Bab 1

Saat pulang kerja, Paula, rekanku menghampiriku. Dia meminta tolong agar aku menggantikan shift malamnya.

Karena aku sudah punya rencana setelah pulang kerja, jadi aku menolak.

Saat sedang bertugas malam itu, dia ketahuan meninggalkan tempat kerja dan dipecat oleh perusahaan.

Paula mulai menyimpan dendam padaku. Ketika aku sedang hamil dan hampir melahirkan, dia mendorongku dari tangga.

“Aku bersusah payah untuk masuk ke perusahaan ini. Kalau bukan karenamu, aku nggak akan dipecat!”

“Jangan harap bisa hidup enak di atas penderitaanku!”

Akhirnya, aku mengalami pendarahan hebat dan meninggal bersama bayiku.

Namun, saat aku membuka mata, aku kembali ke hari di mana Paula memintaku untuk menggantikan shift malamnya.

Ternyata, alasan dia meninggalkan tempat kerja waktu itu adalah bertemu dengan suamiku diam-diam.

Melihat semua yang ada di sekelilingku, suasananya begitu familiar dan sekaligus terasa asing. Aku berjalan ke meja kerjaku dalam keadaan linglung. Aku masih tak percaya jika aku benar-benar kembali ke masa lalu.

Rasa sakit di rahimku mengingatkanku bahwa ini bukan mimpi. Tidak ada lagi genangan darah yang mengerikan di depanku, hanya pemandangan kantor tempat aku bekerja sehari-hari.

Aku masih larut dalam ingatan kematianku di kehidupan sebelumnya, tiba-tiba Paula sudah berdiri di depanku.

Aku melirik ponselku untuk melihat waktu. Aku tahu apa yang akan dikatakan Paula.

Saat itu sedang musim hujan, jadi pihak pusat mengharuskan semua instansi berjaga selama 24 jam. Tentu saja kantor kami ikut serta.

Namun, malam itu tim inspeksi pusat tiba-tiba datang untuk memeriksa.

Paula yang malam itu tidak ada di kantor karena sedang kencan, tertangkap basah dan langsung dipecat keesokan harinya.

Itu adalah kali pertamanya tim inspeksi pusat datang pada malam hari, jadi aku mengingatnya dengan jelas pada tanggal 25 Juli.

Setelah dipecat, Paula menyimpan dendam padaku. Dia menganggap bahwa semua ini terjadi karena aku tidak mau menggantikannya bekerja shift malam.

Ketika aku hampir melahirkan, dia datang ke rumahku dengan niat jahat. Dia membawaku ke tangga dan tanpa ragu mendorongku. Karena aku tidak membawa ponsel, suamiku baru menemukanku tujuh atau delapan jam kemudian saat dia pulang ke rumah.

Saat sampai di rumah sakit, aku sudah mengalami pendarahan hebat dan akhirnya kehilangan nyawa bersama bayiku.

Namun, Tuhan memberiku kesempatan kedua. Aku hidup kembali.

Aku hidup kembali ke saat semuanya belum terjadi.

Kali ini, aku tidak akan membiarkan diriku terjebak dalam bahaya.

Saat aku masih merenung, Paula sudah berdiri di hadapanku. Aku tidak akan membiarkan Paula berbicara lebih dulu untuk menggantikan giliran shift malam.

Jadi, aku langsung berkata, “Paula, aku mau minta bantuanmu.”

Paula menatapku dengan waspada dan menjawab, “Bantuan apa, Luna?”

“Paula, aku mau beli rumah. Pinjamkan empat ratus juta padaku. Aku tahu kamu pasti punya uang. Kamu pasti akan membantuku, ‘kan?!”

Ekspresi wajah Paula langsung berubah menjadi penuh warna.

Belum sempat dia bicara, aku langsung mengambil tas di meja dan sambil berjalan keluar, aku berkata, “Paula, kamu harus membantuku. Kamu tahu nomor rekeningku, ‘kan? Langsung saja transfer ke sana. Aku harus pergi ke rumah ibuku untuk meminjam uang lagi. Ibuku pasti marah dan nggak akan meminjamkanku, kalau aku terlambat.”

Dari belakang, aku mendengar suara Samuel, “Paula, siapa dia? Berani sekali meminjam empat ratus juta denganmu? Dasar gila! Jangan pedulikan dia.”

Samuel adalah pengikut setia Paula.

Saat sampai di rumah ibuku, aku terkejut melihat suamiku, Ferdi juga ada di sana. Melihat mereka berdua sibuk di dapur membuat mataku berkaca-kaca. Inilah kehidupan yang sesungguhnya.

Kali ini, aku tidak hanya akan membalas dendam pada orang-orang yang menyakitiku, tapi aku juga akan menjalani hidup dengan baik, sebagai penghormatan bagi diriku di kehidupan sebelumnya.

Keesokan harinya, suasana benar-benar heboh di kantor.

“Luna, kamu sudah tahu belum? Tadi malam, tim inspeksi pusat datang untuk memeriksa dan ternyata ada yang meninggalkan tempat kerja!” bisik Kak Novita, rekan kerjaku padaku.

Tiba-tiba, aku melihat Paula sedang menarik-narik lengan atasan kami di lorong. “Pak Philip, tolong jelaskan ke pihak pusat. Aku benar-benar pergi ke rumah sakit untuk berobat kemarin. Aku hanya meninggalkan kantor sebentar.”

Dengan perut buncitnya, Pak Philip menjawab dengan kesal, “Paula, kamu sudah dipecat. Nggak ada gunanya kamu menangis di sini. Lebih baik kamu pergi cari pekerjaan baru.”

Dari tempatku berdiri, aku melihat beberapa kepala rekan kerja mengintip dari tiap kantor. Memang, tidak ada yang lebih menarik daripada menonton drama di tempat kerja.

Bab 2

Paula yang marah besar, tak lagi menangis dan berkata, “Jangan lupa Pak Philip, aku yang memegang semua kerja sama dan rencana dengan Properti Sinda. Tanpa aku, kalian nggak punya apa-apa lagi.”

Oh iya, aku hampir lupa soal itu. Aku bergegas menuju Pak Philip dan berkata, “Pak Philip, Pak Ali meminta aku dan Paula menyelesaikan rencana penataan di Properti Sinda. Kebetulan rencana yang kususun baru selesai, coba kamu lihat dulu … “

Paula melotot padaku dengan marah, sementara aku hanya menatapnya dengan tatapan polos dan bertanya, “Paula, aku mendengar kalian sedang membicarakan soal rencana kerja sama Properti Sinda, jadi aku langsung ke sini. Apa ada yang salah?”

“Kamu … kamu … “

“Cepat pergi, Paula. Kalau ada keluhan, silahkan ajukan ke pihak pusat,” ujar Pak Philip dengan tegas, mengusir Paula.

Di mataku, sosok Pak Philip seketika terlihat gagah dan berwibawa. Benar-benar tak salah, Pak Philip memang juara dalam menendang orang!

“Semuanya kembali ke kantor masing-masing,” teriaknya dengan nada marah.

Semuanya tetap berjalan seperti yang seharusnya, hanya saja ada sedikit perubahan kali ini. Paula tidak punya alasan untuk menyalahkanku kali ini.

Pagi itu, setelah Paula dipecat, suasana hatiku benar-benar luar biasa senang. Namun, sore harinya, Paula kembali lagi ke kantor.

Aku sedang bergosip dengan Kak Novita. Kak Novita lebih dulu berbicara, “Orang seperti itu memang hanya merugikan kantor saja. Kerja nggak benar, bertugas jaga shift malam saja malah kabur. Siapa lagi yang akan dipecat, kalau bukan dia?”

Kak Novita memang tidak pernah suka dengan gaya Paula yang selalu menggoda. Dia sering bilang padaku, pacar Paula pasti bukan orang yang baik-baik. Mungkin saja Paula menjadi selingkuhan orang.

Saat kami sedang asik bergosip, tiba-tiba pintu kantor terbuka dengan keras. Paula masuk bersama beberapa polisi.

Paula menunjuk ke arahku sambil berkata, “Pak polisi, dia yang mencuri uang seratus jutaku!”

Kenapa di kehidupan ini Paula masih saja mencari masalah denganku? Dia bersikeras mengatakan bahwa dia menyimpan uang tunai di laci kantor dan aku adalah satu-satunya yang punya kesempatan mencurinya di pagi hari.

“Pak Polisi, pagi tadi dia sudah membereskan barang-barangnya untuk pergi, sedangkan rekan-rekan lainnya nggak mau berurusan dengannya dan pergi ke ruangan lain. Hanya aku yang masih banyak kerjaannya, aku harus mengerjakan laporan di meja kerjaku. Jadi, aku nggak mungkin mencuri uangnya.”

Meskipun sudah menjelaskan, aku tetap dibawa ke kantor polisi. Di perjalanan, aku menelepon Yesinta, sahabat masa kecilku yang juga seorang pengacara.

Begitu tiba di kantor polisi dan sedang membuat catatan kronologi, Yesinta juga sudah tiba.

Yesinta segera memeriksa rekaman CCTV kantor. Sepanjang hari itu aku memang tidak meninggalkan ruangan kantor. Rekaman di lorong menunjukkan aku tidak membawa apapun. Jadi, aku tidak mungkin memindahkan uang itu.

Jika memang aku yang mencuri, seharusnya uangnya masih di dalam ruangan kantor.

Dua polisi kembali ke kantor untuk memeriksa lagi. Mereka membongkar semuanya, tetapi tetap tidak menemukan uang tunai seratus juta milik Paula.

Yesinta lalu berkata kepada kedua polisi yang baru kembali, “Polisi nggak bisa hanya mendengar satu pihak saja. Dia melaporkan kehilangan uang, tapi bagaimana kalau ini hanya laporan palsu?”

Benar juga, kenapa aku tidak memikirkan itu dari tadi? Aku memberi jempol pada Yesinta.

Polisi kemudian menanyai Paula lagi, mengapa dia menyimpan begitu banyak uang tunai di kantor. Paula hanya mengatakan bahwa dirinya menarik uang itu dari rekening banknya.

“Kalau begitu tinggal periksa saja kapan dia menarik uang itu dan apakah benar dia membawa uang tersebut ke kantor Luna,” ujar Yesinta langsung.

“Baiklah, kami akan memeriksanya. Nona Luna, silakan tanda tangan di sini dan kamu bisa pulang,” ujar polisi.

Aku menatap Yesinta dan dia langsung mengerti. Jika ada drama, tentu saja kita harus jadi saksi pertama.

“Pak polisi, Paula telah mencemarkan nama baik Nona Luna. Nona Luna berhak mengetahui kebenaran dari masalah ini.”

Polisi tidak mempedulikan kami dan pergi ke bank untuk memeriksa catatan penarikan Paula. Aku dan Yesinta memesan banyak makanan di lobi kantor polisi dan sambil menunggu, kami makan dengan santai.

Sementara itu, Paula entah bersembunyi di ruangan mana.

Polisi bekerja dengan sangat baik. Setelah kembali, dia memberitahu kami mengenai kasusnya.

Polisi mencurigai bahwa kemungkinan uang tunai seratus juta itu tidak pernah ada. Catatan bank tidak menunjukkan adanya penarikan seratus juta yang dikatakan Paula.

Polisi sudah menginterogasi Paula secara terpisah. Tampaknya, uang tunai seratus juta itu hanyalah cara Paula untuk mencari masalah denganku.

Setelah merasa tidak ada artinya lagi tinggal di kantor polisi, aku dan Yesinta pun memutuskan untuk pulang.

Namun, bagaimana Paula akan menjelaskan soal uang seratus juta itu kepada polisi?

Apakah Paula benar-benar berbohong atau memang ada uangnya? Nanti akan kusuruh Yesinta untuk mencari tahu.

Yesinta adalah sahabat masa kecilku. Hanya saja, sejak menikah dengan Ferdi, aku jarang berhubungan lagi dengannya.

Pagi berikutnya, sebelum aku bangun, telepon dari Yesinta sudah masuk, “Luna, Luna, ternyata uang seratus juta Paula itu memang bukan ditarik dari rekening bank. Kamu tahu dari mana uang itu berasal?”

Yesinta masih sama seperti dulu, selalu suka membuat penasaran.

Aku menguap dan berkata, “Langsung katakan saja, jangan bertele-tele. Jangan-jangan dia hanya mengarang cerita?”

“Eh bukan, uang seratus juta itu memang ada, tapi … “

“Tapi apa?”

“Itu uang hasil dari prostitusi. Itu dari pacarnya yang bermalam bersama dia. Kalau bukan uang prostitusi, apa lagi?”

“Oh, satu lagi, mantan rekan kerjamu itu ternyata sudah menikah. Kamu pasti belum tahu.”

“Lalu uang seratus juta itu?”

“Sudah pasti bukan dari suaminya. Aku mendengarnya dari teman polisiku.”

Paula berniat menjebakku, tapi aku malah mengetahui rahasia besar miliknya. Saat aku sedang memikirkan cara untuk membalasnya, tiba-tiba ada kejadian aneh di rumah.

Saat mencuci baju suamiku, aku menemukan sebuah bukti penarikan uang dari saku celananya. Jumlahnya tepat seratus juta dan waktunya juga persis pada tanggal 25 Juli sore.

Sebuah jawaban yang aneh dan tidak jelas mulai terbentuk di benakku.

Aku merasa ada sesuatu yang selalu kuabaikan. Kenapa Paula selalu memintaku menggantikan shift malamnya?

Kenapa dia menyalahkanku atas pemecatannya?

Tiba-tiba sebuah pikiran yang membuat tubuhku merinding muncul.

Apakah mungkin pacar Paula itu sebenarnya adalah suamiku sendiri?

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B34237" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B34237
Salin

Rekan Kerjaku Selingkuhan Suamiku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya