Bab 1

Di dalam ruang bioskop pribadi yang remang-remang, ayah tiriku ajak aku nonton film dewasa, katanya ini adalah hadiah untuk tandai kedewasaanku.

Lihat adegan di layar, ada seorang pria dan wanita larut dalam kenikmatan, tubuhku mulai terasa gatal dan gelisah.

Nggak sadar, aku rapatkan kedua paha yang telah basah, berusaha tahan sensasi seperti aliran listrik yang menggetarkan.

Lihat wajahku yang memerah, ayah tiriku mendekat di antara kedua kakiku, lalu tanpa ragu tarik celana dalamku.

“Sayang, biar ayah tirimu ini ajarkan kamu gimana jadi wanita seutuhnya. Kamu akan nurut, kan?” katanya pelan.

……

Namaku Lusi Zoraya. Sejak kecil, aku tinggal dengan ibu di rumah ayah tiriku.

Ayah tiriku, Gilbert Condana, selalu perlakukan aku dengan baik. Dia sering suruh aku makan pepaya, katanya itu bagus untuk perkembangan tubuhku. Setiap hari aku minum semangkuk bubur pepaya, jadi dadaku berkembang dengan sangat subur.

Ukuran dadaku buat aku nggak pernah bisa pakai bra yang sama dengan teman-teman sebayaku, selalu saja terasa sempit, jadi separuh dadaku sering tersembul keluar.

Hal itu sering buat aku resah, hingga akhirnya ayah tiriku diam-diam belikan aku pakaian dalam khusus orang dewasa.

Bahannya lembut, dihiasi renda ungu yang indah. Aku sangat suka pakaian dalam itu dan sepertinya, ayah tiriku juga suka

Kadang-kadang, dia diam-diam ambil pakaian dalam itu ke kamarnya, dan baru keluar setelah satu jam.

Saat kembali, pakaian dalam itu bawa aroma tubuhnya, entah mengapa aroma itu buat tubuhku terasa aneh dan berdebar, meski aku nggak pernah benar-benar ngerti perasaan itu.

Hingga akhirnya, di hari ulang tahunku yang ke-18, ayah tiriku sengaja ambil cuti, katanya ingin kasih perayaan ulang tahun yang istimewa.

Biasanya, ulang tahunku hanya dirayakan sederhana di rumah dengan makan kue ulang tahun.

Namun kali ini beda. Beberapa minggu sebelum hari itu, dia terlihat rajin olahraga.

Bahkan selama dua minggu berturut-turut, dia nggak lagi ganggu ibu di malam hari.

Sejak kecil, aku sering dengar suara ibu di malam hari, suara yang penuhi seluruh rumah.

Aku selalu merasa takut, tetapi entah kenapa, saat dengar suara itu aku juga rasakan sesuatu yang aneh, seolah apa yang terjadi nggak sepenuhnya menyakitkan seperti yang aku bayangkan.

Hari itu, ayah tiriku sudah bersiap ganti sepatu dan ajak aku keluar untuk rayakan ulang tahunku yang ke-18.

Dengan penasaran aku tanya, “Ibu nggak ikut?”

Dia tersenyum, cubit pipiku dengan lembut.

“Perayaan ulang tahun kali ini rahasia kita berdua saja. Jelas saja nggak boleh kasih tahu siapa pun.”

Aku memang paling suka rahasia kecil di antara kami, seperti soal pakaian dalam itu, yang nggak pernah aku ceritakan ke ibu.

Dia ajak aku ke mall, tempat yang penuh dengan rok model gaya JK dan pakaian sejenis.

Ibu nggak pernah izinkan aku pakai baju seperti itu, tetapi ayah tiriku belikan aku satu set lengkap.

“Di hari ulang tahun, bukannya kamu harus dandan dan pakai baju secantik mungkin?” katanya.

Pakaian itu sangat pendek, perutku kelihatan, dan bagian atasnya hanya cukup tutupi dadaku yang penuh, seperti dua buah semangka besar yang menggantung.

Roknya juga sangat pendek, sedikit saja aku membungkuk, bagian dalamnya akan terlihat.

Aku belum pernah pakai baju se-terbuka ini. Kulit yang bersentuhan langsung dengan udara buat aku merasa malu.

Tatapan ayah tiriku terlihat beda, ada sesuatu yang menyala di dalamnya. Aku pun tahu, dia suka lihat penampilanku yang seperti ini.

Mungkin, aku memang terlihat cantik pakai baju seperti ini, karena ayah tiriku kelihatannya suka sekali.

Setelah puas keliling mall, dia ajak aku nonton film.

Aku pikir kami akan pergi ke bioskop biasa di dalam mall, tetapi ternyata dia bawa aku ke bioskop pribadi.

Tempat itu seperti kamar hotel, dengan layar besar di dalamnya.

Aku lepas sepatu, lalu berbaring di atas tempat tidur.

Kedua kakiku yang panjang dan ramping terhampar, telapak kakiku tampak sedikit kemerahan di balik balutan stocking putih.

Ayah tiriku berbaring di sampingku, lalu nyalakan film.

Yang buat aku terkejut, film yang diputar adalah film dewasa dari luar negeri.

Di layar, seorang pria dan wanita tanpa busana lakukan itu!

Wanita itu terus keluarkan suara, suara yang terdengar begitu mirip dengan suara ibu di malam hari.

Baru saat itulah aku ngerti, ternyata inilah yang selama ini dilakukan oleh ayah tiriku dan ibu.

Di layar, tubuh wanita itu bergetar ikuti gerakan pria itu dan entah mengapa, aku merasa seolah bisa rasakan hentakan itu sendiri. Wajahku langsung memerah.

Aku belum pernah nonton hal seperti ini sebelumnya, gambar-gambar itu begitu kuat, guncang pikiranku tanpa ampun. Tubuhku terasa panas, terutama di bagian perut bawah, yang perlahan mengencang dan dipenuhi sensasi asing. Seolah ada api yang menjalar naik ke kepalaku.

“Ayah, ini … ini apa …?” tanyaku terbata.

Dia noleh ke aku dan berkata pelan, “Lusi, hari ini kamu sudah umur delapan belas tahun. Itu berarti kamu sudah dewasa. Ayah perlu ajarkan kamu beberapa hal, biar kamu nggak disakiti orang lain di luar sana.”

‘Oh gitu. Hari ini aku telah dewasa, dan dia mau ajarin aku … hal-hal seperti itu?’

Di layar, pria itu hisap payudara wanita itu, tangannya bergerak gila-gilaan di bagian bawahnya.

Wanita itu gemetar, suara napasnya penuh kenikmatan.

Wajahku semakin panas, dan aku rasakan sesuatu yang basah di antara kedua kakiku.

Perasaan apa ini?

Bab 2

Diam-diam aku melirik ke arah ayah tiriku. Dari balik celananya, terlihat jelas ada sesuatu yang berubah jadi tegang dan menonjol, terlihat sangat kuat dan ganas.

Tatapanku rupanya nggak luput darinya. Sekilas saja, dia seakan sudah paham apa yang sedang aku rasakan.

Dia duduk di sampingku, posisinya menyerupai pria dalam film yang sedang kami tonton.

“Lusi, kamu kelihatan sangat kacau sekarang. Sudah mulai kerasa, yah?”

Baru saat itu aku tersadar, tubuhku gemetar, wajahku memerah, dan tanpa aku sadari bajuku juga terangkat sedikit. Aku tampak sama kacaunya seperti tokoh wanita di layar TV.

Aku gigit bibirku, nggak mampu berkata apa-apa.

Suara Gilbert, ayah tiriku kemudian melembut.

“Nggak apa-apa, di sini cuma ada kita berdua. Kamu mau apa, aku akan turuti kamu … ini rahasia kita. Sekarang, gimana perasaanmu? Kamu … mau apa?”

Wajahku semakin panas, suaraku bergetar pelan.

“Aku … rasanya aneh … kayak mau .…”

“Mau apa?”

“Kayak mau … digitukan .…”

Dia tersenyum tipis.

“Anak baik .…”

Dengan perlahan, dia buka dua kancing bajuku yang terasa sesak. Saat itu juga dada putih seperti salju langsung menyembul keluar. Terlihat begitu saja di depan ayah tiriku, aku menunduk, nggak berani menatapnya. Rasa malu dan gugup campur jadi satu.

Aroma pria dewasa seketika selimuti napasku. Aku perhatikan tangannya perlahan sentuh aku, merasa gugup sekaligus bersemangat.

Hasrat tubuhku nggak kasih aku ruang untuk berpikir lagi, tubuhku terasa lemah, seolah kehilangan tenaga untuk menolak.

Aku biarkan ayah tiriku buka bra-ku, lidahnya telusuri pola di pusat dadaku yang lembut dan merah muda.

‘Oh, gatal banget.’

“Ah, ini… aneh sekali … ini perasaan apa .…”

“Tenang, aku ajarin kamu. Ini namanya “enak”, dan nanti, kamu akan merasa lebih “enak” lagi.”

Tapi nggak cuma itu saja. Dia ulurkan tangannya yang besar dan kuat, taruh itu di bawah rokku.

Dengan lembut dia gosok bolak-balik di sepanjang celah tubuhku yang dalam.

Dalam sekejap, sensasi asing itu penuhi seluruh tubuhku, rasanya aku hampir meledak.

Gimana bisa rasanya begitu nikmat! Aku belum pernah rasakan hal seperti ini sebelumnya, ringan, melayang, seolah ada di tempat yang jauh dari kenyataan.

Sekarang aku mulai ngerti, kenapa ibu sering keluarkan suara seperti itu di malam hari.

Napas panjang hampir lolos dari bibirku, tetapi aku tahan itu. Di hadapannya, aku merasa terlalu malu.

Aku tahan sensasi itu, berusaha tetap diam. Namun semakin aku tahan, sensasi itu justru semakin kuat.

Kedua kakiku bergerak tanpa sadar, coba rapatkan diri, tetapi malah cengkeram lengan ayah tiriku.

Semakin erat aku remas, semakin keras gerakannya.

“Ah … pelan … aku … nggak kuat .…”

Akhirnya, suaraku tetap lolos, lirih dan gemetar, buat aku sendiri terkejut.

Dengar itu, ekspresi ayah tiriku berubah, lebih bersemangat, dia gigit ujung dadaku.

Suara dari film di layar TV terus mengalun, berpadu dengan napasku yang semakin nggak teratur.

Aku rasa seluruh tubuhku terbuka, seolah nikmati setiap sentuhan yang datang.

Lidahnya lembut dan lembap, seperti suhu 37 derajat di mulutku.

Seluruh tubuhku terasa diselimuti kehangatan ini.

Apa seperti inilah rasanya jadi dewasa? Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, goyah, berbahaya, namun juga memikat.

Aku mendekat, berbisik pelan di dekat telinganya, “Ayah … ini … apa ini artinya aku sudah dewasa?”

Gilbert tersenyum.

“Yah, kamu belajar dengan cepat. Kamu akan jadi wanita yang menarik … tapi ini saja nggak cukup.”

Sentuhannya kembali berlanjut, ke bagian yang belum pernah disentuh siapa pun, buat tubuhku bereaksi tanpa bisa aku kendalikan.

Tubuhku gemetar dan napasku kacau, hingga akhirnya hanya bisa terdiam, bagian pribadiku basah dan lengket, basahi tangannya.

"Sensitif sekali, ke depannya pasti banyak pria yang suka dengan kamu. Aku sangat khawatir."

Dia ciumi tubuhku, suaranya jadi serak.

"Jadi sekarang, aku sendiri yang akan ajarin kamu, gimana rasanya benar-benar jadi seorang wanita. Lusi, apa kamu sudah siap?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B88187" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B88187
Salin

Rahasia di Balik Ruang Gelap

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya