Bab 1

Pada malam tahun 2008, aku membunuh pacar sahabatku dan memasukkannya ke dalam saluran pembuangan air.

Itu adalah pertama kalinya aku membunuh seseorang.

Butuh waktu tiga hari bagiku untuk berhasil membuang tubuhnya ke saluran pembuangan.

Namun, pada hari keempat, aku melihat tiga mobil polisi di luar gedung pengajaran.

Saat melihat mobil polisi, sekujur tubuhku gemetaran saking paniknya.

Guru memperhatikan keanehan pada diriku, lalu dia bertanya kepadaku.

"Kamu lagi nggak enak badan?"

Saat aku hendak menjawab, wali kelas muncul di pintu.

"Shelly Winata, sini keluar sebentar."

Mendengar wali kelas memanggil namaku, aku berjalan keluar kelas dengan gemetar.

Ada dua orang berseragam polisi berdiri di samping wali kelas.

Begitu melihat polisi, jantungku makin berdebar kencang. Tubuhku gemetaran, telapak tanganku pun terus berkeringat dingin.

"Apakah benar kamu Shelly Winata? Apa hubunganmu dengan Yolanda Sander?" tanya salah satu petugas polisi.

"Teman ... kami adalah teman baik." Aku menundukkan kepalaku melihat ke lantai dan menjawab dengan suara rendah.

Polisi itu tidak berkata apa-apa, tetapi aku bisa merasakan dia sedang menatapku.

Pada akhirnya, mereka tidak mengajukan pertanyaan lagi dan memintaku untuk kembali ke kelas.

Aku menghela napas lega.

Telapak tanganku sudah basah. Aku terus mengusapkannya ke permukaan celanaku.

Aku melirik ke samping dan tanpa sadar melihat keluar jendela. Wali kelas masih berkomunikasi dengan polisi. Entah apa yang dikatakan polisi kepada wali kelas. Dia langsung menoleh dan menatapku dengan tatapan aneh.

Batinku kembali merasakan ketakutan yang luar biasa. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan?

Aku menjadi gugup lagi.

Di sepanjang pelajaran, aku sama sekali tidak memiliki minat untuk mendengarkannya. Tatapan wali kelas yang tidak dapat dipahami itu terus terlintas di benakku.

Apa yang mereka bicarakan? Apa hubungannya dengan Yolanda?'

Setelah selesai pelajaran, aku dibawa keluar kelas lagi.

Di bawah sinar matahari yang terik, kepalaku mulai terasa pusing.

Saat berada di dalam ruang kantor, wali kelas dan polisi duduk di hadapanku.

Bu Claudia, wali kelasku, merendahkan nada suaranya. Setelah berdeham dua kali, dia berkata, "Shelly, jangan gugup. Aku hanya ingin menanyakan masalah kamu dan Yolanda?"

"Oke ... oke." Aku membalasnya dengan suara gemetar.

"Apa yang kamu lakukan pada tanggal 15 Juli malam?"

"Main ... jelangkung."

"Apa yang telah terjadi saat itu?"

Kupikir kejadian itu sudah terungkap, ternyata mereka hanya menanyakan padaku tentang rumor hantu perempuan perenggut nyawa. Aku menghela napas lega dan menceritakan keseluruhan cerita hari itu kepada polisi.

Namaku Shelly. Yolanda adalah sahabatku. Dia mempunyai pacar yang bernama Tristan Suganda.

Tristan adalah seorang anak laki-laki bertubuh tinggi yang sangat jago bermain basket.

Sosoknya yang memukau di lapangan basket selalu bisa membangkitkan sorakan dari sekelompok gadis.

Setiap ada waktu, aku akan menontonnya bermain basket, tetapi aku menontonnya bersama Yolanda. Sesekali aku melirik ke arah Yolanda, yang ada di sebelahku, tatapan matanya penuh dengan kekaguman.

Pada tanggal 15 Juli, untuk merayakan kemenangan Tristan karena berhasil mendapatkan juara pertama dalam kompetisi bola basket, beberapa gadis yang biasanya akrab dengan Yolanda pergi makan di kios makanan bersama anggota tim bola basket.

Sekelompok orang makan dan minum bersama. Saat sedang asyik-asyiknya, entah siapa yang memberi ide untuk pergi ke sekolah bermain jelangkung.

Patrick dan Hendy dari tim basket sangat ingin mencobanya. Setelah mendengar ini, Laura pun merasa ini sangat seru dan ingin mencobanya. Dia juga mengungkit legenda hantu wanita perenggut nyawa di SMA. Konon pertengahan bulan Agustus, akan ada gadis yang bunuh diri dengan melompat dari atap gedung asrama.

Tentu saja aku tidak percaya ini.

Yolanda merasa sedikit takut. Melihat Yolanda begitu ketakutan, aku menyarankan agar tidak pergi.

Siapa sangka, Laura bangkit dan menarik kami untuk pergi bersama. Dia mengatakan bahwa permainan akan lebih seru jika banyak orang yang ikut.

Karena tidak dapat menolak ajakan semua orang, Yolanda dan aku pun mengiyakan ajakan mereka.

Namun, aku tidak menyangka keputusan ini pada akhirnya akan menyebabkan kematian Yolanda.

Bab 2

Di tengah malam, kami bersembunyi di tembok belakang sekolah. Kami memanjat tembok bersama-sama dan memasuki sekolah.

Pada siang hari, sekolah ini dipenuhi dengan pemandangan yang indah, seperti pepohonan hijau rindang yang tersebar di sekelilingnya.

Namun, saat malam hari, sekolah tampak sangat sunyi dan menyeramkan.

Kami akhirnya memilih lantai empat, yang juga merupakan ruang kelas tempat kami belajar.

Kami duduk melingkar. Salah satu dari kami mengeluarkan piring dan selembar kertas putih, lalu meletakkannya di tengah. Di atas kertas tertulis dua pilihan, ya atau tidak.

Kemudian, kami semua menaruh jari kami di atas piring.

"Jelangkung, cepat datang!" Semua orang menggumamkan sesuatu.

"Jelangkung, izinkan aku mengajukan pertanyaan, apakah ada yang menyukaiku diam-diam?"

Patrick tiba-tiba mengajukan pertanyaan.

Piring di bawah jari mereka perlahan bergerak menuju ke arah tidak.

Patrick menghela napas.

"Apakah kamu adalah kakak kelas kami yang meninggal itu?" Nyali Hendy sangat besar dan langsung bertanya.

Tanganku yang memegang piring itu menjadi gugup. Telapak tanganku penuh dengan keringat.

Tiba-tiba, tangan yang memegang piring itu bergerak cepat di antara pilihan ya dan tidak. Tangan kami pun gemetar hebat.

Setelah beberapa saat, piring itu tiba-tiba pecah.

Semua tangan kami menjadi kosong.

"Retak ... piringnya retak," kata Yolanda dengan gemetar.

Kemudian, angin dingin berhembus dan membuat kami merinding.

Tiba-tiba, Yolanda, yang duduk di sebelahku, mengerang. Aku langsung menoleh ke arahnya.

Ada sepasang tangan yang sedang mencekik leher Yolanda.

Itu adalah tangan Tristan.

Senyuman ganas terlihat di wajah Tristan saat ini.

Kami buru-buru pergi menarik Tristan.

"Pergi mati sana! Pergi mati sana!"

Tristan terus mengulangi kata-kata ini di mulutnya.

Kami akhirnya bisa melepaskan tangan Tristan. Yolanda batuk tanpa henti, napasnya pun terengah-engah.

"Tristan hampir mencekikku sampai mati." Yolanda berbicara sambil terbatuk-batuk.

Sebelum kami sempat bereaksi, Tristan kembali menyerang kami lagi. Kami tidak punya pilihan selain mencari tali dan mengikatnya.

Tristan tertawa tanpa henti. Suara tawanya terdengar agak menyeramkan.

Malam ini begitu sepi.

Angin berhembus meniup tirai dan mengeluarkan suara tawa seperti rengekan.

Kami semua berkumpul di dalam kelas dan tidak berani bergerak.

"Di mana Patrick?"

Laura adalah orang pertama yang menyadari Patrick sepertinya hilang.

Kami melihat ke sekeliling bersama-sama dan memang tidak ada tanda-tanda keberadaan Patrick.

"Ahh ...." Terdengar suara teriakan histeris.

Hendy juga menghilang.

Jantungku berdebar kencang dan aku merasa tidak enak badan.

Keringat dingin bercucuran di keningku.

Tiba-tiba, ada sesuatu yang menggaruk bahuku.

Aku ketakutan setengah mati sampai-sampai aku nggak berani melihat ke belakang.

"Shel ... Shelly, bahumu. Ahh ...." Yolanda mulai berseru.

Aku menyipitkan mataku. Saat aku hendak melihatnya, aku merasakan sakit yang menusuk di bagian belakang leherku, lalu kepalaku tiba-tiba mulai terasa pusing.

Ketika kepalaku menyentuh lantai, aku mendengar seseorang berbicara di sebelahku.

"Bos, semuanya sudah selesai ...."

Kemudian, aku pingsan.

Saat aku sadar, sudah tidak ada orang di sampingku. Yolanda pun menghilang.

Aku tidak berani tinggal lebih lama lagi. Aku menyeret tubuhku yang kelelahan, berjalan keluar dari gedung pengajaran, lalu berlari kembali ke rumah.

Namun, ketika aku datang ke sekolah lagi, yang aku lihat adalah mayat Yolanda.

Jika kami tidak bermain jelangkung, Yolanda tidak akan ....

"Pasti Tristan yang membunuh Yolanda. Saat itu, dia telah dirasuki hantu. Dialah yang membunuh Yolanda."

Aku masih merasa sedih dan takut ketika memikirkan insiden ini.

Polisi di depanku memandangku dengan acuh tak acuh. Aku terisak dengan suara pelan.

"Sepertinya kamu nggak mengatakan yang sebenarnya. Ada terlalu banyak kejanggalan dalam ceritamu." Tatapan dingin menatapku. Tubuhku gemetaran saking takutnya.

"Dalam ceritamu, kenapa hanya Tristan yang kerasukan, tapi yang lain nggak?"

"Selain itu, laporan otopsi Yolanda menunjukkan kalau dia hamil. Apakah kamu tahu itu?"

Tiba-tiba, aku mengepalkan tanganku dengan erat dan menatap polisi yang duduk di hadapanku dengan tatapan marah.

"Yolanda dilecehkan oleh sekelompok berandalan itu, tahu nggak kamu? Kamu mah nggak tahu apa-apa!"

Aku berteriak dengan marah.

Polisi itu tampak ragu-ragu.

Aku menatap polisi itu dengan tatapan kosong dan bergumam.

Sebenarnya, malam itu, kami sama sekali tidak pergi ke sekolah untuk bermain jelangkung.

Setelah kami makan-makan di kios makanan, kami bersiap untuk pulang.

Bir yang kami beli saat itu sudah dihabiskan semua. Aku dan Laura minum lumayan banyak, sehingga kami berencana untuk pulang lebih awal. Kami tidak mengajak Yolanda karena kami mengira Tristan adalah pacarnya. Dia pasti akan menjaga Yolanda.

Siapa sangka, Patrick dan Hendy pun tetap tinggal di sana.

Sejak hari itu, Yolanda tidak pernah bersekolah lagi sampai aku kemudian mendengar tentang berita kematiannya.

Semenjak hari itu, aku terus merasa menyesal mengapa aku tidak membawa Yolanda kembali bersamaku. Akulah penyebab kematian Yolanda.

Polisi itu tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangkat kepalanya dan memberi isyarat agar aku melanjutkan perkataanku.

Aku mengatakan bahwa apa yang terjadi hari itu dapat dianggap sebagai mimpi buruk.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B20571" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B20571
Salin

Rahasia di Dalam Toilet

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya