Bab 1
Pada hari pesta pernikahan dilangsungkan, wanita yang dicintai oleh pacarku selama sepuluh tahun mengatakan bahwa dia akan menggantikanku menikah dengan pacarku.
Dia mengenakan gaun pengantin dan cincin milikku sambil menangis tersedu-sedu.
"Kak Erika, aku sakit parah. Kamu bakal menjalani seluruh hidupmu bersama Kak Bimo. Biarkan aku yang melakukan pesta pernikahan ini."
Pacarku yang bernama Bimo menimpali, "Erika, kamu lagi hamil anakku, kita juga sudah dapat buku nikah. Kamu sudah punya banyak hal, jadi nggak penting apakah kamu bakal melangsungkan pesta pernikahan ini atau nggak."
Para tamu di atas panggung mulai menuding, membuat pengantin wanita sepertiku menjadi bahan lelucon.
Namun, saat itu aku tidak membuat masalah. Aku memutuskan membuat janji untuk melakukan aborsi, lalu tersenyum ramah pada wanita kesayangan Bimo.
"Boleh saja. Aku berikan pernikahan ini untukmu, aku juga akan memberimu pria bajingan yang sudah aku pacari selama sepuluh tahun!"
"Erika, kamu bicara apa, sih?" Bimo mencoba menarikku dengan tangannya yang bebas, sementara satu tangannya tidak pernah lepas dari tangan Riani.
Aku mengangkat tangan dan menampar wajah Bimo. Dia menutupi wajahnya, matanya terbelalak tidak percaya.
Riani mengangkat roknya dan melindungi Bimo dengan satu tangan, sambil merengek lirih, "Kak, jangan marah, jangan sakiti Kak Bimo."
"Aku sudah nggak menginginkan pernikahan ini lagi, aku bakal balikin gaun pengantinmu. Biarkan saja aku mati sendirian, huhuhu."
Kata Riani sambil beranjak untuk melepaskan gaun pengantin dari tubuhnya, tetapi dihentikan oleh Bimo.
"Riani, gaun pengantin ini milikmu, pernikahan ini juga milikmu."
Dia merapikan gaun pengantin yang dikenakan Riani dengan hati-hati, tidak melewatkan setiap renda. Gaun pengantin berwarna putih makin membuat Riani terlihat lemah, sementara lampu di aula membuatnya terkesan lebih indah dan rapuh.
Ini adalah gaun pengantin yang dipilihkan Bimo untukku, tetapi sangat cocok untuknya.
Tiba-tiba, aku mengerti kenapa pada hari aku mencoba gaun pengantin ini, aku merasa tidak cocok dan ingin menggantinya. Namun, Bimo mengatakan bahwa itu adalah model yang dibuat khusus dan tidak bisa diubah.
Ternyata itu adalah model yang dibuat khusus yang disiapkan khusus untuk Riani sejak awal.
Aku tersenyum pahit pada sendiri dan Bimo melihat senyuman di wajahku.
"Erika, kamu sudah puas? Apa kamu akan terus memaksanya?"
"Lebih baik pikirkan bayi di dalam perutmu. Kalau kamu nggak mau dia lahir tanpa ayah, patuhlah dan lakukan apa yang aku perintahkan. Jangan buat masalah!"
Lagu pernikahan dimainkan, para pembawa bunga di kedua belah pihak mulai menaburkan kelopak bunga mawar. Bimo berjalan memasuki lokasi pernikahan dengan menggandeng tangan Riani di tengah-tengah perhatian semua orang.
Dengan alunan musik piano yang menyuarakan kebahagiaan, aku menghubungi rumah sakit untuk melakukan aborsi.
Para tamu menatap pasangan yang berbahagia di atas panggung, menunjuk ke arahku seolah-olah aku adalah tamu tak diundang.
Ketika aku mendengar Bimo dan Riani mengungkapkan cinta mereka di depan pembawa acara, aku tidak tahan dengan tatapan menyelidik yang diarahkan kepadaku, lalu pergi dengan perasaan tidak nyaman.
Sebelum pergi, aku sempat melirik ke arah anggota keluargaku yang duduk di barisan depan, yang sama sekali tidak terkejut bahwa pengantin wanita di atas panggung telah berubah.
Bahkan adik laki-lakiku naik ke atas panggung untuk memberikan restunya. "Pernikahan hari ini benar-benar luar biasa. Kak Bimo mengaturnya dengan sempurna."
Mereka yang tidak tahu pasti akan mengira bahwa orang yang berada di atas panggung itu aku.
Setelah turun dari panggung, melihatku tidak ada di sana, adikku langsung mengirim kesan kepadaku.
"Kak, cepat pulang, jangan sampai bikin malu Kak Bimo. Ini cuma pesta pernikahan, yang penting namamu ada di dalam surat nikah bersama Kak Bimo."
"Minta maaflah dengan benar. Kak Bimo janji bakal membelikanku mobil baru bulan depan. Aku sudah tanda tangan. Kalau Kak Bimo sampai marah, kamu harus bayar pembayaran terakhir mobilnya."
Hatiku langsung menegang. Aku mengetik dengan tangan gemetar, lalu bertanya, "Bukannya aku kasih kamu uang setiap bulan? Kenapa kamu minta hadiah semahal ini sama Bimo?"
Adikku masih mengetik, tetapi tidak ada pesan masuk darinya.
Sebaliknya, ibu dan ayah menelepon secara bersamaan, lalu mengutukku, "Dosa apa yang sudah aku lakukan sampai melahirkan pecundang sepertimu! Bukan cuma nggak bisa beliin adikmu mobil, kamu malah buat masalah padahal sudah menikah sama laki-laki kaya! Bikin malu saja!"
Di tengah omelan orang tuaku yang terdengar terus menerus, aku akhirnya menemukan satu hal.
Pantas saja ibu mertuaku selalu mengatakan secara sengaja maupun tidak sengaja bahwa aku ini wanita mata duitan. Dia tidak pernah memperlakukanku dengan baik.
Ternyata orang tua dan adikku sudah berkali-kali meminta uang kepada Bimo dengan mengatasnamakanku.
Seluruh kekuatan tubuhku luruh, aku terduduk lemas di tangga di tengah auditorium. Panggilan yang masuk barusan sudah ditutup secara sepihak.
Bab 2
Setelah berjuang cukup lama, aku memaksakan diri untuk berdiri.
Ketika menuruni tangga, kakiku keseleo dan rasanya sangat sakit.
Aku melihat sepatuku, ternyata tumitku sudah berdarah.
Ternyata bukan hanya gaun pengantinnya yang tidak muat dengan ukuranku, sepatu hak tingginya juga tidak muat dengan kakiku.
Aku sempat berpikir bahwa itu karena Bimo terlalu sibuk dan tidak cukup teliti dalam memperhatikan hal-hal yang berhubungan denganku, jadi dia salah memilih.
Aku melihat ke arah mawar putih dan violet yang diletakkan di taman, yang juga merupakan bunga favorit Riani.
Ternyata, semua itu bukan untukku.
Ketika aku berjalan melewati jalan setapak di taman menuju lokasi pernikahan sebelumnya, kakiku sudah lelah karena tumitku terluka.
Sekarang, kakiku keseleo. Saat menginjak jalan berkerikil, setiap langkah yang aku ayunkan terasa sangat menyakitkan.
Semua pelayan menundukkan kepala saat mereka melewatiku. Mereka tidak menatapku, hanya bergegas menuju ruang perjamuan dengan makanan di tangan mereka.
Tidak ada yang mau membantuku karena Bimo sudah mengatakan kepada semua orang untuk tidak mengurusiku dan membiarkanku pergi semauku.
Aku langsung melepas sepatu hak tinggiku dan melemparkannya dengan asal. Aku tidak menginginkan sesuatu yang bukan milikku.
Kakiku menginjak kerikil, menimbulkan memar-memar kecil di permukaan. Aku berjalan dengan susah payah sampai ke depan pintu.
Aku mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi ke rumah sakit. Saat akan membayar, aku tiba-tiba menyadari bahwa uangku tidak cukup.
Langit tiba-tiba menjadi gelap, awan hitam bergulung di kejauhan. Aku tidak tahu kapan hujan deras akan turun.
Bagaimana mungkin saldonya tidak mencukupi? Jelas-jelas aku mendapatkan gaji enam puluh juta setiap bulan.
Aku keluar dari aplikasi bank, masuk, lalu memeriksa isi saldo di dalamnya.
Sopir taksi yang sudah berhenti menatapku dengan pandangan menghina. "Kalau nggak punya uang jangan naik taksi. Ganggu saja!"
Aku berpikir untuk waktu yang sangat lama, yang terlintas dalam benakku adalah keluargaku yang mata duitan.
Pada saat seperti ini, ketika aku sangat membutuhkan dukungan keluargaku, mereka sudah sejak lama menyembunyikan pisau di belakang punggung mereka, menunggu untuk memberikan pukulan fatal ketika aku berada pada titik yang paling rentan.
Aku duduk di tepi jalan sambil memeluk lutut. Tiba-tiba, dering ponselku berdering memecah lamunanku.
Suara Bimo terdengar sangat murah hati, seperti sedang membujuk anak kucing.
"Acara sudah selesai. Kembalilah, kamu bisa foto sama kami, jadi nanti ada yang dilihat saat hari perayaan.
"Nggak perlu." Aku menyeka air dari wajahku dan menyadari bahwa hujan telah turun selama satu jam, membasahi tubuhku.
"Erika, aku sudah mengalah, tapi kamu nggak mau memanfaatkannya dengan baik. Apa maumu sebenarnya?"
"Kamu nggak punya uang sepeser pun saat ini. Kalau kamu masih bersikap nggak tahu diri, aku nggak keberatan membuatmu merasakan bagaimana pahitnya hidup di jalanan."
"Dari mana kamu tahu aku nggak punya uang?" tanyaku sangat terkejut.
"Heh, itu karena orang tua dan adikmu yang nggak pernah puas." Katanya dengan nada meremehkan, "Mereka selalu minta uang, memperlakukanku seperti ATM mereka. Menjengkelkan sekali, jadi aku kasih tahu mereka kata sandi kartu bank milikmu."
"Tapi tenang saja, aku punya lebih dari cukup uang buat menghidupimu. Aku nggak punya kewajiban buat menghidupi keluargamu."
Ternyata seperti itu. Uang yang selama bertahun-tahun aku kumpulkan dengan susah payah sudah dihabiskan oleh mereka, bahkan tidak menyisakan satu sen pun.
"Keluargamu mata duitan semua yang dikit-dikit minta uang. Riani nggak pernah menggangguku karena masalah seperti ini."
Dia mengoceh tentang keluargaku, memuji Riani yang begitu lembut, murah hati dan sopan.
Tidak pernah mengganggunya?
Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali hamil dan orang tuaku datang ke rumah untuk meminta uang. Aku tidak memberikan uang yang mereka mau, karena aku memikirkan biaya cuti melahirkan yang harus aku ambil setelahnya.
Adikku menjadi kesal dan mengatakan bahwa aku jadi berani karena sudah menikah. Setelah itu, dia mendorongku hingga jatuh dari tangga.
Aku hampir saja kehilangan bayi dalam kandunganku. Namun, lenganku terkilir karena tanganku melindungi perutku saat jatuh dari tangga.
Ketika aku menelepon Bimo, dia sedang bersama Riani, yang kabur dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya.
Mendengar penjelasanku, Bimo hanya mengatakan bahwa ini masalah keluargaku. Lalu, dia melemparkan ponselnya begitu saja.
Kemudian, dia melanjutkan membujuk Riani, mengatakan bahwa jika orang tua Riani berani pilih lagi, dia akan membuat bisnis mereka merugi.
Aku memegangi lenganku yang terkilir dan meneleponnya berkali-kali. Ketika panggilan diangkat, dia hanya mengatakan bahwa aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri.
Dia bahkan tega memberitahukan kata sandi kartu bank milikku kepada keluargaku, demi memperbaiki keadaan untuk yang terakhir kalinya.
Telepon masih tersambung, tetapi dari dalam terdengar suara cemberut Riani, "Kak Bimo, Kak Erika nggak balik dan cuma kita yang berdiri di tengah. Dia cemburu nggak, ya?"
"Nggak apa-apa, dia yang bikin situasinya jadi begini. Kalaupun dia nggak datang buat foto, dia tetap harus minta maaf sama kamu." Bimo mengatakan hal ini pada Riani, tetapi jelas sekali perkataan itu ditujukan untukku.
Aku menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meminjam uang dari seorang teman, lalu pergi ke bagian kebidanan dan kandungan rumah sakit.
Bab 3
Dengan kaki yang terluka, ditambah demam akibat kehujanan, dokter menyarankanku untuk menjalani operasi dalam beberapa hari.
Aku tidak punya tempat untuk pergi dan hanya bisa tinggal di rumah sakit.
Bimo meneleponku malam itu, dengan marah menanyakan di mana aku berada.
Riani yang berada di sampingnya mencoba memperkeruh suasana. "Kak Bimo, Kak Erika masih belum pulang, apa dia tidur di tempat temannya? Aku dengar katanya rekan kerjanya banyak yang laki-laki, apa kamu nggak takut terjadi sesuatu dengan mereka?"
Bimo mendengkus, "Kamu nggak tahu secinta apa dia denganku. Dia seperti anjing, diusir saja nggak mau pergi, jadi mana mungkin dia selingkuh?"
Hatiku seperti tersayat pisau. Ketika Bimo ingin mengakhiri hubungan denganku, aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan. Aku pikir aku sudah membuat hatinya luluh, tetapi tidak disangka di matanya, aku hanyalah seekor anjing penjilat yang tidak bisa dia singkirkan.
Bimo menggambarkan perpisahan itu dengan sempurna, bahkan mengulangi permohonan yang pernah aku lakukan.
Riani terkikik. "Kak Bimo, aku baru balik dari luar negeri saat kalian putus. Apa kamu melakukan ini demi aku?"
Bimo menegang sejenak dan menyuruhku untuk tidak berpikir macam-macam. "Waktu itu hanya dorongan hati. Kalau nggak, aku nggak akan mau nikah sama kamu."
Aku menggelengkan kepala dengan nada mengejek, lalu menutup telepon.
Perawat yang mengganti obatku mendengarkan panggilan itu sampai akhir. Ketika dia melihatku lagi, sedikit simpati muncul di matanya. Kata-kata nasihatnya jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Kapan paling cepat aborsi bisa dilakukan?"
"Luka di kaki nggak terlalu serius, jadi bisa dilakukan besok."