Bab 3
“Nek, tentu.” Olivia menanggapi dengan santai.
Meski Nenek Sarah memperlakukannya dengan sangat baik, Stefan adalah cucunya sendiri, sedangkan dirinya hanya seorang cucu menantu. Kalau mereka bertengkah, memangnya keluarga Adhitama akan memihak padanya?
Olivia tidak percaya.
Sama seperti mertua kakaknya.
Sebelum menikah, mereka begitu baik kepada kakaknya. Saking baiknya, putri kandung mereka sampai cemburu.
Setelah menikah, mertua kakaknya berubah. Setiap kali kakaknya dan suaminya bertengkar, ibu mertua kakaknya pasti akan bilang bahwa kakaknya bukan istri yang baik.
Jadi, anak adalah keluarga sendiri, sedangkan menantu adalah orang luar.
“Kamu mau pergi kerja, ‘kan? Kalau begitu Nenek nggak ganggu lagi, deh. Nenek akan menyuruh Stefan untuk menjemputmu dan makan malam bersamamu nanti.”
“Nek, tokoku tutupnya malam. Aku mungkin nggak bisa pulang untuk makan. Gimana kalau di akhir pekan?”
Sekolah libur di akhir pekan. Bagi toko buku seperti miliknya yang bergantung pada murid sekolah untuk membeli dagangan mereka, bisnis mereka pasti akan sepi di hari libur. Mereka bahkan tidak perlu buka toko. Makanya dia bisa buka waktu.
“Boleh.” Nenek Sarah berkata dengan penuh perhatian, “Kalau begitu, kita bicarakan lagi nanti di akhir pekan. Kamu kerja saja dulu.”
Sarah pun mengambil inisiatif untuk mengakhiri panggilan tersebut.
Bukannya langsung pergi ke toko, Olivia malah mengirim pesan ke temannya, Junia Santoso, memberi tahu temannya itu bahwa dia akan ke toko sebelum jam pulang sekolah.
Setelah melakukan hal terbesar dalam hidupnya, dia harus pulang dan memberi tahu kakaknya, kemudian pindah dari rumah kakaknya.
Sepuluh menit kemudian, Olivia sampai di rumah kakaknya.
Kakak iparnya sudah pergi kerja, sedangkan kakaknya sedang menjemur baju di balkon. Melihatnya pulang, kakaknya bertanya, “Oliv, kok kamu pulang? Hari ini nggak buka toko?”
“Aku akan ke sana siang nanti. Siang hari biasanya ramai. Russel belum bangun?”
Russel adalah keponakan Olivia, yang baru berusia dua tahun sekarang, tepat di usia di mana seorang anak sedang nakal-nakalnya.
“Belum. Kalau dia sudah bangun, rumah nggak akan sesunyi ini.”
Olivia membantu kakaknya mengeringkan pakaian dan bertanya tentang tadi malam.
“Oliv, kakak iparmu bukannya ingin mengusirmu. Dia hanya lagi banyak tekanan saja, sedangkan aku nggak punya penghasilan,” Odelina Hermanus menjelaskan untuk suaminya.
Olivia tidak mengatakan apa-apa. Kakak iparnya itu memang ingin mengusirnya.
Kakak ipar Olivia bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan. Pria itu berpenghasilan tinggi. Kakak Olivia adalah teman kuliahnya. Mereka awalnya bekerja di perusahaan bersama, lalu mereka menikah. Setelah menikah, kakak iparnya itu bilang pada kakaknya, “Aku akan menghidupimu mulai sekarang. Kamu istirahat saja di rumah, siap-siap untuk punya anak.”
Kakaknya mengira dia sudah menikah dengan orang yang tepat, jadi dia benar-benar mengundurkan diri dan menjadi ibu rumah tangga. Satu tahun setelah menikah, dia melahirkan seorang anak laki-laki. Dia merawat bayi mereka dan mengurus rumah, yang membuatnya sangat sibuk sehingga dia tidak punya waktu lagi untuk berdandan dan merawat tubuhnya sendiri. Dia juga tidak bisa kembali bekerja lagi.
Dalam tiga tahun, Odelina sudah berubah dari seorang wanita muda dan cantik menjadi seorang ibu rumah tangga yang gemuk dan berpakaian santai, yang tidak suka berdandan.
Olivia dan kakaknya beda lima tahun. Ketika Olivia berumur sepuluh tahun, orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan mobil. Sejak saat itu, mereka saling bergantung satu sama lain.
Uang ganti rugi yang dibayarkan setelah kecelakaan mobil itu sebenarnya cukup untuk mereka menyelesaikan studi mereka, tetapi kakek dan nenek dari sisi ayah dan ibu mereka masing-masing meminta bagian. Jadi, mereka menggunakan sisa uang yang sedikit itu dengan hidup berhemat, sampai akhirnya mereka bertahan sampai lulus kuliah.
Rumah mereka ditinggali oleh kakek dan nenek dari sisi ayah, jadi mereka selalu menyewa tempat tinggal di luar, sampai akhirnya kakaknya menikah dan mereka berhenti menyewa.
Odelina sangat menyayangi Olivia. Sebelum menikah, kakaknya sudah bilang pada suaminya bahwa Olivia akan hidup bersama mereka. Kakak iparnya juga sudah mengiyakan dengan santai. Namun, pria itu malah tidak menyukainya tinggal di sini sekarang.
“Kak, maaf, aku sudah merepotkanmu.”
“Nggak, Oliv. Kamu jangan berpikir begitu. Orang tua kita meninggal ketika kita masih kecil. Kamu hanya bisa bergantung pada Kakak.”
Olivia terharu. Ketika dia masih kecil, kakaknya adalah sandaran hidupnya. Sekarang, dia ingin menjadi sandaran hidup bagi kakaknya.
Setelah terdiam beberapa saat, dia mengeluarkan buku nikahnya, menyerahkannya kepada Odelina dan berkata, “Kak, aku sudah menikah. Aku baru saja mengurus buku nikah. Aku pulang untuk memberi tahu Kakak. Aku akan beres-beres dan keluar dari rumah ini nanti.”
“Kamu sudah menikah?” Suara Odelina meninggi. Menyebutnya berteriak saja tidak keterlaluan.
Dia menatap adik perempuannya itu dengan tidak percaya. Pada saat yang sama, dia cepat-cepat mengambil buku nikah itu dan membukanya. Anehnya, benar-benar ada foto adiknya bersama seorang pria asing di dalamnya.
“Olivia, apa yang terjadi? Bukannya kamu nggak punya pacar?”
Pria yang ada di buku nikah itu sangat tampan, tapi tatapannya tajam dan ekspresinya terlalu dingin. Kelihatannya bukan orang yang enak diajak bergaul.
Dalam perjalanan pulang, Olivia sudah memikirkan kata-kata yang harus dia katakan. Dia langsung berkata, “Kak, aku sudah lama punya pacar. Namanya Stefan. Hanya saja, dia terlalu sibuk dan belum bisa menemukan waktu untuk datang menemui Kakak.”
“Dia melamarku dan aku setuju untuk menikah dengannya. Kemudian, kami pergi ke Kantor Urusan Agama untuk mengurus akta nikah. Kak, dia pria yang sangat baik. Dia juga memperlakukanku dengan sangat baik. Jangan khawatir, Kak. Aku akan hidup bahagia.
Odelina masih tidak bisa menerima fakta ini.
Dia tidak pernah mendengar Olivia bilang bahwa dia punya pacar, tetapi adiknya itu tiba-tiba bilang dia sudah menikah.
Dia teringat akan pertengkarannya dengan suaminya semalam. Adiknya ini mendengar pertengkaran itu.
Mata Odelina langsung memerah. Dia berkata kepada Olivia, “Oliv, Kakak ada bilang pada kakak iparmu kalau kamu ada kasih uang makan. Jadi, kamu nggak perlu khawatir untuk tinggal di sini.”
“Kamu nggak perlu cepat-cepat menikah, ataupun cepat-cepat pindah.”
Dia berani bertaruh, adiknya ini pasti belum lama mengenal pacarnya itu. Kalau tidak, adiknya pasti sudah memberitahunya.
Mereka tiba-tiba mengurus buku nikah hari ini karena suaminya tidak menyukai adiknya yang terlalu lama tinggal di sini. Adiknya pun buru-buru menikah untuk mencegah ketidakharmonisan dalam pernikahannya.
Olivia menghibur kakaknya sambil tersenyum, “Kak, ini benar-benar nggak ada hubungannya denganmu. Stefan dan aku saling mencintai. Aku akan hidup bahagia. Kak, Kakak seharusnya senang.”
Odelina terus menangis.
Olivia memeluk kakaknya dengan tidak berdaya. Ketika kakaknya selesai menangis dan lebih tenang, dia berjanji, “Kak, aku akan sering pulang untuk menemui Kakak. Rumah Stefan ada di Lotus Residence, nggak jauh dari sini. Naik motor listrik hanya sepuluh menit.”
“Bagaimana latar belakang keluarga pria itu?”
Semuanya sudah terjadi, jadi Odelina hanya bisa menerima kenyataan. Dia pun menanyakan latar belakang keluarga adik iparnya.
Olivia tidak begitu tahu tentang keluarga Adhitama. Meski dia dan Nenek Sarah sudah saling kenal selama tiga bulan, dia tidak pernah menanyakan tentang keluarga Adhitama. Kalau Nenek Sarah memberitahunya, dia hanya mendengarkan. Yang dia tahu, Stefan adalah cucu tertua dan masih ada banyak adik laki-laki di bawahnya (termasuk sepupu).
Stefan bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Mambera, punya mobil dan rumah, dan kondisi keuangan keluarganya juga cukup bagus. Olivia memberi tahu kakaknya apa yang dia ketahui.
Mendengar adik iparnya membeli rumah tanpa menyicil, Odelina berkata, “Itu harta pranikahnya, Oliv. Apa kamu bisa memintanya untuk mencantumkan namamu di sertifikat rumahnya?”
Kalau nama adiknya ditambahkan ke sertifikat rumah, setidaknya jadi ada jaminan.
Bab 4
“Kak, Kakak sendiri yang bilang, itu properti yang dimilikinya sebelum menikah. Aku nggak membayar sepeser pun. Nggak masuk akal dong kalau memintanya menambahkan namaku di dalam sertifikat rumah. Hal ini nggak usah dibahas lagi.”
Begitu mereka selesai mengurus buku nikah, Stefan langsung memberi Olivia kunci rumahnya. Olivia bisa langsung pindah dan tinggal di sana. Ini sudah membantunya dalam masalah tempat tinggal. Sudah sangat bagus.
Dia tidak akan meminta Stefan untuk menambahkan namanya ke sertifikat rumah. Namun, kalau Stefan yang berinisiatif sendiri untuk menambahkan namanya, dia tidak akan menolak, karena mereka adalah suami istri, dan mereka akan hidup bersama seumur hidup.
Odelina sebenarnya juga hanya bilang saja. Dia tahu adiknya orangnya mandiri dan tidak rakus akan uang. Jadi, dia juga tidak mempermasalahkan hal ini lebih lanjut.
Setelah diinterogasi dengan banyak pertanyaan, Olivia akhirnya bisa keluar dari rumah kakaknya.
Kakaknya ingin mengantarnya ke Lotus Residence, tetapi keponakannya kebetulan terbangun. Anak itu langsung menangis dan mencari ibunya.
“Kak, Kakak urus Russel saja dulu. Barang-barangku juga nggak banyak. Aku bisa ke sana sendiri.”
Odelina masih harus menyuapi putranya makan. Setelah itu, dia masih harus menyiapkan makan siang. Kalau suaminya pulang untuk makan siang ini dan makanan belum siap, suaminya pasti akan memakinya dan bilang dia tidak melakukan apa pun di rumah, sampai memasak saja tidak bisa.
Dia hanya bisa berkata, “Kalau begitu, kamu hati-hati di jalan. Nanti siang mau datang makan bareng, nggak? Ajak suamimu.”
“Kak, aku harus ke toko siang nanti, jadi aku nggak datang untuk makan, ya. Suamiku sangat sibuk. Dia bilang dia mau melakukan perjalanan bisnis sore ini, jadi mungkin harus menunggu beberapa waktu baru bisa mengajaknya datang untuk bertemu dengan Kakak.”
Olivia berbohong.
Dia tidak mengenal Stefan sama sekali, tapi pernah mendengar dari Nenek Sarah kalau pria itu sangat sibuk dan setiap hari pasti pergi pagi pulang malam. Terkadang pria itu masih harus melakukan perjalanan bisnis, dan sekali pergi biasanya bisa belasan hari sampai setengah bulan. Dia sendiri juga tidak tahu kapan pria itu ada waktu luang, jadi dia tidak berani berjanji pada kakaknya, daripada nantinya harus mengingkari janji.
“Baru urus buku nikah sudah melakukan perjalanan bisnis.” Odelina merasa adik iparnya itu kurang perhatian terhadap adiknya.
“Kami hanya mengurus buku nikah saja dan belum mengadakan pesta. Biarkan saja dia melakukan perjalanan bisnis, menghasilkan lebih banyak uang, karena nanti masih banyak hal yang memerlukan uang. Kak, aku pergi dulu, ya. Kakak suapi Russel makan saja.”
Olivia melambaikan tangan kepada kakak dan keponakannya, lalu menyeret kopernya turun ke bawah.
Dia tahu di mana Lotus Residence, tapi dia belum pernah masuk ke sana.
Dia memanggil taksi dan langsung pergi ke Lotus Residence. Sesampainya di sana, dia baru teringat bahwa dia tidak tanya pada Stefan rumah pria itu ada di lantai berapa.
Dia pun segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon pria itu.
Stefan sedang rapat dan semua orang di ruang rapat telah mengatur ponsel mereka ke mode silent. Selama rapat tersebut berlangsung, semua orang tidak diperbolehkan melakukan panggilan untuk urusan pribadi.
Stefan juga mengatur ponselnya ke mode silent, tetapi dia meletakkannya di atas meja, dan dia melihat ada telepon dari Olivia.
Ketika mereka saling bertukar WhatsApp, dia tidak memberi nama pada kontaknya Olivia. Jadi, ketika wanita itu meneleponnya, tidak ada nama yang muncul. Dia pun tidak berpikir panjang dan langsung mematikan telepon itu karena melihat telepon itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.
Setelah itu, dia juga memblokir nomor Olivia.
Olivia tidak tahu menahu mengenai semua itu. Melihat Stefan tidak mengangkat teleponnya, dia pun mengetik pesan untuk pria itu.
Namun setelah mengirimnya, dia baru menyadari kalau tidak bisa terkirim.
Dia tertegun menatap layar ponselnya.
“Kok bisa begini? Jelas-jelas kami ada bertukar nomor telepon di Kantor Urusan Agama tadi? Apa jangan-jangan aku salah mencatat nomor?” gumam Olivia pada diri sendiri, berusaha mengingat apakah dia salah mencatat nomor pria itu.
Dia yakin dia tidak salah. Kalau dia tidak bisa mengirim pesan ke pria itu, hanya ada satu kemungkinan mengapa, yaitu Stefan memblokir nomornya.
Apa pria itu lupa mereka baru saja menikah?
Sejujurnya, kalau dia tidak keluar dari rumah kakaknya, dia mungkin juga akan lupa kalau dia punya suami bernama Stefan dua hari lagi.
Olivia pun menelepon Nenek Sarah. Ketika Nenek Sarah menjawab telepon, dia berkata, “Nek, aku sudah mengambil barang-barangku dari rumah kakakku dan aku ada di Lotus Residence sekarang. Tapi, aku nggak tahu rumah Pak Stefan, eh, aku nggak tahu aku dan Stefan tinggal di lantai berapa. Nenek tahu, nggak?”
Nenek Sarah, “....”
“Olivia, jangan khawatir. Nenek akan menelepon Stefan sekarang.” Karena Sarah juga tidak tahu.
Untuk mengetes Olivia, Stefan sengaja memberi tahu Olivia bahwa rumah dan mobilnya itu baru dibeli. Sarah juga baru tahu setelah kedua anak ini mengurus buku nikah, bahwa cucu sulungnya itu sudah membeli rumah di Lotus Residence.
Sarah menutup telepon dan langsung menelepon Stefan.
Setelah menolak telepon Olivia dan menghapus nomor istrinya, Stefan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dan melanjutkan rapatnya.
Namun, dalam waktu kurang dari tiga menit, layar ponselnya kembali menyala. Dia mau tidak mau harus mengangkatnya karena itu telepon dari neneknya.
“Nenek, aku lagi rapat.” Stefan berkata dengan suara rendah, “Kalau ada yang mau diomongi, nanti saja waktu aku pulang ke rumah.”
“Stefan, rumah yang kamu beli di Lotus Residence itu di tower yang mana dan lantai berapa? Olivia sudah ke sana, tapi nggak tahu lantai berapa. Bukannya kamu sudah punya nomornya? Cepat beri tahu dia.”
Stefan mengangkat alisnya. Oh iya, dia baru ingat.
Dia baru menikah hari ini, menikahi seorang gadis yang belum pernah dia temui sebelumnya tetapi disukai oleh neneknya. Kalau tidak salah namanya Olivia. Dan dia baru saja menghapus nomor wanita itu.
“Nek, beritahu dia, ada di Tower B lantai 8, unit nomor 808.”
“Ya sudah, Nenek yang beri tahu dia. Kamu lanjutkan kerjaanmu.”
Sarah orangnya tidak bertele-tele. Dia langsung menutup telepon itu setelah mendapat jawaban yang dia malu, lalu memberi tahu Olivia.
Stefan melihat ponselnya dan terdiam sejenak. Dia sebaiknya menyimpan nomor Olivia lagi.
Meskipun Stefan memblokir nomornya, Olivia tidak peduli ataupun kesal.
“Maaf, aku tadi lupa kamu siapa.” Stefan mengirimkan sebuah pesan untuk Olivia, meminta maaf pada wanita itu.
Olivia pernah menyelamatkan Sarah dulu dan yang berterima kasih langsung pada Olivia waktu itu adalah putra dan menantunya. Ketika cucu-cucunya pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya, Olivia sudah tidak berada di sana. Karena itulah, orang sibuk seperti Stefan tidak mengingat siapa Olivia.
Padahal neneknya sering menyebut-nyebut nama Olivia di depannya, tapi dia tidak mendengarkannya dan tidak peduli, sehingga dia tidak mengingat nama Olivia.
Olivia membalas, “Nggak apa-apa. Kamu sibuk. Aku akan membawa barangku ke atas.”
“Perlu bantuan?”
“Aku hanya membawa satu koper. Aku bisa membawanya sendiri. Lagi pula, kalau aku butuh bantuan, memangnya kamu bisa pulang untuk membantuku?”
Stefan dengan jujur menjawab, “Nggak!”
Dia sangat sibuk.
Dia mana punya waktu untuk pulang dan membantu wanita itu pindahan.
Olivia mengirim emoji tertawa dan menangis, kemudian tidak mengirim apa-apa lagi. Dia tidak ingin mengganggu pria itu bekerja.
Stefan tidak membalas lagi. Keduanya tidak saling mengenal dengan baik, jadi tidak ada yang perlu dibicarakan.
Stefan hanya berharap agar istrinya ini bisa lebih patuh dan tidak selalu merepotkannya dalam hal-hal kecil. Dia tidak punya waktu untuk meladeni wanita itu.
Dia pun meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Ketika dia mendongak, dia mendapati semua orang sedang menatapnya.
Bab 5
Stefan berkata dengan acuh tak acuh, “Lanjutkan rapatnya.”
Orang yang duduk paling dekat dengannya adalah adik sepupunya, yaitu cucu kedua dari keluarga Adhitama yang bernama Calvin Adhitama.
Calvin mencondongkan badan dan bertanya dengan suara rendah, “Bro, aku mendengar apa yang Nenek katakan padamu. Apa kamu benar-benar sudah menikahi wanita bernama Olivia itu?”
Stefan memberinya tatapan tajam.
Calvin menyentuh hidungnya, duduk tegak, dan tidak berani bertanya lagi.
Namun, dia sangat simpati pada kakak sepupunya ini.
Meskipun cucu-cucu dari keluarga Adhitama tidak perlu menikah dengan keluarga kaya lain untuk memperkuat pengaruh mereka, istri kakak sepupunya ini tidak berasal dari latar belakang yang sama dengan mereka. Itu semua hanya karena nenek mereka menyukai wanita bernama Olivia itu, lalu menyuruh Kak Stefan untuk menikahi wanita itu. Kak Stefan benar-benar kasihan.
Calvin lagi-lagi menatap kakak sepupunya itu dengan prihatin.
Untungnya, dia bukan cucu pertama. Kalau tidak, dia yang akan menikah dengan si penyelamat Nenek itu.
Olivia tidak tahu menahu tentang ini. Setelah menanyakan lantai rumah barunya, dia menyeret kopernya ke sana.
Setelah membuka pintu, dia masuk ke dalam rumah dan melihat rumah itu cukup besar, lebih besar dari rumah kakaknya dan dekorasinya sangat mewah.
Setelah meletakkan kopernya, dia melihat-lihat isi rumah dulu. Rumah ini akan menjadi rumahnya mulai sekarang.
Dua ruang tamu, empat kamar tidur, satu dapur, dua kamar mandi, dan dua balkon. Setiap ruangan cukup besar. Olivia memperkirakan luas rumah ini minimal 200 meter persegi.
Perabotannya sangat sedikit. Hanya ada sofa, meja tamu, dan lemari penyimpanan alkohol di ruang tengah. Dari empat kamar tidur, hanya dua kamar yang sudah diisi tempat tidur dan lemari. Dua kamar lagi masih kosong.
Kamar utama adalah sebuah suite, yang dibagi menjadi beberapa ruangan lagi, yaitu kamar tidur, ruang pakaian kecil, ruang kerja kecil, dan kamar mandi. Meskipun sudah dibagi menjadi beberapa ruangan, kamar tidurnya masih sangat luas. Hampir sama luasnya dengan ruang tamu.
Ini pasti kamar Stefan.
Olivia memilih untuk tinggal di kamar satu lagi yang sudah ada tempat tidurnya. Kamar itu berada di sebelah balkon, memiliki pencahayaan yang baik dan terpisah satu kamar dengan kamar utama, sehingga mereka berdua bisa punya privasi.
Meski sudah menikah, Olivia pikir, asalkan Stefan tidak berinisiatif untuk meminta mereka melakukan kehidupan suami istri, dia tidak akan pernah mengungkitnya.
Setelah menyeret kopernya masuk ke kamar, Olivia pergi ke dapur.
Dapurnya bersih, tidak ada satu peralatan masak pun di sana. Balkon di kedua sisi juga kosong. Karena tempatnya yang besar, bahkan kedua balkon tersebut memberikan kesan yang sangat luas. Olivia pikir, kalau dia merawat beberapa jenis bunga di sana, lalu membeli kursi ayun dan menaruhnya di sana, dia jadi bisa membaca buku dan melihat bunga sambil duduk di kursi ayun kalau sedang bersantai.
Sepertinya, Stefan jarang makan di rumah.
Karena dia sudah tinggal di sini sekarang, dia pasti harus mulai memasak. Jadi, dia pun membeli banyak peralatan masak melalui internet. Untuk bunga dan perabotan rumah lainnya, dia pikir dia lebih baik menunggu sampai Stefan pulang dan menanyakan pendapat pria itu.
Bagaimanapun juga, ini adalah rumah pria itu. Dia hanya numpang tinggal di sini.
Setelah memesan beberapa peralatan dapur, Olivia melihat ke arah jam. Dia harus cepat-cepat pergi ke toko untuk membantu temannya.
Dia mengambil kunci dan ponselnya, lalu bergegas turun.
Ketika dia sampai di toko, kebetulan sudah jam pulang sekolah
Temannya, Junia, bertanya padanya, “Oliv, pagi ini kamu ngapain?”
“Kakak dan kakak iparku sering bertengkar karena aku akhir-akhir ini. Setiap hari bertengkar. Setelah dipikir-pikir, aku lebih baik pindah dari sana!” kata Olivia, memandang temannya dengan tak berdaya sambil merentangkan tangannya, “Jadi, aku baru saja pindahan pagi ini!”
Memikirkan kakak iparnya Olivia, Junia sampai tidak bisa berkata-kata. Dia menghela napas dan berkata, “Pria selalu suka mengatakan ‘Aku akan menghidupimu’, tapi setelah benar-benar menghidupi wanita, mereka malah jadi suka mengeluh dan mengoceh. Sebagai wanita, kita nggak hanya harus berjuang demi keluarga, tapi juga sering disalahpahami. Nggak adil sekali. Menurutku, kakakmu harus mencari pekerjaan! Mau bagaimanapun, kita sebagai wanita harus mandiri secara finansial. Kalau kita punya uang, kita nggak perlu takut.”
Hanya saja, setelah ngomong panjang lebar seperti itu, dia mengerutkan kening dan menatap Olivia dengan heran, “Kakakmu boleh kamu keluar dari rumahnya?”
“Aku sudah menikah.”
“Apa? Kamu sudah menikah? Kamu bahkan nggak punya pacar, mau menikah dengan siapa?” Junia mengangguk terlebih dahulu, lalu menatapnya dengan heran. Suaranya agak meninggi.
Olivia tahu dia tidak bisa menyembunyikan hal ini dari temannya itu, jadi dia terpaksa menceritakan semuanya dengan jujur.
Junia menatap Olivia lama sekali, lalu menyodok dahi Olivia dan berkata, “Nyalimu besar juga, ya. Berani sekali kamu menikah dengan orang itu di hari pertama kalian bertemu. Kalau kamu nggak punya tempat tinggal, kamu kan bisa pindah ke rumahku. Masih ada banyak kamar kosong di rumahku. Kalau kamu mau menikah dengan orang, kamu kan bisa menikah dengan kakak sepupuku!”