Bab 1
Kakakku adalah kesayangan keluarga.
Novelku meledak dan viral, sementara kakak perempuanku dengan mata berkaca-kaca berkata bahwa dia juga ingin menjadi penulis terkenal.
Kakak laki-lakiku yang merupakan editorku langsung mengatakan bahwa aku mencuri karya kakakku di acara tanda tangan buku. Akhirnya, kakak perempuanku menjadi penulis jenius, sementara aku menjadi korban perundungan di media sosial sampai tidak berani keluar rumah.
Setelah menikah dengan pewaris terkenal di Kota Bet, kami sangat bahagia, tetapi kakakku mengatakan bahwa dia sudah menyukai suamiku bertahun-tahun dan hanya ingin menjadi pengantinnya seumur hidup ini.
Pria itu tanpa ragu bercerai denganku dan mengadakan pernikahan megah dengan kakakku.
Keluargaku takut akan merusak hubungan mereka, jadi mereka mereka mengusirku ke luar negeri.
Kakakku bahkan merasa aku belum cukup menderita, lalu mengejarku dan mendorongku dari tangga.
Aku terjatuh di genangan darah, sementara ibuku masih menyalahkanku, “Apa lagi yang kamu katakan sampai membuat kakakmu tersinggung?”
Aku mati dalam keputusasaan.
Ketika aku membuka mata lagi, aku sudah kembali ke hari di mana kakakku menuduhku mencuri.
“Hanya mengambil 400 ml darahmu saja, kenapa nggak mau? Jeni, kamu psikopat? Kamu puas melihatku menderita?”
Begitu membuka mata, aku melihat kakak perempuanku, Lina sedang menangis dan menuduhku.
Alfred, kakak laki-lakiku datang dan langsung menendangku, dia memarahiku, “Jeni, dia itu kakakmu! Dia hanya butuh sedikit darahmu saja untuk bertahan hidup. Kenapa kamu bahkan nggak mau memenuhi permintaan kecilnya?”
Setiap beberapa hari sekali, aku harus mendonorkan darah untuk Lina dan tubuhnya selalu dalam keadaan tidak sehat.
Tendangan itu langsung membuatku terjatuh, tubuhku bergetar kesakitan dan berusaha bangkit beberapa kali, tetapi tidak bisa.
Alfred menjambak rambutku dan mengangkatku, lalu melanjutkan, “Jangan berpura-pura! Aku tahu kamu baik-baik saja! Cepat berdiri dan pergi ke rumah sakit untuk transfusi darah untuk Lina!”
Rambutku dijambak, rasa sakitnya membuat air mata mengalir.
Aku mendorongnya dan melawan, “Kamu pergi saja sendiri kalau begitu murah hati! Aku nggak mau!”
Lina langsung menangis lebih keras. “Aku tahu Jeni pasti nggak mau menyelamatkanku, dia hanya mau aku mati. Baiklah, aku akan melakukan sesuai keinginannya!”
Dia menangis sambil mengambil sehelai kain, lalu mengikatkan di lehernya seolah ingin bunuh diri.
Alfred sangat ketakutan dan segera merebut kain itu, mencegahnya bunuh diri.
“Orang yang salah itu Jeni. Kalau harus mati, dia yang seharusnya mati, bukan kamu!”
Ibuku, Stefi langsung berlari menghampiriku dan menamparku. Lalu berkata dengan penuh kebencian, “Cepat minta maaf pada kakakmu, lalu pergi ke rumah sakit untuk memberinya tranfusi darah!”
Pipi kiriku bengkak, mulutku berlumuran darah, tetapi aku hanya bisa tersenyum sinis dan tetap melawan, “Kenapa? Dia nggak pantas!”
Kakakku mengidap anemia defisiensi.
Orang tuaku melahirkanku hanya untuk menggunakan darah tali pusar untuk menyelamatkan kakakku.
Sayangnya, darah tali pusarku tidak cocok dengannya dan ibuku juga terluka saat melahirkanku, sehingga tidak bisa melahirkan lagi.
Jadi, semua orang menganggap aku berhutang pada kakakku, termasuk kakakku juga merasa begitu.
Sejak kecil, aku harus mendonorkan darah untuknya dan lengan kiriku dipenuhi bekas jarum suntik.
Karena terlalu banyak mendonorkan darah, kesehatanku juga terpengaruh. Sistem kekebalan tubuhku menjadi lemah dan aku sering sakit. Keluargaku mengeluh karena aku merepotkan, tetapi mereka menganggungkan kakakku yang lemah.
Kakakku merasa cemburu saat aku meraih prestasi. Dia merusak piala dan merobek sertifikatku. Sementara keluarga menyuruhku tidak perlu memedulikan reputasi.
Ketika pria yang dia suka memberikan surat cinta padaku, dia menghasut sekelompok orang untuk melakukan perundungan di sekolah. Keluargaku juga menyalahkanku karena berperilaku tidak pantas, lalu mengunciku di ruang bawah tanah.
Ada terlalu banyak hal di mana keluargaku selalu berpihak pada kakakku.
Aku memendam semua ketidakadilan ini, berpikir bahwa semuanya akan membaik.
Namun, keluargaku membantu kakakku merebut novelku dan merebut suamiku.
Suamiku bahkan menceraikanku demi dia.
Bakhkan saat kakakku mengejarku ke luar negeri dan membunuhku, ibuku masih saja menyalahkanku.
Hidupku begitu malang dan konyol. Namun syukurlah, takdir memberiku kesempatan untuk hidup kembali!
Bab 2
Aku tak ingin tinggal di rumah dan terus disiksa, jadi aku berusaha bangkit dan pergi.
Lina hampir putus asa dan berkata, “Jeni nggak mau mendonorkan darah kali ini? Dia nggak akan mau memberiku tranfusi darah lagi? Dia mencuri kesehatanku, mencuri orang yang kusuka, apakah dia juga mau mencuri nyawaku?”
Stefi marah dan mengejarku, lalu menarikku dengan paksa.
“Jeni, kamu dilahirkan untuk menyelamatkan kakakmu! Nggak peduli kamu mau atau nggak, kamu harus mendonorkan darah untuk kakakmu hari ini!”
Aku menolak, kemudian Stefi mengambil obat penenang dan ingin menyuntikku.
Kapan pun dan di mana pun, dia akan selalu membela Lina.
Alfred mengenyit melihatnya, ada rasa kasihan dan ketidaksetujuan di wajahnya, tetapi dia tetap membantu menahanku.
“Lepaskan! Kalau kalian berani menyentuhku hari ini, aku akan memasukkan kalian ke penjara!”
Aku berjuang sekuat tenaga, tetapi tidak bisa melepaskan diri. Keputusasaan dan kemarahan memenuhi dadaku, hampir membuatku hancur.
Saat jarum suntuk hampir menusuk tubuhku, pembantu berlari menghampiri.
“Nyonya, tuan, orang yang bertanggung jawab di acara tanda tangan buku datang mencari Nona Jeni. Mereka ada di depan pintu sekarang.”
Keluargaku sangat memperhatikan reputasi.
Meskipun enggan, mereka tetap melepaskanku.
Tanpa menunda, aku segera berbalik dan berjalan keluar.
Alfred mengejarku dan memberikan obat salep padaku.
“Wajahmu bengkak, oleskan salep ini.”
Dia selalu seperti itu, memberikan kebaikan padaku setelah menyakitiku.
Ketika Lina tidak ada, dia juga cukup baik padaku.
Namun, setiap kali Lina terlibat konflik denganku, Alfred selalu mendukungnya.
Namun, ibuku adalah seorang janda dan Lina adalah anak dari pernikahannya sebelumnya. Alfred tidak punya hubungan darah dengan Lina, akulah saudara kandungnya yang sebenarnya!
Aku tidak mengambil obat salep itu dan hanya menatapnya dengan dingin.
Alfred mengernyit dan melanjutkan, “Jeni, Lina itu kakakmu, kalian berdua punya golongan darah yang langka. Kalau kamu nggak menyelamatkannya, dia akan mati!”
Dengan tenang, aku menjawab, “Kalau aku nggak mendonorkan darahku, kakak nggak pasti akan mati. Tapi kalau aku terus-menerus mendonorkan darahku, aku bisa memastikan bahwa aku akan mati!”
“Darah 400 ml itu masih dalam batas normal. Kami bahkan nggak pernah meminta dokter mengambil 1 ml lebih darimu. Bagaimana mungkin itu mempengaruhi tubuhmu? Jeni, aku benar-benar nggak mengerti, kenapa kamu selalu menentang Lina?”
Alfred mengucapkan kalimat terakhir itu dengan suara teriakan yang geram.
Namun, wanita dengan berat 45 kg tidak disarankan untuk mendonorkan darah.
Tubuhku lemah, tinggiku 170cm dan berat badanku hanya sekitar 42.5 kg saja.
Wanita sehat sekalipun, seharusnya jeda antara setiap donor darah lebih dari 6 bulan.
Namun, aku harus mendonorkan darah minimal dua kali sebulan.
Pernahkah mereka menganggapku manusia?
Di kehidupan sebelumnya, aku sudah menjelaskan ini banyak kali, tetapi tidak ada yang percaya.
Atau lebih tepatnya, tidak ada yang peduli padaku.
Di kehidupan ini, aku tidak ingin menjelaskan lagi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku naik ke mobil dan menyuruh petugas untuk segera mengemudikan mobil.
Petugas itu merasa bekas tamparan di wajahku tidak enak dilihat, jadi dia menyiapkan masker dan memintaku untuk menutupi sebagian wajahku.
Acara tanda tangan buku dipenuhi oleh para penggemar bukuku.
Awalnya, suasana di lokasi sangat baik.
Namun tidak lama setelah acara dimulai, Lina dan yang lainnya datang menyerbu seperti di kehidupan sebelumnya.
“Kamu yang membuatku menjadi orang sakit dan bahkan nggak bisa lulus ujian universitas. Kamu juga selalu menarik pergi orang yang aku sukai … Aku sudah cukup sabar, apa itu masih belum cukup? Bahkan novel yang kutulis dengan susah payah, kamu masih mau mencurinya?”
Bab 3
Dengan mata berkaca-kaca, Lina berlari ke arahku dan berusaha memukulku.
Aku menghindar dan seketika kemarahan yang terkumpul selama dua kehidupan ini meledak, “Kamu bilang kamu yang menulis novel ini, mana buktinya?”
Aku membuka laptopku dan melanjutkan, “Ini adalah gagasan yang aku buat dua tahun lalu saat mulai menulis novel. Ada karakter dan alur ceritanya, waktu pembuatan file juga jelas. Ini … “
Plak!
Stefi mendekat dan langsung menamparku dengan keras.
“Laptop ini milik kakakmu, jadi semua tulisan itu tentu saja hasil kerja kerasnya, apa hubungannya denganmu?”
Aku terbengong akibat tamparan itu dan menahan amarah, menjawab, “Aku punya bukti di ponselku tentang pembelian laptop ini, bisa membuktikan bahwa laptop ini milikku!”
Lina membelalakkan matanya seolah tidak percaya dan berkata, “Ternyata kamu sudah merencanakan untuk mencuri ide-ide cemerlangku saat memberikan laptop ini padaku sebagai hadiah ulang tahun?”
“Dia itu kakak kandungmu! Bisa-bisanya kamu merencanakan untuk menjatuhkannya! Aku akan menghajarmu, dasar anak durhaka!”
Stefi dengan marah menyerangku, seolah-olah aku benar-benar melakukan hal itu.
Bahkan Chris, tunanganku datang dan dengan kesal menasihatiku,
“Jeni, kamu yang mencuri karya Lina, bisa-bisanya masih mengelak? Akui saja, aku tetap akan menikahimu sesuai janji!”
Seisi ruangan mengarahkan ponsel mereka ke arahku.
Tidak ada yang percaya bahwa keluarga dan tunanganku sedang menuduhku.
“Cepat minta maaf!”
“Dasar pencuri, cepat minta maaf!”
Sorakan itu mengalir deras dan semua ditujukan untukku.
Alfred melihatku dengan penuh simpati dan berteriak, “Semua orang diam! Sebagai editor, aku akan memberikan keadilan hari ini!”
Dia menatapku dan memperingatkan,
“Jeni, kita ini keluarga, Lina juga nggak akan melapor polisi. Cepat minta maaf di depan para penggemar dan akui pada mereka bahwa Lina adalah penulisnya! Jangan keterlaluan!”
Aku sangat muak dengan kepalsuannya. Saat aku ingin melawan, ada orang yang lebih dulu berbicara,
“Aku melihat Jeni yang menulis karya luar biasa ini sendiri. Kenapa tiba-tiba menuduhnya mencuri karya kakaknya?”
Seorang kakek berpakaian kuno dengan berwibawa muncul di sampingku, membuat suasana menjadi ramai.
Dia adalah Kakek Sugi, pemenang penghargaan Nobel Sastra, sekaligus sahabatku yang jauh lebih tua. Beliau memiliki reputasi di dunia sastra internasional.
Melihatnya, mataku langsung berkaca-kaca dan berkata, “Terima kasih Kakek Sugi mau datang membantuku.”
“Aku bukan membantumu, aku mendukung kebenaran! Tenang saja, dengan aku di sini, nggak ada yang bisa mencemari namamu!”
Kakek Sugi menepuk bahuku dengan penuh kasih.
Orang-orang di sekitar langsung percaya pada kata-katanya dan mulai mengecam keluarga dan tunaganku.
“Bisa-bisanya mereka menuduh adiknya sendiri?”
“Nggak tahu malu!”
“Memalukan!”
Wajah Alfred langsung memucat dan berkata, “Kakek Sugi … “
Baru saja dia ingin berbicara, langsung dipotong oleh Kakek Sugi dengan jijik, “Kamu membalikkan fakta dan menuduh penulis baru yang berbakat, masih berani kamu menjadi editor? Orang sepertimu nggak perlu lagi terjun di dunia sastra!”
Alfred sangat marah, menangis dan berkata, “Kakek Sugi, meskipun kamu adalah tokoh terkenal dalam dunia sastra, kamu juga nggak seharusnya mencampuri urusan keluarga orang lain!”
Kakek Sugi tidak terpengaruh sama sekali dan membalas, “Berani-beraninya rakyat jelata sepertimu mengancamku? Dengan kepalsuan dan sikap licikmu ini, kamu bahkan nggak sanggup menulis karya sebesar ini!”
Chris dan keluargaku ingin membela Alfred yang sedang dimarahi.
Kakek Sugi hanya melirik mereka dan melanjutkan, “Siapa kalian? Apa kalian pantas membuang-buang waktuku? Aku sudah melaporkan kasus ini ke polisi, kalau ada yang ingin kalian katakan, sampaikan saja kepada polisi!”
Polisi datang dan langsung membawa mereka semua ke kantor polisi.
Karena mencemarkan nama baik dan telah memukulku, Stefi dan Lina, serta Alfred akan ditahan selama dua puluh hari dan dikenakan denda dua juta per orang.
Setelah keluar dari kantor polisi, Chris langsung mengomel kepadaku dengan suara keras.
“Kesehatan kakakmu memang lemah, kalau terjadi sesuatu padanya selama penahanan, siapa yang bertanggung jawab? Kamu … “
Slap!
Aku menyiram air mineral yang ada di tanganku ke wajahnya, bahkan botolnya juga kulemparkan ke kepalanya, tetap saja amarahku tidak mereda.
Di kehidupan sebelumnya, dia memaksaku untuk bercerai dengan menyuruh sekelompok preman untuk melecehkanku.
Aku bahkan belum sempat menuntutnya, dia malah datang menyerangku.
Dengan malang, Chris menyeka wajahnya yang basah. “Kamu sudah gila?”
Aku menggertaknya, “Hanya disiram air saja, kamu sudah nggak tahan? Bagaimana kalau kamu dipukul dan dimaki? Ohya dan disuruh mendonorkan darah setiap beberapa hari? Mungkin kamu akan langsung membunuh orangnya! Aku paling benci dengan orang sepertimu yang hanya bisa menyalahkan orang lain!”
“Jeni!”
“Nggak perlu teriak sekencang itu, aku nggak tuli!”
Chris menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan emosinya.
“Keluargamu hanya melakukan kesalahan kecil yang nggak begitu penting, kamu nggak perlu begitu mempermasalahkannya. Aku nggak mau punya istri yang selalu mempermasalahkan hal sepele. Sekarang, pergi juga ke kantor polisi dan katakan bahwa kamu bersedia berdamai. Dengan begitu, pernikahan kita masih bisa berlangsung sesuai rencana.”
“Nggak perlu, kita putus saja! Kamu nggak pantas untukku!”