Logo
Puncak Nafsu Ayah Mertua
Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

90 Bab
Tamat
Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.
Bab 1 dari Puncak Nafsu Ayah Mertua

Aku berbaring di atas ranjang. Sprei yang kusentuh sudah tak rapi lagi, masih menyimpan bekas tubuh Leo yang barusan menindihku. Udara kamar ini dipenuhi bau tubuhnya, hangatnya masih tersisa, tapi tidak ada artinya. Ia datang, seperti biasa, terburu-buru, berat, dan tanpa kata. Hanya mengambil, tidak memberi. Dan aku? Aku sudah tahu betul peranku dalam semua ini.

Bibirnya sempat menyentuh bibirku, cepat, dingin, tanpa rasa. Tangannya menjelajah tubuhku seperti sedang menyelesaikan sesuatu, bukan menikmati. Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam, mencoba bertahan. Hatiku kosong, tapi aku tahu harus tetap terlihat hidup. Aku harus membuatnya merasa bahwa ia masih laki-laki yang hebat.

Tanganku naik ke punggungnya, menggeliat sedikit untuk mendukung sandiwara ini.

"Ahh... iya... Leo... pelan sedikit..." desahku lembut, membuat diriku terdengar lemas.

"Uhh... ahhh... di situ... iya..." ucapku lagi, mencoba seolah menikmati, padahal pikiranku entah di mana.

Gerakannya makin cepat, makin kasar, tanpa irama, hanya nafsu yang meledak-ledak. Napasnya menghantam telingaku, berat dan memaksa. Aku tahu itu tanda-tandanya. Dia akan selesai sebentar lagi. Dan benar saja, hanya butuh beberapa hentakan terakhir, tubuhnya menegang, dan semuanya selesai. Begitu saja.

Aku masih menahan napas pura-pura ketika dia sudah menarik tubuhnya dariku. Aku tetap terbaring, tubuhku masih terbuka sebagian, kehangatan itu pun menguap lebih cepat dari yang kuduga. Saat kubuka mata, yang kulihat hanya punggung Leo yang menjauh dalam diam.

"Leo... kamu mau ke mana?" tanyaku pelan. Suaraku hampir tak terdengar, seolah hanya satu hela napas yang putus di udara. Sebagian dari diriku masih berharap dia menoleh, walau hanya sebentar.

Namun dia tetap diam. Ia meraih celananya dari kursi, berdiri, lalu menjawab tanpa menatapku.

"Wanita mandul tidak perlu tahu."

Aku tak bisa berkata apa-apa. Kata-kata itu menghantam dadaku seperti batu yang dilempar keras-keras ke kaca rapuh. Tangan yang tadi kugunakan untuk menggenggam selimut kini jatuh lemas. Semua desahan yang baru saja kulontarkan, semua rintihan yang kupaksakan, mendadak terasa kotor.

Aku menunduk, menggigit bibir bawahku, menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Tubuhku masih basah, bukan karena kenikmatan, tapi karena terlalu sering dipaksa percaya bahwa kebohongan ini harus dinikmati.

Aku menarik selimut dan membungkus tubuhku rapat-rapat, hanya ingin menyembunyikan apa pun yang tersisa dariku malam ini. Leo sudah keluar dari kamar tanpa menoleh sedikit pun. Yang tertinggal hanyalah sisa napas yang berat, bukan karena gairah, tapi karena luka yang kembali terbuka.

Tempat tidur ini masih hangat, tapi bagiku rasanya semakin dingin.

Aku menatap langit-langit kamar, membiarkan sepi mengendap di dalam tubuhku. Di balik selimut yang menutupi tubuh telanjangku, suara detik jam terdengar pelan, mengisi ruang yang kosong dalam hatiku. Dalam diam, aku bicara pada diriku sendiri. Ini bukan cinta. Ini hanya sisa.

Namaku Ayu Setianingrum. Usia dua puluh tiga tahun. Aku menikah dengan Leo, pria yang tiga tahun lebih tua dariku. Kami menikah tiga tahun yang lalu. Saat itu, aku yakin cinta cukup untuk menjaga segalanya tetap utuh.

Leo dulu adalah pria yang hangat. Ia mencium keningku setiap pagi, memelukku diam-diam dari belakang saat aku memasak, dan selalu menanyakan kabarku meski hari sedang sibuk. Pelukannya pernah menjadi tempat paling aman di dunia. Senyumnya mampu meredakan semua yang gelisah dalam hidupku.

Tapi semuanya berubah perlahan, bukan karena orang ketiga, bukan pula karena uang. Sumbernya lebih sunyi dari itu, lebih menyakitkan, karena semua berawal dari satu hal yang tak bisa kusembunyikan darinya. Aku belum juga hamil.

Tahun pertama kami masih bisa tertawa. Setiap hasil test pack yang menunjukkan satu garis, Leo memelukku dan berkata, belum rezeki. Tapi lama-kelamaan, kalimat itu tidak pernah terdengar lagi. Yang tersisa hanya diam, jarak, dan tatapan kosong.

Kini, aku tahu. Di matanya, aku bukan lagi seorang istri. Aku hanya beban, sesuatu yang menghalangi keinginannya untuk menjadi ayah. Ia menyebutku wanita mandul, dan aku tak bisa membantah, karena nyatanya memang belum ada kehidupan yang tumbuh dari rahimku.

Tapi yang paling menyakitkan bukan ucapan itu. Yang menghancurkan adalah kenyataan bahwa aku tak tahu kapan tepatnya Leo berhenti mencintaiku. Atau mungkin, aku hanya terlalu lambat menyadari bahwa cintanya sudah lebih dulu pergi.

Aku tetap duduk di atas ranjang, memeluk lutut dalam diam. Keheningan menelanku bulat-bulat. Lama-kelamaan, selimut ini terasa seperti perangkap, bukan pelindung.

Akhirnya aku berdiri. Tubuhku dingin, meski udara kamar tak sedingin hati yang kutahan. Aku mengenakan daster tipis dari kursi tanpa repot memakai dalaman. Tak ada yang peduli pada bentuk tubuhku lagi, bahkan aku sendiri.

Dengan langkah pelan, aku berjalan keluar dari kamar, menuruni tangga satu demi satu. Rumah ini terlalu sepi, hanya diterangi cahaya remang dari ruang tengah dan sedikit nyala lampu dapur yang belum dipadamkan. Tenggorokanku kering. Aku butuh air. Mungkin seteguk bisa sedikit meringankan isi kepala yang kacau.

Tapi saat aku sampai di ambang pintu dapur, langkahku terhenti.

Di sana, berdiri seorang pria membelakangiku. Tubuhnya tinggi dan kekar, hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan. Punggungnya lebar, otot-ototnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur yang kuning pucat. Ia sedang meneguk air langsung dari botol, tanpa menyadari bahwa aku ada di belakangnya.

Aku terpaku. Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Siapa dia? Kenapa ada pria asing di rumahku? Tengah malam, tanpa baju, dan seolah begitu nyaman di tempat ini.

Tanganku refleks menggenggam ujung dasterku. Aku tidak tahu harus merasa takut, marah, atau justru... penasaran. Aku hanya berdiri diam, memperhatikan punggungnya yang lebar dan tubuhnya yang berotot, seperti seseorang yang terbiasa menjaga fisiknya dengan serius.

Lalu pria itu menurunkan botol air dari mulutnya. Ia menghela napas pelan, lalu menoleh.

Saat wajahnya terlihat, aku hanya bisa mematung. Tidak terkejut. Tidak panik. Hanya diam. Dan dalam kepala yang tiba-tiba hening, aku bergumam pada diriku sendiri.

Pria bertubuh indah itu... ayah mertuaku.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Aku Putus dengan Pacarku Sebelum Aku Meninggal
Aku Putus dengan Pacarku Sebelum Aku Meninggal
Dalam romance novel Aku Putus dengan Pacarku Sebelum Aku Meninggal, seorang wanita memilih mengakhiri hubungan delapan tahun dengan Jake Burton demi ketenangan di sisa hidupnya. Di balik konflik ini, ia menyimpan rahasia medis yang memaksanya meninggalkan kenyataan pahit dalam modern novel ini.
BENIH PRESDIR LUMPUH
BENIH PRESDIR LUMPUH
Dalam novel BENIH PRESDIR LUMPUH, Fiona terjebak pernikahan paksa dengan pria difabel. Sebagai anggota geng, ia menyusun rencana licik demi perceraian. Simak kisah billionaire romance novels ini di platform webnovel kami, pilihan tepat bagi pencinta romance stories yang penuh intrik.
Bukan Wanita Kedua
Bukan Wanita Kedua
Dalam romance novel Bukan Wanita Kedua, Aulia berjuang bangkit setelah dikhianati dan diusir oleh Dimas. Kini ia bekerja pada Sagas demi menata hidup baru. Di tengah godaan perasaan lama, ia harus memilih antara martabat atau luka masa lalu saat membaca online novel ini hingga tuntas.
Cinta sang tuan muda
Cinta sang tuan muda
Dalam Cinta sang tuan muda, Joan dikejutkan oleh penemuan bayi perempuan di depan rumahnya. Di genre romance modern ini, ia harus memilih antara mengasuh bayi tersebut atau menitipkannya ke panti asuhan. Ikuti kelanjutan kisah menarik ini di platform web novel kami.
Cinta Semalam Dengan Miliarder
Cinta Semalam Dengan Miliarder
Dalam novel romance Cinta Semalam Dengan Miliarder, Melinda terjebak pengkhianatan hingga mengandung anak Lukas, sang CEO. Kini Lukas harus memilih antara reputasi atau tanggung jawab. Temukan kisah billionaire romance novels ini hanya di platform read novels online kami.
Janji yang Hancur, Cinta yang Tak Terucap
Janji yang Hancur, Cinta yang Tak Terucap
Dalam romance modern Janji yang Hancur, Cinta yang Tak Terucap, Bara menceraikan Isabella setelah dikhianati. Namun, kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar tentang anak mereka. Baca web novel ini untuk mengikuti kisah pengorbanan dan kebenaran yang terlambat dalam online novel yang emosional.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Ginjal Putriku, Ganti Nyawa Putramu
Ginjal Putriku, Ganti Nyawa Putramu
Di masa muda mereka, Jacob dan Nora membina kehidupan dan mengumpulkan harta bersama. Bertahun-tahun kemudian, Jacob lebih memihak Lydia, ibu dari anak di luar nikahnya, Brody, daripada Nora. Saat Brody membutuhkan transplantasi ginjal, Jacob memaksa putrinya sendiri, Josie, yang kondisi kesehatannya rapuh dan mengidap gangguan pendarahan, untuk menjalani transplantasi berisiko itu. Dia sama sekali mengabaikan permohonan dan tangisan Nora...
Bos Ternyata Mantan Pacarku
Bos Ternyata Mantan Pacarku
Mia menemukan bos barunya tak lain adalah Joko Hapsari, mantan pacar yang empat tahun lalu dia tolak. Perseteruan mereka justru membangkitkan kembali api cinta lama. Namun, keduanya saling menjauh karena salah paham, masing-masing mengira yang lain telah memiliki kekasih baru. Saat kebenaran tentang perpisahan dulu terungkap, dua insan yang saling mencintai ini akhirnya bersatu kembali dalam pelukan.
Pada Hari Pernikahan
Pada Hari Pernikahan
Seorang pekerja kantoran biasa didekati oleh prajurit tampan, tapi apa status pria itu benar atau tidak, tak ada yang tahu. Hanya saja dia segera menyadari bahwa berpura-pura menjadi seorang komandan memiliki risiko tinggi, bahkan bisa mengancam nyawa.
Pembalasan Dendam Kakak
Pembalasan Dendam Kakak
Karena status Nita sebagai anak haram, dia membenci ayahnya yang sangat sayang dia dan pergi ke luar negeri sampai jadi pemimpin organisasi yang terkenal. Suatu hari, dia dapat kabar kalau ayahnya meninggal karena sakit. Dengan rasa sedih dan penyesalan yang mendalam, dia kembali ke tanah air dan memutuskan untuk nggak diam lagi saat mengetahui adik-adik tirinya tersiksa.
Pak, Nyonya Sudah Menikah
Pak, Nyonya Sudah Menikah
Bella kira dirinya dan Victor akan berakhir begitu saja setelah kontrak mereka berakhir. Tak disangka Victor malah jatuh cinta padanya, dia juga jatuh pada Victor. Tapi, apakah mereka berjodoh? Apa mereka ditakdirkan bersama? Bisa dibilang sungguh lika-liku.
Harus Sharehouse
Harus Sharehouse
Juyeon harus tampil di reality show asmara dewasa "Harus Sharehouse" sebagai pengganti! Tapi, masa harus bersentuhan sekali sehari, bahkan ganti teman tidur setiap hari? Juyeon pun masuk dengan nyali ciut ke Sharehouse di mana mantan pacarnya, Inho, Jaehui yang lembut, dan Seheon yang seksi sudah menunggunya. Hati vs hadiah, usaha Juyeon untuk memilih di antara naluri dan logika pun dimulai.