Bab 1
"Gimana rasanya naik kuda? Enak nggak?" Di atas punggung kuda yang berguncang, aku memegang pinggang ramping kakak ipar seksi itu. Roknya terus berkibar tertiup angin.
Temanku sedang asyik bermain kartu di rumah yang tidak jauh dari sana, sementara aku, tepat di depan matanya, sedang menunggang kuda bersama istrinya yang seksi ....
"Gimana rasanya naik kuda? Enak nggak?" Di atas punggung kuda yang berguncang, aku memegang pinggang ramping kakak ipar seksi itu. Roknya terus berkibar tertiup angin.
Temanku sedang asyik bermain kartu di rumah yang tidak jauh dari sana, sementara aku, tepat di depan matanya, sedang menunggang kuda bersama istrinya yang seksi ....
....
Kasih adalah gadis bertubuh mungil dan imut, tetapi dadanya sangat berisi. Dia adalah istri dari sahabatku
Biasanya, dia suka memakai rok super pendek. Wajah imut dengan dada besar, ditambah kulit putih bersih. Setiap kali berkumpul, dia selalu menjadi objek godaan utama di mulut kami. Tentu saja juga menjadi objek fantasi semua orang. Setiap orang ingin tahu apakah tubuh kecil Kasih bisa menahan kenakalan mereka.
Soal ini, sahabat kami, Dicky, sama sekali tidak merasa kesal. Pertama, karena kami hanya bercanda, tidak ada yang kelewat batas. Kasih pun hanya tersipu malu. Kedua, dia justru merasa bangga, merasa Kasih sebagai istrinya membuat semua orang iri, mengangkat pamornya, membuatnya terlihat berwibawa.
Sebenarnya Dicky tidak tahu, aku benar-benar menyukai Kasih. Walaupun aku tidak ingin merebut istri Dicky, aku selalu mencari kesempatan untuk bisa berduaan dengan Kasih. Aku ingin memeluk Kasih dan menghirup aroma harum tubuhnya, bahkan ingin mengangkat roknya dan menurunkan celana dalamnya!
Untungnya, Kasih tidak suka main kartu dan juga tidak suka menonton orang main kartu. Jadi, setiap kali dia datang, aku selalu menciptakan kesempatan untuk berduaan dengannya. Perlahan-lahan, hubungan Kasih denganku jelas jauh lebih dekat dibanding dengan beberapa sahabat lainnya.
Hari ini hari Senin, hari kumpul yang sudah dijanjikan para sahabat, juga hari aku bertemu dengan Kasih yang selalu aku rindukan. Sekarang para sahabat sudah duduk dan mulai main kartu, pacar atau istri mereka ada yang duduk menonton, ada juga yang main ponsel. Hanya Kasih yang celingukan, jelas tidak ingin duduk di sana.
Aku segera berdiri dan bilang ke semua orang kalau hari ini aku masih ada kelas berkuda, jadi harus ke sana lebih awal untuk persiapan. Tidak ada yang terlalu peduli. Semua orang sibuk bermain kartu. Hanya Kasih yang mengangkat kepala dan melirikku, bahkan tatapannya sedikit berharap.
"Ada yang mau ikut lihat? Bisa sekalian naik kuda," kataku memberi umpan di waktu yang pas.
"Aku! Aku mau lihat, di sini bosan banget." Kasih langsung berdiri. Tidak ada yang merasa aneh, karena dia memang tipe yang ceria dan aktif.
"Ayo." Aku memberi isyarat ke Kasih. Dia pun ikut dengan senang hati.
Kasih berjalan di depan. Tubuhnya benar-benar montok. Setiap kali dia melangkah, bagian rok terdorong naik, lalu jatuh lagi. Mataku tidak pernah lepas dari pantatnya, terus berharap bisa melihat celana dalamnya. Aku penasaran, gadis secantik dan seimut ini suka pakai model apa?
"Mas Ridwan, naik kuda seru nggak? Sebelumnya aku beberapa kali ke sini dan lihat kudanya besar-besar. Aku takut ditendang, jadi nggak berani naik." Kasih tiba-tiba menoleh ke belakang. Wajahnya penuh harap menunggu jawabanku.
"Tentu seru. Waktu kudanya lari, rasanya seru banget. Nanti aku ajarin kamu naik."
Hehehe, ada peluang! Karena Kasih yang mulai duluan, nanti di atas punggung kuda aku akan berguncang bareng dia!
Aku memasang pelana untuk dua orang dengan cekatan, lalu menuntun kuda tinggi besar berwarna cokelat kemerahan ke samping Kasih.
"Wah! Baru pertama kali lihat sedekat ini, tinggi banget!" Kasih menatap kuda itu dengan mata berbinar.
"Sini, aku bantu kamu naik dulu." Aku menarik tangan Kasih, membawanya ke samping kuda, ke sanggurdi. Tanpa memberi dia waktu bereaksi, aku menangkap pergelangan kaki kirinya dan meletakkannya di sanggurdi.
"Mas Ridwan! Aku ... aku belum siap ...." Kasih langsung gugup, tetapi aku tidak memberinya kesempatan.
"Kaki kanan dorong tanah, kaki kiri injak sanggurdi! Naik!" Sambil berbicara, satu tanganku menopang pantatnya yang montok agar dia berdiri di sanggurdi.
Lewat kain rok yang tipis, yang terasa di tanganku adalah kelembutan kenyal penuh elastisitas. Harus diakui, Kasih bukan hanya punya dada besar, tetapi pantatnya juga benar-benar mantap!
Kemudian, aku mengangkat kaki kanannya agar melewati punggung kuda dan duduk di pelana. Saat kakinya melangkah ke seberang, roknya tersibak tinggi.
Ternyata celana dalam thong putih! Dua belahan pantatnya yang bulat dan putih bersih terpampang jelas di depan mataku! Bagian bawahnya cuma sepotong kain kecil! Seksi banget!
Bab 2
"Puff ...!"
Kuda besar berwarna cokelat kemerahan itu mendengus keras, berjalan mondar-mandir.
"Ah! Mas Ridwan! Pegang aku!" Teriakan Kasih membuatku berhenti menikmati bayangan tadi.
Benar juga, si cantik ada tepat di depan mata, bagaimana mungkin aku tidak bertindak?
"Jangan takut! Aku pegangi kudanya. Ayo, aku ajak keliling sebentar." Sambil berbicara, aku menuntun kuda menyusuri jalur kuda. Kuda itu mengais tanah dengan tapalnya. Tubuhnya berguncang-guncang, lalu mulai berlari kecil.
"Ah .... Mas Ridwan, aku takut!"
"Jangan takut, aku ajarin!"
Tanganku memegang tali kekang, kaki kiriku menginjak sanggurdi belakang. Aku mengentakkan badan dan meloncat naik ke punggung kuda, duduk tepat di belakang Kasih.
Pelana yang dipakai adalah pelana ganda untuk orang tua dan anak, jadi tidak sebesar pelana ganda standar. Begitu aku naik, tubuhku langsung menempel rapat di punggung Kasih.
Kehangatan tubuh Kasih dan aroma harum yang menggoda langsung terasa. Terutama pantat Kasih yang berdaging, menempel erat di bagian depanku, hangat dan kenyal ....
Nikmat!
Kasih sepertinya belum sempat bereaksi. Tubuhnya kaku, tidak berani bersandar ke belakang ke tubuhku, tetapi juga tidak tahu harus bagaimana.
"Kasih, aku ajarin kamu. Pegang tali kekangnya!"
Kedua tanganku melingkari tubuh Kasih, menyerahkan tali kekang ke tangannya, lalu aku menggenggam tangannya dan menariknya ke bawah dengan kuat.
Kuda itu seakan-akan mendapat perintah, langsung berlari kencang dengan penuh semangat.
"Kasih, seru nggak?" Angin menderu. Aku mendekat ke telinga Kasih dan berteriak.
"Ya! Mas Ridwan, karena ada kamu, rasanya nggak terlalu takut. Naik kuda benar-benar seru!"
Saat itu, Kasih fokus ke depan dan pada sensasi pertama kali naik kuda, sama sekali tidak menyadari bahwa bagian bawah tubuh kami sudah menempel erat satu sama lain.
Memeluk wanita idamanku yang selalu aku pikirkan siang malam, dengan posisi tubuh yang begitu dekat, gesekan depan dan belakang membuat sesuatu di bawah tubuhku perlahan mengeras.
Kasih sepertinya juga merasakan sesuatu. Bagian belakang telinganya perlahan memerah, tubuhnya yang bersandar padaku pun melunak. Aku jelas bisa merasakan napasnya menjadi lebih cepat, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda tidak senang, juga tidak berniat menjauh dariku.
Ada peluang. Sepertinya tubuh wanita muda ini memang sangat sensitif!
Setelah berkuda beberapa saat, tubuh Kasih mulai bergerak.
"Mas Ridwan ... rokku sepertinya ketindih, rasanya nggak nyaman."
"Oh, angkat pantatmu sedikit."
Belum sempat Kasih menjawab, kedua tanganku sudah menopang pantatnya yang lembut dan kenyal, lalu menarik keluar ujung roknya yang terjepit.
"Gimana? Sudah lebih enak?"
Embusan napasku semakin panas. Satu tanganku memeluk pinggang ramping Kasih.
"Hmm ... cuma rasanya ada sesuatu yang mengganjal ...."
Suara Kasih jelas merendah dan kalimat itu terdengar punya makna lain. Dia sudah menikah, tentu tahu apa itu. Kalau dia menolak, dia pasti langsung minta turun dari kuda. Jadi, apa maksud ucapannya itu?
Jantungku berdebar kencang! Ini kode untukku?
"Aku mengerti!"
Saat ini, pikiranku sudah tidak punya keraguan sedikit pun. Satu tanganku memeluk pinggang Kasih, tangan lainnya menyentuh pahanya.
Bibirku langsung menempel padanya, sementara lidahku membuka gigi yang terkatup, menarik lidah wanita itu, dan mengisapnya dengan lembut. Satu tanganku menyusuri punggung dan pinggangnya ke bawah, menyelip ke dalam pinggang celana dalamnya. Setelah masuk perlahan, dua jariku pun mengusap-usap bagian atas belahan pantatnya.
Tubuh hangat dan lembut dalam pelukan, adik manis di bawah tubuhku semakin membesar.
Kasih pun merasakan perubahan tubuhku. Setelah lama, bibir kami terpisah. Dia terengah-engah, membenamkan wajah ke dadaku, menggesek-gesekkan tubuhnya dengan lembut.
"Ah! Mas Ridwan! Nggak bisa ...."
Meskipun mulutnya berkata tidak bisa, tangan yang menahanku sama sekali tidak bertenaga.
Tubuh Kasih lemas, napasnya kacau. Kepalanya mendongak tinggi, lidah merah mudanya menjilat bibirnya.
Melihat waktunya sudah tepat, kedua tanganku memegang pinggang Kasih, lalu mengangkat tubuhnya dengan kuat dan memutarnya agar duduk menghadapku.
Setelah itu, jariku menekan tepi celana dalam Kasih. Sambil menyentuh celahnya, aku menarik celana dalam itu agar terbuka ....