Bab 1

"Uh, sakit ...."

Di bawah sorotan lampu yang terang,

Pria itu memintaku untuk berbaring di tempat tidur. Dia memegang pinggangku dari belakang dan menekannya perlahan sambil mencari titik kenikmatan.

Namun, aku merasa sangat aneh hingga berteriak dan memintanya untuk berhenti.

Siapa sangka, dia tidak hanya tidak berhenti, tapi juga menarik ikat pinggangku dengan kasar.

"Pinggangmu indah, kakimu panjang, kulitmu halus dan putih."

"Meski ada kekurangan kecil, Nona Rania punya tubuh yang hampir sempurna dan layak menjadi pramugari."

Aku berbaring di kasur pijat dengan wajah memerah, celanaku terbuka dan bajuku terbuka lebar.

Kedua kakiku berada di bahu dokter tampan di depanku dan aku tidak bisa berhenti gemetar.

Tangannya yang besar dan hangat terus bergerak di tubuhku dan aku merasa seolah-olah ada api panas yang membakar kulitku.

"Ah ... Dokter Denis ... bagaimana dengan kekuranganku?"

Aku terengah-engah dan mencoba bernapas dengan teratur, lalu bertanya pada pria itu dengan suara gemetar.

Aku melihat dia tersenyum percaya diri.

"Jangan khawatir, semua wanita akan menjadi sempurna di sini!"

Kemudian, dia mengeluarkan stoples dari sakunya.

Dengan tangan kosong, dia mengambil segumpal besar krim lengket dan mengoleskannya ke tubuh bagian depanku.

Namaku Rania Ganis, aku seorang pramugari.

Wajahku yang cantik dan badanku yang ramping adalah hal yang paling kubanggakan sejak kecil.

Namun, setiap orang mengejar kesempurnaan,

Setiap kali memikirkan hal itu, aku menundukkan kepala dan melihat "dataran" di depanku. Aku merasa sangat rendah diri.

Tinggiku 175 cm dan beratku 58 kg, payudaraku tergolong datar.

Bukan hanya aku yang tidak menyukainya, semua mantanku pacarku juga menganggap aku terlalu datar.

Karena itulah aku sering pakai bantalan yang tebal. Meskipun di musim panas itu membuat kulitku iritasi, aku tetap memakainya.

Semua itu kulakukan agar orang lain berkata,

"Ya ampun, Rania sangat ramping tapi berbentuk. Pasti bahagia yang menjadi pacarnya."

Namun akhir-akhir ini,

karena perubahan seragam maskapai, aku tidak bisa lagi memakai bantalan itu.

Jadi, aku berpikir untuk melakukan operasi pembesaran payudara, memasang implan, dan menjadi wanita yang cantiknya buatan.

Namun, di saat yang sama, aku adalah orang yang sangat penakut.

Berita tentang implan yang berpindah dan menjadi tumor, implan meledak, dan masalah lainnya mengguncangkan pikiranku.

Terlebih lagi, kami sering berada di udara. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada implan tersebut.

Aku tidak hanya akan kehilangan nyawa, tapi juga akan diejek dan dihina selama sisa hidupku. Aku tidak akan bisa hidup damai bahkan setelah mati.

Ketika memikirkan hal ini, aku menggelengkan kepala dengan cepat untuk menghilangkan pikiran buruk tentang pembesaran payudara.

Huh, aku merasa sedikit kesal.

Apakah citra wanita cantik yang kubangun dengan susah payah akan runtuh begitu saja?

"Wah! Sisil, kenapa kamu jadi sebesar ini? Ya ampun, kamu operasi, ya? Jujur saja, iya atau nggak?"

Saat aku sedang mengemasi kabin dengan cemas,

tiba-tiba aku mendengar Sisil dan Rinda sedang bertengkar.

"Hei, Rinda, jangan cari masalah! Asal kamu tahu, aku nggak operasi, ini alami …."

Aku tidak mendengar kata-kata selanjutnya, tetapi tiba-tiba aku melihat Sisil berjalan keluar dari ruang istirahat.

Wajah cantiknya masih sama, tapi "gunung besar" di depannya membuatku terkejut.

Aku mengulurkan tangan dan memperkirakan dengan hati-hati. Setidaknya itu cup D.

Tak bisa dipungkiri, "gunung besar" itu membuat Sisil tiba-tiba menjadi lebih cantik.

Dulu dia tampak membosankan, tapi sekarang dia sangat memesona.

"Um … Sisil, malam ini tunggu aku. Aku mau bicara denganmu ...."

Hatiku terombang-ambing.

Di satu sisi, aku tidak ingin orang lain mengetahui rahasiaku. Di sisi lain, aku penasaran bagaimana dia melakukan itu.

"Ah, oke, Kak Rania"

Setelah mendengar jawaban Sisil,

aku menundukkan kepalaku lagi dan menatap dada Sisil yang tinggi badannya 168 cm. Kemudian, aku mengepalkan tanganku dan mengambil keputusan.

Bab 2

"Apa? Pijat? Apa bisa berhasil?"

"Tentu saja. Kalau kamu nggak percaya, sentuh saja. Kak Rania, aku nggak akan bohong padamu. Aku hanya kasih tahu kamu, nggak kasih tahu orang lain."

Sisil memberitahuku bahwa payudaranya membesar karena pijat. Pijat tidak akan menimbulkan efek samping yang buruk.

Aku terkejut sampai menganga.

Setelah mengatakan itu, Sisil meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya yang lembut itu.

"Ah ... Kak Rania, pelan-pelan ...."

Aku terkejut dengan sensasi di tanganku dan meremasnya dengan kuat.

Saat ini, aku percaya bahwa itu memang asli dan bergumam bahwa ini adalah ide yang bagus.

"Baiklah, kalau begitu kamu bisa rekomendasikan dokter ini padaku. Aku ... aku punya teman yang punya masalah ini. Terima kasih, Sisil."

Aku tersenyum canggung dan menyalakan ponselku untuk menanyakan kepada Sisil tentang membuat janji temu di klinik.

Di luar dugaan, rumah sakit ini tidak seperti klinik bedah plastik lainnya yang biasanya serius dan dingin.

Ada juga beberapa humor dan kelucuan.

Artikel pertama di situs resminya menyatakan bahwa masih 95 tahun lagi untuk menjadi rumah sakit berusia seabad.

Aku menelusuri artikel itu satu per satu dan segera melihat banyak testimoni tentang keberhasilan pijat dan pembentukan tubuh.

Yang paling terbaru menunjukkan foto Sisil.

Meskipun wajah Sisil tidak ditampilkan, aku bisa memastikannya karena tato di tubuh bagian depan Sisil.

Ulasan positif dan pujian ditampilkan di situs resmi rumah sakit.

Pada akhirnya, hal ini makin menguatkan tekadku untuk dipijat agar payudaraku membesar.

Pada hari libur,

aku memberanikan diri untuk pergi ke klinik pijat itu.

"Halo, aku sudah buat janji dengan Dokter Denis."

Dengan mengenakan topi dan masker yang tertutup, aku bertanya ke resepsionis.

Sebelum resepsionis sempat berbicara,

seorang pria setinggi 186cm berjas putih datang mendekat.

"Halo, apa Anda Nona Rania? Anda sudah buat janji untuk pijat pembentukan tubuh, 'kan? Namaku Denis Gunawan, silakan ikut aku."

Pria itu mengambil tas bahuku.

Kemudian, tangannya yang hangat menyentuh bahuku dan menuntunku ke klinik dengan lembut.

Di dalam klinik,

aku berdiri diam dan meremas ujung pakaianku karena malu.

"Hahaha, Nona Rania, aku tahu kamu khawatir. Tapi, nggak ada istilah pria dan wanita di depan dokter. Anggap saja aku seperti kentang."

Denis melihatku gugup karena dia dokter laki-laki, tapi dia segera tersenyum dan melepas topengnya untuk menenangkanku.

Pria di balik topeng itu lebih tampan, alisnya lancip dan matanya berbinar.

Sepasang mata itu menatapku sambil tersenyum. Bulu mata panjangnya tampak lembut, pangkal hidungnya tinggi, dan bibirnya merah sehat.

"Nggak bisa. Kalau kamu kentang, maka kamu itu kentang yang tampan."

Aku sedikit terkejut dan langsung memuji Denis.

Setelah mendengar pujianku, Denis tersenyum lembut. Kemudian, dia mengenakan sarung tangan dan menunjuk ke kasur pijat di sampingnya.

"Terima kasih atas pujianmu, Nona Rania. Sekarang tolong lepaskan semua atasanmu dan berbaring di sini."

Karena malu, aku melepaskan semua pakaianku, berbaring di kasur, dan mengembuskan napas dengan lembut.

Dokter Denis menggunakan dua jari untuk mengangkat dan memeriksanya.

Setelah beberapa saat, dia mencubitnya dengan lembut.

Aku merasa wajahku memerah dan tubuh bagian bawahku terasa aneh.

Namun tak lama kemudian, Denis mengerutkan kening dan aku merasa sedikit takut.

"Kenapa? Dokter Denis, apakah ada kesulitan?"

"Nona Rania, aku nggak bisa mengamati titik pijatan terbaik kalau seperti ini. Sepertinya kamu punya masalah ginekologi lainnya."

Kata-kata Denis membuatku tercengang. Aku duduk dengan gugup dan menatapnya.

"Ah! Benarkah? Nggak mungkin, aku … aku sangat bersih … aku …."

Ketika melihat aku sangat gugup, dia tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Jangan khawatir, Nona Rania. Aku nggak bermaksud begitu. Ini hanya perkiraan. Aku bisa lakukan pemeriksaan yang lebih sistematis. Aku nggak bisa temukan masalah kalau seperti ini. Sekarang buka celanamu dan berlututlah, aku akan memeriksanya."

Setelah mendengar apa yang dia katakan, aku jadi khawatir apakah ada penyakit tersembunyi.

Kebetulan, sudah beberapa bulan ini menstruasiku tidak teratur dan aku sering mengalaminya di malam hari ….

Jadi, aku mendengarkan kata-katanya dan menangkupkan tanganku di dada.

Kemudian, dia merentangkan kakiku dan berlutut di atasnya dengan posisi yang memalukan.

"Jangan gugup. Ini untuk melihat keadaan payudara yang kendur saat terlentang, agar bisa menemukan titik pijatannya. Nanti aku akan melakukan pemeriksaan ginekologi."

Setelah mengatakan itu, Denis menarik tangan yang menutupi dadaku, meletakkan telapak tangannya yang besar di atasnya, dan meremasnya dengan lembut.

"Ah … um …."

Karena tubuhku sensitif, aku tidak bisa menahan diri dan mendesah lembut. Remasannya lembut dan nyaman.

Lagi pula, aku sudah lama tidak punya pacar.

Ditambah dengan wajah tampan Dokter Denis, mau tak mau hal ini membuatku bingung.

"Rania, kamu nggak boleh memikirkan Dokter Denis seperti ini, dia adalah malaikat!"

Aku berbisik dalam hati, tetapi sulit untuk tidak memikirkannya.

Dokter Denis ingin memeriksanya dengan lebih baik,

jadi dia berlutut di kasur pijat, tepat di belakangku.

Mungkin karena aku terlalu kecil.

Untuk memeriksa seluruh tubuhku, Dokter Denis harus menekan seluruh tubuh bagian belakangku ke bokongku.

Sepertinya aku bisa merasakan ritsleting celananya di celana dalamku. Yang lebih parah lagi, napasnya berembus di belakang leherku.

Aroma mint dari napasnya yang hangat membuatku pusing.

Seluruh tubuhku dipegang dan diremas-remas seperti adonan.

"Ah! Dokter Denis, um … apakah observasinya sudah selesai? Aku ...."

Aku memanggil namanya dengan lembut.

Namun, dia tidak menjawab. Kemudian, aku merasakan tangannya meninggalkan tubuhku.

Di klinik yang sepi itu, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah ritsleting yang dibuka.

Aku ingin menoleh dan melihatnya,

tetapi lenganku tidak bisa menahan kekuatannya dan wajahku menempel keras ke kasur pijat.

"Nona Rania, tenang saja. Kami akan memeriksanya sekarang."

Setelah beberapa saat, suara serak dan rendah Denis terdengar dari jauh.

Tak lama setelah itu, seseorang memegang pinggangku dengan erat.

Kemudian, tubuh bagian bawahku terasa dingin. Celana dalamku ditarik ke bawah dan sebuah benda keras dan berbulu menyembul ke atas.

"Ah! Denis!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B33791" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B33791
Salin

Pramugari Seksi dan Klinik Misterius

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya