Bab 1
Cinta lama Yohan baru saja bercerai.
Malam itu, Yohan melemparkan surat cerai yang ke-99 padaku.
"Chika lagi patah hati, dia belum bisa bangkit dari kesedihan. Aku harus menjaganya."
Anak laki-lakiku yang berumur tujuh tahun juga ikut menasihati.
"Kamu cepat pergi saja, biar Tante Chika pindah ke sini. Rumah kita nggak butuh pembantu seperti kamu."
Ayah dan anak itu yakin aku akan marah-marah, menangis, dan memohon supaya mereka tidak mengusirku.
Tapi kenyataannya, aku hanya mengangguk pelan.
Lalu diam-diam menandatangani surat cerai itu.
Sepuluh tahun kemudian, anakku diwawancarai sebagai peraih nilai tertinggi ujian nasional.
Wartawan bertanya padanya, "Nak, apa yang membuatmu tetap semangat belajar selama ini?"
Dia terdiam sejenak, matanya memerah di depan semua orang.
"Karena aku ingin bilang ke Ibu, aku sudah dewasa sekarang. Bisa nggak Ibu pulang? Jangan tinggalkan aku lagi."
"Bu Sania, surat cerai ini sah. Begitu Anda menandatangani, dalam sebulan pernikahan Anda akan otomatis berakhir."
Aku menghela napas lega setelah mendengar kepastian itu. Aku menoleh ke paket yang terbuka di lantai.
Itu hadiah ulang tahunku yang ke-27 dari anak laki-lakiku yang berumur tujuh tahun.
Satu kotak berisi kondom bekas pakai, dan satu foto keluarga bertiga yang tampak bahagia.
Di foto itu, Yohan memeluk erat wanita di sampingnya, dengan wajah lembut yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Anakku yang biasanya nakal juga terlihat manis. Dia bersandar di dada wanita itu dengan wajah penuh kagum.
Tapi, wanita di foto itu bukan aku.
Dia adalah cinta lama Yohan yang baru pulang ke tanah air setelah bercerai.
Kondom itu juga bukan merek yang biasa kupakai, tapi merek kesukaan Chika dengan aroma keju yang khas.
Hari ini usiaku genap 28 tahun.
Pagi-pagi sekali, Yohan sudah marah besar hanya karena aku melangkah ke ruang tamu dengan kaki kiri lebih dulu. Kemudian, dia pergi bersama anak kami dengan wajah kesal.
Katanya aku harus tinggal di rumah untuk merenung dan introspeksi diri.
Aku tahu itu cuma alasan supaya Yohan tidak perlu merayakan ulang tahunku.
Hal seperti ini sudah sering terjadi sejak Chika kembali ke tanah air setahun yang lalu.
Seperti waktu listrik di rumah Chika padam, Yohan bilang ingin menemaninya.
Alasannya, masakanku terlampau tidak enak sampai dia terpaksa membawa anak kami makan di luar.
Padahal dia lupa kalau aku punya sertifikat juru masak. Dia punya perut yang sensitif karena sering minum alkohol saat acara kantor.
Ketika semua lilin dari toko kue sudah habis terbakar, akhirnya terdengar suara kunci pintu dari luar.
Anakku masuk sambil menarik tangan Yohan dengan bersemangat, bercerita tentang betapa serunya naik roller coaster hari ini.
Yohan tersenyum tipis. Di kerah kemejanya masih ada bekas lipstik berwarna merah muda.
Warnanya sama seperti tren warna lembut yang sedang populer tahun ini.
Senyum di wajah mereka langsung menghilang begitu melihatku.
Yohan menggandeng Leon masuk, lalu dengan acuh menarik sebuah kotak kecil dari sakunya dan melemparkannya padaku.
"Hadiah ulang tahunmu."
Aku melirik sekilas, tanpa perlu membuka sudah tahu bahwa isinya gelang.
Merek dan modelnya sama seperti sebelumnya. Lima tahun menikah, aku sudah menerima gelang itu 17 kali.
Setiap kalinya seolah mengingatkanku betapa sedikitnya perhatian Yohan padaku.
Sementara di media sosial Chika.
Hari ini dia mengenakan gaun terbaru dari rumah mode Kanel. Besoknya memamerkan vas antik dari lelang, lalu lusa, besok lusanya...
Dalam sebulan, tidak ada satu pun yang berulang.
Sorot mataku perlahan meredup saat mengingat semua hadiah beragam yang Chika tunjukkan di media sosial. Aku pun berdiri dan pergi.
Ada sedikit keterkejutan di mata Yohan, yang segera berubah menjadi marah.
“Sania, aku sudah dengan sepenuh hati menyiapkan hadiah untukmu, tapi kamu malah bersikap seperti ini?”
"Pantas saja ibuku selalu bilang kamu nggak pantas tampil depan umum. Ternyata benar, kamu memang nggak tahu sopan santun."
Langkahku terhenti, aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
Bab 2
Itu adalah ucapan ayah Yohan padaku di hari pernikahan kami.
Waktu itu, Yohan masih muda dan gampang tersulut emosi. Begitu mendengar ucapan itu, dia langsung membanting mikrofon di tempat.
Dia bilang aku adalah istrinya yang dia pilih sendiri. Siapa pun tidak ada yang boleh menjelek-jelekkan aku.
Benar saja, ayah dan anak itu memang sama persis.
Anakku melemparkan mainan di tangannya ke arahku.
"Kamu tuh perempuan jahat! Cepat minta maaf sama Ayah!"
Ujung tajam mainan itu melukai pipiku. Aku refleks menyentuh luka itu. Rasanya perih dan getir di hati.
Inilah anak yang kukandung sembilan bulan dan kulahirkan sendiri. Seorang anak yang tak tahu berterima kasih.
Tujuh tahun kasih sayang dariku tidak sebanding dengan satu tahun rayuan manis Chika.
Melihatku diam saja, anak itu malah makin senang dan mengejek.
"Kamu nggak marah? Pantas saja, kamu cuma perempuan tua yang bisanya nyedot uang Ayah!"
"Kalau kamu tahu diri, cepat cerai sama Ayah. Rumah kita nggak butuh pembantu kayak kamu!"
Setelah berkata begitu, dia meloncat-loncat gembira kembali ke kamarnya.
Sebelum menutup pintu, dia masih sempat berjinjit menggantungkan papan kecil.
[Sania dan anjing sejenisnya dilarang masuk.]
Aku menyeka air mata yang keluar sambil tertawa getir, lalu kembali ke kamarku sendiri.
Sebuah gudang kecil di sebelah dapur.
Ruangan sempit tidak sampai sepuluh meter persegi, hanya ada satu ranjang tunggal yang sederhana.
Tempat yang bahkan pembantu pun nggak mau tinggali. Tapi, setahun terakhir ini justru jadi satu-satunya kamar di mana aku merasa bebas.
Setelah menyimpan gelang yang ke-17 dengan rapi, aku mengambil surat cerai dari dalam laci.
Itu surat cerai ke-99 yang pernah Yohan lemparkan padaku.
Tujuh tahun menikah, Yohan selalu melemparkan surat cerai setiap kali kami bertengkar.
Dia tahu aku haus kasih sayang, jadi dia yakin aku nggak akan pernah meninggalkannya.
Surat cerai itu jadi alat baginya untuk terus mengancamku.
Tapi, kali ini aku benar-benar berniat menandatanganinya.
Suami, anak, dan rumah yang menyedihkan ini.
Aku sudah tidak menginginkannya lagi.
...
Keesokan paginya, aku terbangun karena suara ketukan pintu yang keras.
"Bangun! Cepat buatin aku sarapan!"
Anakku memukul-mukul pintu gudang dengan mainannya sampai bergetar.
Dulu demi mengurus Yohan dan anak kami, aku selalu bangun jam lima pagi setiap hari.
Menyiapkan sarapan lezat untuk mereka.
Sekarang aku hanya berbaring di tempat tidur, berharap andai saja aku tuli.
Begitu membuka pintu, anakku berdiri di lantai tanpa alas kaki dengan wajah penuh amarah.
"Sarapan aku mana?!"
Aku menatapnya dingin, lalu menunjuk ke arah kulkas.
"Ambil sendiri, atau minta sama ayahmu, atau Tante Chika."
Anak itu terpaku sejenak. Ini pertama kalinya aku bicara padanya dengan nada sedingin itu.
Tapi, tidak lama kemudian ekspresinya berubah, seolah teringat sesuatu.
"Kamu 'kan pembantuku! Kalau kamu nggak nurut, aku bakal suruh ayah ceraikan kamu!"
"Cepat buatin aku sarapan! Kalau nggak, aku bakal jalan tanpa alas kaki seharian. Nanti kalau aku sakit, kamu harus jagain aku semalaman!"
Baru saat itu aku sadar kalau dia benar-benar berdiri di lantai tanpa alas kaki.
Anakku lahir prematur, sejak kecil tubuhnya lemah dan gampang sakit.
Jadi, aku selalu cemas setengah mati setiap kali kulihat dia bertelanjang kaki di lantai.
Biasanya aku langsung menyusul di belakangnya, menenangkan dan membujuknya supaya mau pakai sandal.
Saat aku menunduk membantunya, dia sering sengaja menginjak bajuku.
Sampai pakaianku penuh bekas tapak kakinya baru dia berhenti.
Mengingat itu, aku memalingkan pandangan dan berjalan melewatinya menuju kamar mandi.
Wajah anak itu memerah karena marah. Dia berteriak keras di belakangku, berusaha menarik perhatianku.
Namun, kali ini tidak ada lagi yang akan menenangkannya.
Setelah aku selesai cuci muka, Yohan muncul di depan pintu membawa sekantong barang.
Ekspresinya berubah begitu melihat Leon menangis.
"Sania, kamu tuh ibu macam apa? Nggak lihat anakmu lagi nangis?"
Bab 3
Aku tidak ingin menanggapinya. Nada suaraku datar tanpa emosi.
"Maaf, aku memang nggak bisa jadi ibu. Biar Chika aja yang gantiin."
Aku benar-benar berkata jujur. Tapi, entah kenapa amarah Yohan malah padam.
Dia menatapku beberapa kali, lalu mengeluarkan sekotak bubur dengan isi makanan laut yang sudah dingin dan meletakkannya di meja.
"Jangan ngomong sembarangan di depan anak. Ini bubur buatanku sendiri, khusus kubawa buat kamu."
Gerakanku menuang air terhenti sejenak, mataku memantulkan rasa sinis dan sedih.
Aku sudah melihat unggahan Chika di media sosial tadi malam.
Foto punggung seorang pria di dapur, mengenakan celemek, sedang mengaduk bubur.
[Semua orang suka yang kurus, cuma kamu yang nyuruh aku makan dengan baik.]
Meski pencahayaannya redup, aku langsung tahu pria itu Yohan.
Soalnya di jari manis tangan kirinya masih melingkar cincin pernikahan kami.
Sekarang, cincin itu sudah tidak ada.
Yohan refleks menatap jari manisnya yang kini kosong saat menyadari arah pandangku.
Sekilas ada ekspresi canggung di wajahnya.
"Cincinnya aku pinjemin ke Chika. Dia cuma mau mainin dua hari."
Masuk akal sekali. Rupanya cincin kawin memang bisa dipinjam untuk mainan.
Aku tersenyum tipis, berusaha keras menahan rasa sakit di dada.
Yohan malah tersulut emosi melihat senyumku.
"Cuma cincin doang, kamu nggak usah lebay. Cepat makan buburnya."
"Aku peringatkan, selagi masih ada cara untuk mundur, turunin egomu sekarang."
"Atau kamu mau aku kasih surat cerai lagi?"
Suaranya serak, tapi penuh ancaman dan keyakinan diri.
Dia tidak tahu kalau aku sudah menandatangani surat itu.
Aku menatap mangkuk bubur itu. Karena dibiarkan semalaman, nasi di dalamnya sudah menggumpal.
Beberapa potong kulit udang dan duri ikan sisa terlihat di permukaan.
"Maaf, aku alergi bahan makanan laut."
Yohan tertegun, wajahnya tampak canggung.
Leon yang masih kesal karena tadi tidak kuhibur, berjalan ke arahku dengan mata merah dan menatapku tajam seperti menatap musuh.
"Cuma alergi doang, 'kan? Tante Chika bilang alergi ringan nggak bakal bikin orang mati."
"Aku tahu kamu cuma pura-pura. Kamu cuma mau rebut perhatian ayah dari Tante Chika. Ayah, jangan percaya dia."
Aku terpaku. Belum sempat bereaksi, Yohan sudah menekanku ke meja makan.
Ekspresinya berubah dari canggung menjadi marah, seperti sedang memarahi anak kecil yang tidak tahu aturan.
"Sania, kamu ini dikasih hati minta jantung."
"Makan sampai habis."
Dia mencengkeram pipiku dan memaksa menuangkan bubur seafood yang dingin itu ke dalam mulutku.
Leon bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak, seperti sedang menonton pertunjukan lucu.
Setelah suapan terakhir masuk, Yohan melepaskan cengkeramannya dan menyeka mulutku dengan lembut.
"Begini lebih baik, 'kan? Sania, kamu harus nurut, ya."
Aku mendorongnya menjauh. Aku menekan tenggorokanku dengan panik, berusaha memuntahkan semuanya.
Tapi, sudah terlambat. Tenggorokanku mulai terasa gatal dan melepuh, napasku makin sesak.
Dalam detik terakhir sebelum kehilangan kesadaran, aku melihat satu orang dewasa dan satu anak kecil berlari panik ke arahku.
...
Saat aku membuka mata, aku sudah berada di ruang perawatan.
Bau cairan disinfektan begitu kuat, anehnya justru membuatku merasa tenang.
Perawat menjelaskan padaku, "Kamu kena reaksi alergi berat. Untung suamimu cepat bawa kamu ke rumah sakit, kalau nggak, bisa fatal."
Aku menoleh ke samping, merasa geli sendiri.
Bukankah justru mereka yang tahu aku alergi, tapi tetap memaksaku makan bubur itu?
Perawat masih terus bicara tanpa henti, "Tapi suamimu juga aneh. Setelah antar kamu, dia malah nerima telepon lalu pergi. Sampai sekarang belum bisa dihubungi."
"Mending kamu telepon suamimu deh, biaya rawat inapnya belum dibayar."
Aku terpaku sejenak, baru sadar kalau aku masih mengenakan piyama dan tidak membawa dompet maupun ponsel.