Bab 2

Air dingin membasahi wajahku ternyata tetap nggak bisa bikin aku tenang. Begitu tutup mata, bayangan Cindy yang diperlakukan seperti boneka oleh tiga pria itu langsung muncul lagi.

‘Gila, serem banget!’

Anak-anak zaman sekarang benar-benar liar. Nggak cuma rela panggil orang "Tuan", tapi juga tahan dilayani bergiliran rame-rame seperti itu. Apa dia bisa tahan?

Apalagi di foto tadi sepertinya ada yang sengaja ambil gambar. Apa mungkin itu si "Tuan" yang disebut-sebut?

Kalau bukan karena mataku sendiri yang lihat, aku nggak bakal percaya kalau foto vulgar dan kontrak aneh itu ada hubungannya dengan Cindy, si gadis polos bak malaikat di data profilnya. Bener-bener seperti dua orang yang beda dunia.

Tok! Tok! Tiba-tiba, ketukan pintu dan suara asistenku memotong lamunanku.

"Elisa, sudah siap belum? Kita mau ketemu korban dugaan lainnya ini." Suara asistenku dari balik pintu menyadarkanku dari lamunanku.

"Siap, siap!" jawabku cepat sambil lihat jam, terus langsung keluar dari kamar mandi.

Selain Cindy, bulan lalu juga sempat ada guru tari, namanya Bu Dika Rahmat yang hilang beberapa hari juga. Baru nikah, cantik, tubuhnya juga indah.

Tapi beberapa hari setelah dilaporin hilang, dia tiba-tiba ditemukan telanjang di lorong belakang sekolah, dibuang gitu saja sama cowok bertopeng.

Begitu sadar, dia buru-buru cari apa saja untuk tutupin badannya.

Tapi, ya... apa boleh buat? Warga sudah mengambil fotonya, dan dia langsung viral secepat kilat di forum lokal.

Ditambah lagi ada orang iseng yang gabungkan foto itu dengan gambar lain yang entah benar atau nggak, lalu disebarkan ke internet, makin memperkeruh suasana.

Dari situlah muncul gosip tentang "monster bertopeng".

Anehnya, waktu Bu Dika dan keluarganya ke kantor polisi untuk cabut laporan, dia malah bilang dia nggak diculik, katanya cuma jalan-jalan naik gunung lalu nyasar tiga hari. Sementara foto-foto di internet juga bukan dia.

Sekarang, di kantor Wakil Kepala Sekolah, aku duduk berhadapan langsung sama Bu Dika. Ada dua polisi yang juga ikut temenin buat ambil keterangan.

"Bu Dika, santai aja ya. Kami cuma mau tahu lebih jelas tentang hilangnya Ibu bulan lalu," kata salah satu polisi sambil senyum kecil.

Dika yang awalnya sedang menuangkan teh untuk kami dengan tenang, saat dengar itu langsung kaku seperti patung.

"Soal... naik gunung itu, ya?" katanya sambil nyengir kaku. "Bukannya kasusnya sudah ditutup?"

"Saat naik gunung itu kamu pergi sama siapa?" tanya si polisi dengan muka datar tapi matanya tajam, seperti mau tembus kebohongan.

"Ee... iya, sendirian..." jawab Dika, matanya gelisah nggak berani menatap balik.

Aku dan para polisi langsung saling pandang. Kami tentu tahu jelas dia bohong.

Satu polisi lain tersenyum dan menenangkan, "Bu Dika, jangan takut. Kalau ada yang ancam, kami yang bantu. Ini nomor HP saya, hubungi kapan aja."

"Di negara ini, nggak ada tuh penjahat yang bisa seenaknya ancam polisi, apalagi lolos dari hukuman!"

Kelihatan banget Dika mulai goyah.

Meski aku nggak pernah jadi polisi, tapi aku tahu ini saat penting. Aku langsung sodorin HP-ku yang ada data tentang Cindy. "Bu Dika, gini, ada satu murid Anda yang juga hilang. Namanya Cindy..."

"Kalau kita diam saja, bakal lebih banyak korban lain..." tambahku, makin meyakinkan.

Akhirnya Dika menghela napas panjang, matanya tampak penuh tekad.

"Oke... aku ngaku," katanya dengan mata yang nggak lepas dari foto Cindy di HP-ku.

"Bulan lalu, aku habis ikut acara kantor, minum sedikit. Saat mau pulang dan lewat gang belakang sekolah, aku merasa mau pipis... Jadi aku cari sudut gelap buat buang air kecil."

Dika sempat kelihatan malu banget saat cerita ini. "Saat baru saja angkat rok... tiba-tiba ada orang dari belakang bekap aku pakai kain, terus tutup seluruh badan aku dengan kantong hitam. Aku diangkat begitu saja."

"Lalu? Setelah itu gimana?" Aku makin penasaran, nahan napas tunggu lanjutannya.

Bab 3

"Lalu dia bawa aku ke ruang bawah tanah... terus kurung aku di sana..." Dika kelihatan tidak nyaman untuk lanjut ceritanya.

Sebagai sesama perempuan dewasa, aku jelas ngerti lah ya, kalau cowok bawa cewek secantik Dika ke ruang bawah tanah, pasti ada maunya.

"Dia seret kamu ke sana seberapa lama?" tanyaku penasaran.

"Kurang lebih setengah jam," jawab Dika sambil garuk-garuk kepala.

"Setengah jam? Lama banget." Polisi yang dari tadi tersenyum langsung kelihatan kaget.

"Iya... orangnya tinggi, besar, berotot, dan tenaganya gila-gilaan kuat," kata Dika sambil wajahnya makin merah, bahkan kakinya tanpa sadar jadi merapat.

Aku yang lihat jelas ekspresinya, tanpa sadar malah kebayang Cindy waktu dijepit beberapa cowok...

Aduh, buru-buru aku tepuk pipi sendiri buat ngusir pikiran aneh itu. "Orangnya seperti apa sih?" tanyaku lagi untuk alihkan pikiranku.

"Aku nggak tahu... Mereka selalu pakai penutup kepala. Tiap muncul, aku disiksa lama banget... Kadang malah dua orang sekaligus..." Dika menjawab dengan suara kecil.

"Disiksa... di ruangan tertutup?" gumamku.

Polisi yang mukanya datar itu langsung nyeletuk, "Pakai kondom nggak?"

Pertanyaan blak-blakan itu bikin Dika makin gelisah. Mukanya merah banget, dia pun pelan-pelan jawab, "T-tidak... katanya mereka lebih suka ngerasain kulit ketemu kulit... Sungguh mesum."

Melihat wajah Dika yang malu-malu marah gitu, pikiranku lagi-lagi malah melayang liar.

"Mereka? Jadi benar dong, monster bertopeng itu bukan cuma satu orang!" Polisi satunya langsung tangkap poin penting itu.

Aku sendiri cuma bisa bengong. Dari ekspresi Dika yang marah-malu itu, aku malah makin penasaran.

‘Kenapa ya, pas alami kejadian sejahat itu, Dika sama Cindy malah seperti... ya ampun, malah terlihat menikmati?’

‘Apa mungkin rasanya memang beda?’

Aku kebayang lagi Cindy yang dipegangi beberapa laki-laki, matanya kosong, tapi tubuhnya malah menggeliat tanpa sadar.... Rasanya malu banget, sampai seluruh badanku merinding.

‘Kalau dipikir-pikir, bahkan pelacur saja belum tentu bisa terima banyak ‘tamu’ sekaligus seperti itu...’

Entah berapa lama aku memikirkannya, tubuhku makin melunak. Aku bahkan hampir tidak bisa duduk dengan baik.

Pada saat ini, kedua polisi itu berdiri, "Bu Dika, terima kasih atas kerja samanya. Kalau ada informasi tambahan, langsung hubungi kami, ya."

Aku langsung ikut bangun, buru-buru keluar bareng mereka.

Begitu keluar dari Akademi Tari, aku tolak tawaran kameramen dan asistennya buat antarin pulang. Aku malah pilih jalan sendirian ke lorong belakang sekolah.

Menurut ceritanya Dika, dia diculik di sini, di gang kecil ini.

Cindy yang hilang juga kemungkinan besar kejadiannya di sekitar sini.

Kenapa ya, dua korban cantik itu semuanya dari Akademi Tari?

Apa mungkin ada kaitannya?

Saat aku sedang berpikir sambil meneliti, tiba-tiba ada suara langkah kaki berat mendekat cepat ke arahku.

Dug, dug, dug!

Belum sempat aku bereaksi, tangan besar dan kuat tiba-tiba membekap mulutku dari belakang. "Jangan gerak."

Ada aroma manis yang aneh tercium. Dengan suara pelan, aku berkata, “Gawat...” Setelah itu, kesadaranku mulai memudar.

"Kamu... kamu..."

Aku berusaha ngomong, tapi belum sempat, aku sudah pingsan.

Entah berapa lama kemudian, aku mulai sadarkan diri. Aku pun menyadari tubuhku rebahan di matras empuk... Aku telanjang bulat, tangan diikat ke belakang, dan posisi tubuhku dibuat ngetungging, pinggul diangkat tinggi-tinggi.

Aku berusaha bangkit, tapi efek obat itu bikin aku lemas, suaraku nggak keluar, malah liur keluar begitu saja dari sudut bibir sampai ke dada.

Dan saat itu juga... aku melihat pemandangan paling cabul dan paling memalukan sepanjang hidupku...

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B91253" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B91253
Salin

Rahasia Kasus Kehilangan Cewek Cantik

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya