalu sengaja atau tak sengaja menghindari agar Cindi tidak bertemu dengan Sukma.

Namun hari itu, Zaki berpakaian rapi, tiba-tiba berkata, “Hari ini hari jadi pernikahan kita. Aku sudah dapat tiket kapal pesiar, malam ini ada makan malam romantis.”

Cindi ingin menolak, tapi Zaki sudah menariknya keluar. Di depan pintu, dia melihat Sukma sudah berdiri menunggu.

“Halo, Kak Cindi. Nggak apa-apa ‘kan kalau aku ikut? Aku nggak akan mengganggu kalian kok.”

Sukma menjulurkan lidah dengan gaya manja dan ceria.

Zaki tersenyum, berbalik berkata, “Sukma juga ingin coba naik kapal pesiar. Kebetulan tiketnya ada tiga. Kita pergi bersama ya. Cindi, kamu nggak keberatan, ‘kan?”

Cindi tersenyum sinis. Dia menunduk, berkata pelan, “Tentu saja tidak keberatan.”

Apa haknya untuk keberatan? Pernikahan mereka hanyalah kebohongan dan sandiwara belaka.

Satu Kalimat Abadi yang Tak Berubah

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya