Bab 1

Primadona sekolah akan menikah tepat di hari libur kemerdekaan.

Dia mengundang seluruh teman sekelas di grup kelas agar menghadiri pesta pernikahannya.

Awalnya, aku berniat pura-pura tidak melihat undangan itu, tapi ternyata dia langsung menyebut namaku.

"Clarisa, waktu SMA kamu selalu pura-pura jadi diriku, tapi aku nggak akan mempermasalahkannya. Aku harap kamu bisa datang untuk melihat pernikahan mewahku besok."

Segera setelah itu, beberapa teman sekelas ikut menanggapi pesannya.

"Primadona sekolah memang baik orangnya, pantas saja bisa menikah dengan anak dari Keluarga Wirawan. Dia bahkan bisa memaafkan orang sombong seperti Clarisa."

"Apa orang seperti Clarisa pantas, menghadiri pernikahan primadona sekolah kita yang akan diadakan di vila? Jadi orang jangan terlalu baik."

Mereka makin mengolok-olok Clarisa, hingga si primadona sekolah akhirnya muncul untuk menenangkan suasana.

"Sudahlah, itu kan sudah lama sekali, aku juga sudah nggak mempermasalahkannya. Lagipula, Clarisa kan memang miskin dan jelek, kita jangan terlalu mengejeknya."

Begitu dia berkata demikian, grup langsung dipenuhi pesan pujian. Orang-orang memuji betapa baik hati dan polosnya dia.

Aku tertawa sinis. Dulu, si primadona sekolah itu selalu memasang citra bak putri konglomerat di sekolah.

Dia bahkan memfitnahku, yang sebenarnya adalah putri keluarga konglomerat asli, sebagai seorang pembohong. Semua orang di sekolah sampai menghinaku.

Saat membuka undangan elektronik darinya, aku baru sadar bahwa alamat pernikahannya berlokasi di vila milik keluargaku.

Makin kuamati foto pengantin pria, makin aku merasa familier. Bukankah itu sopir suamiku?

Aku tersenyum begitu menyadarinya, lalu membalas pesan di grup.

"Baiklah, aku pasti akan datang di acara pernikahanmu."

"Astaga! Si sombong Clarisa benar-benar mau datang ke acara pesta pernikahan besok? Serius?"

"Masih ingat nggak, dulu dia pura-pura jadi Rosaline Gumelar, bahkan bilang kalau gedung sekolah kita itu sumbangan dari ayahnya? Dia sampai mengaku-ngaku jadi putri keluarga konglomerat? Orang sepertinya ternyata nggak malu kalau mau ketemu kita lagi?"

"Benar! Untung saja, waktu itu Rosa baik hati dan nggak mempermasalahkannya. Kalau aku jadi dia, pasti si Clarisa sudah kusuruh berlutut minta maaf, lalu pindah sekolah!"

....

Setelah aku bilang akan datang ke acara pernikahan Rosa, grup kelas kembali ramai dengan obrolan.

Semua orang di dalam grup itu kompak menyerangku, sama seperti saat SMA dulu. Mereka menganggapku gadis kampung yang pura-pura jadi putri keluarga kaya. Sedangkan Rosaline Gumelar, dianggap sebagai putri konglomerat yang sesungguhnya.

Dulu, karena aku selalu bersikap rendah hati, aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk belajar, dan mengabaikan penampilanku. Makanya, aku memang terlihat seperti gadis kampungan.

Sebaliknya, Rosa yang ceria dan menawan sangat paham soal cara kaum kelas atas berpenampilan. Semua orang jadi percaya kalau memang dialah putri keluarga konglomerat yang asli.

Alhasil, aku terus jadi bahan ejekan, sama seperti yang terjadi di grup sekarang.

Namun, aku penasaran, apakah besok mereka masih bisa bersikap sombong begini.

Aku tertawa saat memikirkannya.

Keesokan harinya, di vila.

Hari ini adalah hari pernikahan Rosa. Demi menunjukkan statusnya, dia benar-benar membuat acara pernikahannya terlihat mewah.

Vila yang sebelumnya kosong, kini sudah didekor dengan dekorasi megah

Aku hampir saja menelepon kepala pelayan untuk menanyakan apa yang terjadi. Vila yang ada di depanku benar-benar berubah total. Tapi kemudian aku melihat teman-teman setia Rosa, sedang mengerubunginya dan memujinya di aula.

"Rosa, pernikahanmu mewah sekali! Vilanya luar biasa besar! Gaun pengantinmu juga terlihat sangat mahal. Suamimu pasti kaya raya, ya?"

"Tentu saja! Suami Rosa kan Pak Adam dari Grup SH. Dia itu pria sempurna, dia kaya, tampan, dan penghasilannya mencapai miliaran setiap tahun!"

"Rosa dari kecil sudah jadi tuan putri, dan sekarang dia juga bisa menikah dengan pria idaman, kami jadi iri setengah mati."

Orang-orang itu terus memuji, membuat Rosa hampir melambung tinggi karena bangga.

Hanya saja, aku tidak ingat sejak kapan Grup SH milik suamiku, berganti nama jadi milik Keluarga Wirawan?

Aku jadi melangkah maju saat mendengarnya, sambil mengulas senyum mengejek di sudut bibir.

"Kalau suamimu memang sekaya itu, kenapa harus pinjam vila orang lain untuk mengadakan pesta pernikahan?"

Begitu aku mengucapkan kalimat barusan.

Semua orang, termasuk Rosa sendiri dan para sahabatnya, langsung menoleh ke arahku.

Begitu melihatku, ekspresi mereka langsung berubah. Mereka menyilangkan tangan di depan dada sambil mengejekku, "Clarisa! Kamu berani datang ke sini? Benar-benar muka tembok yang nggak tahu malu!"

"Vila ini jelas-jelas milik keluarga calon suami Rosa. Kamu malah bicara sinis seperti barusan. Kenapa? Iri, ya?"

"Dasar si sombong! Dari mana kamu dapat tas Hermes KW itu? Lihat saja logonya, jelas-jelas palsu. Kapan kamu bisa merubah kebiasaanmu yang suka pamer sejak kecil itu?"

Mereka terus mengejekku, ekspresi mereka sama persis seperti dulu.

Aku tertawa sinis dalam hati. Dulu, ayahku menyumbang dana untuk pembangunan beberapa gedung di sekolah.

Karena itulah, para guru sejak awal memutuskan untuk merekomendasikanku masuk ke universitas ternama seperti Universitas Bunga Harapan, atau Universitas Bintang. Apalagi, prestasiku memang terbilang luar biasa.

Namun, Rosa tiba-tiba muncul dan memfitnahku sudah pura-pura jadi dirinya.

Dia menangis sambil menunjukkan foto-foto vila keluargaku, termasuk kolam renang, bioskop pribadi, serta garasi berisi belasan mobil sport milik ayahku.

Bahkan, dia juga menunjukkan foto dirinya bersama ayahku sebagai "bukti nyata" untuk menjatuhkanku.

Begitu foto-foto itu tersebar, aku pun panen hujatan dari seluruh siswa di sekolah. Aku dicap sebagai pembohong besar, yang bahkan berani mengaku-ngaku sebagai putri seorang konglomerat.

Aku sampai batal mendapatkan surat rekomendasi untuk masuk ke dua universitas ternama di negeri ini.

Saat itu, aku hendak menelepon ayahku supaya datang ke sekolah dan menjelaskan semuanya. Tapi ayahku tiba-tiba mengalami serangan jantung dan harus segera dioperasi.

Demi menjaga kondisi kesehatan ayah, aku memutuskan untuk tidak memberitahunya tentang apa yang terjadi di sekolah.

Setelah itu, operasi ayahku berhasil. Aku juga menerima tawaran masuk dari sebuah universitas ternama di luar negeri.

Saat kuliah di luar negeri, aku bertemu dengan suamiku yang sekarang, Adrian Pramana.

Setelah menikah, kami berdua memutuskan untuk kembali ke negara asal kami.

Tapi siapa sangka, selama bertahun-tahun aku di luar negeri, Rosa terus memainkan dramanya. Dia sampai membuat keributan di vila keluargaku!

Aku melangkah maju, hendak mengungkapkan bahwa vila ini sebenarnya milik keluargaku. Tapi sebelum sempat mengatakan sesuatu, Rosa juga ikut maju dan menamparku dengan emosi.

"Clarisa, aku yang seharusnya menamparmu atas apa yang sudah kamu lakukan sepuluh tahun lalu! Aku pasti akan membalasmu sekarang!"

Bab 2

Aku sama sekali tidak menyangka Rosa akan berani menamparku.

Aku yang kaget pun sampai terjatuh ke samping. Pipiku memerah dan jadi bengkak, membuatku terlihat menyedihkan.

"Kamu berani menamparku?"

"Kenapa nggak? Waktu sekolah kamu sudah pura-pura jadi diriku, bahkan mengaku sebagai putri konglomerat. Sekarang, kamu juga mau menyebarkan kebohongan bahwa vila ini bukan milik calon suamiku! Kamu memang cari mati!"

Wajah Rosa memerah karena marah, ekspresinya berubah menyeramkan saat dia mendekatiku dengan gigi terkatup rapat.

"Kamu nggak tahu siapa suamiku sebenarnya? Dia itu Pak Adam, CEO dari Grup SH! Siapa kamu, berani-beraninya meragukan status suamiku?"

Begitu kalimat barusan terlontar dari mulutnya, beberapa sahabatnya segera memandangku dengan tatapan merendahkan.

"Dengar, nggak? Suami Rosa itu Pak Adam dari Grup SH! Perusahaan itu bernilai triliunan. Hanya seorang putri konglomerat seperti Rosa yang pantas menikah dengan keluarga kaya seperti itu. Nggak seperti dirimu, Clarisa, si miskin yang hobi berbohong!"

"Dasar perempuan nggak tahu malu! Clarisa, dulu waktu masih SMA, kamu juga pura-pura jadi Rosa, 'kan? Sekarang kamu juga mau menjelek-jelekkan dia di acara pernikahannya sendiri. Cepat berlutut dan minta maaf pada Rosa. Akui saja kalau kamu ini memang iri! Kalau nggak, jangan salahkan kami kalau akan bertindak tegas!"

"Buat apa buang-buang waktu mengobrol dengan perempuan murahan sepertinya! Dia sudah berani menyinggung calon istri Pak Adam dari Grup SH! Langsung saja kita bantu Rosa memberinya pelajaran!"

Usai berkata demikian, mereka langsung menyerangku.

Salah satu dari mereka menjambakku dengan kasar, lalu menamparku keras. Bekas telapak tangannya sampai terpampang jelas di pipiku.

Aku tertegun, tidak percaya dengan apa yang sedang kualami.

Tapi sepertinya mereka belum puas. Mereka mendorongku hingga terjatuh ke lantai, dan masih terus mencaci makiku sambil menendangiku. Mereka bahkan mulai merobek baju dan menarik tasku.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku, amarahku makin meluap hingga akhirnya berteriak keras.

"Hentikan! Vila ini memang milik keluargaku! Cepat pergi dari sini ...."

Mereka sempat kaget sejenak mendengar ucapanku, lalu tertawa terbahak-bahak. Kemudian mereka malah makin mengejekku.

"Ternyata penyakit suka bohong dan berpura-pura si Clarisa ini kambuh lagi. Kali ini bukan mengaku jadi putri konglomerat, malah mengaku sebagai pemilik vila ini!"

"Haha, konyol sekali! Bisa-bisanya ada orang yang nggak tahu malu begini! Dia terlalu sering bohong, makanya kata-kata barusan bisa terucap dengan mudah dari bibirnya!"

Rosa menatapku dengan tatapan merendahkan.

"Kamu memang pantas dapat pelajaran! Dulu waktu SMA, kamu juga pura-pura jadi diriku. Dulu aku masih baik hati dan nggak mau mempermasalahkannya, tapi sekarang kamu berani merusak pernikahanku? Karena sudah begini, jangan salahkan aku kalau aku nggak akan berbaik hati lagi!"

Usai mengatakan hal itu, Rosa langsung menyerangku. Dia mencakar wajah dan tubuhku dengan kuku-kuku panjangnya hingga kulitku berdarah.

Dia menarik perhiasan yang kupakai dan langsung melemparkannya ke tanah, menginjak-injaknya dengan kasar. Dia juga berani merobek pakaianku, membuatku hampir telanjang!

Aku marah hingga seluruh tubuhku gemetaran.

Aku segera mengeluarkan ponsel, hendak menelepon polisi. Tapi tiba-tiba Rosa menendang ponselku hingga terlempar jauh.

Aku menggertakkan gigi dan berkata dengan keras.

"Cukup! Vila ini memang milikku, kalau nggak percaya, kalian panggil saja penjaga vila untuk menunjukkan sertifikat vila ini!"

Mereka semua terdiam mendengar ucapanku ini.

Tiba-tiba, terdengar suara mobil dari luar, dan salah satu dari mereka berteriak.

"Rosa, penjaga vilanya datang!"

Raut wajah Rosa langsung berubah drastis, sementara aku menghela napas lega.

Akhirnya, ada seseorang yang bisa datang dan membuktikan identitasku!

Aku baru mau memanggil penjaga vila itu, tapi aku malah melihatnya langsung berjalan mendekati Rosa sambil tersenyum lebar, lalu menyerahkan kunci dengan hormat.

"Nona Rosa, hari ini Nona terlihat cantik sekali. Ini kunci dari Pak Adam."

Ekspresi wajah Rosa langsung semringah mendengarnya. Dia sengaja menunjuk ke arahku setelah menerima kunci tersebut.

"Penjaga, kamu datang tepat waktu. Ada orang gila yang bersikeras bilang kalau ini vila miliknya, coba jelaskan, sebenarnya vila ini milik siapa?"

"Omong kosong, vila ini jelas milik Pak Adam."

Penjaga itu tersenyum sopan dan seperti sedang menjilat pada Rosa.

Bab 3

Begitu mendengar ucapan penjaga barusan, orang-orang langsung menatapku dengan tatapan menghina. Beberapa dari mereka bahkan sampai meludah ke arahku.

Api amarah di dalam hatiku makin berkobar melihat sikap mereka. Aku tidak memedulikan wajahku yang sudah berdarah, sambil menggertakkan gigi, kutatap tajam penjaga itu.

"Aku nggak peduli siapa yang sudah menyuapmu demi menyebarkan kebohongan di sini. Tapi vila ini milik Keluarga Pramana, dan suamiku, Adrian Pramana lah pemilik sah vila ini!"

"Kalian malah berani asal masuk ke sini dan mengadakan pesta pernikahan di sini, bahkan sampai menyerangku? Suamiku pasti nggak akan memaafkan kalian semua begitu mendengar kabar ini!"

Rosa malah langsung tertawa terbahak-bahak usai mendengarku marah-marah.

"Hahaha! Istri Adrian Pramana? Siapa dia? Aku nggak pernah dengar namanya ... hahaha! Jangan-jangan ... dia itu pengemis pinggir jalan? Haha, benar juga, orang miskin sepertimu kan, pantasnya menikah dengan pengemis ...."

"Kamu sudah berani membuat onar di acara pernikahanku hari ini, merusak suasana hatiku saja. Sepertinya, aku harus memberimu pelajaran, kalau nggak, kamu nggak akan kapok. Sini kamu!"

Usai mendengar ucapan Rosa barusan, para sahabatnya langsung menyerbuku seperti orang gila.

Mereka merobek pakaianku, merebut tasku lalu mengguntingnya. Mereka bilang tasku itu tas palsu, dan sama sekali tidak mirip aslinya.

Para tamu yang mulai masuk pun ikut melihat kejadian ini, mereka mendekat untuk memfotoku.

Rosa takut nama baiknya sebagai calon istri dari Pak Adam akan tercoreng karena membiarkanku dianiaya. Dia pun menyuruh para sahabat setianya untuk menyeretku ke kamar mandi.

Mereka sama sekali tidak memedulikan teriakanku, dan langsung menenggelamkan kepalaku ke kloset.

Bau busuk dan air toilet membuatku tercekik dan hampir mati rasanya. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong Rosa yang ada di depanku, lalu berlari keluar dari kamar mandi. Aku kabur ke luar vila.

Rosa sendiri jatuh terjengkang ke lantai, tapi masih sempat berteriak keras.

"Cepat kejar! Tangkap perempuan rendahan itu, bawa dia kembali ke sini!"

Pakaianku sudah compang-camping, benar-benar memalukan.

Tapi mobilku masih terparkir di depan pintu vila. Aku hanya perlu berlari ke mobil, dan semuanya akan aman.

Karena meyakini hal itu, aku pun berlari ke mobil. Tapi aku malah lebih dulu tertangkap saat baru sampai di depan mobil.

Dan wajahku lagi-lagi ditampar.

"Dasar perempuan rendahan! Masih berani kabur, hah! Oh, kamu bawa mobil? Ayo kita lihat, mobil gadun mana yang dia pinjam ini?"

"Pantas saja tubuhmu sekarang jadi menggoda, ternyata kamu jadi peliharaan gadun, ya? Teman-teman, ayo kita rusak mobilnya!"

"Kamu bahkan dapat mobil BMW paling mahal. Sepertinya tubuhmu dihargai mahal, hm? Pantas kamu berani datang ke acara pernikahan Rosa dan membuat onar. Aku akan menghancurkan sumber penghasilanmu hari ini!"

Mereka mengambil batu di sekitar mereka, lalu menggoreskan batu itu ke tubuhku dengan kasar. Tubuhku kini sudah penuh luka goresan yang mengeluarkan darah, mulutku sedari tadi menjerit kesakitan.

Namun, mereka sama sekali belum puas melihatku menjerit dan memohon ampun.

Mereka malah berbalik dan mengambil batu besar untuk menghancurkan mobilku. Kaca mobilku pun pecah, dan mereka tidak lupa mengacak-acak barang yang ada di dalam mobil sambil mengumpat.

"Barang-barang yang dipakai pelacur ini lumayan mahal juga, ini kan syal edisi terbatas. Sepertinya, gadun yang memeliharanya kaya raya!"

"Ada banyak baju tidur seksi di bagasi, pasti semua itu dia pakai untuk menggoda gadun-gadun, bakar saja semuanya!"

"Wow! Rasanya puas sekali bisa membakar pelacur!"

Mereka mengatakannya sambil membuang semua barang-barangku, dan langsung menyalakan korek api untuk membakarnya.

Aku yang masih tergeletak penuh darah, bisa merasakan panas dari kobaran api di dekatku. Aku nyaris kehabisan napas karena kepulan asapnya.

Rosa terlihat sangat puas melihat semua ini. Dia menatap sahabat-sahabat yang ada di sekitarnya.

"Teman-teman, kalian memang yang paling setia kawan. Tenang saja, begitu aku resmi menikah dengan Adam Wirawan, aku pasti akan mengenalkan kalian pada beberapa manajer umum di Grup SH. Supaya kalian juga bisa merasakan kebahagiaan menjadi pasangan dari pria mapan!"

Teman-teman Rosa jadi makin bersemangat mendengarnya. Mereka mendekati Rosa dan menepuk punggung, serta mencolek pinggangnya. Bahkan ada yang nyaris saja mau berlutut sambil memanggil Rosa dengan sebutan permaisuri.

Kemudian, pengantin pria akhirnya datang bersama dengan rombongannya.

Adam keluar dari mobil, dia mengernyitkan kening dan hendak mendekati kobaran api.

"Ada apa ini? Kenapa bisa api di sini?"

Rosa segera mendekatinya.

"Nggak apa-apa, Sayang. Dia cuma seorang perempuan rendahan yang sombong, dan mau merusak acara pesta pernikahan kita. Tapi aku sudah memberinya pelajaran."

"Merusak pesta pernikahan kita?"

Adam juga jadi marah setelah mendengar ucapan Rosa barusan. Dia memeluk Rosa sambil mendengus.

"Aku jadi penasaran siapa yang sudah berani merusak acaraku!"

Usai berkata demikian, Adam pun berjalan ke arahku. Dia menjambakku hingga kepalaku mendongak menatapnya.

Wajahku sudah penuh darah dan hampir tidak bisa dikenali. Adam terlihat menatapku jijik, dan hendak melemparkanku ke samping. Tapi kemudian dia sadar siapa diriku, membuat raut wajahnya langsung berubah kaget.

"Nyonya ... Clarisa? Kenapa kamu bisa ada di sini?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B50008" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B50008
Salin

Ratu Drama

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya