Bab 1

Larut malam, aku terbangun karena sebuah pesan yang masuk ke ponselku.

Sahabatku mengirimkan sebuah video. Wanita dalam video itu mengenakan gaun tipis yang ketat, melenggokkan pinggulnya dengan anggun, sesekali sedikit membungkuk.

Samar-samar terlihat warna ungu dari balik gaunnya.

Melihat itu, pikiranku langsung melayang-layang.

Hingga diriku melihat celana dalam yang persis di pakai oleh pacarku.

Larut malam, sahabatku mengirimkan sebuah video.

Video seperti ini sudah sering kulihat, tapi yang sekeren ini baru kali ini.

Entah kenapa, orang di dalam video itu terasa agak familiar.

Aku tertawa kecil, pasti hanya berhalusinasi saja.

"Bro, kamu dapat dari mana video sekeren ini?"

Aku tak tahan dan langsung menelepon Peter, sahabatku.

Peter tertawa kecil dan menjawab, "Masih nggak sekeren pacarmu!"

Mendengar itu, aku tersenyum pahit.

Benar, Grace, pacarku memang punya wajah yang manis dan polos, tapi tubuhnya juga luar biasa. Dia dan sahabat dekatnya yang juga bunga kampus dijuluki 'dua dewi fakultas bahasa'.

Pacarku punya julukan 'malaikat dingin'.

Sedangkan sahabatnya, Intan disebut 'iblis penggoda'.

Sebelum pacarku jadi streamer, dia selalu menghabiskan malam bersamaku.

Namun, sejak menjadi streamer, dia selalu bilang capek dan ngantuk setelah pulang kerja.

Sudah dua atau tiga bulan ini kami bahkan jarang tidur sekamar.

Hal itu membuat aku merasa kesal setiap kali melihat Intan.

Karena aku tahu, semua perubahan pacarku itu gara-gara wanita itu.

Dia terus pamer tas-tas mewah di depan Grace sambil mengoceh perempuan harus mandiri secara finansial dan berbagai omong kosong motivasi lainnya.

Hasilnya, Grace seperti mendapat suntikan semangat. Dia terus-terusan sibuk ke kantor agensi streamingnya.

Katanya, dia ingin bekerja keras mencari uang dan menjadi wanita mandiri!

Aku sudah bilang, tidak mau dia terlalu capek. Aku bisa menafkahinya.

Namun, dia tetap keras kepala dan tidak mau mendengar.

Setelah menutup telepon dari Peter, aku menatap link yang dia kirim cukup lama.

Katanya, video tadi diambil dari situs ini.

Peter juga bilang, ada hiburan tak terduga di sana.

Dan ... bukan hanya bisa menonton loh ...

Mengingat orang di video itu, pikiranku mulai liar tak terkendali.

Ditinggal pacar terlalu lama, hatiku mulai goyah.

Tiba-tiba, aku menampar wajahku sendiri dengan keras, memaksa diriku untuk sadar.

Aku akui, aku bukan pria yang sempurna.

Namun, aku tak boleh melakukan sesuatu yang mengkhianati pacarku.

Bagaimanapun juga ... aku pernah melakukan kesalahan besar sekali dan aku tak ingin mengulanginya lagi ...

Sambil memikirkan itu, rasa bersalah muncul di hati. Aku masuk ke kamar mandi dan mengisi penuh bak mandi dengan air hangat, agar Grace bisa berendam dengan nyaman begitu pulang.

Saat air hampir penuh, aku mendengar suara pintu terbuka. Secara reflek, aku melirik jam.

Jam 12 malam.

Aku menghela napas, hari ini termasuk cepat. Biasanya, sebelum jam 2 atau 3 pagi, aku bahkan tak melihat batang hidungnya.

Aku mematikan keran, keluar dari kamar mandi dan melihat Grace berdiri di depan pintu.

Bab 2

Gaun hitam panjang yang dikenakan membuat kulit putih mulusnya semakin menonjol. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang mempertegas wajahnya yang terlihat begitu polos. Namun, rona merah samar di pipinya memberikan pesona yang tak bisa lepas dari pandangan.

Akhir-akhir ini, dia seperti kehilangan aura polos seorang gadis muda dan mulai memancarkan daya tarik wanita dewasa.

Matanya sedikit memerah dan pandangannya yang berbinar-binar tertuju padaku.

Seketika, tubuhku membeku.

Aku memaksa diri untuk tidak berpikir macam-macam. Dengan cepat, aku melangkah mendekat dan mengambil tas dari tangannya.

Aku langsung mengernyit begitu tas itu berpindah ke tanganku, karena aku mencium aroma samar alkohol dari tas itu.

"Kamu habis minum?"

Tanyaku dengan sedikit kerutan di dahi, merasa agak tidak senang.

Aku teringat dua bulan lalu, saat reuni teman sekolah, beberapa teman lama mencoba membujuk Grace untuk minum, tetapi dia menolak, mengatakan bahwa dirinya alergi alkohol.

Sejak itu, aku baru tahu dia tidak bisa minum alkohol. Bahkan, aku langsung membuang semua minuman beralkohol yang teman-temanku berikan.

Grace terdiam sejenak, lalu memeluk lenganku dan menjelaskan bahwa tadi malam ada acara di kantor. Bau alkohol itu menempel padanya saat dia mengantar rekan kerja pulang.

"Kamu kan tahu, aku alergi alkohol."

Kulit halusnya menyentuh lenganku, jakunku bergerak naik turun.

Dengan suara yang agak serak, aku menjawab, "Baguslah kalau kamu nggak minum. Aku sudah siapkan air mandinya, cepat mandilah."

Usai aku bicara, Grace berjinjit dan mencium pipiku, lalu berlari kecil menuju kamar.

Ciuman itu membuatku berdebar. Aku langsung menarik tangannya sebelum dia masuk ke kamar.

"Grace, kita ... "

Belum selesai aku bicara, Grace memotongku dengan wajah memelas dan berkata bahwa dirinya lelah, mau istirahat lebih awal.

Aku menghela napas kecewa dan perlahan melepaskan tangannya.

Keesokan paginya, setelah sarapan, dia mengenakan pakaian dengan sedikit lamban. Sebelum pergi, dia berkata padaku,

"Nelson, kalau kamu begitu mau, kita bisa bermain besok."

Mendengar itu, semangatku langsung bangkit. Semua ketidakpuasan semalam lenyap begitu saja.

Dengan senyuman nakal, aku menjawab, "Kalau begitu, kamu harus istirahat yang banyak ya siang ini."

"Ah, kamu ini~"

Aku mengantarnya pergi dengan hati riang. Sambil bersiul, aku masuk ke kamar mandi untuk mandi.

Namun, aku langsung membeku saat mataku tertuju pada tumpukan baju kotor di keranjang ...

Bukannya itu ...

Celana dalam berwarna ungu dari video yang dikirim oleh Peter?!

Sekilas pandang itu membuat tubuhku kaku dan aku hanya bisa berdiri mematung. Suasana di sekitar begitu sunyi hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Tak mungkin salah.

Aku sudah melihat video itu berulang kali!

Dan celana dalam ini benar-benar sama persis dengan yang ada di video itu!

Sama persis dengan yang baru saja dipakai pacarku!

Aku mengambil kain itu dan memeriksanya dengan seksama. Dalam hati, aku berdoa ribuan kali bahwa aku salah.

Namun, saat aku membuka video di ponsel lagi, semua harapanku sirna.

Ternyata benar, aku tidak salah.

Jadi ... wanita itu benar-benar Grace?

Begitu benih kecurigaan tertanam, sangat sulit untuk dicabut.

Dengan tangan gemetar, aku terus menatap video itu selama sepuluh menit penuh sebelum akhirnya menghela napas lega.

Wanita dalam video itu memiliki tahi lalat kecil di bagian pangkal pantatnya, sedangkan Grace tidak punya.

Namun, hatiku kembali terusik.

Tahi lalat itu ... aku pernah melihatnya.

Bab 3

'Iblis penggoda' Intan punya tahi lalat seperti itu.

Kenapa aku bisa tahu dengan begitu jelas?

Karena kesalahan besar yang pernah kulakukan itu melibatkan Intan.

...

Aku masih ingat hari itu Intan baru saja putus cinta. Dia menelepon Grace dan mereka berdua minum sampai mabuk berat. Aku pergi menjemput mereka untuk pulang.

Sesampainya di rumah, mereka masih mau melanjutkan minum. Karena sudah di rumah, aku juga ikut minum sedikit.

Waktu itu, aku belum sesukses sekarang. Kami hanya tinggal di apartemen kecil dengan dua kamar.

Aku tidur sekamar dengan pacarku, sedangkan Intan tidur di kamar lainnya.

Tengah malam, aku terbangun karena mau ke kamar mandi. Saat kembali ke kamar, tangan pacarku tiba-tiba melingkar di pinggangku dan membelai dengan lembut.

Sebagai pria muda yang liar, godaan seperti itu sulit untuk ditolak.

Malam itu, aku begitu bergairah, hingga akhirnya terdengar suara lembut yang memohon ampun.

Mendengar suara itu, aku terdiam.

Karena itu ... bukan suara Grace. Itu suara ... Intan.

Aku bertanya pelan dan mendapat jawaban yakin. Seketika, aku terdiam.

Aku bingung, tidak tahu harus bagaimana.

Hingga Intan berbicara pelan padaku, barulah aku menyelesaikannya dengan tergesa-gesa.

Ketika masuk ke kamar mandi, aku melihat Grace tertidur pulas di bawah kasur.

Aku sangat terkejut, tetapi tetap melangkah cepat ke kamar mandi.

Saat itu, rasa senang mengalahkan rasa bersalahku.

Tidak ada yang lebih mendebarkan daripada tidur dengan wanita lain di dekat pacar sendiri!

Begitu aku membuka shower, Intan menyusul masuk. Dia menutup pintu dengan malu-malu meyakinkanku bahwa dia tak akan pernah memberitahu Grace.

Namun, aku malah kembali kehilangan kendali ...

Saat mengenang kejadian itu, tiba-tiba pikiranku melayang ke kaki Intan yang membuatku kembali gelisah.

Namun, ada hal yang lebih penting sekarang.

Aku segera menelepon Peter, memintanya untuk membawaku bertemu wanita di video itu.

"Kenapa?" tanya Peter menggoda, melanjutkan, "Bunga di rumahmu kalah harum dengan bunga liar di luar?"

Aku tertawa kecil, tanpa memberi jawaban.

Bunga liar atau bukan, itu masih harus dibuktikan.

Pukul dua siang, aku tiba di rumah Peter. Setelah naik ke mobil, dengan santai dia berkata padaku kalau belum berniat menikah, mending siapin pengaman.

Untuk berjaga-jaga.

Mendengar nada bicaranya yang penuh makna, aku mulai larut dalam pikiran.

Tanpa sadar, aku tiba di tempat yang dituju GPS. Namun anehnya, lokasi itu hanya sekitar satu kilometer dari kantor pacarku.

Kebetulan?

Dengan perasaan tidak tenang, aku mengikuti Peter masuk ke sebuah gang kecil.

Kami harus berbelok dua kali sebelum sampai di depan sebuah pintu.

Di dalam lift, Peter dengan santainya menekan tombol lantai, seperti seorang pelanggan lama.

Sambil berjalan, Peter menjelaskan padaku. Katanya, begitu masuk akan ada seorang pengurus yang bertanya soal preferensimu. Kalau tidak ada yang menarik, kamu juga bebas berkeliling tanpa harus bayar.

Mendengar itu, aku berpikir mungkinkah ini benar?

Saat pintu lift terbuka, aroma harum yang menggoda langsung menyerang hidungku. Bau itu membuat gairahku meningkat dan langkahku menjadi sedikit goyah.

Seorang pengurus tempat itu mendekati kami. Begitu melihat Peter, wajahnya langsung memancarkan senyuman tulus, sampai kerutannya terlihat semakin dalam.

"Pak Peter, kok sempat-sempatnya datang hari ini? Mau cari Lusi lagi, ya?"

Rahasia Gelap Sang Kekasih

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya