Logo
Saat Ibu Mertua Berkunjung
Saat Ibu Mertua Berkunjung

Saat Ibu Mertua Berkunjung

89 Bab
Tamat
Dalam novel modern Saat Ibu Mertua Berkunjung, ketenangan rumah tangga terusik oleh fitnah dan niat buruk sang mertua. Baca novel kesekian ini yang penuh konflik keluarga dan pembuktian diri. Sebuah romance novel tentang perjuangan mempertahankan harga diri dari tuduhan yang tidak berdasar.
Bab 1 dari Saat Ibu Mertua Berkunjung

Bab 1

Menjemput Ibu Mertua

"Lama banget sih kamu dateng

ngejemput, Ibu udah nunggu satu jam di sini!"

Itu adalah kata pertama yang keluar dari bibir ibu mertua, saat aku menjemputnya di terminal.

"Maafkan aku, Bu. Jalanan macet tadi," ujarku hendak menyalaminya. Namun bukannya berhasil, tanganku segera ditepis kasar olehnya.

"Nggak usah banyak alesan. Siang hari gini biasanya jalanan sedikit lengang, kamu pikir Ibu nggak tahu apa! Yang macet itu pagi dan sore hari, saat orang-orang pergi dan pulang kantor!!" ketusnya dengan pandangan tajam.

Sabar….

"Iya a, Bu. Ayo kita pulang," ajakku pada Ibu. Beliau berjalan lebih dahulu sambil menunjuk ke arah belakang. "Tuh, bawain barang-barang Ibu!"

Satu dus besar, satu tas besar ditambah tas lain yang entah apa isinya, segera kuangkat meskipun kesulitan membawanya, dikarenakan tubuhku yang mungil ini. Entah apa yang ibu bawa namun beliau tidak berinisiatif untuk meringankan pekerjaanku. Minimal bawa tas yang paling kecil, kek.

Ugh, aku malah ngarep.

"Di mana mobilnya? Katanya kalian udah beli mobil, ya?"

Sambil tersenyum paksa aku menyimpan barang-barang ibu di belakang mobil bak terbuka. Orang-orang biasa menyebutnya kol buntung.

"Iya Bu, ini mobilnya. Ayo kita pergi," ajakku. Namun bukannya senang, wanita itu malah melotot dan hampir saja melayangkan tangannya ke bahuku.

Aku meringis melihat kelakuan ibu mertua. Beliau memang tidak pernah bersikap baik padaku. Dua tahun pernikahan kami selalu diwarnai dengan omelan-omelan yang keluar dari bibir merahnya itu.

"Ya ampun Dina, beneran kamu beli mobil ini?" tanya ibu seperti tidak percaya. Aku mengangguk sambil membuka pintu agar ibu bisa masuk.

"Kok bisa-bisanya kamu beli mobil macam begini. Ibu kira semacam Avanza, Innova, Xpander, atau setidaknya paling butut itu ya, kijang. Tapi ini, malam-maluin aja kamu!!"

"Memangnya kenapa harus malu, Bu? Toh ini dibeli dengan lunas. Nggak nyicil. Lagi pula kami membeli mobil ini untuk usaha, bukan untuk pamer atau sebagainya." Mobil ini memang biasa dipakai untuk belanja sayur-sayuran kalau dini hari. Cukup meringan makan ongkos dan waktu. Namun sepertinya bukan itu yang ada dalam pikiran Ibu.

"Udah, nggak usah banyak bicara. Ayo pergi, Ibu nggak kuat terus-terusan berdiri di cuaca terik begini. Nanti kulit Ibu kebakar lagi."

Aku diam saja sambil menyalakan mobil dan melaju membelah jalanan.

Aku Sandrina, 22 tahun, menikah dengan Mas Akbar yang usianya sudah 28 tahun. Dulu kami tinggal di desa bersama dengan ibu, namun hanya kuat 3 bulan, sebelum akhirnya aku mengajak Mas Akbar untuk merantau ke kota besar.

Hidup di kontrakan dengan pekerjaan serabutan sudah kami lakoni. Kami bahkan tidak pernah berkeluh kesah atau putus asa. Kami tetap berjuang bersama agar dapur bisa ngebul. Maklum di kota yang notabene tak kenal siapa-siapa, membuat kami harus mandiri dan nggak gengsi.

Saat itulah kuputuskan untuk berdagang sayuran, mengingat Mas Akbar juga kerja menjadi kuli panggul di pasar, sambil memasukkan beberapa lamaran ke perusahaan besar. Kami hidup dari menjual sayuran yang ternyata untungnya berkali-kali lipat. Beruntung setelah kerja nggak jelas, Mas Akbar diterima kerja di perusahaan besar. Meskipun sampai sekarang masih menjadi karyawan biasa yang gajinya di bawah 5 juta, aku tetap bersyukur. Sekarang sudah 8 bulan dia bekerja.

Sayuran adalah alternatif pertama yang dicari oleh ibu-ibu yang pasti membutuhkannya untuk sehari-hari. Dari usaha itu juga akan mampu membeli rumah dan juga mobil ini meskipun bekas.

Dan setelah 2 tahun kami berumah tangga, Ibu baru kali ini datang ke rumahku.

Dulu pernah satu kali datang waktu kami masih tinggal di kontrakan, namun baru beberapa jam tinggal, ibu memutuskan untuk pergi lagi ke rumah anak pertamanya, yang masih satu kota denganku.

"Rumah jelek, sempit, mirip kandang ayam. Cuihhh!!" Aku masih ingat perkataan Ibu waktu itu. Ibu bahkan meludah dan kena ke kakiku.

Astaghfirullah … saat itu aku hanya bisa beristigfar menyaksikan hinaan ibu di depan mataku yang memanas karena sakit hati.

Wajar saja waktu itu ibu nggak betah. Ruangan tiga kali tujuh itu ditinggali olehku dan suami. Lalu datanglah ibu, makin nambah sesak.

"Nggak turun di kompleks besar gitu? Kok berhenti di sini? Bukannya kalian beli rumah jadi?!"

"Ayo turun, Bu. Di sini memang rumah kami." Kuabaikan perkataannya. Memangnya rumahku di kawasan pasar penduduk. Yang mungkin tak sebesar perkiraan ibu.

"Yang mana rumahmu? Ibu udah nggak kuat, panas. Ugh, kota besar, panasnya minta ampun."

Dia turun dari mobil sambil mencebik.

Ibu lalu berdiri di halaman rumah orang. Sementara aku mematikan mesin dan menurunkan barang-barang Ibu, lalu berjalan begitu saja meninggalkan wanita itu yang memasang wajah masam.

"Yang ini rumah kami, Bu. Selamat datang di rumah." Ya, meski nggak sebagus rumah orang atau rumahnya Mbak Mika, tapi di sinilah kami hidup tenang," ujarku sambil membuka pintu utama.

Wanita itu pun masuk dan memindai sekeliling.

"Rumah jelek, kecil, nggak sesuai ekspektasi. Akbar bilang kalian membeli rumah yang cukup nyaman untuk kalian tinggali berdua. Rupanya cuma rumah seperti ini. Rumah petak. Ini nggak seluas rumah ibu di desa!"

"Alhamdulillah aja, Bu." Kutinggalkan wanita itu dan pergi ke dapur. Makin lama perkataan ibu makin pedas saja seperti boncabe level 500. Sementara Ibu mondar-mandir ke setiap ruangan untuk memeriksa perabotan atau apalah, aku memilih menyiapkan air minum untuknya.

Dulu kami memang membeli rumah ini secara kontan. Itu pun dalam kondisi rumah yang sedikit memprihatinkan. Memang tidak bagus dan tidak juga besar. Hanya ada dua kamar, ruang tengah dan ruang tamu, dapur dan dua kamar mandi.

Tapi ada sisa tanah di halaman belakang dan samping. Yang bisa dibangun lagi jika ada rejekinya. Tapi setidaknya kami nyaman tinggal di rumah sendiri, daripada harus ngontrak rumah yang biaya perbulannya di atas tujuh ratus ribu. Toh di tempat ini juga usahaku berjalan. Di samping rumah aku membuat warung untuk menjual aneka sayuran. Biasanya aku berjualan pukul lima subuh sampai pukul sembilan pagi, sudah habis. Antusias warga dalam membutuhkan sayur-mayur yang segar, membuatku jarang membuka warung sampai siang atau sore.

"Minum dulu, Bu. Biar segar badannya. Nanti aku akan menyiapkan makan siang untuk ibu."

"Teh manis apa teh pahit?" tanya ibu dengan ketus.

"Teh agak manis, seperti biasa."

Dia mengambil gelas itu dan menyeruputnya sedikit. Beberapa detik kemudian, wanita itu menyemburkannya hingga membasahi meja dan bajunya.

"Ahhh, panas!!!"

"Bu, ibu nggak apa-apa?" tanyaku khawatir. Lekas kuambil tisu dan berniat untuk mengelap bajunya, namun lagi-lagi tanganku di tepisnya kasar.

"Itu hangat, Bu. Nggak panas," ujarku dengan perasaan bersalah. Aku takut lidah ibu terbekar. Namun aku merasa tidak berbuat kesalahan di sini. Mana mungkin aku berbuat zalim kepada mertuaku sendiri.

"Ya ampun, Dina!! Kamu mau membunuh ibu, ya? Udah mah teh manis panas, pahit lagi!! Dasar nggak becus melayani mertua!! Mantu nggak berguna!!" sentak Ibu sambil menghantamkan gelas itu di atas meja. Aku memejamkan mata sekilas. Sedangkan tangan mengusap keningku yang terasa berat.

"Bu, nggak usah ngomong gitu smnisa nggak, sih?!"

"Mau ngebela apalagi kamu, hah?! Dasar kurang aj*r kamu, ya!! Gobl*k!!" tunjuknya di depan hidungku.

"Biasanya Ibu suka teh manis panas, bukan?" Ya, aku tahu kebiasaan itu ketika kami masih tinggal satu rumah di desa. Ibu biasa menyeruputnya panas-panas.

Entahlah di sini dia hendak mencari gara-gara, atau bukan. Aku tidak tahu. Yang jelas baru beberapa menit saja bertamu, sudah berhasil membuatmu moodku rusak.

"Itu kan di desa. Beda! Di sana iklimnya itu dingin, makanya ibu harus minum air panas biar nggak masuk angin. Sedangkan di sini, cuaca panas panas begini masa' disuguhin air panas. Gimana sih? Apa nggak ada kulkas atau apa kek, buat dinginin minuman?!" Ibu melotot dengan suara tinggi. Aku yakin jika ada tetangga yang dengar, bisa berabe jadinya. Apalagi di lingkungan ini hampir semuanya tukang gosip.

"Itu hangat, Bu. Ya Allah …." Hatiku nyeri sekali dituduh yang macam-macam oleh ibu. Padahal kupikir beliau sudah berubah saat menghubungi ponsel Mas Akbar dan mengabarkan akan berkunjung.

Rupanya pikiranku yang salah. Sikap ibu sama saja.

"Diem kamu! Nggak usah ngeles diri terus!! Lagian ya, rumah kamu sama rumahnya si Diana itu beda. Di sana semuanya lengkap bahkan Ibu tidak usah ke repot-repot kepanasan dan berkeringat. Minum apa aja udah tersedia di kulkas. Mau dingin, biasa, nggak masalah. Lah kamu ….!"

Wanita itu mulai mengeluarkan kipas dari dalam tasnya, kemudian mengipasi wajahnya yang memerah, entah karena kepanasan atau karena memang karena marah padaku.

Sementara aku memilih kembali ke dapur sambil membawa gelas dengan perasaan dongkol.

Kuharap Ibu tidak lama-lama tinggal di sini jika hanya akan membuatku stress.

"Dina!! Dina!!" Suara Ibu mertua yang cempreng terdengar di telingaku. Aku yang tengah mengisi gelas ibu dengan air hangat segera berlari ke tengah rumah.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Amnesia
Amnesia
Dalam novel modern Amnesia, seorang pria terbangun tanpa identitas di tempat asing. Dia harus menelusuri kepingan memori yang hilang demi mengungkap kebenaran di balik kondisinya. Simak mystery story penuh teka-teki ini saat Anda read books online free di platform kami.
Bekas Luka Ikatan yang Hancur
Bekas Luka Ikatan yang Hancur
Dalam novel modern Bekas Luka Ikatan yang Hancur, Sinta menghadapi dilema saat Trisna meminta cerai demi cinta pertamanya. Meski sedang hamil, Sinta memilih melepaskan hubungan ini. Temukan kelanjutan kisah mereka dalam romance novel ini di antara berbagai pilihan fiction books lainnya.
DIKIRA MISKIN
DIKIRA MISKIN
Dalam modern romance DIKIRA MISKIN, Yudi dan Antika berjuang membuktikan kesuksesan mereka di kota setelah terus dihina keluarga. Saat kekayaan mereka terungkap, para ipar mulai mendekat demi keuntungan. Baca web novel ini untuk melihat bagaimana mereka menghadapi pengkhianatan dan loyalitas.
Hati yang Sedang Berperang
Hati yang Sedang Berperang
Dalam Hati yang Sedang Berperang, Bahar terjebak dendam keluarga saat Emir Demir datang menuntut balas. Romance novel penuh intrik modern ini mengungkap rahasia gelap di Midyat. Baca mystery story ini untuk melihat perjuangan cinta melawan tradisi dan pengkhianatan yang mematikan.
Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
Dalam Janda Cantik Dan Psycopat Dingin, seorang wanita merancang aksi balas dendam terhadap suaminya yang berkhianat. Namun, misinya diuji saat seorang pria misterius dengan sisi gelap muncul. Baca romance novel ini untuk melihat bagaimana takdir mempertemukannya dengan seorang psikopat.
Melangkah Keluar dari Masa Lalu
Melangkah Keluar dari Masa Lalu
Dalam novel modern Melangkah Keluar dari Masa Lalu, Vivi yang terlahir kembali memilih menjauhi cinta masa kecilnya, Jacky Halim. Baca novel online gratis genre romance remaja ini saat Vivi mencari ketenangan dengan pacar baru, namun Jacky justru datang menghalangi jalannya.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Antara Dusta dan Hasrat
Antara Dusta dan Hasrat
Mantan pengacara top yang jatuh dari jayanya × Pewaris buangan keluarga kaya yang berani berbuat apa pun. Yang satu butuh uang demi menyelamatkan nyawa, yang satunya lagi haus kekuasaan mencari jalan untuk naik posisi. Dino Naro setuju membayar Sisil Marta dengan jumlah besar, dengan satu syarat: Sisil harus ikut terseret ke dalam pusaran konflik keluarga, jadi mata-mata bisnis sekaligus kekasih bayangan. Sebuah kesepakatan dengan empat misi: menyusup, meracuni, menggoda, mengakhiri cinta dengan adik ketiga, Danu Naro. Dua orang yang seharusnya nggak saling jatuh cinta, bertemu di waktu yang salah, dengan orang yang salah . Saat semua pilihan adalah kesalahan, cinta dan benci terjalin erat. Apakah semuanya bisa memadamkan api dendam dan kejahatan?
[Versi Dub] Pernikahan Sang Dewa adalah Tipuan!
[Versi Dub] Pernikahan Sang Dewa adalah Tipuan!
Kisah ini mengikuti Meira Calli, seorang lulusan akademi kepolisian, yang secara sukarela menjadi Gadis persembahan demi mengungkap penipuan upacara “Pernikahan Sang Dewa” di desa lingga. Ia menyusup ke dalam pintu batu dan berhadapan dengan anggota sindikat kriminal, termasuk Yudha Wirata. Pada akhirnya, Meira berhasil membongkar kejahatan kepala desa dan kelompoknya yang memperdagangkan perempuan, serta menyelamatkan sang kakak, lina Calli, dan para perempuan yang disekap.
Bos Kejam? Milikku!
Bos Kejam? Milikku!
Terlahir kembali di tahun 90-an, Evelyn dikhianati sahabatnya. Dia diberi obat dan dikirim sebagai hadiah untuk Aaron, bos mafia paling kejam. Semua wanita yang mendekatinya akan berakhir gila atau cacat, tapi dia justru tergila-gila pada Evelyn. Dan Evelyn? Alih-alih lari, dia malah membalasnya dengan mengikat, menelanjangi, dan mempermalukannya sebelum menghilang. Ketika Aaron mengepungnya dan menuntut penjelasan, Evelyn tak hanya selamat, tapi juga menjinakkan semua musuh, dan mengubah sang raja kegelapan itu menjadi kekasih setianya.
Aku yang Nggak Disayangi
Aku yang Nggak Disayangi
Dituduh mendorong neneknya, Wilona Joly dikucilkan keluarganya. Ia menikah dengan Ethan Fauzi, yang dikiranya cintanya tulus. Saat hamil, Wilona tahu Ethan hanya memanfaatkannya sebagai bank darah untuk adik angkatnya, Sofia. Hancur, Wilona gugurkan kandungannya, jadi biksuni, dan tinggalkan tiga 'hadiah' untuk Sofia. Ethan menyesal, kakinya lumpuh akibat usahanya mengejar Wilona. Ia beri semua hartanya, tapi Wilona donasikan dan buka kedai teh, hidup tenang jauh dari dunia.
Karma di Era 80
Karma di Era 80
Pada tahun 1980-an, Doni ditipu oleh ibu dan adiknya agar tidak membagi harta keluarga, yang menyebabkan istri dan putrinya dianiaya oleh keluarganya, sedangkan Doni menghabiskan seluruh hidupnya sebagai buruh di Pabrik Pakan Sindo. Setelah pabrik pakan mulai menghasilkan uang, Doni malah dibunuh secara tragis oleh adik iparnya. Setelah terlahir kembali, Doni bersikeras membagi harta keluarga dan kembali ke pedesaan bersama istri dan putrinya. Lalu, dia mendapati kolam ladang dipenuhi udang karang yang sangat mengganggu penduduk desa. Doni memutuskan untuk membuka jalan menuju kesejahteraan bagi keluarganya dengan menjual udang karang.
Larangan Angkat Peti Mati
Larangan Angkat Peti Mati
Di ranjang kematiannya, Budi Purnomo mewariskan dua larangan mutlak tentang cara mengangkat peti matinya kepada cucu perempuannya, Dewi Purnomo. Kembali ke rumah tua keluarga Purnomo untuk mengatur altar pemakaman kakeknya, Dewi dihadapkan dengan penolakan dan cemoohan dari kerabat di kampung halaman. Namun, terpicu oleh godaan keuntungan besar, mereka semua terjebak dalam permainan ketamakan dan suara hati.