Bab 2

Tak lama kemudian, pintu bilik sebelah terbuka. Setelah terdengar suara gesekan seperti orang sedang melepas celana, suara air kencing mengenai permukaan kloset pun terdengar.

Suara itu sebenarnya tidak keras, tapi di kamar mandi yang kosong dan sepi ini, jadi terdengar sangat jelas.

Dengan wajah merah merona, Sella menggeliat tak tenang dalam pelukanku.

Aku menunduk menatap gadis mungil yang lembut dalam pelukanku, mencium wangi dari rambutnya dan teringat hal-hal gila yang kami lakukan di asrama tadi malam. Satu tanganku pun meluncur melewati pinggulnya dan langsung menutupi bokong kecil yang luar biasa elastis.

“Uuhh ….”

Sella tak bisa menahan erangan pelan. Napasnya jadi lebih cepat, tubuhnya sedikit bergetar dan seluruh badannya melemas tak berdaya.

Kalau aku tidak memeluknya erat, dia pasti sudah jatuh lemas ke lantai.

Ternyata dia wanita yang begitu sensitif?

Mumpung dia tak bisa melawan, aku pun menarik celana dan celana dalamnya sekaligus sampai ke pergelangan kaki, lalu menekannya ke dinding bilik dengan bokong terangkat.

“Nggak … nggak boleh ….”

Sella meronta, memegang bokongnya dengan kedua tangannya agar aku tidak berhasil mendapatkannya. Dengan terengah-engah, dia berkata pelan, “Aku … aku masih perawan. Kita nggak boleh melakukannya di kamar mandi ….”

“Kalau begitu, pakai mulut saja.”

Sella langsung menarik tangannya dan menutup mulutnya.

“Pong! Pong!”

Saat itu juga, terdengar suara ketukan dari bilik sebelah, lalu terdengar suara seorang gadis, “Sella, ada apa?”

Itu Tina, teman asrama pacarku.

“Nggak … nggak apa-apa.”

“Kok suaramu aneh? Nggak enak badan, ya?”

“Uhm … aku … aku lihat ada kecoa ….”

Terdengar suara air mengalir dari sebelah, Tina keluar dari bilik untuk mencuci tangan, “Cepat ya, aku tunggu di luar.”

Setelah Tina keluar dari kamar mandi, Sella melepaskan dirinya dari pelukanku dan berkata pelan, “Kita … kita boleh melakukan itu … tapi nggak boleh di tempat seperti ini ….”

Usai bicara, dia berusaha melepaskan diri dari pelukanku, mengenakan celananya dan buru-buru keluar dari bilik.

Aku perlahan menenangkan diriku, menunggu sampai di luar benar-benar sepi, barulah aku keluar diam-diam.

Saat malam tiba, aku duduk sendirian di depan gedung asrama putri, hanya dengan satu tujuan, yaitu melampiaskan emosi.

Namun, pacarku tidak datang, yang datang malah tiga teman sekamarnya.

“Hei, masih belum puas kemarin? Mau tidur di asrama kami lagi malam ini?”

“Dengar-dengar punyamu sepanjang 22cm, lebih panjang dari orang barat, benaran?”

Yang bicara adalah Tina, tingginya sekitar 170cm, suka sekali pakai kaos atasan pendek dan celana jeans ketat, pinggangnya hampir kelihatan jelas, tubuhnya itu tipe yang bisa membuat pria terpesona.

Mengingat kejadian di kamar mandi siang tadi, mendengar suara kekuatan semburannya, hatiku jadi tergoda.

“Tentu saja benar, hati-hati aku salah naik ranjang dan perkosa kamu.”

Tina dan satu teman lainnya tertawa terbahak-bahak, sementara Sella diam. Tiba-tiba, wajahnya terlihat sangat merah, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Aku menatap Sella, lalu berpikir kalau pacarku tidak datang, mungkin aku bisa mengajaknya ke hotel saja. Seharusnya tidak masalah.

Tina melambaikan tangan di depan mataku, “Ada apa dengan kalian berdua? Kok saling pandang begitu ….”

Begitu mendengar ucapan Tina, wajah Sella yang mungil langsung memerah sampai keunguan, tadinya masih mirip tomat, sekarang sudah seperti terong.

Ada sesuatu!

Tina melanjutkan lagi, “Kukasih tahu ya, jangan coba-coba mengkhianati pacarmu saat lagi sakit begini.”

Bab 3

”Dia sakit?” tanyaku terkejut.

Tina balik bertanya, “Kamu nggak tahu?”

“Nggak tahu. Setelah lampu dimatikan, aku panjat jendela ke asrama buat melihat dia.”

Aku langsung panik, sampai melupakan soal Sella.

Beda dari kemarin, biasanya aku menyelinap dulu ke asrama putri, bersembunyi di ranjang pacarku. Setelah pengecekan kamar selesai, barulah kami bersenang-senang.

Tapi setelah aku ketahuan pagi ini, penjagaan di asrama putri pasti semakin ketat. Aku tak mungkin bisa bersembunyi lagi di waktu pengecekan.

Jadi, satu-satunya cara biar bisa tetap bermalam di asrama putri adalah … memanjat jendela.

Begitu pengecekan selesai, aku langsung panjat teralis jendela di gedung asrama.

“Cepat buka jendelanya!”

Pacarku membuka jendela, sambil mengomel, “Kamu sudah gila? Ini lantai tiga, lho!”

“Demi kamu, lantai tiga puluh pun aku bersedia!”

Suasana di dalam kamar langsung penuh bisikan heboh. Tina dan temannya sampai menyeletuk gombalanku.

“Sudah merasa lebih enak?” tanyaku.

Pacarku kelihatan sangat terharu, sampai hampir menangis, “Hanya flu biasa saja.”

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari luar. Ternyata, penghuni asrama di lantai dua tadi belum tidur, dikira ada maling, jadi langsung melapor ke penjaga asrama.

Semuanya langsung panik. Baru saja aku mau sembunyi di ranjang pacarku, tapi dia malah menarikku turun.

“Aku sudah pernah ketahuan, kalau kamu sembunyi di ranjangku lagi, pasti bakal ketahuan. Sembunyi di tempat Sella saja.”

Akhirnya, aku buru-buru pindah ke ranjang Sella.

Penjaga asrama pun berhenti di depan ranjang pacarku, lalu mengintip dengan bantuan cahaya bulan.

Sementara itu, aku sudah rebahan di ranjang Sella, sampai tak berani napas kuat.

Masalahnya, gadis sebelahku hanya memakai pakaian dalam. Kami nyaris tidur berpelukan. Dalam situasi seperti ini … mana bisa ditahan?

Aku diam-diam meletakkan tanganku di bokong Sella, lalu meremasnya perlahan.

Tubuhnya gemetar pelan, tapi dia tak mengeluarkan suara sedikit pun.

Melihat reaksinya, aku jadi semakin berani. Tanganku yang satu lagi menyibakkan bagian bawah celana dalamnya.

“Benaran nggak ada orang yang datang ke asrama kalian?” tanya ibu penjaga asrama.

“Nggak ada!”

“Kenapa jendelanya nggak ditutup?”

“Tadi gerah sekali, jadi dibuka biar ada udara masuk.”

Situasi di bawah ranjang semakin panas, tapi pikiranku hanya tertuju pada gadis yang sedang kupeluk ini. Aku perlahan membuka kaki kanannya dan memiringkan badan, lalu menempel lebih dekat.

“Hmm ….”

Akhirnya, Sella tak tahan dan mengeluarkan suara lirih. Itu membuat ibu penjaga langsung menoleh curiga dan bertanya, “Ada apa itu?”

“Ah … aduh!”

Pacarku memang cepat tanggap, begitu melihat situasi yang tidak beres, dia langsung jongkok di lantai dan mengerang kesakitan, “Aduh … perutku sakit … ugh ….”

Dua gadis di ranjang sebelah juga langsung turun, “Dia lagi sakit, cepat bawa dia ke klinik.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo cepat!” teriak petugas buru-buru, mereka semua pun keluar dari asrama dengan langkah cepat.

Sekelilingnya kembali sunyi dan gelap.

Kemudian, aku memegang pinggang rampingnya, kuangkat kuat-kuat, bokong mungilnya pun terangkat tinggi dan kusobek celana dalamnya.

“Hmm … sudah kutebak … ada yang beda dengan dirimu dan Sella … ah ….”

Sambil meraba perutku, gadis dalam pelukanku menolehkan kepalanya, menunjukkan wajahnya yang memerah seperti langit senja, dengan tatapan yang penuh kekesalan, tapi juga malu-malu.

Suara yang terdengar menjadi sangat manja dan tidak tertahankan, “Kamu … kamu benar-benar … sepanjang 22cm ….”

Aku langsung terkejut, terpana tidak bisa berkata-kata.

“Tina? Kok kamu ada di sini?”

“Kenapa? Kecewa? Atau … takut? Kau bukan mau perkosa aku?”

Tak ada pria yang sanggup menahan diri melihat tatapan genit dan menggoda seperti itu. Aku berdiri dan mendorong bra Tina hingga ke lehernya, meraih kakinya dan meletakkannya di bahuku, lalu menekannya.

“Aku tetap akan melakukannya, meski salah orang. Kalau nggak menghajarmu sampai minta ampun malam ini, anggap aku kalah ….”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B85626" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B85626
Salin

Rahasia Asrama Seni

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya