Bab 1

Selama lima tahun pernikahan, Rebecca Lusram melahirkan seorang putra untuk Adrian Pangestu. Awalnya, Rebecca mengira kehidupan mereka akan berlanjut seperti ini.

Sampai Irene Wiranto kembali ke dalam negeri, Rebecca baru menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak penting. Adrian berulang kali menelantarkannya demi Irene, sedangkan putra kandungnya juga hanya dekat dengan Irene.

Untungnya, semua ini hanyalah kontrak belaka. Seminggu lagi, Rebecca akan sepenuhnya terlepas dari semua ini.

“Bibi, aku mau akhiri kontrak ini. Bibi pernah bilang, kalau dalam lima tahun ini Adrian nggak jatuh cinta padaku, kontrak ini nggak berlaku lagi.”

“Aku memang bilang begitu. Tapi, bukannya kalian sudah punya Aiden? Kamu begitu sayang sama Aiden, kamu rela dia akui orang lain sebagai ibunya?”

“Rela,” jawab Rebecca dengan nada yang sangat yakin.

“Pernikahanku dengan Adrian pada dasarnya dilandaskan kontrak, sedangkan anak ini juga cuma bagian dari kontrak itu. Lagian, Irene sudah pulang sekarang. Adrian dan Aiden sudah nggak butuh aku lagi.”

Dalam lima tahun ini, perasaan Rebecca juga pernah tergerak. Alhasil, dia malah dikecewakan sekali demi sekali.

Saat teringat masalah yang ditimbulkan putranya, Sonia hanya bisa menghela napas dan berkata, “Masih tersisa seminggu lagi sampai kontrak ini berakhir. Kamu tanda tangan saja dulu di sini. Seminggu lagi, Keluarga Pangestu akan kembalikan kebebasanmu.”

Setelah mendengarnya, Rebecca langsung menandatangani kontrak itu tanpa ragu, lalu berjalan keluar dari gerbang kediaman Keluarga Pangestu dengan santai. Saat berkendara, dia menerima foto yang diambil di TK.

Di dalam foto, Adrian tertawa gembira dan tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke arah Irene. Sementara itu, Aiden juga menggenggam tangan Irene dengan erat. Mereka bertiga mengenakan baju keluarga yang dipersiapkan Rebecca untuk menghadiri acara olahraga di TK Aiden.

Sekarang, Irene bukan hanya menggantikan Rebecca menghadiri acara olahraga itu, bahkan menggantikannya mengenakan pakaian keluarga tersebut.

...

Kisah cinta Adrian dan Irene sangat menghebohkan. Adrian merupakan putra keluarga miliarder, sedangkan Irene merupakan bintang baru yang putus sekolah karena ingin mengejar karier di dunia hiburan.

Meskipun berasal dari dunia yang berbeda, kedua orang ini bersatu karena cinta. Namun, seiring dengan Irene yang menjadi makin populer, dia pun meminta putus pada Adrian dengan alasan demi kariernya.

Sejak saat itu, hati Adrian pun hancur. Setiap hari, dia hanya tenggelam dalam mabuk-mabukkan dan bahkan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Pada malam itu juga, berita mengenai putra Keluarga Pangestu yang bunuh diri demi cinta pun menjadi trending topic.

Pada saat yang sama, ayahnya Rebecca sedang berbaring di ruang operasi. Biaya operasi yang mahal membuatnya sangat kewalahan.

Pada saat ini, Sonia menemukan Rebecca. Dia berjanji asalkan Rebecca menyetujui syaratnya, dia akan membantu Rebecca membayar biaya operasi ini. Syaratnya adalah, Rebecca harus menikahi Adrian dan membantu Adrian keluar dari bayang-bayang masa lalu dengan batas waktu lima tahun.

Setelah hari itu, Sonia pun memperkenalkan Rebecca kepada Adrian, juga mengungkit tentang pernikahan mereka.

“Adrian, kamu bersedia nikah sama Becca?”

Sonia dan Rebecca sangat gelisah. Jika Adrian menolak, kontrak di antara mereka tidak mungkin bisa dijalankan.

Namun, Adrian malah mengangguk dan menjawab dengan tampang tidak bersemangat, “Terserah. Kalau bukan Irene, siapa saja juga nggak berarti lagi.”

Rebecca dan Adrian saling mengenal karena kontrak ini. Ini seharusnya hanyalah hubungan yang saling menguntungkan. Namun, Rebecca malah melakukan kesalahan. Seiring dengan perhatian penuh yang diberikannya kepada Adrian setiap hari, hati Rebecca pun tergerak.

Namun, Adrian selalu bersikap dingin dan tidak pernah menanggapi Rebecca dengan serius. Dia bahkan selalu menggunakan alasan sibuk bekerja untuk menunda mendaftarkan pernikahan mereka, satu-satunya hal yang dapat membuktikan hubungan pernikahan mereka.

Hingga suatu dini hari, Adrian yang mabuk pulang ke rumah dan memandang Rebecca dengan pandangan linglung. “Ayo kita punya anak.”

Malam itu, mereka melewati malam penuh gairah.

Rebecca mengira malam itu adalah awal dari kisah cinta mereka. Setelahnya, dia baru tahu bahwa Irene ternyata mengumumkan pacarnya ke publik pada hari itu. Namun, setelah memiliki Aiden, Adrian berhenti bersikap begitu dingin, juga tidak mengabaikan pengorbanan Rebecca lagi.

Awalnya, Rebecca mengira hubungan mereka akan berlanjut seperti itu. Namun, semuanya hanya bertahan hingga Irene mengumumkan bahwa dirinya telah putus.

Malam itu juga, Irene terpotret berjalan-jalan di tepi sungai sambil bergandengan tangan bersama Adrian. Berita itu melaporkan bahwa mereka sepertinya sudah kembali bersama. Setelahnya, mereka makin sering berhubungan. Adrian bahkan membawa Irene pulang ke rumah.

Sementara itu, putra Rebecca yang dingin juga langsung berubah begitu bertemu dengan Irene. Aiden menjadi sangat lengket dan selalu ingin menghabiskan waktu bersama Irene.

Di rumah ini, foto bersama Adrian, Aiden, dan Irene juga bertambah banyak. Sebelumnya, karena Adrian tidak suka mengambil foto, hampir tidak ada selembar pun foto mereka sekeluarga selama lima tahun ini.

Namun, sejak Irene makin sering datang bertamu, Adrian bukan hanya membeli kamera model terbaru, tetapi juga diam-diam memotong foto candid mereka bertiga dari tabloid gosip dan menyimpannya dengan baik. Adrian selalu membuat pengecualian untuk Irene.

Rebecca akhirnya sepenuhnya paham. Tidak peduli berapa banyak waktu yang diberikan kepadanya, Adrian tidak akan pernah mencintainya. Sebab, hanya ada Irene dalam hati Adrian.

Untungnya, semua ini hanyalah kontrak. Seminggu lagi, Rebecca sudah bisa meninggalkan keluarga yang membuatnya hidup tanpa harga diri ini. Dia juga bisa pergi ke luar negeri untuk mengejar mimpinya sebagai penulis.

Setelah memikirkan hal ini, Rebecca pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah penerbit di luar negeri. Dia juga memesan selembar tiket pesawat yang berangkat seminggu lagi.

Setelah tiba di rumah, Rebecca melajukan mobilnya ke tempat di mana dia biasanya memarkirkan mobil. Pada detik berikutnya, Irene malah terlebih dahulu merebut untuk memarkirkan mobilnya di sana. Di dalam mobil, ada juga suami dan putranya.

Bab 2

Setelah turun dari mobil, Irene sengaja berjalan ke arah Rebecca dengan ekspresi provokatif. “Maaf, aku nggak sengaja tempati tempat parkirmu. Kamu nggak keberatan, ‘kan?”

Sebelum Rebecca sempat berbicara, Adrian terlebih dahulu menjawab, “Ini pada dasarnya bukan tempat parkir khusus siapa pun. Selama kamu mau parkir, nggak ada seorang pun yang berani merasa keberatan.”

Seusai berbicara, Adrian melirik Rebecca dengan penuh peringatan.

Aiden juga menambahkan, “Bibi Irene, nggak usah pedulikan mamaku. Yang dia kendarai itu cuma mobil murahan. Aku justru malu kalau dia parkir di sini.”

Setelah mendengar ucapan Aiden, Rebecca mau tak mau merasa sangat kecewa. Dia sudah merawat Aiden dengan penuh perhatian selama empat tahun. Sekarang, Aiden bukan hanya membela Irene, tetapi juga mengucapkan kata-kata sekasar itu terhadapnya.

Pada saat ini, Adrian menarik lengan Irene dan mengumumkan dengan gembira, “Sudahlah, cepat pergi lihat kamar yang kupersiapkan untukmu. Kamarnya ada di sebelah kamarku.”

Aiden juga berseru gembira. “Yay! Kelak, bakal ada yang bisa temani aku main! Bibi Irene bisa apa saja! Nggak seperti Mama, dia membosankan banget!”

Adrian melirik Rebecca dan baru teringat bahwa dirinya lupa memberitahukan hal ini kepadanya.

“Masa sewa rumah Irene sudah berakhir. Untuk sementara, dia akan tinggal di sini.”

Setelah mendengarnya, Rebecca tetap menunjukkan ekspresi datar dan hanya mengiakannya dengan acuh tak acuh.

Melihat reaksi Rebecca yang seperti ini, Adrian tiba-tiba tertegun. Dia tidak menyangka Rebecca akan bersikap setenang ini.

Sebaliknya, malah Irene yang berkata dengan pura-pura merasa bersalah, “Sudahlah, sebaiknya aku tinggal di hotel saja. Gimanapun, Rebecca barulah pasanganmu. Aku cuma orang luar.”

Setelah mendengarnya, Aiden merasa sangat tidak senang. “Bibi Irene, jelas-jelas kamu yang lebih dulu kenal sama Papa. Kalau mau ngomong soal siapa yang orang luar, itu jelas bukan kamu.”

“Benar. Vila ini pada dasarnya memang dibeli untukmu. Mana mungkin kamu itu orang luar?”

Seusai berbicara, Adrian dan Aiden menarik Irene masuk ke vila. Sebelum berjalan masuk, Adrian tidak lupa menyerahkan kunci mobil Irene pada Rebecca.

“Bantu Irene bawa turun kopernya dari bagasi mobil.”

“Memangnya dia nggak punya tangan?”

Adrian melirik Rebecca dengan terkejut. Dia tidak pernah melihat Rebecca bersikap seperti ini. Rebecca seolah-olah sudah pasrah dan tidak peduli lagi pada apa pun reaksinya. Hal ini membuatnya merasa agak takut tanpa alasan.

“Kalau kamu nggak mau bantu, ya sudah. Aku suruh kepala pelayan ....”

“Sudahlah, biar aku saja yang melakukannya.”

Rebecca menerima kunci mobil seperti biasa. Namun, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia bahkan memendam sedikit emosinya yang tersisa itu.

Saat Rebecca membawa koper itu masuk ke rumah, Aiden sedang menunjukkan hadiah yang ingin diberikannya kepada Irene dengan girang. Hadiah itu adalah empat buah emas batang seberat lima gram. Dia mempersembahkan hadiah itu ke hadapan Irene seperti sedang menyerahkan harta karunnya.

Irene membelalak terkejut, sedangkan Rebecca terlihat pucat.

Keluarga Pangestu memang tidak kekurangan uang, tetapi empat buah emas batang itu dibelinya dengan uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Setiap Aiden berulang tahun, dia akan menghadiahkan sebuah emas batang lima gram.

Hadiah itu bukan hanya simbol kekuatan yang diberikan Rebecca kepada Aiden, tetapi juga merupakan wujud doanya bagi masa depan Aiden. Tak disangka, Aiden malah memberikannya kepada Irene dengan semudah itu.

Melihat raut wajah Rebecca yang kurang baik, Adrian juga menatap Aiden dengan kening berkerut. “Aiden, itu hadiah ulang tahun yang diberikan Mama untukmu. Mana boleh kamu memberikannya kepada orang lain?”

Aiden menjawab dengan tidak terima, “Bibi Irene itu bukan orang lain. Dia itu orang yang Aiden suka. Lagian, bukannya ini cuma beberapa buah emas batang murahan? Keluarga Pangestu juga nggak kekurangan sedikit uang seperti ini!”

Adrian masih ingin mengucapkan sesuatu, tetapi malah terdengar suara lembut Rebecca dari belakang.

“Yang dikatakan Aiden benar. Beberapa buah emas batangan itu memang nggak bernilai. Kalau dia pengen kasih ke orang lain, ya terserah dia saja.”

Seusai berbicara, Rebecca tidak peduli pada keterkejutan semua orang dan langsung masuk ke kamarnya. Dia bersandar di pintu kamar dengan lelah dan memejamkan matanya dengan sedih. Hanya tersisa tujuh hari. Tidak lama lagi, dia sudah bisa sepenuhnya meninggalkan tempat ini.

Bab 3

Keesokan harinya, Rebecca bangun pagi-pagi. Selama ini, dia dan Adrian tidur di kamar yang berbeda. Alasan pertama, karena Adrian belum sepenuhnya menerimanya. Alasan kedua, Adrian sangat mementingkan kebersihan. Dia tidak dapat menoleransi orang lain masuk ke kamarnya.

Setelah mandi, Rebecca pun pergi ke firma hukum temannya. Monica akhirnya mengetahui segalanya setelah berbincang dengan Rebecca.

“Jadi, kamu bersikap begitu baik terhadap Adrian cuma karena terikat kontrak?”

Rebecca mengangguk.

Setelah mendengarnya, Monica menghela napas lega. “Waktu baca berita belakangan ini, aku sangat khawatir padamu. Setelah tahu semua ini hanya dilandaskan kontrak, aku sudah jauh lebih tenang.”

Monica bertanya lagi, “Jadi, buat apa kamu cari aku hari ini? Kamu mau aku buatkan surat cerai untukmu?”

Rebecca menertawakan dirinya sendiri. “Aku dan Adrian nggak pernah daftarkan pernikahan kami. Kali ini, aku datang untuk suruh kamu buatkan surat perjanjian penyerahan hak asuh anak.”

Monica sangat terkejut setelah mendengarnya. “Siapa yang nggak tahu kamu sayang banget sama anakmu? Sekarang, kamu malah mau lepaskan hak asuh Aiden?”

Tebersit sedikit kesedihan di mata Rebecca. Dia mengangkat kepala dan menjawab, “Kamu cuma perlu buatkan surat itu.”

Setelah mendengar ucapan ini, Monica juga tidak enak hati untuk berbicara lebih lanjut. Dia pun menyiapkan surat itu dengan cepat, lalu menyerahkannya kepada Rebecca.

Rebecca menggenggam erat surat itu, lalu berjalan pergi. Melihat punggungnya, Monica merasa sangat sedih. Dia berseru, “Rebecca, kamu sudah habiskan lima tahun, tapi masih nggak mampu menangkan hatinya. Kelak, simpanlah semua kebaikan yang kamu berikan padanya untuk dirimu sendiri.”

Rebecca menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menjawab sambil tersenyum, “Oke. Aku akan berbuat begitu.”

...

Ketika Rebecca tiba di rumah, waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, ruang tamu masih kosong. Sarapan yang disiapkannya sebelum meninggalkan rumah juga masih terletak di meja makan dan sudah dingin.

Rebecca memanaskan sarapan itu sekali, lalu pergi ke lantai atas untuk membangunkan Aiden dan Adrian seperti biasa.

Adrian tidak suka orang lain masuk ke kamarnya secara asal. Dia pun menetapkan peraturan untuk mengetuk pintu sebelum masuk.

Baru saja Rebecca mengetuk pintu, pintunya sudah dibuka. Irene sedang meregangkan tubuhnya. Setelah melihat Rebecca, dia juga masih terlihat sangat santai.

“Aku masuk ke kamar Adrian untuk pinjam kamar mandi. Entah kenapa pagi ini pinggangku masih sakit.”

Wajah Rebecca pun memucat. Baru saja Irene hendak lanjut memprovokasi, Adrian yang mengenakan piama berjalan keluar.

“Irene, siapa yang ketuk pintu? Aiden?”

Rebecca mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara, lalu melihat leher Adrian yang dipenuhi dengan bekas ciuman. Dia pun menertawakan dirinya sendiri.

Selama lima tahun pernikahan, mereka nyaris tidak pernah melakukan kontak fisik. Rebecca mengira Adrian tidak tertarik pada hal seperti ini. Dinilai dari keadaan sekarang, Adrian sepertinya hanya tidak tertarik padanya.

Setelah melihat Rebecca, Adrian terlihat panik. Dia buru-buru menarik pakaiannya untuk menutupi lehernya, lalu menjelaskan pada Rebecca, “Irene cuma datang untuk pinjam power bank. Kamu jangan pikir kejauhan.”

Setelah mendengarnya, Rebecca pun tersenyum sinis. Sebelum berbohong, mereka bukannya terlebih dahulu menyamakan alibinya. Namun, dia juga tidak mengungkapkan kebohongan mereka. Dia hanya memberi tahu bahwa sarapannya telah siap dan langsung turun.

Pernikahan ini hanya sebatas kontrak. Rebecca tidak peduli Adrian ingin bermesraan dengan siapa saja. Yang perlu dilakukannya sekarang hanyalah menunggu. Lewat minggu ini, dia sudah bisa meninggalkan rumah ini.

Lima menit kemudian, Adrian, Aiden, dan Irene baru turun.

Melihat pangsit di meja, Aiden mengernyit. “Pangsit ini sudah dipanaskan, nggak segar lagi. Mama, Aiden mau makan cakwe buatanmu!”

Adrian menasihati dengan sabar, “Aiden, Mama sudah buat sarapannya. Kita nggak boleh menyia-nyiakan makanan. Besok, Mama baru buatkan cakwe. Oke?”

“Nggak! Aku mau makan sekarang juga!”

Adrian tidak pernah memanjakan anak. Baru saja dia hendak memarahi Aiden, Irene malah tiba-tiba menyela, “Rebecca, dengar-dengar, cakwe buatanmu sangat enak. Aku juga mau cicip.”

Mendengar Irene juga ingin makan, sikap Adrian langsung berubah. Dia memberi perintah pada Rebecca, “Berhubung semua orang mau makan, kamu buat saja.”

“Nggak bisa.” Rebecca lanjut memakan pangsitnya tanpa mendongak sekali pun.

“Kalau pengen makan, kalian masak saja sendiri. Aku yang bungkus pangsit ini tadi pagi. Kalau kalian nggak mau makan, dibuang saja.”

Pernikahan Berlandaskan Kontrak

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya