Logo
Sang Abdi
Sang Abdi

Sang Abdi

56 Bab
Tamat
Dalam romance novel Sang Abdi, Kirana yang tunarungu harus menikah dengan Farhan demi balas budi. Sebagai modern novel, cerita ini mengikuti perjuangan Kirana menghadapi syarat berat suaminya yang melibatkan ibu kandungnya sendiri demi menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Bab 1 dari Sang Abdi

Farhan baru saja turun dari motor adventure-nya. Narto menghampirinya, lalu menganggukkan kepala sambil membungkukkan badannya sekilas.

"Baru pulang, Mas?" Narto tersenyum ramah dan gerak tubuhnya terlihat sangat sopan.

"Iya, Mas." Farhan membalas basa-basi Narto.

"Kalau Mas tak keberatan, kita ngopi dulu, Mas. Ada hal penting yang mau saya sampaikan." Sikapnya masih sangat sopan, tetapi ada mimik serius di wajahnya.

"Ada apa, Mas?" Farhan belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia berusaha menerka apa yang akan disampaikan Narto.

Lelaki sopan di hadapannya itu hanya terpaut satu tahun lebih muda darinya yang sudah berumur 40 tahun. Saat itu, dia hanya menumpang tinggal di paviliun rumah Narto dan membantunya mengelola seluruh pekerjaan sawah dan kebun milik Narto.

"Saya mohon, Mas Farhan tak keberatan," mohon lelaki itu sambil membungkukkan badannya lagi.

Sebagai orang Sumatera, Farhan tidak terbiasa dengan laku sopan seperti itu. Dia sadar sikapnya kalah sopan jika berhadapan dengan kesopanan keluarga Narto dan penduduk sekitar yang bersuku Jawa.

"Baik, Mas." Farhan menyetujui permintaan Narto lalu mengikutinya ke ruang tamu rumah utama.

Rumah itu terbilang besar untuk ukuran masyarakat desa di kaki bukit itu. Penduduk di situ banyak yang kehidupannya sangat sederhana dengan rumah-rumah kayu. Rumah Narto tampak berbeda dengan dinding dari batu dan ukuran yang lebih besar dari rumah-rumah lainnya. Kakek buyutnya adalah orang yang pertama tinggal di daerah itu dan mempunyai tanah yang luas di sana.

"Buuu ...." Narto memanggil Surti, istrinya.

Tak lama, keluar perempuan dengan kulit sawo matang dan bertubuh sintal. Tubuhnya padat dengan dibalut kain kebaya khas orang Jawa tradisional. Tingginya sedang dan badannya tampak terawat meskipun dia adalah perempuan kampung. Sikapnya tak kalah sopannya dengan suaminya.

Meski sebagian besar orang Jawa sudah berpakaian modern, tetapi di desa itu mereka masih berpakaian tradisional dan tampak agak kuno. Baik lelaki maupun perempuannya masih bertahan dengan segala tradisi Jawa termasuk cara mereka berpakaian.

"Tolong buatkan kopi, Bu!" perintah suaminya, lalu dengan cepat disambut dengan anggukan di kepalanya. Dengan tubuh agak membungkuk dan tangan kanan diturunkannya, dia berbalik ke dalam.

"Tampaknya ada hal serius yang Mas Narto ingin sampaikan." Farhan sudah tak sabar ingin menebus rasa penasarannya.

"Nggih, Mas," jawab Narto sambil menganggukkan kepalanya. Tampangnya menyiratkan bahwa dia sedang mencari kata yang tepat untuk menyampaikan keinginannya.

"Tentang sawah atau kebun?" tanya Farhan memancing karena melihat Narto tampak kesulitan untuk memulai.

"Bukan, Mas. Ada hal pribadi yang ingin saya sampaikan," jawab Narto.

"Silakan, Mas." 

Farhan semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan Narto. Dia berusaha menerka-nerka apa yang hendak dikatakan Narto, tetapi tak mendapatkan petunjuk dalam pikirannya.

"Begini, Mas. Sebelumnya, saya mohon maaf." Narto mulai mengawali omongannya.

"Saya ada permohonan pada Mas Farhan. Saya tahu permohonan ini terlalu berlebihan, tapi setelah saya pikir-pikir, tak ada salahnya saya mencoba mengutarakannya." Narto berusaha mulai menyampaikan maksudnya dengan hati-hati.

"Ya, gak apa-apa, Mas. Katakan saja. Siapa tahu saya bisa memenuhinya," jawab Farhan.

"Mas tahu bahwa Kirana, putri tunggal kami, sudah dewasa. Dia sudah berumur 21 tahun. Para perempuan di desa ini, biasa menikah sejak remaja. Kirana tergolong perawan tua di desa ini. Dengan kekurangannya, tak ada lelaki yang mau menikahinya." Narto tertunduk dan berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.

Farhan mulai menerka lagi apa yang diinginkan Narto untuk putrinya. Gadis itu cantik meskipun dia tuna rungu. Di mata Farhan, Kirana gadis yang sopan dan rajin membantu orang tuanya. Tatapan mata gadis itu menunjukkan kecerdasan meski dia hanya mengenyam pendidikan sampai lulus SMA. Gadis itu terpaksa bersekolah di sekolah biasa karena sekolah luar biasa hanya ada di kota.

"Lalu, apa rencana Mas?" tanya Farhan.

"Saya mohon agar Mas Farhan mau mempersunting anak kami," tukas Narto sambil membungkukkan badannya lagi pertanda memohon dengan hormat.

Meski sudah bisa menduga arah omongan Narto, Farhan cukup kaget dengan permintaan itu. Tak pernah dia menyangka sebelumnya bahwa seorang duda sepertinya dimohon untuk menikahi seorang gadis muda yang cantik seperti Kirana.

Melihat sikap Farhan yang terdiam tanpa langsung menjawab, Narto merasa tak enak. Dia menduga bahwa permohonannya telah menyinggung perasaan Farhan.

"Maaf, Mas, kalau perkataan saya menyinggung perasaan Mas Farhan. Saya sadar kalau permohonan saya kelewatan." Narto bangkit dari tempat duduknya lalu duduk bersimpuh di hadapan Farhan. Dia telah merendahkan dirinya.

Farhan masih terdiam ketika Surti datang membawakan dua cangkir kopi dengan pisang goreng. Melihat suaminya bersimpuh di hadapan Farhan, diletakkannya suguhannya di meja, lalu dia ikut bersimpuh di samping suaminya. Dia sudah mendengar dari dalam apa yang dimohonkan suaminya pada Farhan.

"Mas, saya jadi tak enak melihat Mas dan Mbak bersikap begini." Farhan menjadi canggung diperlakukan dengan penuh hormat oleh sepasang suami-istri itu di rumah mereka sendiri.

"Mas, Mbak, saya ini belum lama bercerai dengan istri saya. Tentu Mas dan Mbak masih ingat dengan cerita saya ketika setahun lalu saya datang ke sini untuk tinggal di sini. Saya sangat terluka dengan perkawinan saya sebelumnya makanya saya rela membuang diri ke desa ini. Maaf, saya belum mau menikah lagi." Farhan berusaha menjelaskan jawabannya.

"Apakah karena putri kami tuna rungu hingga Mas Farhan tak sudi menikahinya?" tanya Narto.

Farhan merasa tak enak dengan pertanyaan itu. Dia sungguh tak bermaksud demikian. Rasa sakit karena perceraiannyalah yang menjadi alasannya belum mau menikah lagi.

"Bukan begitu, Mas. Saya belum siap," jawab Farhan hati-hati.

"Mas, saya mohon jangan tolak permohonan saya. Tolong saya, Mas. Saya tahu, Mas Farhan orang yang baik." Narto pantang menyerah menghadapi penolakan Farhan.

"Saya takut kecewa kalau saya menikah lagi, Mas." Farhan berusaha berterus terang.

"Saya jamin, putri kami tidak akan mengecewakan Mas Farhan. Nanti, ibunya akan mengajari Kirana bagaimana mengurus suami dengan baik."

"Mas, Mas pasti tahu perkawinan itu tak sesederhana itu. Saya sudah menjalani 15 tahun perkawinan waktu saya bercerai."

"Tapi Mas, kami mohon. Kirana adalah satu-satunya harapan kami. Kami rela melakukan apa saja asal dia bahagia. Kalau Mas mau menikahi putri kami, semua yang saya miliki akan saya serahkan pada Mas Farhan asal bisa membahagiakan putri kami. Bahkan, kalau perlu, saya akan mengabdikan hidup saya pada Mas Farhan." Narto semakin merendahkan dirinya demi kebahagiaan putri semata wayangnya. Kedua pasangan suami-istri itu menundukkan kepalanya di hadapan Farhan.

Farhan menghela napas panjang. Dia sudah berusaha untuk menolak dengan cara sesopan mungkin. Dia merasa sungkan dengan perlakuan suami-istri yang masih bersimpuh di hadapannya. Farhan semakin sulit menolak. Terpikir olehnya untuk memberikan syarat yang berat untuk dipenuhi. Mungkin, dengan begitu, mereka akan mengurungkan niatnya, pikir Farhan.

"Tolong panggil putrimu, Mbak!" pinta Farhan sopan. Surti mengangguk, lalu masuk ke ruang dalam.

Farhan berpikir keras tentang syarat apa yang akan dia berikan. Narto tetap menunduk sambil menunggu istri dan putrinya datang tanpa berbicara sepatah kata pun. Keduanya membisu dengan pikiran masing-masing.

Tak lama, Kirana masuk ke ruang tamu mengiringi ibunya dan ikut duduk bersimpuh di hadapan Farhan. Mereka bertiga seolah para pembantu yang sedang menghadap majikan mereka. Setelah keduanya duduk, Farhan mulai bicara.

"Aku cuma mau menikah dengan beberapa syarat," ujar Farhan pelan, tetapi tegas. Dia mulai kehilangan gaya basa-basinya dan mulai ber-aku menyebut dirinya. Suami-istri itu menunggu lawan bicaranya menyampaikan syaratnya.

Surti menepuk tangan Kirana. Dia memberi tanda agar putrinya memperhatikan orang yang sedang berbicara di depan mereka. Kirana mengangkat wajahnya memperhatikan Farhan agar dia mengerti kata-kata Farhan karena telinganya tak bisa mendengar secara normal. Untuk mengerti apa yang lawan bicaranya katakan, dia harus memperhatikan gerak bibir lawan bicaranya.

"Pertama, aku hanya mau menikah dengan perawan. Kedua, dia harus mengabdi kepadaku sebagai suaminya seumur hidupnya. Ketiga, dia harus melayaniku dengan baik sebagai istri. Keempat, dia harus mau ikut ke mana aku pergi." Farhan merasa syarat-syarat yang diberikannya sudah cukup berat. Dia berharap mereka bertiga akan mengurungkan niat mereka.

"Baik, Mas. Syarat pertama pasti terpenuhi. Putri kami tidak pernah didekati lelaki apalagi dijamah lelaki. Syarat kedua, sudah sewajarnya dia mengabdi pada suaminya. Syarat ketiga, tentu saja sebagai istri harus melayani suaminya dengan baik. Saya cuma menawar syarat keempat. Saya mohon agar Kirana jangan dipisahkan dari kami."

Meski Narto hampir memenuhi semua syarat yang diajukannya, Farhan masih merasa bisa memenangkan tantangannya.

"Baiklah. Untuk syarat pertama sampai ketiga, bagaimana kalau putri kalian tak memenuhinya?" tanya Farhan.

"Saya yakin putri kami masih perawan. Untuk syarat kedua dan ketiga, istriku sendiri yang akan mengajari putri kami caranya agar menjadi istri yang baik," jawab Narto.

"Aku minta, istrimu jadi saksi di malam pertama kami," tegas Farhan. Dia yakin Narto takkan mengizinkan istrinya ada di kamar pengantin saat dirinya meniduri anaknya.

Narto berpikir beberapa saat, "Baiklah, saya setuju," jawab Narto mantap.

Farhan kaget mendengar jawaban Narto. Dia tak menyangka Narto akan memenuhi syarat yang diajukannya. Tinggal satu senjata yang dimilikinya untuk menghindar.

"Tapi, bagaimana dengan syarat keempat? Aku berhak membawa istriku ke mana aku mau." Farhan merasa belum kalah. Kali ini dia yakin Narto takkan mengizinkan putri semata wayang mereka dibawa pergi.

"Untuk syarat keempat itu berat kami penuhi. Kami tak mau terpisah dari putri kami."

Farhan merasa menang mendengar apa yang dikatakan Narto. Dia mulai yakin bisa menghindari permintaan Narto.

"Begini, Mas. Seperti yang Mas tahu, saya punya enam petak sawah dan kebun yang luas. Kalau Mas mau, Mas boleh mengambil semuanya asal putri kami jangan dibawa jauh dari kami dan tetap tinggal di sini bersama kami."

Narto telah menawarkan segalanya demi putrinya dinikahi Farhan. Surti tak membantah keinginan suaminya karena dia juga ingin putrinya menikah dan hidup bahagia. Kirana juga pasrah dengan keinginan bapaknya.

Mendengar itu, Farhan merasa kalah. Dia harus memenuhi permintaan Narto. Bagaimanapun, Narto telah menolongnya dengan memberikan tempat tinggal dan pekerjaan. Di samping itu, keluarga ini telah bersikap sangat baik terhadapnya. Terlintas rasa tak enak hati mengingat keempat syarat yang diajukannya barusan, tetapi dia memang terpaksa mencari jalan agar tak sekedar menolak permintaan Narto.

"Baiklah, aku setuju asal kalian pegang janji kalian," ujar Farhan. Bagaimanapun, dia tetap menang dalam negosiasi ini. Dirinya di atas angin.

"Kalau begitu, saya akan mulai persiapan acara pernikahan Mas Farhan dengan putri kami, Kirana." kata Narto senang.

Narto merasa lega karena akhirnya putrinya akan menikah. Surti juga merasa gembira. Kirana sendiri juga sama dan siap mematuhi kehendak orang tuanya.

"Bu, Bapak akan bikin pesta tujuh hari tujuh malam," ujar Narto pada istrinya. Ucapannya tak berlebihan, dia adalah orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik di desa itu. Meski keseharian mereka hidup sederhana, Narto memiliki tabungan yang banyak untuk persiapan pernikahan putrinya yang tak kunjung tiba.

"Menurutku tak perlu begitu, Mas. Kalau boleh usul, cukup acara satu hari saja yang meriah," pinta Farhan.

"Baiklah kalau begitu." Narto mengalah meski dirinya tak benar-benar puas dengan permintaan Farhan. Kirana adalah putrinya satu-satunya. Sudah sewajarnya dia membuat pesta semeriah mungkin untuk acara yang cuma sekali seumur hidup bagi putrinya.

"Mas, Mbak, aku gak enak lihat Mas dan Mbak duduk bersimpuh begitu. Kalian sebentar lagi jadi mertuaku," ujar Farhan berusaha bersikap tahu diri.

Mendengar itu, Narto tertawa. Surti dan Kirana tersenyum malu-malu. Mereka bertiga lalu bangkit dari duduknya. Narto dan Surti duduk di kursi, sementara Kirana meletakkan kopi yang masih tergeletak di nampannya ke hadapan Farhan dan bapaknya.

"Silaa ... kaan ... Mas ...," ujar Kirana terbata dengan suara yang tak pas, tetapi bisa dimengerti. Kirana hanya bisa berbicara dengan terbata-bata mengucapkan kata-kata dan terkadang menggunakan isyarat dengan tangannya.

Farhan memandangi Kirana yang sebentar lagi jadi istrinya. Sejak awal, Farhan suka dengan gadis itu meski tak pernah berpikir mempersuntingnya. Kirana gadis yang cantik. Kulitnya lebih putih dibandingkan kebanyakan perempuan desa itu. Tubuhnya cukup tinggi dengan berat yang ideal. Yang kurang darinya hanyalah kemampuan bicara dan mendengarnya. Selebihnya, dia gadis yang sempurna.

*** Bersambung ***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Aku open BO mas...!
Aku open BO mas...!
Dalam modern novel Aku open BO mas...!, Shahsya terjerumus ke dunia gelap demi kekayaan setelah kehilangan ibunya. Namun, hidupnya berubah saat seorang pria buta melamarnya. Temukan kisah lengkapnya di romance novel ini, salah satu fiction books yang menggali pilihan hidup dan konsekuensinya.
Balas Dendam Seorang Janda
Balas Dendam Seorang Janda
Dalam Balas Dendam Seorang Janda, agen khusus Ardena bereinkarnasi menjadi Lyra, janda bisu yang diremehkan. Dengan keahlian tempur, ia membangun kekuatan baru dalam modern novel penuh aksi ini. Simak petualangan misteri dan strategi di web novel ini saat ia melindungi tiga anak kembarnya.
Cinta di Tengah Bahaya
Cinta di Tengah Bahaya
Membaca novel romantis miliarder Cinta di Tengah Bahaya di webnovel. Saat hamil, seorang istri mendapati kemiskinan suaminya, Arif, hanyalah sandiwara usai melihatnya dihormati mafia. Menghadapi pengujian cinta yang manipulatif, ia harus memilih antara bertahan atau pergi demi harga dirinya.
Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
Dalam Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia, Elyse terjebak perjanjian cerai dengan Adrian. Namun, rahasia besar terbongkar saat identitas asli sang suami terungkap. Temukan kisah billionaire romance novels ini di web novel yang penuh kejutan dan pilihan sulit.
Gara-Gara Taruhan
Gara-Gara Taruhan
Dalam novel Gara-Gara Taruhan, delapan pria tampan harus mengakhiri masa lajang demi memenuhi tuntutan orang tua. Mereka terjebak dalam misi mencari pasangan atau menggagalkan perjodohan. Simak kisah romance modern ini di platform web novel yang menyajikan fiction books terbaik.
Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat
Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat
Dalam novel modern Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat, Elara dicampakkan Deon saat hamil. Baca novel online gratis ini yang mengisahkan perjuangan Elara bangkit menjadi wanita karier kaya sebelum menuntut cerai mantan suaminya yang kini terobsesi mengejarnya kembali.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Cinta Sang Mafia
Cinta Sang Mafia
Dikhianati tunangan, Laras malah menyelamatkan dan dinikahi Marson, bos mafia paling berbahaya. Ironisnya, sang penakluk dunia hitam ini justru takluk total kepada Laras! Di rumah, dia “anjing kecil” yang penurut dan manja. Namun di luar, dia pembantai kejam yang melindungin istrinya. Saat mantan Laras dan istri liciknya berulah, mereka lupa satu hal. Mereka sedang main dengan api, dan suami Laras adalah sang raja neraka.
Tak Ingin Kau Hidup Sendirian
Tak Ingin Kau Hidup Sendirian
Yuni Genta adalah anak dari Elisa yang berasal dari keluarga konglomerat. Di saat kecil, Yuni diculik oleh penjahat. Untungnya, Kakek Manto berbaik hati mengadopsinya. Namun telinga Yuni terluka dan ia menjadi tuli. Setelah diadopsi, nama Yuni berubah menjadi Erika Chairul. Di sekolah Erika berteman dengan anak angkat dari Elisa yang bernama Fandy Genta. Bagaimana kisah Erika dengan keluarga Genta? Akankah kehidupan Erika berubah? Akankah Erika bertemu dengan ibu kandungnya, Elisa?
Kapsul Waktu Penyesalan
Kapsul Waktu Penyesalan
Arka, yang dulu dianggap anak angkat Keluarga Surya, pernah merasakan kasih sayang penuh hingga kedatangan Rivan, putra kandung mereka, yang mengubah segalanya. Bertahun-tahun kemudian, kebenaran terungkap bahwa Arka sebenarnya darah daging mereka. Penyesalan pun datang terlambat, 30 tahun penantian di depan pintu laboratorium berujung pada penolakan Arka untuk pulang …
Kau Bukan Siapa-siapa Bagiku (Sulih Suara)
Kau Bukan Siapa-siapa Bagiku (Sulih Suara)
Sebastian, seorang CEO miliarder, mengajak Eleanor untuk menikah demi menghindari pernikahan paksa keluarganya. Walau awalnya menolak, Eleanor akhirnya setuju menikah dengan Sebastian setelah menolongnya saat Eleanor dicampakkan dan dihina tunangan yang sudah dibiayainya. Yang tidak diketahui Sebastian, Eleanor adalah seorang CEO miliarder rahasia yang lebih berpengaruh. Setelah rahasia terungkap, akankah cinta mereka bertahan?
Menikah lagi di Era 90-an
Menikah lagi di Era 90-an
Di kehidupan lalu, Maya Lestari dibohongi suaminya, Wira. Wira pura-pura mati dan ambil identitas adik kandungnya, demi Lidya, adik iparnya. Ia habiskan hidupnya mengurus mereka dan ibu mertuanya. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Di kehidupan ini, Maya memilih jalan berbeda, menerima cinta sejati, dan memulai kariernya. Dan mantan suaminya sekeluarga hidup dalam kekacauan.
Hanya Ingin Jadi Sekretaris, Malah Jadi Istri Bos
Hanya Ingin Jadi Sekretaris, Malah Jadi Istri Bos
Asila yang sudah berumur 25 tahun sangat hebat dalam kariernya, juga sekretaris andalan Jefri. Tapi mereka sama-sama menghadapi satu masalah, yaitu cinta. Jefri dipaksa menikah oleh keluarga, sedangkan Asila bingung dalam mencari pasangan. Akhirnya mereka memutuskan untuk bersama, tapi berawal dari kontrak nikah.