Bab 1
Pacarku seorang polisi.
Ketika aku diancam oleh penculik, bom tubuhku hanya tersisa sepuluh menit sebelum meledak.
Penculik itu memaksaku untuk meneleponnya, tetapi aku justru mendapat makian bertubi-tubi, “Sudah cukup, Selina. Karena cemburu, kamu bahkan berani mempermainkan nyawa? Kamu tahu nggak kucing Vinie sudah tiga hari terjebak di atas pohon, Vinie sangat sayang dengan kucingnya!”
“Kalau kucing itu sampai mati karenamu, kamu adalah pembunuhnya!”
Dari telepon, terdengar suara perempuan yang manja, “Terima kasih kak, kamu hebat sekali.”
Dan perempuan itu adalah teman masa kecil pacarku.
Saat bom hampir meledak, aku mengirim pesan kepada pacarku, “Selamat tinggal, semoga kita nggak bertemu lagi di kehidupan berikutnya.”
Pacarku, Indra adalah seorang ahli forensik dan sekarang aku diculik oleh seorang penjahat yang pernah dia masukkan ke penjara.
Mereka memasangkan bom di tubuhku.
Penjahat itu menatapku dengan marah, “Kamu pacarnya Indra, ‘kan? Cepat panggil dia ke sini.”
Aku dipaksa menelepon Indra, tetapi suaranya terdengar kesal, “Sudah kubilang jangan telepon aku saat jam kerja! Kamu ini mengganggu saja!”
Aku buru-buru menjawab, “Indra, aku diculik. Mereka mau balas dendam padaku. Jangan datang ke sini … “
Belum selesai bicara, teleponku sudah dirampas oleh penjahat.
Sementara itu, suara Indra terdengar jelas di balik telepon, “Selina, kamu gila? Sudah kubilang aku lagi kerja dan bisa-bisanya kamu masih bercanda soal ini?”
“Kamu tahu nggak, kucing Vinie sudah tiga hari terjebak di atas pohon, dia bisa mati kalau nggak segera diselamatkan! Dan kamu malah membuat alasan konyol seperti ini biar aku pulang? Kenapa nggak sekalian saja bilang kalau kamu hampir mati?”
Aku melihat bom di tubuhku, waktu yang tersisa sudah masuk hitungan sepuluh menit terakhir.
“Aku … “
“Sudahlah, aku nggak mau dengar kebohonganmu lagi. Vinie sangat sayang dengan kucingnya. Kalau sampai kucing itu mati dan Vinie kenapa-kenapa karena itu, kamulah pembunuhnya. Aku nggak akan pernah memaafkanmu!”
Dari ujung telepon, terdengar suara perempuan manja, “Kakak hebat sekali, kakak sungguh luar biasa, bisa menyelamatkan kesayanganku.”
Tak lama kemudian, telepon dimatikan.
Penjahat itu memaki, “Sialan, Indra sama sekali nggak cinta perempuan ini! Salah culik orang!”
Setelah penjahat pergi, aku melihat ke arah bom di tubuhku dan air mata mulai jatuh tanpa bisa kutahan.
Bahkan penjahat itu saja bisa melihatnya, tapi aku baru menyadarinya di hari terakhirku.
Vinie yang disebut Indra adalah Vinie Deavita, teman masa kecilnya.
Saat aku baru bersama Indra, dia bilang Vinie hanya seperti adik baginya.
Dan aku memercayainya, tetapi ketika aku mulai merasa ada yang aneh, aku sudah terlanjur mencintainya terlalu dalam dan tidak bisa meninggalkannya.
Kapan pun Vinie menelepon, Indra selalu langsung pergi menemuinya.
Bahkan saat pertama kali bertemu orang tuaku, hanya karena Vinie bilang dia takut gelap, Indra meninggalkan kami bertiga.
Pergi begitu saja tanpa penjelasan apa pun, hanya meninggalkan satu kalimat, “Ada urusan.”
Aku menghalanginya, tidak mengizinkannya pergi.
Aku bahkan memohon dengan suara rendah agar dia sedikit menghargai orang tuaku, tetapi Indra hanya mencibir, “Selina, aku dan Vinie sudah seperti ini selama dua puluh tahun lebih. Kalau kamu nggak bisa terima, jangan menikah denganku!”
Aku menenangkan diriku, berpikir bahwa Indra hanya menganggap Vinie sebagai adiknya dan sebenarnya tetap mencintaiku.
Namun, di saat-saat terakhir hidupku, aku baru menyadari.
Dari awal hingga akhir, Indra tidak pernah mencintaiku. Satu-satunya orang di hatinya adalah Vinie.
Sebelum bom meledak, aku mengirimkan pesan terakhir pada Indra, “Selamat tinggal, semoga kita nggak bertemu lagi di kehidupan berikutnya.”
Bab 2
Tubuhku yang hancur berkeping-keping tergeletak di lantai.
Sudah tidak bisa dikenali lagi sebagai diriku.
Sementara itu, jiwaku melayang di atas, melihat tubuhku yang terkapar.
Aku tidak merasa sedih, karena kematian bagi diriku saat ini adalah sebuah kebebasan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama melayang seperti ini, sampai akhirnya Indra datang.
Dia berjalan di belakang rombongan polisi, bertugas memotret, mendokumentasikan, sekaligus berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar.
Salah satu polisi berkata, “Kami menemukan beberapa bahan peledak di tempat kejadian. Sepertinya ada orang yang membuat bom rakitan, tapi identitas korban belum bisa dipastikan.”
Indra mengernyit dan memandang tubuhku.
Tiba-tiba, jantungku berdegup kencang. Entah kenapa, muncul secercah keinginan aneh dalam diriku.
Jika Indra tahu itu aku, apakah dia akan menyesal?
Tatapan mataku terus tertuju pada Indra, berharap bisa melihat sebersit rasa yang familiar di matanya.
Namun, Indra berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, dia berkata, “Kelihatannya ini seorang wanita. Potongan pakaian di tubuhnya terlihat cukup trendi. Coba selidiki daftar wanita hilang berusia dua puluh sampai tiga puluhan tahun.”
“Panggil tim forensik masuk.”
Harapanku langsung hanyut begitu saja. Indra tidak mengenaliku.
Tentu saja, dia tidak pernah peduli padaku, jadi bagaimana mungkin dia bisa mengenaliku?
Setelah pemeriksaan selesai, tubuhku dibawa ke kantor polisi.
Jiwaku juga ikut melayang, duduk di kursi belakang mobil Indra.
Indra duduk di kursi penumpang depan, sementara mobilnya dikemudikan oleh Vincent, rekannya sekaligus sahabat karibnya.
Vincent berkata, “Indra, ponselmu nggak aktif? Barusan kepala polisi meneleponku, dia sedang mencarimu.”
Indra mengernyit, seolah mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Semua karena Selina, dasar wanita menyebalkan! Aku sudah memperingatkannya jangan meneleponku saat bekerja, tapi dia nggak mendengarnya.”
Meski aku sudah terbiasa mendengar ucapan-ucapan seperti ini.
Namun, melihat ekspresi jijik di wajah Indra membuatku sesak napas. Rasanya seperti ada yang meremas jantungku.
Vincent menghela napas, “Indra, mungkin istrimu hanya peduli padamu. Jangan sampai bertengkar dengannya.”
Indra mendengus dingin, tidak menanggapinya.
Indra membuka ponselnya dan pesan dariku langsung muncul.
Ada sedikit harapan kecil di hatiku, mungkinkah Indra akan menyadari ada yang tidak beres denganku?
Namun, wajahnya malah menunjukkan ekspresi yang sangat kesal. “Ini yang disebut peduli? Apa maksudnya selamat tinggal?”
Indra mencoba meneleponku, tapi aku sudah tidak bisa menjawabnya lagi sekarang.
Saat teleponnya tidak tersambung, ekspresi wajah Indra semakin muram. “Baiklah Selina, sebaiknya kamu benar-benar pergi jauh dan jangan pernah kembali.”
Usai bicara, tanpa ragu Indra langsung memblokir nomorku.
Sedikit pun tidak berpikir kalau mungkin aku sedang dalam bahaya.
Rasa sakit di hatiku perlahan terasa mati rasa dan tidak ada lagi gelombang emosi di hatiku.
Harusnya aku sudah menyadari ini sejak dulu.
Indra tidak pernah peduli padaku, bahkan tidak mau repot-repot memikirkanku.
Aku sudah mati, tapi masih saja berpegang pada harapan yang tak masuk akal.
Aku mengikuti jasadku sampai ke kantor polisi dan Indra membawa tubuhku ke ruang autopsi.
Jiwaku tetap berada di luar, mengikuti Indra ke mana pun dia pergi. Aku melihat dengan mata kepala sendiri saat dia membedah tubuhku.
Entah kenapa, sejak melihat Indra, jiwaku terus mengikutinya, tidak bisa bergerak dan melepaskan diri.
Bab 3
Tak lama kemudian, hasil autopsi keluar.
“Korban diperkirakan berusia sekitar dua puluh enam tahun. Sepertinya penculik sangat membencinya, karena dia disiksa berat sebelum akhirnya tewas akibat ledakan bom.”
“Yang paling penting, korban sedang hamil dua bulan.”
Begitu kalimat itu diucapkan, semua orang terdiam.
Penyiksaan, kematian akibat ledakan, dua nyawa melayang.
Setiap kata yang terucap begitu mengejutkan.
Aku terpaku mendengar kata-kata Indra, tidak percaya sambil melihat ke perutku.
Aku hamil?
Anak ini masih begitu kecil, aku bahkan belum tahu keberadaannya, tetapi dia sudah harus meninggalkan dunia ini.
Air mataku mulai mengalir tanpa henti.
Indra hanya menghela napas.
“Kasihan sekali, semoga kalian bisa segera menyelesaikan kasus ini dan memberikan keadilan bagi korban. Kebetulan kasus yang sedang kutangani hampir selesai, jadi aku bisa membantu kalian.”
Aku menatap Indra dengan senyuman sinis.
Jika dia tahu bahwa korban ini adalah aku, apakah dia masih akan berbicara seperti ini?
Setelah autopsi selesai, wajah Indra tampak muram. Dia dan Vincent duduk dan merokok di halaman.
Vincent mencoba menasehatinya, “Indra, wajar saja ada pertengkaran di dalam rumah tangga. Kalau istrimu marah, kamu tinggal minta maaf saja, semuanya akan baik-baik saja.”
Indra tersenyum sinis dan menjawab, “Minta maaf? Dia hanya akan semakin keterlaluan. Dia bahkan menelepon untuk mengancamku hari ini saat jam kerja. Dia mungkin akan berpura-pura mati lain kali.”
Yang tidak diketahui oleh Indra adalah bahwa aku benar-benar sudah mati.
Saat tahu kebenarannya nanti, entah dia akan menyesal telah mengucapkan kalimat itu.
Namun aku tak peduli lagi, aku hanya berharap bisa benar-benar meninggalkannya.
Indra yang tak tahu harus berkata apa hanya bisa menghela napas.
Penyelidikan di mulai dengan mencari data orang hilang. Vincent sudah berhari-hari memeriksa berkas, tetapi hanya menemukan beberapa wanita yang hilang dan sesuai dengan profil korban.
Tiba-tiba, ponsel Indra berdering.
Itu panggilan dari Vinie, teman masa kecilnya.
“Kakak, kapan kamu pulang? Aku ke rumahmu tadi, tapi kamu nggak ada.”
Wajah Indra yang lelah karena begadang, seketika tersenyum dan menjawab, “Lagi ada kasus di sini. Begitu selesai, aku akan pulang dan menemanimu, ya?”
Dengan manja, Vinie berkata, “Tapi aku mau menonton film horor dan aku nggak berani menonton sendirian.”
“Kamu selalu ada di sampingku dulu.”
Indra tidak merasa diganggu saat bekerja, melainkan dengan sabar menghiburnya, “Aku janji, begitu kasus ini selesai, aku akan mengambil cuti dan kita pergi liburan, bagaimana?”
Vinie dengan santai menjawab, “Baiklah, memangnya kasus apa yang sedang kamu kerjakan?”
Indra menjawab, “Ada seorang wanita yang diculik dan dibom. Kami sedang menyelidiki identitasnya sekarang. Kami curiga dia mungkin punya dendam dengan pelaku.”
Indra tertawa kecil, lalu dengan lembut melanjutkan, “Tapi kamu nggak perlu tahu detailnya, kamu penakut, nanti malah nggak bisa tidur.”
Aku tersenyum sinis melihat semua ini, betapa menyedihkannya.
Indra bahkan khawatir kalau Vinie akan ketakutan, tetapi dia tidak pernah memikirkan kemana aku pergi.
Hubungan Indra dan Vinie memang lebih berbeda dibandingkan hubungan kami.
Setelah menutup telepon, Indra kembali fokus bersama Vincent untuk memeriksa daftar orang hilang.
Menjelang tengah malam, semua orang hilang sudah diperiksa.
Hasilnya tidak ada yang sesuai.
Kasus ini menemui jalan buntu, membuat semua orang terdiam, memikirkan langkah selanjutnya.
Vincent menatap jasadku, lalu berkata, “Sebarkan saja ciri-ciri korban, siapa tahu ada keluarga yang belum melaporkan kehilangan anggota keluarganya.”
Vincent mengangguk dan segera menghubungi stasiun TV setempat.
Tidak sampai sepuluh menit, informasi tentangku sudah tersebar ke seluruh kota.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ponsel Indra berdering.
Dalam kelinglungan, aku mendengar suara di telepon yang langsung membuatku terbangun.
Suara di ujung telepon itu adalah ayahku. Dengan cemas, beliau berkata, “Indra, Selina sudah hilang beberapa hari dan informasi dari kepolisian mirip dengan ciri-cirinya.”