Bab 1

Pada pernikahan tahun keenam, suamiku sudah tidak menyentuhku selama tiga bulan. Dia mengatakan bahwa dirinya sangat kelelahan karena sibuk bekerja. Aku yang merasa kami sudah saling mencintai selama bertahun-tahun pun memercayainya tanpa ragu.

Namun, pada hari ulang tahunku, aku malah mendengar teman suamiku bertanya padanya dalam bahasa asing, “Kamu sudah putus hubungan sama selingkuhanmu itu? Sebelumnya, kamu pergi cari dia setiap hari. Entah tubuhmu tahan atau nggak. Apa istrimu nggak keberatan kamu begini?”

Suamiku mengembuskan asap rokok, lalu menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku sudah nggak sentuh dia selama beberapa bulan. Sallie punya teknik yang bagus. Aku masih belum bosan. Sayangnya, dia hamil. Istriku nggak suka anak. Jadi, aku akan kasih Sallie sejumlah uang dan suruh dia pergi lahirkan anaknya di luar negeri beberapa saat lagi.”

Aku mengepalkan tanganku dan diam-diam meneteskan air mata. Suamiku pun bertanya aku kenapa dengan gugup. Namun, aku hanya menggeleng.

“Kue buatanmu enak banget. Aku sangat terharu.”

Kue itu sangat manis. Namun, aku yang mengerti bahasa asing yang mereka gunakan merasa sangat getir.

Pada pernikahan tahun keenam, suamiku sudah tidak menyentuhku selama tiga bulan. Dia mengatakan bahwa dirinya sangat kelelahan karena sibuk bekerja. Aku yang merasa kami sudah saling mencintai selama bertahun-tahun pun memercayainya tanpa ragu.

Namun, pada hari ulang tahunku, aku malah mendengar teman suamiku bertanya padanya dalam bahasa asing, “Kamu sudah putus hubungan sama selingkuhanmu itu? Sebelumnya, kamu pergi cari dia setiap hari. Entah tubuhmu tahan atau nggak. Apa istrimu nggak keberatan kamu begini?”

Suamiku mengembuskan asap rokok, lalu menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku sudah nggak sentuh dia selama beberapa bulan. Sallie punya teknik yang bagus. Aku masih belum bosan. Sayangnya, dia hamil. Istriku nggak suka anak. Jadi, aku akan kasih Sallie sejumlah uang dan suruh dia pergi lahirkan anaknya di luar negeri beberapa saat lagi.”

Aku mengepalkan tanganku dan diam-diam meneteskan air mata. Suamiku pun bertanya aku kenapa dengan gugup. Namun, aku hanya menggeleng.

“Kue buatanmu enak banget. Aku sangat terharu.”

Kue itu sangat manis. Namun, aku yang mengerti bahasa asing yang mereka gunakan merasa sangat getir.

...

Pada tahun keenam pernikahan, Felix Sendana berselingkuh. Dia sudah tidak menyentuhku selama tiga bulan. Ada yang berkata bahwa pria yang menolak untuk menyentuhmu berarti sudah berselingkuh. Awalnya, aku tidak percaya. Sampai suatu malam, aku menerima sebuah telepon.

Pada saat itu, Felix sedang mandi dan ponselnya berdering. Aku melihat itu adalah panggilan dari nomor lokal, tetapi tidak diberi keterangan. Intuisiku memberitahuku bahwa masalahnya tidak sesederhana itu. Oleh karena itu, aku pun menjawabnya.

“Halo? Cari siapa?”

Namun, orang di ujung telepon tidak berbicara. Setelah beberapa detik, sambungan telepon pun diputuskan. Sangat jelas bahwa orang itu mengenaliku. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, tetapi aku merasa seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga.

Demi mencegah diriku berpikir yang tidak-tidak, aku membuka ponsel Felix dan mulai menyelidiki segala sesuatu yang aneh. Latar belakang tampilan ponselnya adalah foto kami berdua. Foto profilnya adalah tampak belakang sosok kami yang berpegangan tangan. Semua isi akun media sosialnya juga adalah aku.

Namun, ketika aku hampir menyerah dan memberi tahu diriku sendiri bahwa itu hanyalah panggilan salah sambung, aku menemukan orang itu dari nomor ponselnya. Itu adalah Sallie Salim, asisten Felix.

Aku membuka riwayat obrolan mereka. Isi percakapan mereka sangat normal, semuanya berhubungan dengan pekerjaan. Namun, firasatku mengatakan bahwa semuanya tidak sesederhana itu.

Aku pun membuka riwayat transaksi Felix dan menemukan hal yang mencurigakan di sana. Bukan hanya sekali dia mentransferkan uang kepada Sallie. Jumlahnya juga beragam, ada yang 104 juta, ada yang 27 juta, dan sebagainya.

Saat ini, hatiku terasa sangat sakit. Aku tahu bahwa Felix sudah berselingkuh. Aku menggenggam ponselnya. Di latar belakang layar ponselnya, kami tertawa dengan begitu bahagia. Sekarang, semuanya terasa sangat ironis.

Felix yang pernah begitu mencintaiku ternyata juga bisa berselingkuh ....

Aku mengenal Felix pada usia 17 tahun. Pada saat itu, orang tuaku baru meninggal dan aku dibawa ke ibu kota oleh kerabatku. Di kota yang asing ini, aku sangat pendiam, berkepribadian introvert, dan menutup diri.

Mungkin karena sifatku ini, kehidupanku selama bersekolah tidaklah menggembirakan. Teman sekelasku selalu menindasku tanpa alasan dan bersikap buruk padaku.

Felix muncul pada masa tersulit hidupku. Dia mengusir orang-orang itu, membungkusku dengan jaketnya yang dipenuhi aroma matahari, dan memelukku dengan erat.

Felix berkata, “Memangnya kamu bodoh? Kenapa kamu biarkan orang lain menindasmu?”

Pada saat itu, aku langsung merasa agak linglung.

Setelahnya, ikatan antara diriku dengan Felix mulai terbentuk. Dia menjadi teman terbaikku di sekolah. Kami bisa membicarakan tentang apa saja. Kemudian, kami pun berpacaran.

Awalnya, orang tua Felix tidak menyukaiku. Mereka keberatan dengan latar belakang keluargaku yang sudah tidak lengkap. Namun, Felix sama sekali tidak peduli.

Felix membawaku ke rumahnya dan berkata di hadapan orang tuanya, “Ayah, Ibu, ini orang yang mau kunikahi. Aku cuma mau dia seorang.”

Pada akhirnya, orang tua Felix mengakui statusku karena sikap putra mereka yang tegas.

Berkat kemunculan Felix, hidupku yang kesepian akhirnya kembali dipenuhi dengan harapan dan arti. Meskipun dia melanjutkan studi di luar negeri untuk beberapa saat, hubungan kami sama sekali tidak terpengaruh.

Setiap hari, Felix akan melakukan panggilan video denganku dan menceritakan tentang kehidupannya. Dua tahun kemudian, studinya akhirnya berakhir dan dia langsung pulang ke sisiku. Kami pun hidup dan bekerja bersama.

Felix menjagaku dengan penuh perhatian. Sesibuk apa pun dia, dia juga akan tetap membersihkan rumah dengan sangat bersih. Dapat dikatakan bahwa sejak remaja, Felix mempersembahkan seluruh kejujuran dan ketulusan hatinya untukku.

Aku pun jatuh cinta padanya tanpa syarat dan tidak bisa meninggalkannya. Sekarang, dia malah berselingkuh.

Bab 2

Tidak lama kemudian, Felix keluar dari kamar mandi. Dia berjalan ke sisiku sambil menyeka rambutnya. “Kenapa kamu melamun?”

Setelah tersadar dari lamunan, aku menoleh dan menatap Felix. Wajahnya yang tampan terlihat makin menawan setelah menginjak usia 30 tahun.

Selama enam tahun pernikahan kami, semua orang sangat iri pada hubungan kami.

Ada yang berkata, “Rhea, kamu beruntung banget bisa ketemu sama pria seperti Felix.”

Aku juga selalu merasa diriku sangat beruntung karena bisa bertemu dengan pria yang begitu mencintaiku. Sekarang, aku baru menyadari bahwa meskipun Felix selalu menempatkanku di posisi pertama, meskipun dia rela memberikan saham perusahaannya padaku tanpa ragu, itu juga tidak menghentikannya untuk berselingkuh.

“Nggak apa-apa. Tadi, ada yang meneleponmu. Aku menjawabnya, tapi dia nggak bicara dan langsung tutup teleponnya. Nomornya nomor lokal. Mungkin temanmu. Coba lihat.”

Aku sengaja menyerahkan ponsel itu kepada Felix dan mengamati reaksinya dengan saksama.

“Mungkin cuma panggilan salah sambung, nggak usah dipedulikan.”

Felix menerima ponselnya dengan alami. Namun, aku dengan jeli menemukan bahwa setelah Felix melihat jelas nomor penelepon itu, dia secara refleks menggosok jarinya sejenak.

Setelah berpacaran bertahun-tahun, aku tahu jelas bagaimana gerak-gerik Felix ketika berbohong.

“Sayang, kamu istirahat saja dulu. Aku baru teringat masih ada urusan di perusahaan yang belum kuselesaikan.”

“Sekarang?”

“Iya, urusan itu lumayan mendesak.”

Berhubung Felix sudah berkata begitu, aku hanya bisa mengangguk dan menyuruhnya berhati-hati di jalan.

Felix mengambil jaketnya dari sofa, lalu pergi dengan terburu-buru. Melihat sosoknya yang menjauh, aku pun duduk di sofa dengan sedih.

Urusan apa yang perlu ditangani seorang bos sepertinya? Dia bahkan tidak berpikir dengan baik dulu sebelum melontarkan alasan itu.

Aku pun tersenyum getir. Apa Felix merasa aku begitu mencintainya sehingga aku tidak akan menyadari hal ini?

Aku menggigit bibir, lalu menelepon seorang teman yang adalah penyelidik swasta dan menyuruhnya mengawasi Felix.

Malam ini, sesuai dugaan, Felix tidak pulang semalaman. Keesokan paginya, aku bangun dengan kepala yang sakit, lalu menemukan beberapa pesan yang dikirim temanku.

[ Rhea, kamu lihat saja sendiri. Kalau ini bukan salah paham, aku sarankan sebaiknya kamu simpan bukti-bukti ini. ]

Hatiku seketika terasa sakit. Di bawah pesan itu, terdapat sebuah video. Napasku pun mulai memburu. Video itu bagaikan kunci untuk membuka kotak pandora yang akan mendatangkan malapetaka bagiku.

Aku mengklik video itu dengan tangan gemetar. Dalam video, mobil Felix diparkir di pinggir jalan. Setelahnya, ada seorang gadis yang naik ke kursi depan. Gadis itu adalah Sallie.

Setelahnya, orang yang mengambil video berjalan mendekati mobil. Namun, kedua orang itu sama sekali tidak menyadarinya karena sedang sibuk “bergulat”. Terdengar suara ciuman dan napas terengah-engah dari dalam video.

Aku hanya merasa hatiku bagaikan disayat pisau. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, kedua orang di dalam mobil baru berpisah dengan enggan.

Sallie menggenggam tangan Felix dan wajahnya yang cantik menunjukkan ekspresi manja dan penuh percaya diri. “Pak Felix, kamu masih ingat untuk datang mencariku? Memangnya kamu belum ‘makan’ di rumah? Kenapa kamu begitu nggak sabar?”

Suara Felix terdengar serak, sedangkan sepasang matanya dipenuhi dengan hasrat. “Aku nggak sentuh Rhea.”

Dia mencekik leher gadis itu dan berkata dengan kening berkerut, “Istriku mana bisa dibandingkan denganmu yang begitu genit.”

Sallie sama sekali tidak merasa terhina, malah dengan bangga menyodorkan tubuhnya ke arah Felix.

“Oke. Kalau begitu, kamu itu milikku.”

“Jangan nangis kamu malam ini.”

Setelahnya, kedua orang itu buru-buru berjalan masuk ke area kompleks dan menghilang. Video itu juga terhenti di sana.

Aku tidak tahu apa yang kurasakan, mungkin sedih dan pilu. Aku membuka rak alkohol dan meneguk sebotol miras tanpa henti. Namun, aku malah tersedak sampai air mataku mengalir.

Aku duduk di atas lantai, tidak mengerti kenapa Felix melakukan hal ini terhadapku. Namun, aku tahu bahwa pernikahan ini tidak perlu dilanjutkan lagi.

Bab 3

Pada sore hari, setelah aku sepenuhnya sadar, aku pergi mencari pengacara untuk membuat surat cerai. Untungnya, kami masih belum memiliki anak. Selain harta, kami bisa memutuskan hubungan dengan mudah.

Setelah aku membawa surat cerai itu pulang ke rumah, Felix meneleponku dan mengatakan dia perlu pergi dinas. Namun, pada malam hari, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal. Orang itu mengirimkan sangat banyak foto berdua Sallie dengan Felix. Tanpa perlu dipikir, aku tahu itu Sallie.

Foto-foto itu menunjukkan Felix dan Sallie pergi ke pemandian air panas dan main ski bersama. Namun, aku tidak merasakan gejolak apa pun.

Semua hal ini pernah aku dan Felix lakukan bukan hanya sekali selama 10 tahun hubungan kami. Setiap tahun, kami akan sengaja mencari waktu untuk pergi liburan bersama, baik itu ke tempat dengan pemandangan indah, tempat yang romantis, atau pergi melihat aurora.

Felix berkata bahwa dia ingin aku selalu berada di sisinya setiap dia pergi melihat dunia. Sekarang, setelah Sallie muncul, dia juga akan membawa orang lain untuk pergi berlibur.

Sebenarnya, jika dipikir-pikir, aku dan Felix sudah bersama terlalu lama. Dari kami masih remaja sampai sekarang, 10 tahun telah berlalu. Bukankah wajar saja dia merasa bosan?

Aku berusaha menghibur diri, tetapi hatiku tetap terasa nyeri. Mana mungkin aku tidak sedih? Felix adalah orang yang kucintai dari awal sampai sekarang.

Felix pulang pada hari ketiga. Dia membawakan hadiah untukku. Sama seperti sebelumnya, itu adalah kalung berlian yang harganya sangatlah mahal.

Setiap kali Felix pergi dinas atau pergi mendiskusikan kerja sama bisnis dan tidak pulang ke rumah, dia akan selalu menyiapkan hadiah untukku. Itu adalah caranya menebus kesalahan.

Dia mengatakan bahwa dirinya tidak menemaniku dan tidak menjalankan kewajiban sebagai seorang suami. Jadi, dia harus menghiburku dengan baik.

Dulu, aku akan selalu menerima hadiah itu dengan hati berbunga-bunga. Sekarang, aku hanya memaksakan seulas senyum dan menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku suka.”

Felix tidak menyadari perubahan suasana hatiku. Mungkin saja dia terlalu kelelahan karena menemani Sallie selama beberapa hari terakhir dan tidak memiliki energi berlebihan untuk peduli padaku.

“Baguslah kalau begitu. Aku mandi dulu.”

Felix pergi ke kamar mandi. Saat dia keluar, aku sudah berbaring di atas tempat tidur dan tidur dengan membelakanginya. Kami tidak mengatakan apa-apa terhadap satu sama lain. Dia tidur dengan memelukku. Kami berbagi ranjang, tetapi memiliki pemikiran yang berbeda.

Tidak lama kemudian, hari ulang tahunku tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Felix menyiapkan pesta ulang tahun untukku dengan teliti. Semua kejutan dan kuenya sangat sempurna. Teman-teman kami juga tetap menyelamati kami sambil tersenyum.

Namun, ketika sedang makan kue, aku malah mendengar temannya bertanya pada Felix dengan bahasa asing, “Kamu sudah putus hubungan sama selingkuhanmu itu? Sebelumnya, kamu pergi cari dia setiap hari. Entah tubuhmu tahan atau nggak. Apa istrimu nggak keberatan kamu begini?”

Suamiku mengembuskan asap rokok, lalu menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku sudah nggak sentuh dia selama beberapa bulan. Sallie punya teknik yang bagus. Aku masih belum bosan. Sayangnya, dia hamil. Istriku nggak suka anak. Jadi, aku akan kasih Sallie sejumlah uang dan suruh dia pergi lahirkan anaknya di luar negeri beberapa saat lagi.”

Aku mengepalkan tanganku dan diam-diam meneteskan air mata. Suamiku pun bertanya aku kenapa dengan gugup. Namun, aku hanya menggeleng.

“Kue buatanmu enak banget. Aku sangat terharu.”

Pada saat ini, aku merasa sangat kesal karena aku menguasai bahasa asing yang mereka gunakan.

Saat Lilin Menyala, Cinta Padam

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya