Bab 1
Tiga hari yang lalu, aku masih seorang putri dari keluarga kaya raya. Namun, tiga hari kemudian, aku dipaksa telanjang, dirantai dan merangkak di lantai seperti seekor anjing betina. Mereka berniat mempersembahkanku kepada kirin. Sepuluh bulan setelah persembahan ini, mereka akan mendapatkan pil keabadian yang mampu membuat pria awet muda dan hidup abadi
Kehidupanku sebelumnya sangat bahagia sebagai pemilik gym.
Aku adalah seorang pemilik gym. Namun, dalam dua bulan terakhir, suamiku sama sekali tidak pernah menyentuhku. Merasa kesepian dan hampa, aku malah dikepung oleh lima pria sekaligus di dalam gym.
Tiga hari yang lalu, aku masih seorang putri dari keluarga kaya raya.
Namun tiga hari kemudian, aku telanjang bulat, ditarik dengan rantai oleh para biksu, merangkak di lantai seperti seekor anjing betina.
Mereka berencana mempersembahkanku kepada kirin, makhluk mitos dari zaman kuno.
Para biksu mengatakan selama aku bisa berhasil bersatu dengan kirin itu, sepuluh bulan kemudian tubuhku akan menghasilkan pil keabadian, obat yang bisa membuat pria kembali muda, abadi dan tak pernah menua ...
Aku tidak sendirian, ada beberapa gadis lain yang ikut denganku.
Kami semua hanya memakai kain tipis yang tembus pandang, tanpa sehelai pakaian pun di dalamnya.
Pengalaman memalukan seperti ini, memamerkan tubuh di depan pria-pria asing, membuatku sangat terhina.
"Cepat merangkak, rangkak seperti anjing betina."
Setelah beberapa saat, seorang gadis akhirnya tak kuat lagi. Dia jatuh tersungkur ke lantai, kehabisan tenaga.
Seorang biksu datang menghampirinya dan mencambuk keras punggungnya. "Aku akan menjualmu ke rumah bordil kalau kamu masih bermalasan."
Gadis itu menjerit kesakitan, tubuhnya gemetar hebat.
Ketika akhirnya bangkit dan kembali merangkak, aku menyadari dia kehilangan kendali dan air kencingnya mengalir di sepanjang pahanya, menetes ke lantai.
Aku gemetar ketakutan. Di bawah tarikan rantai, aku berusaha menahan sakit di lututku dan kembali merangkak dengan cepat di tanah.
Setelah setengah jam penuh merangkak, akhirnya para biksu melepaskan rantai kami. "Mulai sekarang, kalian harus menganggap diri kalian sebagai binatang betina. Makan dan tidur pun harus dengan posisi merangkak."
Seorang gadis menangis tersedu-sedu, "Aku nggak mau melayani kirin itu! Aku mau pulang!"
Detik berikutnya, beberapa biksu masuk ke aula, menarik gadis itu dengan paksa dan membawanya keluar.
Jeritannya yang memilukan terdengar dari luar, membuat pikiranku kacau.
Apakah kirin itu benar-benar ada di dunia ini?
Seorang biksu melirik kami dengan tatapan kesal, lalu berkata, "Tetap merangkak di situ. Setelah mandi di air mata roh, kalian akan menjalani pelatihan lagi."
Aku terengah-engah, mencoba bangkit, tetapi biksu itu langsung menendangku hingga terjatuh ke tanah. Dia memarahiku, "Untuk apa berdiri?! Tetap merangkak!"
Seketika, kami semua ketakutan dan merangkak dengan keempat kaki menempel di lantai.
"Tekuk pinggang kalian lebih rendah, angkat pantat kalian lebih tinggi!"
"Kalau kalian nggak bisa memuaskan makhluk suci ini, aku akan membunuh kalian!"
Tiba-tiba, cambuk panjang menghajar punggungku dengan keras.
"Aaaa!" Aku menjerit kesakitan, tubuhku langsung melemas, terkapar di lantai.
Satu cambukan dari biksu itu langsung membuatku pingsan seketika.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, saat membuka mata, aku menemukan diriku dalam posisi merangkak, tubuhku terendam di sebuah mata air yang memancarkan kabut mistis.
Air itu hangat, membuat tubuhku terasa lemas, kulitku gatal dan pikiranku linglung. Anehnya, rasanya sangat nyaman.
Rasa lelah dari pelatihan selama dua hari terakhir, serta rasa sakit akibat cambukan, seolah menghilang begitu saja.
Aku melihat gadis-gadis di sekitarku, mereka berebut mencuci wajah dengan air di mata air itu.
Airnya tampak luar biasa. Dengan sedikit bilasan saja, kulit mereka berubah putih, lembut dan bercahaya.
Bahkan luka-luka di tubuh mereka langsung sembuh.
Aku mencium aroma samar dari air itu, ada bau aneh yang mirip seperti ... bau binatang.
Aku pun bertanya, "Ini air apa?!"
Seorang biksu yang berjaga di dekat kami menjawab dengan nada kesal,
"Ini air akar kirin. Setelah mandi dengan air ini, tubuh kalian akan memiliki aroma yang disukai makhluk suci itu."
Air akar kirin?
Bukankah itu berarti ... cairan tubuh kirim?
Bab 2
Sejak zaman kuno, semua binatang tanpa terkecuali memiliki kebiasaan menandai wilayah atau benda milik mereka dengan urin atau cairan tubuhnya.
Para biksu sengaja membuat tubuh kami terkontaminasi oleh cairan tubuh kirin. Tujuannya adalah untuk mengelabui makhluk mitos itu.
Agar makhluk tersebut berpikir bahwa kami adalah miliknya.
Dengan kata lain, binatang betinanya!
Memikirkan hal itu, hatiku dipenuhi rasa takut.
Jika kirin benar-benar ada, bukankah tubuhnya akan sangat besar? Bagaimana mungkin tubuh kecil kami mampu menanggungnya?
Terlebih lagi, kami semua adalah gadis muda yang masih suci, dipilih dengan sangat teliti karena dianggap masih belum ternodai.
Tiba-tiba, efek dari mata air roh kini mulai terasa.
Pertama-tama, airnya semakin berbau amis, warnanya pun berubah menjadi putih keruh.
Lama-kelamaan, tidak hanya warnanya yang berubah, tetapi suhu airnya juga semakin panas. Panasnya begitu menyengat hingga aku berkeringat deras.
Tubuhku mulai tak kuat menahannya.
Namun, para biksu tetap tidak mengizinkan kami keluar dari mata air.
Hingga beberapa biksu datang membawa kendi panjang, mereka akhirnya menyuruh kami keluar dari kolam.
Tubuhku yang telah terendam terlalu lama menjadi merah. Bersama gadis-gadis lain, kami merangkak keluar, berbaris di tepi kolam, dengan tubuh yang terpapar jelas.
"Rangkak yang benar! Makhluk suci nggak bisa dilayani oleh gadis biasa."
Aku tetap dalam posisi merangkak, tetapi sudut mataku memperhatikan mereka.
Terlihat seorang biksu menuangkan air dari kendi panjang yang penuh dengan air mata roh itu. Dengan kasar, dia memaksa seorang gadis di sampingku untuk meminum semuanya.
"Aaaa! Sakit sekali!" jerit gadis itu kesakitan.
Wajahnya yang sebelumnya merona seperti bunga persik, tiba-tiba berubah pucat. Tubuhnya gemetar hebat, tampak sangat menderita.
"Jepit yang kuat!“ bentak sang biksu.
Namun, gadis itu terlihat hampir kehabisan napas. Akhirnya, dengan satu jeritan panjang, dia terjatuh ke tanah. Kakinya gemetar hebat cairan dari tubuhnya mengalir keluar, menyemprotkan air mata roh itu ke segala arah.
"Dasar nggak berguna," ujar sang biksu dan menampar wajah gadis itu dengan keras. Lalu melanjutkan, "Hanya dengan tubuh seperti ini, bagaimana kamu bisa mengandung pil?"
Mengandung pil?
Aku mendengar istilah baru ini.
Sepertinya, ini membuktikan dugaanku.
Para biksu ini sedang melatih kami menjadi binatang betina untuk kemudian menggunakan tubuh kami sebagai alat untuk melahirkan sesuatu yang mereka inginkan.
Setelah gadis itu diseret keluar, sang biksu kembali mengisi kendi dengan air mata roh dan mendekati gadis berikutnya.
Melihat apa yang terjadi pada gadis sebelumnya, wajah gadis ini dipenuhi rasa putus asa. Dia pun berusaha melawan.
Namun, tetap saja dia ditundukkan ke tanah dan dipaksa menelan seluruh isi kendi.
Dia bertahan lebih lama, tetapi seiring waktu, aku melihat perut gadis itu semakin membesar, seperti balon yang ditiup.
Air mata roh itu tampaknya mengalami perubahan misterius di dalam tubuhnya.
Satu per satu, para gadis dipaksa menjalani hal yang sama, hingga tiba giliranku.
Aku tidak berani memohon ampun.
Namun, tak kusangka, sikapku yang diam saja justru membuat mereka bertindak lebih kasar.
Biksu itu menuangkan lebih banyak cairan ke dalam tubuhku dibandingkan yang lain.
Perutku mulai membuncit, tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri.
Akhirnya, penglihatanku mulai buram dan tubuhku hampir kehilangan kendali.
Saat aku sudah tak dapat menahannya, terdengar sang biksu berkata, "Cukup."
Tubuhku seperti bendungan yang jebol, semua cairan itu mengalir keluar dan tubuhku terasa sangat lega.
"Lanjutkan ke tahap pelatihan berikutnya."
Usai bicara, dia membuka sebuah kotak dan mengeluarkan sebuah patung kayu besar, setebal lengan manusia.
"Apa ... apa ini?" Seketika hatiku dipenuhi rasa putus asa.
Biksu itu mengoleskan cairan akar kirin pada kayu itu, kemudian menjatuhkanku ke tanah. "Kalau jalurmu nggak diperbesar, bagaimana tubuhmu bisa menampung akar makhluk suci kirin?"