Bab 2

Setelah turun dari mobil, Irene sengaja berjalan ke arah Rebecca dengan ekspresi provokatif. “Maaf, aku nggak sengaja tempati tempat parkirmu. Kamu nggak keberatan, ‘kan?”

Sebelum Rebecca sempat berbicara, Adrian terlebih dahulu menjawab, “Ini pada dasarnya bukan tempat parkir khusus siapa pun. Selama kamu mau parkir, nggak ada seorang pun yang berani merasa keberatan.”

Seusai berbicara, Adrian melirik Rebecca dengan penuh peringatan.

Aiden juga menambahkan, “Bibi Irene, nggak usah pedulikan mamaku. Yang dia kendarai itu cuma mobil murahan. Aku justru malu kalau dia parkir di sini.”

Setelah mendengar ucapan Aiden, Rebecca mau tak mau merasa sangat kecewa. Dia sudah merawat Aiden dengan penuh perhatian selama empat tahun. Sekarang, Aiden bukan hanya membela Irene, tetapi juga mengucapkan kata-kata sekasar itu terhadapnya.

Pada saat ini, Adrian menarik lengan Irene dan mengumumkan dengan gembira, “Sudahlah, cepat pergi lihat kamar yang kupersiapkan untukmu. Kamarnya ada di sebelah kamarku.”

Aiden juga berseru gembira. “Yay! Kelak, bakal ada yang bisa temani aku main! Bibi Irene bisa apa saja! Nggak seperti Mama, dia membosankan banget!”

Adrian melirik Rebecca dan baru teringat bahwa dirinya lupa memberitahukan hal ini kepadanya.

“Masa sewa rumah Irene sudah berakhir. Untuk sementara, dia akan tinggal di sini.”

Setelah mendengarnya, Rebecca tetap menunjukkan ekspresi datar dan hanya mengiakannya dengan acuh tak acuh.

Melihat reaksi Rebecca yang seperti ini, Adrian tiba-tiba tertegun. Dia tidak menyangka Rebecca akan bersikap setenang ini.

Sebaliknya, malah Irene yang berkata dengan pura-pura merasa bersalah, “Sudahlah, sebaiknya aku tinggal di hotel saja. Gimanapun, Rebecca barulah pasanganmu. Aku cuma orang luar.”

Setelah mendengarnya, Aiden merasa sangat tidak senang. “Bibi Irene, jelas-jelas kamu yang lebih dulu kenal sama Papa. Kalau mau ngomong soal siapa yang orang luar, itu jelas bukan kamu.”

“Benar. Vila ini pada dasarnya memang dibeli untukmu. Mana mungkin kamu itu orang luar?”

Seusai berbicara, Adrian dan Aiden menarik Irene masuk ke vila. Sebelum berjalan masuk, Adrian tidak lupa menyerahkan kunci mobil Irene pada Rebecca.

“Bantu Irene bawa turun kopernya dari bagasi mobil.”

“Memangnya dia nggak punya tangan?”

Adrian melirik Rebecca dengan terkejut. Dia tidak pernah melihat Rebecca bersikap seperti ini. Rebecca seolah-olah sudah pasrah dan tidak peduli lagi pada apa pun reaksinya. Hal ini membuatnya merasa agak takut tanpa alasan.

“Kalau kamu nggak mau bantu, ya sudah. Aku suruh kepala pelayan ....”

“Sudahlah, biar aku saja yang melakukannya.”

Rebecca menerima kunci mobil seperti biasa. Namun, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia bahkan memendam sedikit emosinya yang tersisa itu.

Saat Rebecca membawa koper itu masuk ke rumah, Aiden sedang menunjukkan hadiah yang ingin diberikannya kepada Irene dengan girang. Hadiah itu adalah empat buah emas batang seberat lima gram. Dia mempersembahkan hadiah itu ke hadapan Irene seperti sedang menyerahkan harta karunnya.

Irene membelalak terkejut, sedangkan Rebecca terlihat pucat.

Keluarga Pangestu memang tidak kekurangan uang, tetapi empat buah emas batang itu dibelinya dengan uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Setiap Aiden berulang tahun, dia akan menghadiahkan sebuah emas batang lima gram.

Hadiah itu bukan hanya simbol kekuatan yang diberikan Rebecca kepada Aiden, tetapi juga merupakan wujud doanya bagi masa depan Aiden. Tak disangka, Aiden malah memberikannya kepada Irene dengan semudah itu.

Melihat raut wajah Rebecca yang kurang baik, Adrian juga menatap Aiden dengan kening berkerut. “Aiden, itu hadiah ulang tahun yang diberikan Mama untukmu. Mana boleh kamu memberikannya kepada orang lain?”

Aiden menjawab dengan tidak terima, “Bibi Irene itu bukan orang lain. Dia itu orang yang Aiden suka. Lagian, bukannya ini cuma beberapa buah emas batang murahan? Keluarga Pangestu juga nggak kekurangan sedikit uang seperti ini!”

Adrian masih ingin mengucapkan sesuatu, tetapi malah terdengar suara lembut Rebecca dari belakang.

“Yang dikatakan Aiden benar. Beberapa buah emas batangan itu memang nggak bernilai. Kalau dia pengen kasih ke orang lain, ya terserah dia saja.”

Seusai berbicara, Rebecca tidak peduli pada keterkejutan semua orang dan langsung masuk ke kamarnya. Dia bersandar di pintu kamar dengan lelah dan memejamkan matanya dengan sedih. Hanya tersisa tujuh hari. Tidak lama lagi, dia sudah bisa sepenuhnya meninggalkan tempat ini.

Bab 3

Keesokan harinya, Rebecca bangun pagi-pagi. Selama ini, dia dan Adrian tidur di kamar yang berbeda. Alasan pertama, karena Adrian belum sepenuhnya menerimanya. Alasan kedua, Adrian sangat mementingkan kebersihan. Dia tidak dapat menoleransi orang lain masuk ke kamarnya.

Setelah mandi, Rebecca pun pergi ke firma hukum temannya. Monica akhirnya mengetahui segalanya setelah berbincang dengan Rebecca.

“Jadi, kamu bersikap begitu baik terhadap Adrian cuma karena terikat kontrak?”

Rebecca mengangguk.

Setelah mendengarnya, Monica menghela napas lega. “Waktu baca berita belakangan ini, aku sangat khawatir padamu. Setelah tahu semua ini hanya dilandaskan kontrak, aku sudah jauh lebih tenang.”

Monica bertanya lagi, “Jadi, buat apa kamu cari aku hari ini? Kamu mau aku buatkan surat cerai untukmu?”

Rebecca menertawakan dirinya sendiri. “Aku dan Adrian nggak pernah daftarkan pernikahan kami. Kali ini, aku datang untuk suruh kamu buatkan surat perjanjian penyerahan hak asuh anak.”

Monica sangat terkejut setelah mendengarnya. “Siapa yang nggak tahu kamu sayang banget sama anakmu? Sekarang, kamu malah mau lepaskan hak asuh Aiden?”

Tebersit sedikit kesedihan di mata Rebecca. Dia mengangkat kepala dan menjawab, “Kamu cuma perlu buatkan surat itu.”

Setelah mendengar ucapan ini, Monica juga tidak enak hati untuk berbicara lebih lanjut. Dia pun menyiapkan surat itu dengan cepat, lalu menyerahkannya kepada Rebecca.

Rebecca menggenggam erat surat itu, lalu berjalan pergi. Melihat punggungnya, Monica merasa sangat sedih. Dia berseru, “Rebecca, kamu sudah habiskan lima tahun, tapi masih nggak mampu menangkan hatinya. Kelak, simpanlah semua kebaikan yang kamu berikan padanya untuk dirimu sendiri.”

Rebecca menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menjawab sambil tersenyum, “Oke. Aku akan berbuat begitu.”

...

Ketika Rebecca tiba di rumah, waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, ruang tamu masih kosong. Sarapan yang disiapkannya sebelum meninggalkan rumah juga masih terletak di meja makan dan sudah dingin.

Rebecca memanaskan sarapan itu sekali, lalu pergi ke lantai atas untuk membangunkan Aiden dan Adrian seperti biasa.

Adrian tidak suka orang lain masuk ke kamarnya secara asal. Dia pun menetapkan peraturan untuk mengetuk pintu sebelum masuk.

Baru saja Rebecca mengetuk pintu, pintunya sudah dibuka. Irene sedang meregangkan tubuhnya. Setelah melihat Rebecca, dia juga masih terlihat sangat santai.

“Aku masuk ke kamar Adrian untuk pinjam kamar mandi. Entah kenapa pagi ini pinggangku masih sakit.”

Wajah Rebecca pun memucat. Baru saja Irene hendak lanjut memprovokasi, Adrian yang mengenakan piama berjalan keluar.

“Irene, siapa yang ketuk pintu? Aiden?”

Rebecca mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara, lalu melihat leher Adrian yang dipenuhi dengan bekas ciuman. Dia pun menertawakan dirinya sendiri.

Selama lima tahun pernikahan, mereka nyaris tidak pernah melakukan kontak fisik. Rebecca mengira Adrian tidak tertarik pada hal seperti ini. Dinilai dari keadaan sekarang, Adrian sepertinya hanya tidak tertarik padanya.

Setelah melihat Rebecca, Adrian terlihat panik. Dia buru-buru menarik pakaiannya untuk menutupi lehernya, lalu menjelaskan pada Rebecca, “Irene cuma datang untuk pinjam power bank. Kamu jangan pikir kejauhan.”

Setelah mendengarnya, Rebecca pun tersenyum sinis. Sebelum berbohong, mereka bukannya terlebih dahulu menyamakan alibinya. Namun, dia juga tidak mengungkapkan kebohongan mereka. Dia hanya memberi tahu bahwa sarapannya telah siap dan langsung turun.

Pernikahan ini hanya sebatas kontrak. Rebecca tidak peduli Adrian ingin bermesraan dengan siapa saja. Yang perlu dilakukannya sekarang hanyalah menunggu. Lewat minggu ini, dia sudah bisa meninggalkan rumah ini.

Lima menit kemudian, Adrian, Aiden, dan Irene baru turun.

Melihat pangsit di meja, Aiden mengernyit. “Pangsit ini sudah dipanaskan, nggak segar lagi. Mama, Aiden mau makan cakwe buatanmu!”

Adrian menasihati dengan sabar, “Aiden, Mama sudah buat sarapannya. Kita nggak boleh menyia-nyiakan makanan. Besok, Mama baru buatkan cakwe. Oke?”

“Nggak! Aku mau makan sekarang juga!”

Adrian tidak pernah memanjakan anak. Baru saja dia hendak memarahi Aiden, Irene malah tiba-tiba menyela, “Rebecca, dengar-dengar, cakwe buatanmu sangat enak. Aku juga mau cicip.”

Mendengar Irene juga ingin makan, sikap Adrian langsung berubah. Dia memberi perintah pada Rebecca, “Berhubung semua orang mau makan, kamu buat saja.”

“Nggak bisa.” Rebecca lanjut memakan pangsitnya tanpa mendongak sekali pun.

“Kalau pengen makan, kalian masak saja sendiri. Aku yang bungkus pangsit ini tadi pagi. Kalau kalian nggak mau makan, dibuang saja.”

Bab 4

Adrian pun tertegun. Seingatnya, Rebecca hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tidak peduli seberapa tidak masuk akal pun permintaannya, Rebecca juga akan selalu berusaha melakukannya. Dia sangat jarang mendengar Rebecca menolak.

Setelah mendengar ucapan Rebecca, Irene menertawakan dirinya sendiri. “Aku yang salah. Hanya dengan pindah kemari saja, aku sudah cukup merepotkan. Sekarang, aku malah berharap untuk makan masakan Rebecca.”

Seusai berbicara, Irene pun hendak pergi.

Begitu mendengarnya, Aiden pun merengek dan memukul Rebecca. “Mama jahat! Kamu nggak boleh tindas Bibi Irene!”

Adrian buru-buru menarik lengan Irene, lalu menyalahkan Rebecca. “Kamu masih marah soal kejadian tadi pagi? Sudah kubilang Irene cuma datang pinjam power bank. Buat apa kamu mempermasalahkannya?”

Rebecca menjawab dengan ekspresi datar, “Aku lagi nggak enak badan, nggak punya tenaga untuk masak.”

“Mama, kamu sakit?”

Aiden terlebih dahulu merasa terkejut, lalu menutup mulutnya dengan jijik. “Mama, kenapa kamu nggak bilang dari awal? Tubuh Bibi Irene sangat lemah, gimana kalau dia ketularan sakitmu?”

Seusai berbicara, Aiden menarik lengan baju Adrian dan berujar, “Nggak bisa begini. Papa, untuk jaga-jaga, sebaiknya kita pergi belikan obat buat Bibi Irene.”

“Aiden, nggak usah. Bibi nggak apa-apa.”

Namun, Adrian malah menatap Irene dengan penuh kasih sayang. “Dengar saja kata-kata Aiden. Kamu jangan paksakan diri lagi. Dulu, setiap sakit, kamu butuh hampir setengah bulan untuk sembuh.”

Ketiga orang itu pun keluar rumah dengan bergandengan tangan. Yang tersisa di rumah hanya Rebecca dan pangsit yang dingin lagi.

Setelah hidup bersama bertahun-tahun, suami dan putra kandungnya bukan hanya tidak peduli padanya, malah pergi membelikan obat untuk Irene yang tidak sakit sebagai bentuk pencegahan. Rebecca pun membuang pangsit yang tersisa dan temenung untuk sesaat.

Tidak lama kemudian, Rebecca menerima pesan dari Adrian.

[ Kami mau pergi ke supermarket. Bawalah mobil kemari untuk jemput kami. ]

Ketika Rebecca tiba, hanya ada Irene dan Aiden.

“Bibi Irene, aku pengen makan es krim!”

Irene mencubit pipi Aiden dan menjawab, “Oke! Kalau Aiden mau makan, Bibi akan membelikannya untukmu.”

Rebecca pun mengernyit dan menghampiri mereka untuk mencegahnya.

“Aiden, kamu lupa apa pesan dokter? Perutmu sensitif, kamu nggak boleh makan es krim.”

Aiden yang awalnya terlihat gembira langsung cemberut.

“Rebecca, kalau anak pengen makan, ya dibelikan saja. Kamu nggak perlu begitu khawatir.”

Rebecca pun menyahut dengan ekspresi muram, “Ini urusan keluargaku, kamu nggak usah ikut campur.”

Baru saja Rebecca selesai berbicara, Adrian pun kembali.

Irene menatap Adrian dengan tampang sedih. “Adrian, aku mau belikan es krim buat Aiden, tapi Rebecca nggak setuju.”

Rebecca menjelaskan dengan suara berat, “Dokter baru berpesan, kita boleh belikan makanan ringan lain buat Aiden, tapi dia baru boleh makan es krim setelah sembuh.”

Adrian sama sekali tidak dapat menerima membiarkan Irene merasa sedih. Ekspresinya pun menjadi dingin.

“Makin kamu bersikap begini, anak juga akan makin membencimu. Memangnya kamu nggak bisa biarkan dia makan sesuap, lalu kamu makan sisanya? Lagian, Irene juga berniat baik. Buat apa kamu perbesar masalahnya?”

Hati Rebecca terasa seperti sudah disayat. Dia tidak menyangka Adrian bahkan tidak peduli pada kesehatan anak demi membela Irene. Adrian bahkan sengaja menggunakan hal yang paling dipedulikannya untuk mengejeknya.

Rebecca pun tersenyum getir, tetapi tidak membantah Adrian lagi. Sebab, dia tiba-tiba menyadari bahwa sejak Irene kembali, dirinya sudah sepenuhnya menjadi orang luar. Tidak peduli seberapa banyak pengorbanannya, di mata mereka, dia tetap tidak dapat dibandingkan dengan Irene.

Pernikahan Berlandaskan Kontrak

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya