Bab 4
"Uang dari mana? Kamu pikir bayar kuliah pakai daun, hah?! Jangan bikin susah!" Seruku menahan emosi.
Gadis itu semakin menunduk ketakutan mendengar suaraku yang menggelegar. Sejak pindah ke rumah ini, aku bisa meluapkan emosiku padanya. Hal yang tidak bisa aku lakukan saat kami ada di rumah ibu dulu, selama beberapa hari setelah menikah.
"Aku bayar sendiri, Mas. Aku memiliki tabungan pendidikan yang bisa dipakai untuk membayar biaya kuliahku hingga selesai. Bunda dan ayah sudah menyiapkan sebelum mereka meninggal." Husniah berkata dengan suara yang begitu kecil sambil mengusap sudut matanya.
Aku menarik nafas dalam-dalam, ada sedikit rasa bersalah dalam hatiku sudah membentaknya. Harusnya dia ini anak kecil saja, aku akan menjaganya seperti adikku, bukan menjaganya sebagai istriku.
Dengan cepat kuhabiskan makanan yang ada di piring dan berniat segera pergi bekerja. Sepertinya aku akan lebih nyaman tinggal di kantor daripada di rumah.
"Mas, boleh ya," pintanya sambil membuntutiku yang hendak pergi bekerja.
"Besok Minggu kita cari kampus yang cocok denganmu," sahutku dingin.
Biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan, aku tidak ingin tahu juga seberapa banyak uang yang dia miliki. Kalau dia sampai tidak sanggup membayar dan harus putus di tengah jalan, aku juga tidak akan peduli.
"Terimakasih, Mas," ucapnya sambil membungkukkan badannya berulang-ulang.
Astaga ... Siapa yang dia ikuti dengan melakukan hal seperti itu.
***
Minggu malam.
Sebelum mencari kampus untuk Husniah, kami browsing terlebih dahulu. Aku sengaja melakukan agar tidak banyak membuang waktu. Mencari di mesin pencari itu beberapa kampus, lihat jurusan dan juga biaya kuliahnya baru survei tempat.
"Mas, aku mau lihat kampus ini, ini dan ini," ucap Husniah sambil menggeser tiga gambar dari smartphonenya padaku. Beberapa website kampus yang sudah di screenshot olehnya.
Setelah menyerahkan ponselnya padaku, gadis itu kembali duduk di sofa yang ada di depanku. Aku memang tidak mengijinkannya duduk di sampingku apalagi di dekatku.
"Mau ambil jurusan apa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari beda pintar milik Husniah.
Aku sibuk menggeser dan membaca nama kampus juga alamatnya.
"Akuntasi, sekertaris, atau apa saja yang berhubungan dengan perkantoran," sahut Husniah.
"Kenapa mau ambil jurusan itu?"
"Biar aku bisa mandiri, bisa bekerja di kota ini dan tidak menyusahkan Mas Hanan lagi. Aku bisa pergi dari sini setelah cukup mandiri dan mengerti keadaan kota ini, aku bisa menghidupi diriku sendiri saat sudah bekerja. Mas Hanan bisa bebas dariku, saat pulang kampung kita bisa pura-pura jadi suami istri agar Ibu tidak khawatir," tuturnya panjang lebar dengan mata berbinar.
Beberapa saat yang lalu aku tertarik melihatnya saat dia mengungkapkan segala keinginannya. Binar itu tak pernah kulihat selama ini, baru malam ini saja aku melihatnya. Mata kami bertemu, dadaku berdebar. Shit! Perasaan apa ini, itu hanya mata bocah ingusan.
Aku segera menguasai diri. "Kamu pikir semudah itu mendapatkan pekerjaan di kota. Setiap tahun banyak lulusan yang jadi pengangguran. Jangan terlalu tinggi berkhayal!" Seruku dengan suara kembali meninggi.
"Setidaknya aku sudah berusaha," cicitnya sambil menunduk kembali.
Aku geram pada diriku sendiri, kenapa mulutku selalu pedas padanya. Apa aku akan dimurkai Tuhan karena menyakiti hati anak yatim piatu. Ah dia bukan anak-anak lagi, bahkan status dia sudah sebagai istri.
***
Perlahan aku menjalankan kendaraan roda empat milikku keluar gerbang. Lalu menunggu Nia naik ke mobil setelah sebelumnya gadis itu mengunci gerbang dari luar.
Hidup di kompleks sangat membantuku, setidaknya tidak ada yang kepo dengan kehidupanku. Bu Mery yang bertanya siapa gadis di rumahku beberapa waktu yang lalu juga bukan orang yang rajin bergosip. Jadi aman-aman saja, tidak akan ada yang peduli dengan hubunganku dengan Nia.
Aku hanya mengatakan pada ketua RT tentang status Nia yang sebenarnya saat aku melaporkan ada warga baru yang tinggal di rumahku.
"Kita coba kampus paling dekat dulu." Aku berkata tanpa beralih padangan dari jalan.
"Iya, terimakasih ya, Mas. Mau anterin cari kampus," ucapnya dengan tulus.
"Hemmm."
Kami sampai di kampus pertama, setelah memarkirkan kendaraan, kami langsung menuju ke pusat informasi. Bertanya tentang banyak hal di sana. Meminta brosur lalu keluar lagi setelah cukup mendapatkan informasi. Sepertinya Husniah tidak tertarik dengan kampus ini.
Kami kembali ke mobil, berkendara menuju kampus ke dua. Di kampus ke dua, kami melakukan hal yang sama. Dan lagi, Husniah terlihat tidak tertarik. Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau kampus ketiga ini kamu tidak suka juga, carilah sendiri. Capek aku!" ucapku mengancamnya.
"Maaf ya, Mas."
"Minta maaf saja terus!" Seruku ketus.
Gadis itu diam, dan lagi-lagi mengigit bibir bawahnya. Bocah cupu seperti ini bagaimana mau kuliah di kota besar. Akan seperti apa dia saat di kampus nanti.
Di kampus ke tiga kami melakukan hal yang sama seperti di kampus pertama dan kedua. Sepertinya di tempat ini, Husniah tertarik.
"Anaknya mau mengambil jurusan apa, Pak?" tanya wanita yang sejak tadi memberi penjelasan kepada kami.
Mataku membulat mendengar perkataan wanita itu, dia bilang Husniah anakku dan aku bapaknya.
"Beliau bukan Bapak saya, Mbak. Saya saudara jauhnya," terang Husniah sambil tersenyum.
"Maaf, Pak," ucap wanita itu sambil menatapku tak enak.
"Apa aku setua itu?"
"Bukan bapak yang terlihat tua, tapi Mbak ini terlalu imut," tutur wanita berseragam itu sambi tersenyum.
Apa kubilang, Husniah memang bocil. Bisa-bisanya dikira anakku.
Karena tertarik dengan tempat ini, gadis itu meminta formulir lalu memintaku untuk menunggunya berkeliling kampus dulu. Baru hendak berjalan tiba-tiba ponselku berdering, panggilan dari Lita, wanita idamanku.
"Mas, aku lagi ada di mall. Bisa ke sini gak? Jalan-jalan sambil nonton yuk." Lita berbicara dari ujung telepon.
Aku menatap ke arah Husniah yang begitu antusias untuk melihat calon tempat belajarnya. Ingin menemaninya tapi aku juga lebih ingin pergi menemui Lita.
"Gimana, Mas? Mau gak? Kalau gak mau juga gak apalah, aku mendadak juga ngajakinnya." Lagi, terdengar suara dari Lita karena tidak segera mendengar jawaban dariku.
"Mau, tunggu," jawabku tanpa berpikir lagi.
Lita mematikan sambungan telepon kemudian tak lama setelahnya mengirim lokasi dimana dia berada.
"Nia, kamu pulang sendiri ya. Nanti aku kasih tahu kudu naik apa lewat pesan singkat. Atau kalau enggak kamu naik ojek aja, nanti kukirim alamat lengkap rumah."
Husniah baru beberapa hari tinggal bersamaku dan dia memang tidak tahu alamat rumah yang kami tinggali dengan lengkap.
Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, aku meninggalkannya begitu saja. Memilih menemani pujaan hatiku. Tidak peduli kalau gadis itu kecewa daripada aku mengecewakan hati Lita.
🍁 🍁 🍁
Bab 5
Aku menghabiskan waktu bersama Lita hingga malam. Tidak biasanya wanita itu mengajakku jalan seperti ini. Kami menghabiskan waktu bersama untuk makan, nonton dan berbelanja. Aku tidak peduli harus mengeluarkan banyak uang hari ini, lagian Lita tidak pernah juga memintaku jalan bersamanya.
Mungkin seperti yang dia katakan, dia akan mulai mencari pasangan dan apa yang dilakukan ini adalah cara untuk memilih pasangannya. Mengetes apakah aku laki-laki yang baik dan loyal atau pelit. Wanita berprinsip seperti Lita pasti tidak suka pria pelit. Langsung akan dicoret dari list calon suaminya.
Lita memang banyak yang suka, tapi wanita itu tidak pernah menjalin komitmen dengan siapapun dengan alasan masih punya adik yang ada dalam tanggungannya. Hanya denganku saja dia tampak nyaman karena aku tak pernah mengungkapkan perasaan. Aku sedang menunggu waktu yang tepat. Mungkin sebentar lagi.
"Terimakasih untuk hari ini ya, Mas. Maaf ngajak jalannya mendadak. Sampai ketemu besok di kantor," ucapnya sembari turun dari mobilku.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya, wanita itu melambaikan tangannya saat aku kembali menjalankan mobil. Hatiku berbunga-bunga, aku bersenandung sepanjang jalan hingga tanpa terasa sudah sampai di depan rumah.
Astaga aku melupakan Husniah. Bagaimana nasib anak itu, bahkan aku tidak mengirimkan pesan padanya karena terlalu sibuk dengan Lita. Segera kuambil ponsel yang ada di dalam saku celanaku.
Mati. Benda pipih itu kehabisan baterai. Dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam rumah tanpa memasukkan mobil. Mencari pengisi daya kemudian kembali lagi ke mobil dan mengisi daya di dalam mobil. Harap-harap cemas aku menunggu hingga smartphone tersebut bisa sekedar dinyatakan.
Aku sangat khawatir, bukan karena sudah memiliki perasaan padanya. Tapi karena aku bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada gadis itu. Kalau terjadi apa-apa padanya, bagaimana aku akan mengatakan pada Ibu. Baru kali ini anak itu keluar rumah, baru datang dari kampung pula. Pasti tidak tahu situasi kota bagaimana.
"Ya Tuhan ...." desisku kesal.
Kesal pada kekhilafanku sendiri.
Baru terisi lima persen, aku segera menyalakan ponsel tersebut. Menunggu benda itu siap digunakan terasa sangat lama. Begitu telepon genggam itu menyala, langsung bertubi-tubi masuk pesan. Bagaiman bisa aku tidak merasakan saat ponselku bergetar tadi, apa begitu besarnya Lita menyedot perhatianku. Atau memang ponsel ini sudah mati sejak tadi.
~Mas, aku sudah selesai. Tolong kirim alamat rumah ~ pesan dari Husniah jam 15.10
~Mas, aku telpon, ya.~ jam 16.00
~Mas, kamu dimana ini udah malam aku gak bisa pulang kalau kamu gak kasih alamat rumahmu~ jam 19.05
~Mas kamu membuangku?~ jam 20.30
Deg! Jantungku berdebar membaca pesan itu, apa dia merasa aku begitu tidak menghargainya. Bagaimana bisa orang dibuang.
~Mas, aku takut. Di sini sudah mulai sepi, kampus udah tutup, Aku gak ngerti harus kemana ~ jam 21.00
Tidak ada lagi pesan, itu pesan terakhir dari Husniah. Aku akan menyalahkan siapa jika sudah begini.
Segera kutekan tombol memanggil tapi nomor telepon tidak bisa dihubungi. Apa-apaan ini, apa dia marah padaku dan mematikan ponselnya.
Tanpa banyak berpikir lagi, aku segera menjalankan kendaraan. Lebih baik aku segera pergi ke kampus tadi, berharap gadis itu ada di sana. Pikiran buruk menghantuiku, bagaimanapun jika dia dibawa orang jahat. Ah, dia cukup besar untuk bisa menolak itu. Kenapa hidupku jadi makin susah begini karena kedatangannya.
Sampai di kampus, tempat itu benar-benar sudah sepi. Hari memang sudah malam, sudah hampir jam sebelas. Aku harus kemana dan bertanya pada siapa kalau sudah begini. Kenapa Husniah malah mematikan handphonenya.
Perlahan, kujalankan kembali mobilku mengelilingi kampus ini. Berharap menemukan sosok gadis kecil itu di sudut-sudut jalan atau di teras-teras bangunan yang ada di sekitar kampus. Mataku awas memindai sekitar. Dengan kesal kupukul kemudi untuk meluapkan emosi.
Sudah kuputari kawasan kampus ini tapi tak kutemukan jejak Husniah. Harus kucari kemana lagi anak itu. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan dekat masjid yang berada tak jauh dari kampus. Berpikir dan mencari solusi untuk menemukan Husniah. Lapor polisi juga belum bisa, lagipula aku akan mengatakan apa. Dia bukan anak kecil lagi, bukankah akan terasa lucu jika kukatakan dia hilang saat kutingglkan di kampus.
Saat otakku sedang kacau, aku melihat sosok gadis kecil duduk memeluk lutut di teras masjid yang sudah sepi itu. Tak salah lagi itu gadis yang aku cari, Husniah.
Segera aku jalankan mobil menuju pelataran masjid, hatiku antara lega dan juga emosi melihatnya lagi.
"Ngapain di sini, bukannya pulang!" Seruku saat jarakku sudah cukup dekat dengan Husniah.
Gadis itu mengangkat kepalanya, mata dan hidungnya memerah, sepertinya dia menangis.
"Kau tahu ini sudah jam berapa, hah?! Nyusahin orang saja. Ayo pulang!"
Aku berkata sambil berjalan kembali ke mobil, Husniah mengekor tanpa membantah satu katapun yang keluar dari mulutku. Padahal semuanya salahku, dia yang ada di luar hingga jam segini adalah salahku. Namun saat aku menyalahkannya dia tetap diam saja.
Sepanjang jalan hanya ada keheningan, Husniah tidak mengatakan apapun. Gadis itu diam membisu, pun demikian aku tak berniat lagi memarahinya. Percuma, dia hanya menelan semua ucapkanku tanpa berniat membalasnya.
Tubuhnya terlihat lemas, apa dia tidak makan seharian. Dasar gadis bod0h, dia sudah besar, seharunya tahu apa yang harus dilakukan ketika lapar. Terserahlah.
Sampai di rumah, Husniah tetap diam tak berkata-kata, setelah masuk ke dalam rumah dia langsung berjalan menuju kamarnya.
"Tidak tahu terimakasih. Kau tahu ini sudah jam berapa, seharunya aku sudah tidur nyenyak kalau tidak mencarimu," seruku sebelum gadis itu membuka pintu kamarnya.
"Terimakasih ..." Lirihnya tanpa menoleh sama sekali.
"Kamu marah padaku? Seharusnya tadi aku tidak menjemptmu, biar saja sekalian kamu jadi gelandangan."
Husniah membalikkan tubuhnya dan menatap padaku, menatapku dengan tatapan mata penuh luka.
"Ya, seharusnya kamu tidak usah menjemput ataupun mencariku, Mas. Seharusnya aku juga tidak udah pergi ke masjid untuk menghindari orang-orang iseng tadi. Lebih bagus mereka penjahat sekalian, penculik dan pemerkosa, lalu membunuhku. Kalau aku mati, setidaknya aku bisa bertemu Ayah dan Bunda dan tidak menyusahkanmu lagi," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Dari pada nyusahin orang yang hidup, lebih baik aku memang mati saja."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Husniah berbalik dan masuk ke dalam kamar. Bahkan aku dengar bunyi pintu dikunci dari dalam.
🍁 🍁 🍁
Bab 6
Aku terbangun karena mendengar suara tangisan. Malam-malam begini siapa yang menangis, apa Husniah?
Kamarku dan kamar tempat dia tidur memang berdampingan dan tanpa pengedap suara. Jika malam hari suasana begitu sepi, pasti akan terdengar suara-suara jika posisinya sedekat ini. Aku bangkit dari tempat tidur, melihat jam analog di ponselku. 3.30 masih terlalu pagi. Kenapa sudah menangis saja.
Bergegas aku pergi ke kamar sebelah, untung saja sudah tidak dikunci lagi. Pelan kubuka pintu kamar tersebut. Tampak olehku gadis itu berbaring di atas sajadah. Apa mungkin dia menangis setelah sholat dan berdoa. Tapi kenapa posisinya berbaring seperti itu.
"Bunda, ajak aku bersamamu," ucapnya sambil terisak-isak.
Pelan kudekati tubuh itu, matanya terpejam. Sepertinya dia ketiduran lalu mengigau. Bibirnya terlihat kering dan pucat. Apa dia sakit?
Dengan keraguan kupegang keningnya, benar saja suhu tubuhnya begitu panas menyengat. Pantas saja dia mengigau. Nyusahin aja, pakai sakit segala. Segera kuraih tubuh mungil itu, aku harus segera membawanya ke dokter. Aku tidak pernah merawat orang sakit, khawatir malah terjadi apa-apa dengannya. Ditambah lagi suhu tubuhnya yang begitu panas.
Kubawa tubuh itu ke mobil tanpa membuka mukenanya. Hanya mukena bagian bawah saja yang aku buka. Selama ini, Husniah tidak pernah memperlihatkan rambutnya padaku, oleh sebab itulah aku tak berani membuka penutup kepalanya.
Segera kulajukan kendaraanku dengan tujuan klinik dua puluh empat jam. Sesampainya di klinik, aku segera membawanya ke UGD. Dia harus segera ditangani. Sebenci apapun aku padanya, di tidak boleh kenapa-kenapa, karena aku bertanggung jawab pada Ibu.
Husniah harus dirawat, dokter bilang gadis itu demam juga dehidrasi, serta kurang nutrisi. Oh astaga ... Apa selama di rumah dia tidak pernah makan, dan saat aku tinggal di kampus kemarin dia juga tidak makan. Aku memang tidak begitu peduli padanya. Saat di rumah aku tidak pernah makan bersamanya. Meskipun gadis itu masak dengan berbagai menu sesuai dengan stock bahan makanan yang aku belikan, tapi tak pernah kudapati dia makan. Aku juga baru merasakan berat badannya yang begitu ringan. Pantas saja semua bajunya terlihat kebesaran, dia hanya punya tulang dan kulit.
Pagi ini aku mendadak ijin tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Lita menelponku dengan khawatir, apa aku sakit karena kurang istirahat, sebab waktu istirahatku digunakan untuk menemaninya jalan-jalan. Tentu saja aku tidak menjawabnya karena itu.
Setelah Zuhur kami memutuskan pulang, Husniah tidak mau berlama-lama di klinik. Kondisinya juga membaik setelah habis satu kantong infus.
"Tolong jangan nyusahin aku, jagalah dirimu sendiri. Makan yang banyak, jangan lupa minum air putih, pastikan dirimu tetap sehat. Aku sudah cukup lelah dengan keberadaanmu jangan kau tambah lagi dengan sakit-sakitan," ucapku panjang lebar sepulang kami dari klinik.
Aku berusaha perhatian padanya tapi tetap saja kata-kata pedas yang keluar dari mulutku.
"Maaf," lirihnya.
"Bisamu hanya minta maaf saja, tunjukan dengan perbuatan."
Diam, gadis itu tak lagi mengucapkan sepatah katapun. Aku menghela nafas dalam-dalam.
"Sana istirahat," perintahku.
Husniah berlalu ke dalam kamar, menuruti perintahku tanpa berucap apapun.
Setelah kepergiannya, aku berlalu menuju ke dapur. Menyala kompor dan memasak bubur. Karena bertahun-tahun hidup sendiri, aku terbiasa memasak apapun. Akan kubuatkan bubur untuknya. Perutnya yang mungkin tidak diisi dengan makanan itu harus diberi makanan yang lembut-lembut terlebih dahulu.
Setelah masakan itu matang aku segera membawanya ke kamar. Saat kubuka pintu, terlihat olehku gadis itu sedang menatap ponselnya dengan pandangan kosong dan air mata menganak sungai. Apa dia melihat foto Bundanya. Jika saat menikah denganku baru satu minggu dia ditinggal pergi oleh Bundanya, maka sekarang ini belum ada satu bulan kepergiaan sang Bunda.
Dia masih dalam masa berkabung, ditinggal satu-satunya orang yang mencintai dan merawatnya dan aku terus saja menyakiti hatinya.
Melihat kedatanganku, gadis itu langsung mengusap air matanya dan menyimpan smartphone miliknya di atas tempat tidur.
"Makanlah." Aku berkata sambil menyodorkan semangkuk bubur padanya.
"Ini sudah sore, sudah waktunya makan lagi," sambungku saat melihatnya ragu-ragu menerima makanan dariku.
Husniah menerima mangkuk tersebut, lalu berdiri dari tempat tidur.
"Terimakasih, aku makan di ruang makan saja," ujarnya sembari melangkah keluar kamar.
Aku mengikuti langkahnya, harus kupastikan gadis itu memakannya agar cepat sembuh dan tidak menyusahkanku. Husniah memakan bubur itu hingga habis, entah suka, lapar atau karena aku terus menatapnya dengan tajam.
"Kenapa baru mau kuliah sekarang, bukankah seharusnya kamu sudah masuk kuliah tahun lalu. Kamu hampir seusia adikku." Aku membuka percakapan setelah gadis itu menyelesaikan makannya.
Husniah menatapku sekilas lalu menunduk kembali, mungkin tidak menyangka aku akan bertanya padanya hal remeh-temeh seperti ini.
"Aku tidak mau meninggalkan Bunda sendirian di rumah. Aku ingin merawatnya. Bunda sakit parah setelah aku lulus SMA," sahut Husniah mulai bercerita.
"Bunda tidak mau ke rumah sakit dan memilih untuk dirawat di rumah saja. Dokter bilang sudah tidak ada harapan lagi, oleh sebab itulah bunda enggan ke rumah sakit dan berobat. Meskipun dokter mengatakan usianya tidak lama lagi, tapi bunda bertahan satu tahun, hingga aku memasuki usia diperbolehkan untuk menikah.
"Sepertinya Bunda tidak ingin aku hidup sendirian, dan pada akhirnya Mas Hanan yang harus menanggung beban itu. Maafkan Bundaku, Mas. Aku janji akan segera mandiri dan pergi dari rumah ini."
Kali ini, gadis itu bicara lancar dan jelas, seperti tanpa beban.
Gadis itu selalu menyebut kata pergi dan mandiri, seakan semua itu adalah hal yang gampang dilakukan.
"Memangnya Bunda sakit apa?" tanyaku.
Belum sempat Husniah menjawab terdengar suara salam dari arah depan. Sepertinya ada tamu, aku segera berlalu meninggalkan gadis itu. Melihat siapa yang datang sore-sore begini.
Setelah pintu gerbang terbuka, tampak di depanku wanita dengan lesung pipi tersenyum padaku.
"Lita, ngapain kamu datang ke sini?" tanyaku tanpa mempersilahkan wanita itu masuk terlebih dahulu.
Di dalam ada Husniah, aku akan mengatakan apa padanya jika dia bertanya tentang gadis itu.
"Aku khawatir padamu, Mas. Katanya sakit makanya aku ke sini buat nengokin. Aku gak di suruh masuk nih?"
"Oh iya, masuklah," ucapku, mempersilahkan dengan enggan.
Wanita itu dengan santai masuk ke dalam rumahku. Dulu sekali, dia pernah datang juga ke sini saat aku sedang sakit juga. Dia tahu aku hidup sendiri, makanya dia tampak santai saja hendak masuk ke dalam rumah.
"Mas, itu siapa?" tanya Lita saat melihat Husniah yang hendak masuk ke dalam kamar.
Mati. Aku mau jawab apa sekarang.
Kami bertiga hanya saling memandang, lidahku kelu, tidak ada kosa kata yang bisa keluar dari mulutku untuk menjawab pertanyaan Lita. Apa iya aku akan mengatakan lagi kalau dia pembantuku. Pasti gadis itu akan bersedih lagi.
🍁 🍁 🍁