Bab 1

Kamu pernah dengar nggak rahasia Kapal Pesiar Lautan?

Saat tahun baru, kapal pesiar yang mewah di lautan lepas, berderetan pijat wanita tunanetra sedang menunggu untuk dipilih.

Untuk mencari keberadaan kakak, aku pura-pura jadi orang buta, berusaha untuk masuk ke dalam.

Aku dipilih oleh satu tokoh besar dan dibawa ke dalam kamar.

Pria mengangkat daguku dan mengibaskan tangan di depan wajahku.

“Benaran nggak bisa lihat? Kalau gitu kita main yang lebih berbeda......”

“Kamu benaran pijat tunanetra?”

“Kalau begitu, kamu pakai tanganmu pegang, ini apa?”

Mendengar permintaan perekrut, aku terpaksa harus mengulurkan tanganku yang gemetar, tapi yang ku pegang adalah......

Namaku Fiona, tiga tahun yang lalu saat aku masih lagi kuliah, kakak yang sejak kecil buta meneleponku.

Dia diterima untuk kerja jadi pijat tunanetra di kapal pesiar lautan.

Gaji harian di kapal ada puluhan juta, kalau kerja di sana selama satu dua tahun, nanti kita sudah bisa beli rumah di kota P.

Tapi kakak sama sekali tidak pulang.

Sesudah 3 tahun berlalu, aku mendapati kabar kalau kapal pesiar itu merekrut lagi.

Aku memakai kacamata hitamku pura-pura menjadi pijat tunanetra, perlahan-lahan berjalan menuju ke lantai atas hotel bintang lima.

Lift baru kebuka, aku mendengar suara aneh dari kamar.

Suara yang bergema, terdengar penuh ambigu.

Lengket seperti genangan air.

Tubuhku dengan nggak sadar ada perasaan yang aneh, kedua kakiku juga jadi ketutup rapat.

Di luar kamar, masih ada banyak wanita yang memakai kacamata hitam sedang menunggu dan muka mereka terlihat kemerahan.

Ada orang yang mengangkat leher dan mengeluarkan suara nafas yang terengah-engah.

Dengar-dengar, karena orang buta tidak bisa melihat, jadi pendengaran mereka sangatlah sensitif, bisa jadi yang mereka dengar lebih jelas dariku.

Di saat ini, tiba-tiba muncul suara teriakan.

Aku terkejut, wanita yang lain juga sama, hanya saja mereka tidak bisa melihat, tapi aku bisa.

Satu wanita yang pakaiannya berantakan dibawa keluar, dahinya masih ada darah sedang menetes.

“Beraninya pura-pura buta, bawa keluar, kasih dia tahu akibatnya.”

Dari dalam terdengar suara marahan, wanita itu masih berusaha melawan, bahkan sampai menarik rokku dan lewat dari kacamata hitam bertatapan mata denganku.

“Tolong aku, aku tidak mau mati, tolongin aku.”

Aku bergemetar, pura-pura tidak melihat pandangannya yang meminta tolong, biarin dua pria itu membawanya pergi.

“Selanjutnya, Fiona.”

Tiba-tiba kedengar nama sendiri, aku buruan memegang tongkatku dan berjalan masuk.

Ada satu pria duduk di sofa yang besar, dengan pandangan yang vulgar melihatku.

Mungkin mengira aku nggak bisa melihat, pandangan jadi semakin terang-terangan, aku jadi terasa seperti ada api di tubuhku.

“Kamu sudah berapa lama kerja di bidang ini?”

“Tiga tahun.”

“Pergi ke kasur, untuk cobain skillmu.”

Pria jalan ke samping kasur dan menepuk kasurnya.

Aku pura-pura tidak melihatnya, dan perlahan-lahan jalan ke sana.

Dia menggunakan satu tangannya menarikku, satu tangannya lagi membuka tali pinggang.

Dalam hatiku kaget, tapi tidak berani menunjukkan keanehan, tetap seperti tidak melihatnya.

“Tuan, kamu baring dulu.”

Pria itu melihat aku tidak ada reaksi baru melepaskanku.

“Sini, naik!”

Aku menghela nafas lega, duduk dengan mahir sambil berlutur di kasur, lalu mulai pijat dari bahunya.

“Kuat dikit.” Pria seperti tidak puas dengan mengerutkan dahi berkata: “Kamu duduk samping gini, mau gimana pijat?”

Aku pura-pura tidak mengerti dan membalikkan kepalaku.

Pria dengan sindir berkata: “Ngapain sok polos, apa kamu nggak tahu posisi apa yang kamu lamar?”

“Pijat tunanetra kapal pesiar lautan......”

“Hmph, baguslah kalau tahu, bukan semua orang itu bisa naik ke kapal.”

“Lagi pula, kali ini karena acara tahun baru, bayarannya lebih tinggi 3 kali lipat dari biasanya, di luar sana banyak yang antri untuk lamar, kalau kamu nggak mau, sekarang bisa langsung pergi saja.”

Aku menggertakkan gigi, keingat wajahnya kakak.

Lalu dengan tekad yang kuat duduk di punggungnya pria tersebut, dengan kuat memijatnya.

Dari bahu sampai pinggang dengan tenaga yang sesuai, ini sudah aku latih selama setengah tahun sebelum aku datang.

Pria tersebut puas dan mengeluarkan suara erangan.

Di saat aku menghelakan nafas lega, dia tiba-tiba membalikkan badan.

Aku hampir saja terjatuh, lalu ditarik kembali.

Posisi sekarang sangat memalukan, kedua tangan pria itu memegang pinggangku dengan kuat, seperti penjepit besi, membuatku sama sekali tidak bisa bergerak.

“Kamu harusnya juga tahu, gaji yang tinggi ini bukan didapati dengan begitu saja. Sekarang aku sudah tahu skill pijatmu, selanjutnya aku mau lihat kemampuanmu yang lain.”

“Aku nggak bisa kemampuan yang lain.”

Aku baru dengan gemetar berkata, tiba-tiba dicubit dengan keras membuatku kesakitan.

Pria dengan muka dingin: “Kalau nggak bisa, pergi saja, kamu nggak mau, masih ada yang lain.”

“Aku lakukan......”

Demi kakak, aku hanya bisa dengan gemetar melakukan apa yang dia mau, nggak berapa lama kemudian, kamar yang sunyi muncul suara buka resleting.

Aku bukan orang yang benaran buta, melihat apa yang aku lihat, membuat wajahku sangatlah merah, rasa yang aneh menyelimuti seluruh tubuh.

Tapi di saat ini, dari pandangan samping, aku melihat ada seseorang yang keluar dari gorden jendela.

Pistol di tangannya sedang mengarah ke pelipisku.

Bab 2

Ketakutan yang besar menyelimutiku, seperti dibuang ke dalam lubang es.

Bahkan pori-pori pun mengeluarkan udara dingin.

Di saat aku hampir teriak, teringat wanita yang tadi aku lihat di depan pintu.

Kalau aku ketahuan pura-pura buta, nasibku pasti akan lebih parah dari dia.

Untuk menutupi ketakutan, aku menundukkan badan bahkan suara pun jadi lebih manja.

“Tuan, apakah nyaman?”

Pria tersebut menatapku terus, sampai pastiin aku nggak ada yang aneh baru melambaikan tangan ke belakangku.

Orang itu dengan diam-diam pergi.

Punggungku sudah dibasahi sama keringat, di saat baru menghela nafas lega, pria yang di bawah tiba-tiba menyipitkan matanya.

“Kamar ini begitu panas kah? Kenapa kamu keluar begitu banyak keringat?”

Seketika kulit kepalaku merinding.

Walaupun tidak bisa melihat ke belakang, tapi aku bisa membayangkan pistol itu sedang diam-diam mengarah ke aku, hanya tinggal menekan pelatuknya.

“Aku hanya sedikit nggak enakan aja.”

Aku hanya bisa dengan terpaksa, terengah-engah membungkukkan badan, menggunakan cara ini untuk menutupi keanehan.

“Kalau nggak, kamu pegang, ada tempat yang juga sangat......”

Mengeluarkan kata-kata yang menggelikan, aku memaksakan diriku menunjukkan sikap yang tidak sabar, jari tangan memutar-mutar.

Pria tersebut menarik nafasnya dalam-dalam, menarik tanganku dan menelan ludahnya.

“Begitu nggak sabaran?”

Sprei jatuh ke lantai, tiupan angin masuk dari jendela, mungkin karena akting terlalu bagus, sampai aku sendiri juga percaya.

Tangan pria terletak di tubuhku, membuatku seperti terkena panas dengan nggak sengaja mengeluarkan suara, seperti tidak terpuasi.

Bahkan aku sendiri juga terkejut, bisanya aku mengeluarkan suara gini?

“Wanita jalang.”

Pria memegang daguku, senyum dengan pandangan mesum.

“Udah lolos, nanti akan hubungi kamu untuk kapan ke kapal.”

Aku didorong pria dari kasur, beberapa saat kemudian baru berdiri, dengan kedua kaki yang lemas pergi dari sini.

Aku juga nggak tahu karena pistol itu atau karena yang lain.

Sesudah sampai di rumah, handphoneku muncul 2 pesan, satu adalah ucapan selamat atas aku diterima, satunya lagi transferan masuk 10 juta untuk uang muka.

Ini lebih dermawan dari dugaanku, tapi malah membuatku makin takut.

Seminggu kemudian, aku menerima telepon.

“Kapal Pesiar Mewah Lautan sudah mau berangkat, sebelum malam besok, ada orang yang akan datang menjemputimu di alamat yang kamu isi.”

Aku dengan gelisah menunggunya dan menyembunyikan pelacakan di tubuhku.

Sesudah naik kapal, satu wanita yang memakai kacamata berdiri di depan kami, dengan tanpa ekspresi menilai semua orang.

“Namaku Chelsia, penanggung jawab kalian setelah naik kapal.”

“Sebelum kapal berangkat, kalian semua ikutin aku ke sini dulu.”

Jadi, kami semua dibawa sama wanita itu ke kamar yang luas di dalam kapal, Chelsia dengan suara yang datar.

“Kalian harusnya sudah memegang kantong yang ada di depan kalian, isinya seragam yang disediain sama perusahaan, ganti dulu seragamnya.”

Semuanya nggak ada yang curiga, mulai membuka kancing baju.

Tapi aku bisa melihat, dalam kamar sangatlah terang, dindingnya terbuat dari kaca yang transparan.

Cahaya yang terang terarah ke tubuh kami, membuat setiap bagian terlihat sangat jelas.

Belakang kaca adalah wajah para pria, seperti sedang memilih barang, pandangan yang serakah mondar mandir di tubuh semua orang.

Tetapi wanita yang di dalam kamar sama sekali tidak tahu, perlahan-lahan membuka baju......

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B45997" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B45997
Salin

Pijat Tunanetra Kapal Pesiar

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya