Bab 1

Ketika kandunganku menginjak sembilan bulan dan hampir siap melahirkan, suamiku, Arga Baskara, justru memerintahkan orang mengunciku di gudang bawah tanah dan menyuruhku menahan agar bayi itu tidak lahir.

Karena istri almarhum kakaknya, Indri Magani, juga diperkirakan akan melahirkan hari ini.

Arga pernah berjanji pada kakaknya bahwa anak pertama yang lahir dalam Keluarga Baskara akan dididik sebagai penerus dan menerima warisan keluarga.

"Anak Indri harus lahir lebih dulu," kata Arga dengan tenang. "Dia kehilangan suaminya dan nggak punya apa-apa. Sementara kamu sudah memiliki semua cintaku, memberikan harta kepada anaknya adalah hal yang seharusnya."

Kontraksi membuatku kesakitan sampai berguling-guling, aku menangis memohon padanya untuk membawaku ke rumah sakit.

Arga mengusap air mataku dengan lembut, suaranya rendah dan mengandung bahaya.

"Jangan berpura-pura! Aku sudah lama tahu kamu sama sekali nggak mencintaiku. Satu-satunya yang kamu pedulikan adalah kekayaan dan kedudukan."

"Kamu sengaja mau melahirkan prematur hanya untuk merebut hak keponakanku... Bagaimana bisa kamu begitu kejam?"

Wajahku pucat dan seluruh tubuhku gemetar. Aku berkata dengan suara pelan, "Aku nggak bisa mengendalikan kapan anak ini akan lahir, kelahiran prematur hanyalah kebetulan! Aku bersumpah, aku nggak peduli sama harta, aku hanya mencintaimu!"

Arga tertawa sinis. "Kalau kamu mencintaiku, kamu nggak akan memaksa Indri menandatangani kontrak untuk melepaskan hak waris untuk anaknya. Oke, setelah dia melahirkan, aku akan kembali menemuimu. Bagaimanapun juga, yang ada di perutmu adalah darah dagingku sendiri."

Arga menunggu di luar ruang bersalin Indri. Setelah melihat bayi yang baru lahir itu, barulah dia teringat padaku.

Dia menyuruh sekretaris menjemputku ke rumah sakit, tetapi sekretaris itu dengan suara gemetar berkata, "Nyonya... dan bayinya... sudah meninggal..."

Pada saat itu, Arga menjadi gila.

Ketika aku pingsan dan tersadar kembali karena rasa sakit kontraksi, aku sudah berada di gudang bawah tanah yang gelap dan dingin.

Pintu besar tertutup dengan suara keras. Andai saja aku tidak sempat menarik kakiku, pergelangan kakiku pasti sudah remuk.

Mungkin karena gerakanku yang terlalu kasar, aku merasakan cairan hangat mengalir di antara kedua kakiku.

Aku segera menyadari apa yang terjadi, air ketubanku telah pecah!

Rasa panik langsung menyeruak.

Aku mencoba menenangkan diri dan meraba seluruh tubuhku untuk mencari ponsel. Namun, aku tidak menemukannya.

Ternyata, Arga sudah lebih dulu merampasnya, agar memastikan aku benar-benar terputus dari dunia luar.

Bayi dalam kandunganku terus menendang. Tubuhku menggigil kedinginan, sementara keringat deras mengucur karena rasa sakit.

Aku berteriak sekuat tenaga meminta tolong. Aku tidak menyerah, meskipun hanya ada secercah harapan.

Akhirnya, aku mendengar langkah kaki dari luar.

"Aku mohon, tolong aku!" teriakku. "Aku dikunci di dalam gudang bawah tanah! Aku akan segera melahirkan!"

Aku mengulanginya berkali-kali, berharap ada yang datang menyelamatkanku.

Namun, yang terdengar justru suara penuh kepuasan.

"Dian, bagaimana rasanya berbaring di gudang bawah tanah di tengah musim hujan? Menurutku, kakak sudah seharusnya sejak lama membuatmu jadi penurut."

Itu suara adik perempuan Arga, Erina Baskara!

Aku menahan sesak napas dan berusaha agar suaraku tetap jelas. "Erina, kumohon bawa aku keluar. Bayinya sebentar lagi lahir, sudah nggak ada waktu lagi!"

Erina menendang pintu gudang bawah tanah dengan keras, lalu menatapku dengan penuh amarah.

"Melepaskanmu? Jangan bermimpi! Kamu pasti sangat panik karena nggak bisa menghentikan kakak ipar melahirkan, 'kan? Aku memang ditugaskan kakakku untuk mengawasimu, aku nggak akan membiarkanmu melakukan hal semacam itu lagi!"

"Kakakku setiap hari sudah sibuk bekerja, tapi dia masih harus mengurus semua masalahmu. Apa kamu nggak bisa berhenti membuat repot orang lain?"

"Penerus Keluarga Baskara hanya akan lahir dari rahim Indri! Apa pun yang kamu lakukan nggak akan mengubah kenyataan itu!"

Kontraksi yang makin hebat membuatku merintih kesakitan. Aku berkata sambil terisak, "Aku benar-benar nggak menginginkan warisan, aku juga nggak berharap anakku menjadi penerus. Aku hanya ingin bayiku selamat! Asal Arga bersedia membiarkanku melahirkan di rumah sakit, apa pun yang dimintanya akan kulakukan!"

Rintihanku rupanya membuat Erina kesal. Dia mengernyit jijik dan berkata, "Perempuan jalang, suara seperti itu kamu buat untuk merayu siapa? Menjijikkan sekali. Kalau terus merintih akan kusuruh orang menutup mulutmu!"

Setelah itu, dia menelepon Arga.

Sakit di perut terus berlanjut tanpa henti. Kali ini, aku hanya bisa menggigit bibir bawah erat-erat. Aku bahkan tidak berani mengeluarkan suara napas.

Erina berbicara pada Arga di seberang sana. "Ya, Kak, tenang saja. Aku akan menjaganya. Dia nggak akan bisa berbuat macam-macam lagi!"

Begitu mendengar suara Arga di telepon, seberkas harapan kembali menyala dalam diriku.

Aku menjerit sekuat tenaga dengan suara parau dan putus asa, "Arga! Anak ini mau lahir! Cepat suruh Erina membawaku ke rumah sakit, aku nggak kuat lagi!"

Kini, aku bahkan tidak sanggup duduk. Aku hanya bisa terkulai lemah di lantai.

Erina sempat ragu. Dia menunduk dan berkata pelan ke arah telepon, "Kak, kurasa dia benar-benar mau melahirkan. Dia nggak terlihat seperti berpura-pura."

"Bagaimana kalau kubawa dia ke rumah sakit dulu? Bagaimanapun juga, dia sedang mengandung satu-satunya anakmu. Kalau sampai terjadi sesuatu..."

Arga terdiam beberapa detik, seolah sedang menimbang-nimbang.

Kemudian, suara Arga melunak. "Baiklah, kalau begitu bawa saja dia..."

Tiba-tiba sebuah suara yang manja menyela, "Arga, aku lapar dan mau makan kue. Kata dokter, kalau kenyang aku akan punya tenaga untuk melahirkan."

"Dian, kamu mau melahirkan? Jangan khawatir, melahirkan itu nggak sakit sama sekali. Aku bahkan masih bisa berdiri dan menari salsa, kamu pasti juga bisa."

Tentu saja Indri tidak merasakan sakit.

Arga memberinya kamar bersalin kelas VIP seharga 600 juta sehari. Begitu Indri mengeluh kesakitan, para perawat segera mengerubunginya untuk memberi pijatan.

Namun, Arga justru langsung memercayai kata-katanya dan mendengus dingin.

"Apa yang bisa terjadi? Dian begitu licik, dia nggak mungkin membiarkan dirinya dirugikan."

"Dia berpura-pura begitu hanya untuk menipumu agar melepasnya. Apa kamu sebodoh itu? Lain kali, lebih teliti."

Arga menutup telepon.

Wajah Erina memerah karena dimarahi kakaknya. Dia pun melampiaskannya dengan melepaskan ikatan anjing di dekat pintu, lalu membiarkannya masuk!

Bab 2

"Perempuan jalang, aku sampai dimarahi kakakku karena kamu! Lihat saja, akan aku beri pelajaran kamu! Bersenang-senanglah dengan anjingku!"

Detik berikutnya, napas berat milik anjing besar itu mendekat. Dia langsung menginjak dadaku.

Aku ketakutan dan berteriak, sementara bayi di dalam perut bergerak makin keras.

Saat aku berusaha mendorongnya, tiba-tiba ia menggigit tanganku!

Aku terbaring tidak berdaya di lantai yang dingin. Mendengar dengusan ancaman dari anjing ganas itu di telingaku, aku terisak tanpa suara.

Dalam kesadaran yang samar, aku hampir merasakan malaikat maut melambaikan tangannya padaku.

Tepat ketika aku membayangkan segalanya telah berakhir, Erina muncul kembali.

Dia menarik anjing itu dan memanggil namaku, tetapi aku tidak punya tenaga untuk menjawabnya.

Erina tampak panik dan melangkah masuk dengan cepat.

Gudang bawah tanah itu tidak dialiri listrik dan sekarang gelap gulita.

Erina terpaksa mencengkeram rambutku dan menarik kepalaku ke atas agar bisa melihat wajahku dengan jelas.

Tiba-tiba, dia mendengus keras, lalu melepaskan cengkeramannya dan membanting kepalaku ke lantai.

"Anjingku nggak pernah menggigit orang. Lihat, kamu sampai ketakutan, penakut sekali!"

"Kenapa sekarang nggak berteriak? Bukannya tadi waktu aku telepon kakakku, kamu masih berteriak dengan keras?"

Mata Erina penuh rasa jijik.

"Aku tahu, ini adalah trik barumu, kamu pura-pura mati, 'kan? Aku peringatkan ya, nggak ada lagi yang akan tertipu olehmu di sini!"

Erina mundur dua langkah, lalu membungkuk untuk meraba anjingnya, tetapi tangannya menjadi basah.

Erina membuka ponselnya dan melihat anjing itu penuh darah.

Bahkan sebelum aku sempat menjelaskan, Erina sudah sangat marah dan menendang perutku.

"Dian, kamu gila, ya? Beraninya kamu menyakiti anjingku! Nyawanya jauh lebih berharga dari nyawamu!"

"Kalau ia mati gara-gara kamu, aku akan menyuruh kakakku menceraikanmu!"

"Perempuan jahat sepertimu, sekalipun melahirkan anak, anak itu tetap saja hina, sama sekali nggak pantas menjadi penerus! Kamu masih mau melahirkan lebih dulu daripada kakak ipar? Mimpi saja sana!"

Erina pergi dengan penuh amarah. Sebelum keluar, dia bahkan sempat menutup jendela gudang bawah tanah.

Udara perlahan menipis. Tubuhku gemetar tidak terkendali.

Dalam kesadaranku yang kabur, aku hampir mendengar tangisan bayi.

Suara polos itu terus memanggilku ibu, memohon agar aku menyelamatkan dia.

Aku menangis histeris.

Seharusnya, hari ini, aku bisa bertemu dengan bayiku, mendekapnya di pelukanku, dan mencium wajah mungilnya yang lembut.

Namun, tinggal selangkah lagi...

Mengapa takdir begitu kejam terhadapku dan anakku?

Dengan mata berkaca-kaca, aku mengusap perutku dan bergumam lirih, "Sayang, kalau ada kehidupan berikutnya, Ibu berharap kamu lahir di keluarga yang lebih bahagia..."

Napasku terasa makin lemah, seolah aliran darahku pun perlahan berhenti.

Tepat saat itu, pintu gudang bawah tanah terbuka, seberkas cahaya menyinari wajahku.

Melihatku tergeletak di genangan darah, orang yang datang itu terkejut.

Aku mengerahkan sisa tenaga terakhirku untuk mengulurkan tangan dan berkata dengan lemah, "Tolong... selamatkan aku..."

Suaranya bergetar karena takut. "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan sampai mendapat hukuman seperti ini dari Tuan Arga?"

"Aku... istri Arga..."

Aku mengulurkan lenganku yang penuh luka, memperlihatkan jari yang masih mengenakan cincin pernikahanku dengan Arga.

Cincin itu berlumuran darah, nyaris tidak terlihat jelas dalam kegelapan.

"Ini cincin yang kami pesan khusus dan hanya ada satu di dunia."

Orang itu mendekat dan mengenali cincin itu. Namun, sebelum membebaskanku, dia ragu sejenak, lalu menelpon Arga.

"Tuan Arga, saya menemukan nyonya di gudang bawah tanah. Beliau berlumuran darah dan tampak sangat kritis. Apa saya perlu membawanya ke rumah sakit?"

Jawaban Arga terdengar sedikit heran. "Darah? Erina baru saja datang mengeluh padaku, katanya Dian melukai anjing kesayangannya. Nggak kusangka lukanya separah itu, pantes saja Erina marah."

Nada suaranya kemudian mengeras. "Jangan tertipu. Itu bukan darahnya. Dia baik-baik saja, dia hanya menggunakan segala cara untuk melahirkan lebih dulu daripada Indri. Jangan ikut campur, nanti aku sendiri yang akan menjemputnya."

Orang itu berusaha menjelaskan, tetapi Arga kembali memutus telepon.

Dia menatapku dengan tatapan penuh belas kasihan, lalu berjalan melewatiku untuk mengambil sesuatu.

Ketika aku mengira dia akan mengabaikanku dan pergi seperti yang lain, dia justru kembali.

"Nyonya, Anda sedang hamil," katanya dengan tegas, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Saya nggak bisa tinggal diam melihat seorang wanita hamil dalam bahaya tanpa menolongnya. Istri saya juga sedang hamil. Saya hanya berharap, kalau suatu hari dia dalam kesulitan, ada orang yang menolongnya. Karena itu, saya akan menyelamatkan Anda."

Dia menggendongku keluar dari gudang bawah tanah, lalu memanggil ambulans.

Untuk pertama kalinya, aku merasa sedikit lega.

Namun, ketika kami tiba di rumah sakit, tempat itu ternyata kosong. Tidak ada tenaga medis, obat, maupun peralatan medis.

Setelah beberapa kali menelepon, petugas darurat baru tahu bahwa rumah sakit ini adalah tempat Indri dirawat.

Karena terlalu mengkhawatirkan Indri, Arga sampai memindahkan semua sumber daya medis ke kamar pribadi Indri!

Bab 3

Keadaanku benar-benar gawat. Dokter tahu aku tidak punya waktu lagi untuk menunggu, jadi dia meminta nomor telepon Arga, lalu segera meneleponnya.

"Halo, Tuan Arga? Pasien bernama Dian Widuri dalam kondisi darurat dan sebentar lagi akan melahirkan. Bisakah Anda mengizinkan kami menggunakan sebagian perlengkapan persalinan?"

Arga membalas dengan nada marah, "Dian! Ternyata kamu lebih pintar dari yang kubayangkan. Bukan hanya berhasil keluar dari gudang bawah tanah, kamu bahkan menemukan orang untuk menolongmu!"

"Aku katakan padamu, apa pun akal bulus yang kamu mainkan, aku nggak akan tertipu lagi. Aku sangat mengenalmu. Mustahil kamu dalam bahaya!"

"Sudah berapa kali kukatakan, aku nggak akan mengabaikan anakku. Setelah Indri melahirkan, barulah giliranmu. Kenapa begitu terburu-buru?"

Dokter terus memohon kepada orang-orang di rumah sakit, tetapi Arga sudah memberi perintah mutlak, bahkan sebutir obat pereda nyeri pun tidak boleh diberikan.

Kami hanya terpisah satu dinding, aku bisa mendengar jelas suara dingin Arga.

"Nggak boleh terjadi apa-apa pada Indri. Siapa pun yang butuh perlengkapan medis, semuanya harus menunggu sampai Indri selamat melahirkan!"

Aku terkulai putus asa di lantai, tetapi tiba-tiba pandanganku bertemu dengan seorang pria di ambang pintu.

Itu sekretaris Arga.

Dia menatapku dengan mata terbelalak, seakan tidak berani memastikan siapa aku sebenarnya.

Aku baru saja hendak bicara, tapi dia sudah bergegas masuk ke kamar sebelah.

"Tuan Arga, di sebelah ada seorang ibu hamil. Dia terlihat sangat mirip dengan nyonya."

Arga melirik sekretarisnya dengan tajam.

"Nggak mungkin," katanya tegas. "Kalau memang dia yang melahirkan, mana mungkin dia hanya diam saja di kamar sebelah? Dia pasti sudah datang padaku untuk menuntut soal warisan."

Sekretaris itu ragu sejenak, lalu tetap berkata, "Tapi dia benar-benar mirip Nyonya Dian. Kalau itu memang nyonya, kondisinya sangat parah, seluruh tubuhnya berlumuran darah, bahkan bayinya terancam."

Arga kehilangan kesabaran.

"Kubilang nggak mungkin! Dian biasanya sangat menjaga kebersihan, sedikit saja ada noda di bajunya pasti langsung ganti. Mana mungkin membiarkan tubuhnya berlumuran darah? Kamu pasti salah lihat."

Dokter masih berusaha keras, mencoba mendapatkan segulung perban. Namun, Arga langsung mengancamnya dengan kedudukannya.

Dokter tidak berdaya dan kembali dengan wajah penuh penyesalan.

Aku berusaha meyakinkannya agar tidak khawatir, tapi mataku berkunang-kunang hingga tidak bisa melihat jelas.

Suara para tenaga medis terdengar makin jauh.

"Pendarahannya terlalu hebat... kondisinya sangat gawat..."

"Detak jantung janinnya berhenti!"

"Cepat, lakukan penyelamatan!!"

Aku ingin berdoa dan berteriak, tetapi tenggorokanku tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.

Yang bisa kulakukan hanyalah menatap tidak berdaya pada sosok-sosok mereka yang samar bergerak di sekelilingku.

Tanganku terjatuh lemah di perut, dari sana terasa satu tendangan kecil yang terasa lemah.

Setetes air mata jatuh dari sudut mataku.

"Maafkan Ibu, Sayang... Ibu nggak bisa melindungimu."

Lalu, kegelapan menelanku sepenuhnya.

...

Di luar ruang bersalin, Arga gelisah menunggu Indri.

Begitu pintu terbuka, dia segera bergegas ke sisi ranjang dan menggendong bayi yang baru lahir itu.

"Dia mirip sekali denganmu," ucapnya lembut. "Benar-benar menggemaskan."

Setelah mengatakannya, Arga sempat terdiam.

Anak yang dilahirkan Dian akan lebih mirip siapa?

Jika perempuan, mungkin lebih mirip Dian, pasti akan jauh lebih cantik.

Pikiran itu hanya terlintas sejenak. Setelah mengurus prosedur medis, Arga berbalik dan keluar dari ruang bersalin.

Indri telah melahirkan dengan selamat, kini saatnya membawa Dian ke rumah sakit.

Arga berpapasan dengan sekretaris yang berdiri di depan pintu ruang bersalin, lalu bertanya dengan nada tidak senang, "Kenapa masih di sini? Cepat pulang dan bawa Dian ke rumah sakit."

Sekretaris itu tidak mengangkat kepalanya.

Dia berdiri terpaku dengan tubuh gemetar hebat.

Saat kesabaran Arga mulai habis, akhirnya dia berbicara.

"Nyonya... dan bayinya... mereka berdua sudah meninggal!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B40437" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B40437
Salin

Persalinan yang Terpaksa Ditunda

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya