Bab 1
Aku adalah seorang wanita yang baru saja menikah. Aku akui, gairahku memang cukup tinggi, sentuhan sedikit saja bisa langsung membuatku terangsang. Tapi, aku bersumpah, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk tidur dengan adik iparku ….
“Jangan … jangan … terlalu dalam ….”
Tengah malam, aku yang telanjang bulat ditekan paksa ke ranjang oleh seorang pria. Wajahku tertelungkup ke bantal dan dari mulutku keluar erangan tak beraturan.
Dia mencengkeram pinggang rampingku dengan tangan besarnya, mengerahkan seluruh tenaganya ke tubuhku, lalu berkata, “Angkat sedikit!”
Aku adalah seorang wanita yang baru saja menikah.
Aku akui, gairahku memang sangat tinggi, sedikit sentuhan saja bisa langsung membuatku terangsang.
Namun, aku bersumpah, aku benar-benar tidak berniat untuk tidur dengan adik iparku sendiri.
Hari itu, seperti biasa aku pulang ke rumah dan mendapati pintu kamar dalam keadaan setengah terbuka.
“Suamiku nggak lembur hari ini?”
Aku merasa senang, lalu perlahan mendorong pintu kamar. Di dalam, terlihat seorang pria bertubuh tinggi besar berbaring membelakangiku di atas ranjang, terdengar suara dengkuran pelan darinya.
Sudah seminggu kami tidak berhubungan dan aku pikir … akhirnya malam ini kami akan melakukannya lagi!
Dengan perasaan senang, aku masuk ke kamar mandi, melepaskan setelan kerja dan stoking hitam, lalu melepas pakaian dalam. Aku membersihkan tubuhku secepat mungkin.
Bukan untuk menyombongkan diri, tapi sejak remaja, aku sudah sering disebut sebagai primadona oleh para pria. Aku memang tak pernah kekurangan orang yang mengejarku.
Dengan penampilan dan bentuk tubuhku, sebenarnya aku bisa saja menikah dengan anak orang kaya. Tapi, setelah lulus kuliah, aku tetap memilih untuk menikah dengan pria dari keluarga biasa, yaitu suamiku sekarang.
Hanya karena harta karunnya berukuran 20 cm.
Selama malam pertama, dia tidak hanya mempermainkanku secara menyeluruh, tetapi juga sepenuhnya memuaskan hasratku untuk ditaklukan oleh seorang pria.
Sambil membayangkan kebahagiaan itu, aku mengoleskan minyak wangi ke buah dada dan bokong yang paling disukai suamiku. Dengan sedikit cubitanku, sudah ada jejak-jejak lembab di bagian sana.
“Hm ….”
Setelah memejamkan mata dan menikmatinya sejenak, aku menarik kembali tanganku. Suamiku yang bersemangat berada tepat di sampingku dan aku tidak ingin memuaskan diri dengan masturbasi.
Setelah mengeringkan tubuhku, aku naik ke ranjang, kemudian memeluk suamiku dari belakang. Aku melingkarkan kakiku di pinggangnya dan menggunakan payudaraku yang lembut untuk menggosok punggungnya.
“Sayang, si genit sudah datang ….”
Sambil mengerang di telinga suamiku, aku mengulurkan tangan ke sepanjang otot perutnya dan dengan tepat menggenggam harta karun yang bagaikan mimpi itu.
Benda itu langsung bereaksi hebat dan langsung menegang.
“Sayang … kok harta karunmu bisa tumbuh lagi? Apa karena sudah menahan terlalu lama?”
Aku agak terkejut karena benda di tanganku ternyata lebih besar dari biasanya, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Pikiranku dipenuhi dengan olahraga intens yang akan terjadi nanti.
Suamiku sungguh hebat hari ini, dia pasti akan memuaskanku sampai meminta ampun.
Namun, saat aku tak mampu lagi menahan hasrat dalam hatiku dan bersiap membalikkan badannya, serta duduk di atasnya, lelaki itu pun berbicara,
“Kak, jangan … jangan pegang lagi ….”
Seketika, tubuhku membeku. Aku sempat ragu, mungkinkah diriku salah dengar, “Alfred?”
“Iya … aku ….”
Adik iparku berbalik, menatap payudaraku yang putih dan terpampang. Terlihat jelas dia menelan ludahnya.
“Aaaa ….”
Hingga benda yang ada di tanganku ini kembali membesar dan berdenyut beberapa kali, baru aku ingat kalau aku masih memegang milik Alfred.
“Kok kamu di sini?”
Aku terkejut dan buru-buru menarik tanganku, menutupi dada dan bagian bawah. Dengan rasa malu dan panik, aku berteriak,
“Maa … maaf, aku baru datang … sprei kamar tidur tamu sudah disimpan, jadi aku pikir mau cari di kamar utama, eh malah tertidur ….”
Alfred juga bingung, tiba-tiba keluar dari selimut, memegang tanganku dan langsung meminta maaf berkali-kali.
Namun, akibat tindakannya itu, bukan hanya aku yang benar-benar telanjang, dia juga memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan tegap secara utuh. Hampir seketika, sebuah pemandangan besar yang mengejutkan langsung terlihat jelas di depanku, terpapar sekitar sepuluh sentimeter di depan wajahku.
Bab 2
Aku langsung membelalakkan mata, terpaku menatap pemandangan mengerikan yang seakan-akan sedang memperlihatkan kekuasaannya.
Pikiran pertama yang terlihat dalam kepalaku, ini … ini ukuran manusia?
Meski aku tidak banyak pengalaman dalam hal itu, tapi sebagai seorang wanita yang sudah menikah, bisa dibilang aku cukup berpengalaman. Tapi, milik adik iparku bahkan lebih besar dari milik orang barat. Benar-benar mengagetkanku.
Milik suamiku saja sudah tergolong besar, tapi milik Alfred ini … bahkan lebih besar sepertiga lagi.
Jika sampai ditindih pria segarang ini, sambil ditampar bokong, dimainkan begitu … rasanya pasti bakal kehabisan tenaga, ya?
Begitu pikiran itu muncul, aku sendiri langsung terkejut.
Cepat-cepat aku memalingkan wajah dan dengan suara gemetar, aku berkata, “Cepat … pakai bajumu ….”
“Oh … iya ….”
Alfred buru-buru berlari ke samping ranjang, kalang kabut mencari pakaiannya.
Namun, tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara kunci diputar dari luar pintu, “Sayang, aku sudah pulang ….”
Itu suamiku!
Suara itu seakan menyambar seperti petir, membuatku panik bukan main. Aku bahkan tak berani membayangkan kalau suamiku melihat aku dan adiknya telanjang di atas ranjang, apa yang bakal terjadi?
“Aku keluar dulu ….”
Alfred kaget setengah mati, memeluk bajunya dan langsung bersiap kabur keluar kamar.
Melihat tingkahnya, rasanya ini bukan pertama kalinya dia ketahuan sellingkuh di ranjang.
Di saat genting seperti ini, justru aku malah lebih tenang. Tak sempat lagi memikirkan tubuhku yang sama sekali tak tertutup apapun, aku langsung menarik Alfred. Lalu membuka lemari pakaian dan mendorongnya masuk ke dalam, “Nggak sempat lagi, kamu sembunyi dulu.”
Setelah memastikan dia bersembunyi dengan baik, aku buru-buru naik ke ranjang sambil menarik selimut menutupi tubuh.
Baru saja aku masuk ke dalam selimut, pintu kamar pun terdengar terbuka dan suamiku pun masuk ke dalam.
“Sayang, kok cepat sekali tidurnya?”
“Aku menunggumu sampai ketiduran ….”
“Di mana adikku? Tadi dia telepon, katanya sudah sampai ….” tanya suamiku tanpa rasa curiga.
“Aku nggak lihat ….”
Begitu melihat dia berdiri di depan lemari, jantungku langsung mencelos. Untuk mengalihkan perhatiannya, aku duduk sambil membiarkan sebagian besar tubuhku terlihat, lalu menyelipkan lengannya di antara belah dadaku, “Sayang, kita sudah lama nggak ….”
Suamiku pun langsung menanggapinya, tangannya meremas-remas dadaku, tekanannya semakin kuat, “Kok telanjang begini, lagi pengen, ya?”
“Iya ….”
Sentuhan di dadaku membuatku mendesah, tubuhku pun tak tahan ingin segera ditindih olehnya.
Namun, dibalik sedikit sisa akalku, aku masih sadar. Alfred masih bersembunyi di dalam lemari dan mungkin bisa melihatku dari celah pintu … melihatku yang sekarang begitu menggoda.
“Jangan buru-buru, kamu … mandi dulu ….”
Aku mencoba mengatur napas, merayu suamiku agar masuk ke kamar mandi, supaya aku bisa mengeluarkan orang yang bersembunyi di lemari.
Namun, tubuhku justru bergerak sendiri, mengikuti sentuhan suamiku. Aku pun berbaring di atas ranjang, sambil membuka kaki, mempermudah dia menjelajah lebih jauh.
“Sudah basah sekali, masih pura-pura ….”
Suamiku tertawa kecil, lalu tangannya meluncur turun, melewati perutku, berhenti di antara kedua kakiku.
“Cepat … aku sudah pengen sekali ….”
Seketika, sisa-sisa kesadaran dalam pikiranku pun melayang. Kakiku tak bisa lagi menahan diri, tubuhku terangkat dan dadaku terjulur ke depan, menantikan lebih banyak sentuhan.
Namun, suamiku malah tak memberikannya padaku.
Dia membuka lebar kedua kakiku, mengusik hasratku sedikit demi sedikit, “Mohon padaku.”
“Ku … mohon ….”
“Mau apa?”
“Mau kamu … memuaskanku ….”
Mungkin suamiku puas dengan jawabanku atau mungkin menurutnya saatnya sudah tepat, dia pun menindih tubuhku sepenuhnya.
Namun, di saat krusial itu, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang nyaring dari celana suamiku yang tergeletak di lantai.
Bab 3
“Jangan pedulikan itu … ayo cepat ….”
Aku melingkarkan kakiku di pinggang suamiku, berusaha mencegahnya mengambil ponsel.
Namun, gagal.
Dia menjawab telepon dan setelah bicara beberapa kalimat, suamiku malah mengenakan celananya lagi.
“Sayang, ada klien penting yang tiba-tiba datang. Aku harus pergi menemui mereka. Kamu … cari timun dulu buat main sendiri, ya.”
Melihat sosoknya yang pergi terburu-buru, hatiku diliputi rasa kecewa yang sulit dijelaskan.
Pria ini bahkan sudah menggodaku dan membuatku penuh hasrat, bahkan belum sempat mencicipinya sedikit, sudah ditinggal begitu saja?
Percuma cantik dan menarik, kalau nggak dipakai.
Aku menghela napas panjang, mengenakan kembali daster dan membuka pintu lemari.
Dan dari sana, aku melihat Alfred sedang mendongak, wajahnya tertutup salah satu bra milikku dan harta karunnya dibungkus dengan celana dalam model thong yang sedang dipakai buat memuaskan dirinya sendiri.
Aku langsung malu sekaligus marah, segera merebut thong dari tangannya, “Apa yang kamu lakukan?”
Barulah Alfred seperti sadar dari lamunannya, buru-buru menarik bra dari wajahnya, celananya pun masih belum dipakai dengan benar. Dia keluar dari lemari dengan sangat berantakan.
“Kak, aku … aku ….”
“Cepat balik ke kamarmu!”
Aku melirik sekilas ke arah bagian tubuhnya yang bergerak-gerak, lalu buru-buru membalikkan badan sambil menghentakkan kaki. Wajahku langsung memerah, terasa panas seperti terbakar.
“Ah, iya ….”
Setelah Alfred keluar, aku langsung melompat ke ranjang seperti melarikan diri, membungkus diriku rapat-rapat dengan selimut.
“Lupakan … lupakan … lupakan semuanya ….”
Aku berteriak dalam hati, memaksa diri untuk tidak lagi memikirkan harta karun milik adik iparku itu.
Namun, aku benar-benar tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.
Begitu memejamkan mata, yang terlintas adalah itu.
Begitu membuka mata, yang terpikir tetap itu juga.
Perasaan ini membuatku malu, tapi juga anehnya terasa menantang.
Terlebih lagi, sebelum suamiku pulang, aku bahkan sempat mengukur ukurannya dengan tanganku sendiri.
Mengingat kembali ciri khas harta karunnya yang nyaris tidak seperti milik manusia, aku sambil mengenang sensasinya tadi, ikut mengukurnya di atas perutku.
“Ter … ternyata sampai sini ….”
“Kalau sampai masuk … apa nggak bakal rusak dibuatnya ….”
Aku tak bisa menahan diri untuk berfantasi, seluruh kulitku terasa panas, gatal dan sensitif, sampai-sampai aku spontan melepaskan daster dan menelanjangkan diriku.
“Wu ….”
Aku mencengkeram bantal dengan erat dan berguling di atas ranjang, satu tangan mengusap payudara dengan keras dan tangan yang lain meraih di antara kedua kakiku.
‘Sungguh ingin bercinta dengan adik ipar’ dan ‘benar-benar ingin bercinta dengan lelaki kuar seperti adik ipar’ dua pikiran itu terus terlintas di pikiranku bersamaan.
Sejak pertama kali aku kehilangan keperawanan, inilah pertama kalinya aku begitu menginginkan seorang pria.
Namun, aku sama sekali tidak menyangka. Saat aku hampir tidak bisa menahan diri karena hasrat yang membara, ingin segera keluar dari kamar dan langsung menyerbu Alfred dan langsung menyelaminya.
Ternyata dia seolah-olah mendengar suara hariku dan membuka pintu kamar tidur.
Barulah saat itu aku sadar, kalau aku lupa menutup pintu dan semua yang kulakukan tadi, semuanya dilihat dengan jelas dari ruang tamu.
Seketika, pikiranku kosong dan aku hanya bisa melihatnya dengan telanjang melangkah menuju ke arahku.
“Kamu … kamu mau apain?”
“Menghabiskanmu!”
Dia tampak seperti orang yang berbeda. Dia mencengkeram kedua kakiku dan menarikku ke bawah, menaruh bokongku di tepi ranjang. Dia berpose dengan pose memalukan dengan bokongnya menghadap ke atas, kemudian mengusap-usap kelembutanku dengan senjatanya.
“Aaa ….”
Tubuhku langsung gemetar. Ini adalah posisi yang sering aku dan suamiku lakukan dan bisa langsung membuatku terangsang.
Namun kali ini, yang mengendalikannya berganti dari suamiku menjadi adik iparku.
Dibandingkan dengan suamiku, Alferd lebih kuat dan lebih berkuasa, lebih ganas dan agresif dalam gerakannya, rasa penaklukannya juga lebih kuat.
“Habiskan aku ….”
Setelah beberapa kali pukulan, aku sudah tidak tahan lagi. Aku berinisiatif meraih tangan pria itu dan menaruhnya di payudaraku, meremasnya kuat-kuat, mengerang tanpa malu, memutar pinggang dan pinggul untuk mengejar sedikit kenikmatan itu ….