Bab 1

Yasmin dan Petro telah melewati sebelas tahun bersama.

Saat Yasmin mengira mereka akan menua bersama, Petro justru berselingkuh.

Perselingkuhan itu berlangsung selama tiga tahun.

Dengan seorang gadis yang wajahnya mirip 60% dengannya, lebih muda dan lebih segar.

Saat Yasmin mengira tidak ada yang bisa lebih buruk dari itu.

Anaknya, Haris, mengeluarkan surat pemutusan hubungan dan berkata bahwa Yasmin telah mengganggu kebahagiaan keluarga mereka.

Jantungnya seperti dihancurkan tanpa ampun, Yasmin menandatangani kesepakatan cerai.

Dia memutuskan untuk tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengan ayah dan anak itu.

"Sania, bantu aku nyusun surat cerai."

Begitu suara Yasmin terdengar, Sania di seberang telepon langsung melongo.

"Yasmin, Petro itu sayang banget sama kamu. Kalian sudah susah payah bertahan sampai hari ini, kenapa tiba-tiba mau cerai? Jangan-jangan cuma salah paham?"

"Lagian kalian sudah bareng 11 tahun, Haris juga sudah tujuh tahun. Kamu rela ninggalin semua itu?"

Yasmin menatap keluar jendela mobil, melihat tiga orang yang sedang jalan bareng di trotoar sambil bergandengan. Sudut bibirnya terangkat sinis.

"Petro selingkuh sama model."

"Sudah tiga tahun."

Perempuan itu wajahnya 60% mirip dengannya. Sekarang lakukan pekerjaan yang dulu dilarang keras sama Petro.

Petro membiayai hidup wanita itu di seberang rumah mereka, itu sudah berlangsung selama tiga tahun.

Sementara Yasmin sendiri baru tahu kemarin.

Telepon di seberang hening. Yasmin memalingkan wajah, kembali memandang keluar.

Di luar jendela, model peliharaan Petro, Yara, sedang menggandeng tangan Haris. Keduanya terlihat bahagia, senyum mereka begitu ringan. Sedangkan Petro, berjalan mengikuti mereka dari belakang.

Dia mengangguk, membayar, lalu menerima kantong belanjaan dan menyerahkannya ke pengawal. Gerak-geriknya tenang, bahkan tanpa sadar terlihat penuh pengertian dan sayang, membuat dada Yasmin terasa sesak.

Air mata panas jatuh satu per satu. Yasmin cepat-cepat mengusapnya. Dia baru menelepon lagi setelah tangisnya mereda dan suaranya kembali tenang.

"Nggak usah cari kepala baru buat panti asuhan. Yang lain pasti nggak tenang, biar aku aja."

"Bulan depan, aku mulai kerja."

Setelah bicara, dia menaikkan kaca jendela, menutup telepon, lalu menancap gas dan pulang.

Begitu sampai di rumah, tubuh Yasmin gemetar hebat. Dia terus menggigil, lalu menaikkan suhu ruangan dan bersembunyi di balik selimut. Tapi, dia tetap saja menggigil karena dingin.

Saat kesadarannya mulai kabur, Petro pulang.

Begitu masuk kamar, dia mengangkat Yasmin dari balik selimut, menyentuh dahinya dengan alis mengerut. "Kok tidur cepet banget, muka kamu juga pucat."

"Nggak enak badan ya?"

Dia memeluk kepala Yasmin, menyentuhkan dahinya untuk cek suhu.

Gerakan itu sudah jadi kebiasaan. Selama empat tahun pacaran dan tujuh tahun menikah, Petro selalu tahu saat Yasmin merasa nggak enak badan. Dia juga sudah sering menunjukkan perhatian begini.

Tapi, kali ini, saat tubuh hangat Petro dengan aroma yang tersisa mendekatinya, Yasmin spontan menghindar.

Begitu Yasmin sadar dan hendak bereaksi, Petro sudah terdiam kaku dengan tangan menggantung di udara. Ekspresinya penuh tanda tanya.

"Nggak apa-apa," suara Yasmin serak dan terhenti di tenggorokan. "Cuma lagi capek saja."

Petro mengangguk, tampak mengerti dan nggak terlalu mikir. "Kalau gitu makan dulu baru tidur, aku bawain makanan kesukaan kamu."

Dia berjalan ke meja lebih dulu. Yasmin menyusul dan melihat semua kotak makan sudah dibuka satu per satu oleh Petro.

Karena baju yang dipakai Yasmin agak longgar, saat dia berpapasan dan hendak mengambil sumpit, tangannya nggak sengaja menyenggol jas Petro yang disampirkan di sandaran kursi.

Dengan bunyi jatuh yang cukup keras, jas itu terlempar ke lantai. Bersamanya ikut terjatuh sebuah kondom.

Udara di ruangan langsung membeku.

Gerakan Petro yang awalnya santai langsung terhenti. Dalam sekejap, amarahnya meledak.

"Yasmin! Siapa suruh kamu pegang-pegang barang aku?"

"Kamu ngerti nggak sih yang namanya menghargai orang lain?! Meski kita suami istri, tetap ada batas dan sopan santun!"

Wajah Yasmin seputih dinding di belakangnya. Dia belum sempat bicara saat Petro sudah membungkuk marah, mengambil benda itu dari lantai. Karena gerakannya terlalu kasar, sikunya nggak sengaja menumpahkan sup panas yang langsung menyiram tangan Yasmin.

Suasana menjadi senyap seperti es pecah. Yang terdengar hanya napas memburu Petro, dan desahan pelan Yasmin menahan perih.

Entah sudah berapa lama, mungkin dia sadar reaksinya terlalu berlebihan, Petro akhirnya bicara dengan suara rendah.

"Itu cuma iseng teman. Dia masukin ke jasku buat lucu-lucuan. Aku cuma takut kamu salah paham, makanya tadi sempat emosi."

"Tangan kamu kena ya? Sini aku lihat."

Sup yang tadi panas sekarang sudah dingin. Yang tersisa cuma lapisan minyak di tangan Yasmin yang memerah.

Petro hanya melihat sebentar, lalu buru-buru ambil kotak P3K dari lemari. Seperti biasa saat Yasmin terluka, dia membalutnya pelan-pelan dengan penuh perhatian.

Tapi, kali ini, belum selesai membalut, ponsel Petro tiba-tiba berdering. Nada deringnya khas, hanya muncul kalau dari nomor tertentu.

Notifikasi masuk bertubi-tubi, seolah menuntut balasan segera.

Yasmin bisa merasakan tubuh Petro makin tegang, lalu dia menurunkan pandangannya sambil menelan getir.

"Angkat saja. Siapa tahu memang penting."

Baru aja dia selesai bicara, Petro langsung menghela napas lega dan mengambil ponselnya.

Matanya terpaku di satu layar cukup lama. Pandangannya makin gelap. Dia menghela napas panjang dan menatap Yasmin dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Yasmin, kayaknya ada masalah soal hadiah ulang tahun kamu. Aku harus ke sana malam ini buat diskusi lagi. Kamu tahu 'kan, aku cuma mau kasih kamu hadiah paling istimewa."

"Supnya juga udah dingin, lukanya nggak parah. Kamu beresin sendiri ya. Aku bakal cepet balik."

Setelah berkata begitu, dia menyelipkan kembali kapas pembersih itu ke tangan Yasmin, lalu membalikkan badan dan pergi.

Sebelum keluar rumah, dia sempat membawa jas panjang yang tadi terjatuh.

Yasmin memandangi punggungnya yang menjauh. Kedua tangannya masih terasa perih. Tapi, rasa sakit itu bahkan nggak sebanding dengan tusukan tajam yang menusuk-nusuk di dadanya.

Setelah 11 tahun hidup bersama Petro, dia tahu betul seperti apa pria itu.

Bahkan mungkin Petro sendiri nggak sadar, kalau dia sedang bohong, bicaranya pasti jadi jauh lebih cepat.

Alasan yang sama, dia baru pakai kemarin. Memang benar, orang jatuh cinta sering kehilangan akal sehat.

Yasmin membersihkan lukanya seadanya. Selera makannya hilang. Dia memutuskan buat lihat Haris sudah tidur belum.

Tapi, baru mendekat ke pintu kamar, dia sudah dengar suara semangat dari dalam, "Kak Yara, Ayah sudah datang belum?"

"Kak Yara tenang saja! Aku ini penjaga cinta kalian. Aku yang bakal jagain Ayah dan Kakak, biar Ibu yang nggak berguna itu pergi."

Kata-kata polos Haris membuat Yara tertawa. Tawa itu menyelinap lewat celah pintu dan sampai ke telinga Yasmin, membuat hatinya kembali nyeri dan menegang.

Bab 2

Yasmin terjatuh berlutut ke lantai. Rasa lelah luar biasa menenggelamkannya. Dia menutup mata dan membenamkan wajah ke dalam pelukan lengannya sendiri.

Sepanjang malam, Yasmin duduk terpaku di tepi ranjang, terus memikirkan di mana sebenarnya semuanya mulai salah.

Hubungan ini dimulai karena Petro.

Dia menyukai Yasmin, terus-menerus menunjukkan perhatian padanya.

Waktu sekolah dulu, dia minta pindah duduk di sebelah Yasmin, selalu menemaninya makan siang dan malam, membawakan makanan, mengajaknya ikut kegiatan, bahkan rela meninggalkan mata pelajaran favoritnya demi bisa sekelas dengan Yasmin.

Yasmin tidak pernah memberi jawaban. Sampai akhirnya, di tahun terakhir SMA, mereka mengalami gempa bumi.

Saat itu, kaki Yasmin baru saja terkilir. Dia tidak bisa lari cepat. Setelah sampai di lapangan, Petro nggak melihat Yasmin. Tanpa memedulikan larangan guru, dia lari balik ke gedung sekolah dan menggendongnya turun.

Di tangga, saat terjadi gempa susulan, dinding tua di lorong runtuh. Petro menarik Yasmin ke pelukannya tanpa ragu, sementara kepalanya sendiri dihantam sampai berdarah.

Di rumah sakit, Petro meringis menahan sakit tapi tetap menghibur Yasmin, menenangkan. Dia bilang kalau Yasmin terlalu tersentuh, kenapa nggak jadi pacarnya saja.

Yasmin mengangguk setuju.

Petro terdiam lama. Saat akhirnya menyadari, dia bahkan mengabaikan lukanya sendiri, mencabut infus dan memeluk Yasmin erat. Dia tertawa lalu menangis, suaranya bergetar saat berjanji akan selalu menyayangi dan menjaga Yasmin seumur hidup.

Mereka lulus dan masuk universitas yang sama. Kisah cinta mereka seperti drama yang membuat banyak orang iri.

Yasmin merasa rendah diri karena statusnya. Petro tahu itu. Jadi, di tahun ketiga kuliah, dia menyiapkan lamaran besar-besaran sebagai bentuk keseriusannya.

Mereka sudah pacaran empat tahun. Saat lulus, Petro menentang tekanan keluarga dan lingkungan, lalu menggelar pernikahan megah yang menjadikan Yasmin, seorang yatim piatu yang dulu dibenci menjadi istri Pak Petro yang disegani.

Sudah tujuh tahun menikah. Haris sudah tujuh tahun. Semuanya terasa seperti mimpi yang indah.

Tapi, setengah tahun lalu, Petro tiba-tiba berubah. Dia sering bilang sibuk kerja, sering menginap di luar kota. Sikapnya pada Yasmin pun makin dingin.

Bahkan ketika Yasmin mencoba mendekat, dia tetap tidak menunjukkan minat.

Ketidakhadiran Petro di rumah membuat Haris marah dan menyalahkan Yasmin. Dia bilang Yasmin gagal menciptakan keluarga yang bahagia. Karena Yasmin, Haris kehilangan kasih sayang seorang ayah.

Yasmin mencoba menenangkan diri. Dia yakin semua hanya karena Petro sedang terlalu sibuk, dan semua akan membaik. Tapi, setelah enam bulan, yang datang justru sebuah video berdurasi 70 menit.

Petro ternyata sudah selingkuh lebih lama dari dugaan. Tiga tahun penuh. Dalam video itu, ada lebih dari 700 potongan gambar yang menunjukkan Petro dan Yara telanjang dan saling berpelukan.

Mereka bercumbu, di siang dan malam saat Yasmin justru sibuk menyalahkan diri sendiri dan mencoba percaya pada suaminya.

"Tok tok."

Ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Yasmin tersentak dari lamunannya. Dia menyeka air mata, menelan sesak di tenggorokan. Dia menyeret tubuhnya yang lelah untuk membuka pintu.

Sania.

Dia tidak lagi berusaha membujuk, apalagi bertanya macam-macam. Dia langsung menyerahkan draf surat cerai yang sudah disiapkan.

Yasmin pun tidak perlu membaca detailnya. Dia hanya membuka beberapa halaman secara simbolis, lalu langsung menandatangani di kolom tanda tangan.

Tanda tangannya tegas dan tanpa ragu.

Bab 3

Petro pergi dari rumah dan tinggal di kantor selama beberapa hari.

Setiap malam pukul sepuluh, dia mengirim pesan singkat padanya.

[Sibuk.]

[Jaga diri baik-baik dan jaga Haris juga.]

Yasmin tidak lagi menanyakan seperti biasa tentang apa yang sedang dia lakukan. Tanpa bertanya pun, dia sudah tahu. Kalau Petro tidak pulang, Yasmin sibuk dengan pekerjaan sendiri.

Kebetulan hari ulang tahun Haris tiba. Biasanya di hari seperti ini, mereka bertiga akan duduk bersama, menikmati kue buatan tangan Yasmin, dan merayakan ulang tahun Haris dengan sederhana tapi bahagia.

Tapi, kali ini Yasmin dan Haris menunggu sampai pukul sepuluh malam dan Petro belum juga pulang.

Haris memandang Yasmin dengan nada kesal.

"Ayah belum pulang juga? Coba telepon lagi deh, kuenya hampir meleleh."

Yasmin mengangkat ponselnya dan menelepon Petro untuk kelima kalinya malam itu.

Setelah berdering cukup lama, baru telepon itu diangkat. Belum sempat Yasmin bicara, Petro sudah lebih dulu menjawab.

"Yasmin, malam ini aku nggak pulang... aah!"

"Kamu temani Haris rayain ulang tahunnya, nanti aku bakal menebusnya setelah pulang. Sudah ya, nggak usah tungguin aku."

Suara Petro terdengar ganjil dan terputus-putus. Dia cepat-cepat mengakhiri panggilan, tidak memberi Yasmin waktu sedetik pun untuk bicara.

Begitu telepon ditutup, Haris langsung mendekat.

"Ayah pulang nggak?"

Begitu Yasmin menggeleng, wajah Haris langsung gelap. Dia membanting hadiah dari Yasmin dan berteriak dengan suara parau.

"Nggak berguna! Kamu nggak becus! Gara-gara kamu ayah jadi nggak mau pulang!"

"Yasmin, kamu sendiri nggak punya keluarga, nggak punya ayah ibu yang sayang sama kamu. Sekarang kamu bikin aku juga jadi nggak punya ayah! Kamu bikin aku jadi kayak kamu! Jijik sekali!"

Suara anak kecil yang seharusnya polos kini terdengar seperti jeritan iblis yang menancap ke telinga dan mengguncang kepala Yasmin, membuatnya pusing luar biasa.

Wajahnya langsung pucat. Dia menatap Haris dengan syok.

Sedangkan Haris sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan kata-katanya. Dia terus menyerang.

"Kenapa aku punya ibu sepayah ini? Kenapa kamu harus jadi ibuku!"

"Ibu orang lain itu dokter, pengacara. Kamu nggak bisa apa-apa. Kerjaannya cuma urus anak-anak miskin dan kotor itu. Orang lain punya kakek nenek. Kamu bahkan nggak punya rumah! Bagaimana orang lain bisa hormati aku!"

Wajah Haris berubah bengis, dengan ekspresi yang sama sekali tidak cocok untuk anak-anak. Dia melemparkan hadiah dengan marah, lalu menghentakkan kaki dan lari ke kamar.

Terdengar suara keras saat pintu dibanting menutup.

Satu menit kemudian, dia kembali berlari keluar dengan wajah marah, lalu melemparkan selembar kertas ke tubuh Yasmin.

"Aku mau putus hubungan sama kamu! Aku nggak mau kenal ibu yang nggak berguna kayak kamu!"

Setelah berteriak, dia membalikkan badan, menghancurkan kue ulang tahun buatan Yasmin, lalu lari kembali ke kamar.

Yasmin berdiri terpaku di tempat, pandangannya kosong. Tapi, ketika matanya menangkap tulisan di atas kertas itu, hatinya langsung terasa remuk.

[Putus hubungan.]

[Saya, Haris, dengan sukarela memutuskan hubungan ibu dan anak dengan Yasmin untuk selamanya.]

Di bawah tulisan yang berantakan dan miring-miring itu, ada cap sidik jari merah, seolah berdarah.

Yasmin berdiri kaku. Dia menatap kertas itu dalam diam seperti tidak percaya. Dada terasa seperti dilindas kendaraan bolak-balik hingga mati rasa.

Samar-samar, dia masih bisa mendengar suara percakapan dari dalam kamar.

"Kak Yara, kamu kapan nikah sama ayah? Aku mau jadi pembawa bunga buat kalian."

"Ibu itu nggak berguna, makanya ayah nggak mau pulang. Tapi kalau kamu yang jadi ibu aku, ayah pasti bakal pulang. Aku sampai mimpi kamu jadi ibu aku tahu."

Aliran darah dalam tubuh Yasmin seperti melambat. Tubuhnya terasa dingin. Mungkin memang benar, keberadaannya membuat Haris jijik.

Status dirinya membuat Haris merasa malu. Pekerjaannya membuat anak itu enggan mengakuinya di depan orang lain. Dia bahkan tidak bisa mempertahankan figur ayah yang baik itu. Maka dari itu, Haris terus memanggil Yara dengan sebutan "kakak baik", sementara kepadanya, hanya ada kutukan.

Sebuah senyuman pahit terbit di wajah Yasmin.

Dengan langkah lunglai, dia kembali ke kamar. Dia mengambil kertas pemutusan hubungan itu, menandatangani namanya, lalu melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam kantong hadiah.

Dia menaruhnya bersama tumpukan hadiah ulang tahun Haris.

Dia yakin, saat Haris membukanya nanti, dia pasti akan merasa senang dan puas.

Perpisahan yang Kutandatangani

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya