Bab 1

Indra Djatmoko tergoda oleh Ceani Janeta, seorang janda yang tinggal di lantai bawah.

Itu karena Ceani bisa membuatkan sarapan spesial untuknya, tidak peduli kalau dia berjalan membungkuk dan makan mengecap.

Dia berkata, "Wanita di rumahku seperti robot, rasanya seperti dapat tugas kalau dekat-dekat dengannya."

"Nggak seperti Ceani. Dia pengertian dan membuatku hidup seperti manusia."

Dia bahkan iri pada suami Ceani yang sudah meninggal, merasa suaminya beruntung karena bisa menikah dengannya.

Aku pun memutuskan untuk mengabulkan keinginannya.

Kalau sampai terlambat, aku khawatir dia akan tersadar.

Aku tahu Indra tidak pergi ke kantor setelah pihak perusahaannya menelepon dan menanyakan keberadaannya.

Indra sudah keluar sebelum fajar, mengatakan kalau dia akan pergi sarapan.

Dia tidak menjawab panggilanku, jadi aku bergegas kembali.

Beberapa nenek yang tengah berjemur di depan rumah menatapku dan tersenyum sambil mencibir.

Ini bukan yang pertama kalinya, jadi aku menghentikan langkah kakiku karena emosiku terpengaruh.

Mata mereka menatapku dan toko yang menjual sarapan bergantian.

Pintu toko yang biasanya ramai, saat ini ditutup.

Nenek Risma ragu-ragu sejenak, lalu melambaikan tangannya padaku.

Dia berbisik di telingaku, "Pergi dari belakang dan lihatlah."

Hatiku yang sudah cemas makin tidak karuan saat ini.

Saat melewati toko dan melihat melalui jendela yang terbuka, aku melihat dua orang tengah tidur telanjang bersama.

Hanya dengan melihat punggung putihnya yang menghadap jendela, aku tahu kalau laki-laki itu Indra.

Aku menahan keinginan untuk menendang pintu, mengeluarkan ponsel dan mengambil foto mereka.

Ceani Janeta yang dalam keadaan acak-acakan membuka matanya sedikit dan menatap mataku.

Namun, dia meringkuk, tersenyum dan melingkarkan lengannya di leher Indra.

Dia tampak sangat percaya diri.

Aku pergi dengan tangan dan kaki yang hampir mati rasa, menaiki tangga untuk pulang ke rumah.

Aku duduk lama di ruang tamu dan termenung cukup lama. Selain marah, aku hanya merasa sedih.

Bahkan orang seperti Indra pun sudah pintar berselingkuh.

Ponselku berdering, membuka foto dari kontak yang mengirimiku pertemanan.

Setelah menerima permintaan pertemanannya, dia mengirimkan dua video pendek yang tidak enak dipandang.

Sepertinya itu adalah rekaman kamera pengintai di rumah.

Dalam video tersebut, Indra tersenyum sambil memeluk Ceani.

Dia berkata, "Wanita di rumahku seperti NPC, rasanya seperti dapat tugas kalau dekat-dekat dengannya."

Ceani tersenyum, meringkuk dalam pelukan Indra. "Kalau laki-laki melakukan semuanya, lalu apa gunanya istri?"

"Iya. Aku makan saja dia protes. Dia memintaku jangan mengecap saat makan."

Ceani tertawa keras. "Makin sering kamu mengecap, aku makin bahagia."

"Kalau makanannya enak aku baru mengecap. Istriku memang nggak waras."

Aku mencengkeram ponsel dengan erat, berharap menamparnya beberapa kali melalui layar.

...

Indra baru kembali saat siang. Begitu melihatku, dia bersikap seperti melihat hantu.

Dia berkata gagap, "Kamu ... kamu nggak kerja?"

Aku menatapnya. "Perusahaanmu telepon, katanya kamu nggak berangkat kerja."

Tatapannya menghindar ke sana ke mari, ternyata Ceani tidak memberitahunya kalau aku memergoki mereka melalui jendela.

Dia membuka sepatunya dengan perlahan, mencoba menghindari tatapanku.

"Aku cuma terlambat. Aku pulang mau ganti baju, terus ke kantor. Aku nggak berangkat setengah hari."

Dia bilang saat dalam perjalanan ke kantor, dia terkena cipratan air dari mobil yang melaju. Bahkan ponselnya basah.

Saat mengatakan itu, dia juga menyodorkan ponselnya kepadaku. "Mana mungkin aku sengaja nggak berangkat kerja?"

Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan, tetapi tatapannya menghindari tatapanku.

Melihatku tidak merespons, dia menggaruk-garuk kepalanya karena malu dan melangkah ke kamar.

Pakaian di tubuhnya memang basah, jelas sekali bahwa dia memang sudah punya rencana buat berbohong kepadaku sebelum kembali.

Aku melihat ke sekeliling rumah, dari peralatan besar hingga panci dan wajan kecil.

Itu adalah semua yang aku beli sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun, mana bentuk kepedulian Indra terhadap rumah ini?

Dia berganti pakaian bersih dan keluar dari kamar, mengenakan sandal dan menyalakan sebatang rokok.

Perutnya yang buncit terlihat jelas bahkan melalui pakaiannya dan rambutnya berminyak.

Dia berbaring dengan posisi tengkurap di sofa, menghirup rokoknya dengan sangat menikmati.

Kakinya direntangkan di sampingku, terus bergoyang tidak mau diam.

Aku memukulnya tanpa berpikir panjang, "Jangan goyangkan kakimu."

Bab 2

Dia langsung duduk tersentak dan menatapku dengan marah.

"Kamu yang banyak maunya. Nggak boleh bungkuk saat jalan, kaki nggak boleh gerak saat duduk, nggak boleh rebahan di ranjang kalau belum ganti baju."

Dia seakan menemukan kesempatan untuk melampiaskan amarahnya, langsung mematikan rokoknya.

"Erlin, lihatlah laki-laki di luar sana, berapa banyak yang setiap hari hanya menjaga istrinya saja?"

"Nggak mudah buat menemukannya. Kamu dapat laki-laki sepertiku saja masih nggak mau bersyukur."

Aku tidak bisa menahan diri dan langsung mencibir.

Menjaga seorang istri? Berani sekali dia mengatakan semua itu?

Aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Saat masih muda, aku menyukai kebebasan dan spontanitasnya, serta permainan gitar akustiknya.

Dia selalu mengatakan bahwa dia memiliki mimpi dalam bermusik. Namun, mimpi bermusik siapa yang hanya berakhir sebagai mimpi saja?

Setelah tersisih di babak pertama audisi beberapa tahun yang lalu, dia jatuh tersungkur.

Dia mengatakan bahwa pasar tidak mengerti betapa bagusnya kemampuannya.

Sejak saat itu, dia mengurung diri di rumah, bermain piano, tidur dan menjadi gemuk.

Dia akan terus berbaring di rumah jika orang tuaku tidak meminta tolong kepada salah satu muridnya untuk mencarikannya pekerjaan.

Sekarang, dia menatapku dengan curiga, "Erlin, kamu harus belajar dari Ceani yang begitu baik dan bisa memahami orang lain."

Dia merasa sedih, "Setidaknya biarkan aku hidup seperti manusia."

Pada saat itu, kebencianku padanya mencapai puncaknya.

Dia menatapku dengan wajah muram dan terdiam.

Setelah beberapa saat, dia berdiri dan mengganti sepatunya sambil bergumam.

"Apa gunanya menikah denganmu. Aku bahkan nggak bisa makan makanan hangat di rumah."

Dia membuka pintu dan menatapku dengan ragu-ragu.

"Aku mau kerja. Erlin, pikirkan baik-baik, jangan hanya melimpahkan kekesalanmu kepadaku."

Aku tertawa dengan jengkel, menatapnya dengan cemberut.

Aku melihatnya terengah-engah saat berjalan keluar pintu, tas yang dibawanya tidak muat karena perutnya yang buncit.

Usianya bahkan belum genap tiga puluh tahun, tetapi tubuhnya sudah seperti laki-laki paruh baya.

Remaja yang bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu cinta sepanjang malam di bawah atap rumahku telah menghilang.

Dia adalah orang yang bersumpah dengan tegas sambil menggenggam tanganku ketika orang tuaku bersikeras menentang hubungan kami.

"Aku nggak akan membuat Erlin menderita sedikit pun. Aku bahkan bersedia melakukan pekerjaan kotor agar bisa menghidupinya."

Di depan ibunya yang janda, dia juga berdiri di depanku, melindungiku.

"Erlin adalah orang yang akan menemaniku menghabiskan sisa hidupku. Ibu, kalau Ibu mencintaiku, Ibu juga harus mencintainya."

Dia suka cemas sampai meneteskan air mata ketika aku sakit demam. Namun, sekarang dia sudah berubah.

Aku duduk lama, ponselku terus berdering sejak tadi.

Ada pesan dari Indra, ibunya Indra dan nomor asing.

Saat membuka pesan itu, Ceani mengirim beberapa pesan yang cukup provokatif.

"Kak Erlin, Kak Indra katakanya iri sama suamiku yang sudah meninggal karena bisa menikah denganku."

Cih! Aku membacanya dengan teliti, perasaan sakit di hatiku perlahan mulai pudar.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang wanita yang begitu niat dalam mendekati suami orang.

Ceani pindah ke sini setengah tahun yang lalu dan membuka toko sarapan tidak jauh dari sini.

Suaminya meninggal sekitar setahun yang lalu karena sakit. Katanya, dia diusir oleh mertuanya.

Dia memiliki tubuh tegap, dagu lancip dan sepasang mata yang sangat menggoda.

Sejak saat itu, Indra yang biasanya sangat susah dibangunkan saat pagi jadi sering pergi membeli sarapan.

Dia sering menyebut nama Ceani, tetapi aku mengabaikannya.

Dia memuji Ceani karena membuat sarapan yang berbeda dari yang lain.

"Ceani paham sama seleraku. Aku nggak bisa makan makanan yang terlalu hambar."

Sekarang, aku mengerti apa yang dimaksud dengan sarapan unik ini.

Pantas saja dia sudah lama tidak pernah bertanya kepadaku mengenai rencana kami untuk melanjutkan memiliki anak.

Sambil menenangkan diri, aku menelepon untuk menanyakan perihal perceraian.

Indra kembali lebih cepat dari yang aku perkirakan. Dia menutup pintu dengan kesal, napasnya terengah-engah.

"Erlin, apa kamu gila? Kenapa kamu mewakiliku mengundurkan diri?"

Namun, kemarahannya mengempis seperti balon yang tertusuk saat melihat beberapa kardus di lantai.

Matanya membelalak. "Kamu ... kamu ngapain?"

Bab 3

Aku memasukkan pakaian terakhirku ke dalam kardus, lalu menghubungi seseorang. Aku bersikap layaknya tidak melihat keberadaannya.

Di lantai bawah ada perusahaan pindahan yang aku hubungi.

"Naiklah, barangnya sudah bisa dibawa."

Indra meraih lenganku dengan panik. "Pindah? Kamu mau ngapain?"

Aku menepisnya dengan dingin.

"Sarapanmu pagi ini sudah bikin kamu kenyang, 'kan? Aku sudah melihat semuanya."

Dia mulai berkeringat, tetapi masih menyangkal perkataanku, "Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan."

Aku menyeringai dan menatap tubuhnya yang beratnya hampir mencapai dua ratus kilo.

"Turunkan berat badanmu kalau kamu punya waktu. Lengan dan kaki Ceani begitu kurus, jangan sampai patah karena kamu terlalu berat."

Wajahnya tiba-tiba memerah.

Aku sudah terlalu malas untuk berbicara omong kosong dengannya. "Bukankah kamu iri sama suaminya yang sudah meninggal? Aku akan penuhi keinginanmu."

"Surat perjanjian cerai sudah ada di atas meja, tolong tanda tangani."

Aku melihat sekeliling. "Kontrak rumah ini masih tinggal dua bulan."

Aku dan dia bahkan tidak memiliki harta gono-gini yang bisa dibagikan.

Setelah tiga tahun menikah dengannya, aku melihatnya berubah, dari seorang remaja yang begitu energik, menjadi seorang pria gemuk yang tidak beretika.

Bukan aku yang harusnya menyesal.

Indra berdiri diam, tetapi tubuhnya sedikit bergetar.

Dia memelototiku dan berkata dengan penuh semangat, "Kamu pikir aku peduli denganmu? Aku sudah muak dengan aturanmu. Cerai ya cerai saja!"

Dia melangkah mendekat dan mengambil pena, tetapi ragu-ragu untuk menandatanganinya.

Sikapnya ini seakan dia sedang memberikan semangat kepada dirinya sendiri.

Dia menggertakkan gigi dan berkata, "Ceani seratus kali lebih baik darimu."

"Cerai dariku, kamu akan menyesal, Erlin."

Aku menatapnya dengan saksama saat dia membubuhkan namanya pada surat cerai, lalu merasa lega.

...

Rumah orang tuaku akan dihancurkan.

Berita itu sudah sering terdengar dan ibu Indra yang sudah menjanda juga dibuat khawatir.

Kemudian, orang tuanya tidak lagi memperhatikan karena berita itu berulang kali salah.

Kali ini, berita itu benar. Para penyewa telah menerima kompensasi.

Orang tuaku tidak bisa berhenti tersenyum saat mendengar berita perceraianku.

Namun, ketika mereka mendengar bahwa Indra sudah berhubungan badan dengan janda itu, ibuku sangat marah hingga menepuk pahanya dengan keras.

"Apa dia nggak punya malu? Kalau orang lain pasti akan merahasiakannya, tapi dia malah nggak mau pura-pura!"

Aku menekan rasa pahit di hatiku. Aku pikir Indra awalnya ingin berpura-pura.

Namun, itu adalah tindakan yang sangat sulit baginya.

Kami awalnya mencoba untuk berhemat dan menyewa sebuah apartemen tua yang kumuh.

Penyewa di sekitar kami hanya orang tua, jadi sering melihat perdebatan kami.

Jika aku lebih sering berbincang dengan para nenek-nenek yang menjadi tetanggaku, aku mungkin akan tahu kabar ini lebih awal.

Ibu Indra meneleponku.

Dia telah bekerja keras untuk membesarkan Indra dan sangat menyayangi putranya.

Dia memakiku melalui telepon, "Sudah menikah lama, tapi kamu nggak bisa punya anak! Sudah begitu, kamu masih berani minta cerai?"

"Kalau kamu bangun lebih pagi dan memasak untuknya, mana mungkin dia akan pergi ke toko perempuan itu buat sarapan?"

Dia sering mengatakan omong kosong semacam ini di awal pernikahanku dengan Indra.

Pada saat itu, aku dan Indra masih saling bergantung dan dia sangat melindungiku.

"Erlin harus bekerja, jadi wajar saja kalau dia nggak bisa bangun lagi. Aku bisa beli sarapan di depan apartemen."

Ibunya mencibir, "Nggak bisa bangun pagi? Kalau nggak mau mencoba bangun pagi, mana mungkin dia bisa bangun pagi?"

Mengingat kembali akan hal ini, aku merasa lega.

Bukankah dia selalu khawatir anaknya akan mati kelaparan? Sekarang, dia sudah bersama dengan janda itu.

Dia tidak mungkin kelaparan lagi.

Benar saja, ketika aku pindah, Ceani langsung pindah ke rumah itu.

Indra tidak berani bilang apa-apa, tetapi Ceani mengirimiku video, mencoba untuk pamer.

Keadaan rumah itu masih sama, sama dengan ketika aku memindahkan barang-barangku pergi dari sana.

Hanya ada satu tempat tidur besar yang tersisa.

Seprainya masih sama, waktu itu aku memang belum sempat menggantinya, sudah penuh dengan keringat Indra.

Aku tersenyum dan menjawab pesannya.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B37418" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B37418
Salin

Prahara Uang Kompensasi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya