Bab 3
“Bu, apa yang terjadi dengan Anda? Adakah yang terluka?”
Tiba-tiba, beberapa perawat mengelilingiku.
Mereka saling memandang dan tidak berani berkata apa-apa, hanya menghiburku.
Mereka seharusnya tahu bahwa suamiku Axel mengkhianatiku.
Dia bahkan dengan kejam merampas hakku untuk memiliki anak.
Kesedihan yang telah lama kupendam tidak tertahankan lagi, dan aku berbaring di ranjang rumah sakit dan menangis untuk waktu yang lama.
Aku tidak tahu kapan aku tertidur karena kelelahan. Ketika bangun, hanya Annie yang duduk di samping tempat tidur rumah sakit dengan ekspresi mengejek.
“Kau tahu semua tentang kami kan? Aku mengandung anak Axel, anak satu-satunya, di perutku.”
Annie dengan santai mengambil jeruk dan memakannya, sengaja mengelus perutnya dan menatapku.
“Kapan ka ... kalian mulai?”
Aku mengepalkan tanganku, kukuku menusuk telapak tanganku, rasa sakit di tanganku bahkan tidak bisa menahan rasa sakit hatiku.
Annie mencibir dan menunjukkan tiga jari ke arahku.
“Tiga tahun, sejak aku memasuki Grup Gunt sebagai sekretaris. Axel menghadiri perjamuan tanpamu, aku berinisiatif menjadi asisten pribadinya, mewakilinya meminum minuman keras yang ditujukan padanya, dan kami berhubungan intim malam itu. Dia merasa telah mengkhianatimu dan ingin membayarku untuk meninggalkan dirinya. Aku bilang aku mencintainya dan bisa menerima sebagai simpanannya. Aku menawarkan untuk tetap bekerja sebagai sekretaris di Grup Gunt dan dia setuju. Tapi dia tiba-tiba ingin menyerahkan semua uangnya padamu, aku membenci kebodohannya dan mencegahnya beberapa kali tanpa hasil, dia tetap diam-diam mentransfer uangnya padamu tanpa sepengetahuanku.”
Aku menatap ekspresi Annie yang semakin liar dan menekan keinginanku untuk menamparnya.
“Hubungan kalian benar-benar konyol. Dia pikir dengan memberimu semua uang itu, dia bisa menikmati perzinahannya dengan tenang. Kau nggak tahu kan, dia setiap hari datang mencariku karena aku tinggal di sebelah rumahmu. Pernah beberapa kali setelah dia memberimu obat tidur, kami bercinta di ruang tamu, aku sengaja berteriak kencang pun nggak membangunkanmu. Seru kan?”
Melihat ekspresiku semakin pucat, Annie semakin bersemangat.
“Pada hari keguguranmu, dia tidur di kamarku dengan pulas dan sama sekali nggak peduli padamu. Nancy, kau seharusnya berinisiatif untuk meninggalkannya. Lagipula, aku sedang mengandung anak Axel.”
Aku tidak menyangka kebaikkan hatiku akan dihargai dengan pengkhianatan seperti ini.
Pada saat itu, aku hanya berpikir bahwa Axel benar-benar terlalu sibuk sehingga melewatkan puluhan teleponku.
Bahkan pada hari kedua, dia meminta maaf dengan matanya yang merah dan bengkak di ranjang rumah sakitku.
Dia berulang kali menjelaskan bahwa dia terlalu sibuk dan terlalu lelah sampai tidur kepulasan, dan bahkan lupa mengisi daya ponselnya sehingga ponselnya mati.
Aku begitu naif dan benar-benar memercayainya.
Ternyata, yang dimaksudnya dengan terlalu sibuk dan terlalu lelah adalah karena menemani wanita lain.
Melihat aku melamun, Annie mengira bahwa tujuannya telah tercapai dan mengulurkan layar ponselnya ke arahku.
“Istirahatlah, besok adalah pernikahanku dengan Axel. Datang saja ke pernikahan kami kalau mau. Ini alamatnya. Kau tahu tempat ini, kan? Toh ini juga tempat kalian melangsungkan pernikahan dulunya.”
Annie menyenandungkan sebuah lagu ringan dan pergi. Saking patah hatinya sampai-sampai aku terengah-engah dan pingsan pada detik berikutnya.
Ketika terbangun lagi, sudah di malam hari kedua.
Axel dengan mata merahnya menarik tanganku dengan erat. Aku teringat kejadian dua hari terakhir, dan menggunakan seluruh kekuatanku untuk menarik tanganku kembali, lalu berulang kali menyekanya di sprei.
Axel menatapku dengan heran dan sedih.
“Apakah kau masih ingat sumpah yang kita ucapkan saat menikah?”
Jika tidak saling mencintai lagi, lepas tanganlah.
Jika dia selingkuh, aku akan benar-benar menghilang dari dunianya.
Axel mengangguk tanpa ragu-ragu.
“Tentu saja aku ingat. Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu sedih? Atau seseorang mengatakan sesuatu padamu?”
Axel langsung berdiri dan berteriak ke arah Annie.
“Siapa yang datang kemari dalam dua hari terakhir? Cepat cek!”
Annie dengan tenang menanggapi Axel dengan ekspresi biasa.
“Biasanya hanya ada perawat, tapi mereka semua hanya mengganti obat lalu pergi. Kemarin, juga hanya aku yang datang saat Anda beristirahat, karena aku khawatir keadaan Bu Nancy.”
“Bu Nancy, jangan terlalu banyak berpikir, jaga kesehatan Anda baik-baik. Pak Axel sangat mengkhawatirkan dan menyayangi Anda.”
Bab 4
Perkataan Annie tampaknya menyanjung, tapi terdengar sarkastik bagiku.
Aku memalingkan muka dan melambaikan tangan agar semua orang pergi.
Axel takut sandiwaranya tidak cukup meyakinkan, sekali lagi meraih tanganku dan mengungkapkan kesetiaannya.
“Nancy, kau satu-satunya yang akan aku nikahi dalam hidup ini, dan kau satu-satunya yang kucintai.”
Aku terlalu malas untuk terus mendengarkan kemunafikannya dan bergumam dengan samar.
Axel mengerucutkan bibirnya, seolah-olah sedang membuat keputusan, lalu menarik napas sebelum berbicara perlahan.
“Nancy, perusahaan mengadakan rapat minggu ini, aku harus hadir. Seharusnya diadakan hari ini, tapi karena kau pingsan dan aku ingin menemanimu, jadi aku menunda rapat sampai besok. Kali ini aku jamin ponselku akan terus aktif. Kau bisa meneleponku kapan saja kau bangun, aku pasti akan menjawabnya!”
Dia menatap setiap gerak-gerikku, takut melewatkan sedikit saja perubahan emosiku.
Aku tidak tahu apakah dia takut aku akan mengetahui tujuan sebenarnya untuk besok, atau apakah dia benar-benar takut kehilanganku sepenuhnya.
Aku menekan kemarahan dan kekecewaanku sembari mengangguk.
“Tenanglah, aku akan baik-baik saja di rumah sakit.”
Axel menarik tanganku, wajahnya menempel di telapak tanganku.
Tunggul janggutnya yang keras membuatku gatal dan muak. Aku benci pria yang sudah berkhianat ini.
“Nancy, saat tubuhmu sudah pulih, kita akan mengadopsi anak. Kalau satu saja nggak cukup, kita akan mengadopsi dua, semuanya sesuai dengan keinginanmu! Ketika anak-anak sudah besar, aku akan menyerahkan perusahaan kepada mereka dan kita akan berkeliling dunia.”
Jika aku tidak tahu bahwa dia akan menikah dengan orang lain besok, mungkin aku akan terlena dengan kata-kata manisnya lagi.
Axel meninggalkan bangsal dengan tergesa-gesa dengan dalih bahwa aku perlu istirahat.
Setelah aku menenangkan diri, aku meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah.
Rumah yang tadinya nyaman kini terasa dingin.
Setelah mengemasi pakaian, aku meninggalkan surat cerai dan pergi.
Di dalam pesawat menuju Astropia, aku melihat tempat yang familier ini angsur-angsur menghilang, sembari menguburkan semua masa laluku.
Selamat tinggal Axel, jangan pernah ketemu lagi.
Keesokan harinya, sebelum upacara pernikahannya, karena tidak dapat menghubungiku, Axel langsung meninggalkan Annie yang memakai gaun pengantin dan bergegas ke rumah sakit.
Akan tetapi, setibanya di rumah sakit, Axel hanya melihat ranjang yang kosong.
Axel seakan-akan menjadi gila, berkeliaran di rumah sakit, mencari Nancy-nya di setiap ruangan.
“Nancy, keluarlah! Tolong, tolong jangan bercanda seperti gini!”