Bab 4
Beberapa detik kemudian, semua pesan itu langsung ditarik kembali, seperti tidak pernah ada.
Tangan Amanda gemetar hebat memegang ponselnya, dadanya terasa dingin membuat napasnya pun terasa menyakitkan.
Ternyata, jatuh ke air, demam, hingga obat yang aia minum, semua sudah dirancang oleh mereka.
Ternyata, obat yang diminumkan Ricky hanya agar penderitaannya semakin parah.
Tak lama kemudian, Ricky menelepon.
"Kamu ke mana? Kenapa tidak ada di rumah?" Suara Ricky dalam dan terdengar agak cemas.
Amanda menarik napas panjang, berusaha agar suaranya terdengar tenang, "Aku demam parah, jadi ke rumah sakit."
Sejenak, Ricky terdiam. Lalu dia berkata, "Aku segera ke sana."
"Tidak usah, habis infus, aku akan menginap semalam dan sudah bisa pulang. Kamu kelihatan sibuk belakangan ini, lanjutkan saja pekerjaanmu." Amanda menyelanya.
Ricky kembali diam selama beberapa detik. Lalu bertanya, "Kamu sudah melihat ponselmu?"
Jadi, dia menelepon karena takut Amanda melihat pesan-pesan itu.
Amanda berbohong, "Belum, kata dokter aku hampir mati tadi, mana sempat buka ponsel."
Telepon kembali hening. Kali ini, suara Ricky terdengar menyimpan emosi yang tak jelas, "Selama aku ada, kamu tidak akan ada masalah."
Amanda menggenggam ponsel erat-erat, dadanya terasa kosong.
Ada dia di sana? Tapi bukankah semua rasa sakit ini datang darinya?
Amanda sudah keluar dari rumah sakit.
Namun baru saja melangkah keluar dan hendak memesan taksi, tiba-tiba sekelompok orang muncul dari belakang, tanpa sepatah kata langsung menutup mulut dan hidungnya.
Belum sempat dia melawan, kesadarannya sudah menghilang.
Begitu terbangun, Amanda mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar hotel yang gelap. Tangan dan kakinya diikat, sementara beberapa preman berdiri mengelilinginya dengan senyum menjijikkan di wajah mereka.
"Sudah bangun? Jangan takut, kami akan menyayangimu." Salah satu dari mereka sambil preman menjulurkan tangan hendak merobek pakaiannya.
"Kalian siapa? Lepaskan! Lepaskan aku!"
Amanda meronta sekuat tenaga, tapi tubuhnya yang lemah jelas bukan tandingan mereka.
Dia melempar apa saja, menendang, berteriak sekeras-kerasnya, namun tidak ada yang menjawabnya.
Saat pakaian di tubuhnya nyaris terkoyak habis, dia merasa benar-benar putus asa. Air mata pun jatuh tanpa bisa dikendalikan.
Namun tepat saat ini, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan tendangan keras.
"Semuanya keluar dari sini!" Suara Ricky bergema seperti datang dari neraka, penuh dengan amarah yang membuncah.
Beberapa preman itu ketakutan, buru-buru kabur dengan panik.
Amanda meringkuk di atas ranjang, tubuhnya gemetar hebat.
Dia mendongak memandang Ricky, untuk pertama kalinya melihat kepanikan dan kegugupan di wajah pria itu.
"Amanda …." Ricky cepat-cepat melangkah ke arahnya, tangan bergetar dan mencoba memeluknya.
Namun Amanda menyusut ke belakang seperti kelinci yang ketakutan, sorot matanya penuh ketakutan.
Tangan Ricky terhenti di udara, matanya menunjukkan secercah kesedihan.
Amanda ingin bicara, tapi matanya kembali menggelap dan pingsan lagi.
Entah sudah berapa lama, Amanda perlahan sadar kembali.
Dia mendengar suara orang berbicara di dalam kamar rumah sakit. Suara itu ditekan rendah, tapi nada marahnya tetap terdengar jelas.
"Kenapa rencana balas dendam kali ini tidak dibicarakan denganku?" Itu suara Ricky.
"Bukannya kamu ingin segera menyelesaikan 99 kali balas dendam agar bisa bersama Luna? Kami lihat kamu terlalu sibuk, jadi tidak perlu merepotkanmu dan langsung membantumu mengerjainya." Suara seorang pria terdengar acuh.
"Aku tidak pernah suruh kalian perkosa dia!"
Suara Ricky tiba-tiba meninggi, amarahnya nyaris tak terbendung.
Orang-orang itu kaget, lalu salah satunya berkata tak percaya, "Memangnya kenapa kalau memperkosanya? Bukankah dari awal kita mau balas dendam sekejam mungkin? Kenapa kamu marah?"
Ricky tak menjawab, hanya menendang meja teh di depannya dengan keras.
Kenapa dia begitu marah?
Dia sendiri pun tak tahu jawabannya.
Selama ini, Amanda selalu mengejarnya, seperti matahari kecil yang hangat dan bersinar, tidak pernah menyerah. Waktu dia akhirnya setuju untuk bersamanya, Amanda berdiri mematung saking terkejutnya, lalu menangis bahagia, pemandangan yang sampai sekarang masih membekas di ingatannya.
Dia tidak pernah melihat tampang Amanda seperti itu.
Amanda terbaring di sana, seperti mawar yang layu, benar-benar kehilangan nyawa.
Anehnya, dia panik, tidak ingin melihat Amanda seperti itu.
Tatapan lemah Amanda yang mengarah padanya tadi masih membuat hatinya sakit.
Saat melihat Ricky diam saja, teman-temannya mulai menyadari sesuatu.
Salah satunya tidak tahan dan berkata cemas, "Kak Ricky, sikapmu aneh … jangan bilang selama ini kalau kamu benar-benar jatuh cinta padanya?"
Bab 5
Kamar rumah sakit menjadi hening total, udara seolah membeku.
Ricky yang tadi masih marah langsung terdiam, tubuhnya menegang. Kalimat itu terus bergema di benaknya.
"Jangan bilang selama ini kalau kamu benar-benar jatuh cinta padanya?"
Jatuh cinta pada Amanda? Mana mungkin!
Dia buru-buru menepis pikiran itu.
Dia buru-buru menolaknya, seolah dengan begitu, dia bisa menghapus semua emosi aneh yang mulai muncul di hatinya.
Selama ini, orang yang dia cintai adalah Luna. Siapa Amanda? Dia hanya alat balas dendam.
Namun kalau memang tidak punya perasaan apa-apa, kenapa saat melihat Amanda hampir diperkosa, kenapa dia bisa begitu marah?
Bahkan waktu dulu Luna digoda pria lain, reaksinya tidak seperti itu!
Semua orang kembali terdiam mendengar ucapannya.
Salah satu temannya menepuk bahu Ricky dan berkata, "Kenapa tidak bilang dari tadi sampai membuat kami panik. Kami pikir kamu benar-benar menyukainya. Sungguh rugi jika sampai terjerumus dalam permainan balas dendam. Luna pasti akan menangis kalau tahu."
Ricky tidak menjawab, hanya menahan emosi aneh dalam dirinya, lalu berkata dingin, "Seumur hidupku, aku tidak akan pernah suka Amanda."
Barulah mereka semua benar-benar tenang dan tertawa lega, "Baik, baik. Dia sudah hampir sadar, kami pergi dulu."
Setelah semua pergi, Ricky berjalan pelan ke sisi ranjang dan menatap Amanda yang masih pingsan.
Wajahnya pucat, alisnya sedikit mengernyit, seolah tidurnya pun tidak tenang.
Tanpa sadar, jari Ricky menyentuh pipinya. Tapi saat menyentuh kulitnya, dia cepat-cepat menarik tangan, seperti tersengat api.
Dia berbalik, berjalan ke arah jendela, menyalakan rokok, dan mengisapnya dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang berantakan.
Ketika Amanda sadar, hanya ada Ricky di ruangan itu.
Dia duduk di tepi ranjang, memegang segelas air. Begitu melihat Amanda membuka mata, dia bertanya pelan, "Bagaimana rasanya? Masih sakit?"
Amanda tidak menjawab, hanya memalingkan wajah, menghindari tatapannya.
Dalam beberapa hari berikutnya, Ricky terus merawat Amanda di rumah sakit.
Namun sesekali dia keluar untuk menerima telepon dan setiap kali kembali, wajahnya selalu membawa ekspresi lembut yang nyaris tak terlihat.
Amanda tahu, kemungkinan besar dia sedang menenangkan Luna.
Kalau dipikir-pikir, saat mereka masih bersama dulu, Ricky juga sering begini, tiba-tiba keluar untuk angkat telepon dan selalu bilang ada urusan.
Dulu Amanda tidak pernah curiga, baru sekarang dia sadar, lawan bicara di ujung telepon itu ternyata Luna.
Dokter datang mengganti obatnya.
Amanda menoleh sekilas dan terkejut melihat seorang dokter muda dan tampan.
Dia sempat terdiam, lalu bertanya pelan, "Bukankah dokter utamaku sebelumnya bukan kamu?"
Dokter muda itu tersenyum ramah, "Iya, itu guru aku. Aku murid magangnya. Hari ini beliau sedang kunjungan, jadi aku yang bantu ganti obat."
Amanda mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.
Dokter muda itu mulai mengganti perban dengan gerakan lembut, tapi wajahnya tampak sedikit memerah.
Sebelum pergi, dia ragu-ragu sejenak, lalu tiba-tiba bertanya, "Boleh … minta kontakmu?"
Amanda terpaku, belum sempat menjawab, Ricky sudah membuka pintu dan masuk.
Tatapannya dingin menyapu dokter muda itu dan suaranya penuh peringatan, "Dia sudah punya pacar. Kamu tidak bisa lihat? Goda pasien, kamu tidak takut kehilangan posisi magangmu?"
Bab 6
Dokter muda itu ketakutan, buru-buru minta maaf dan keluar dari kamar.
Ricky berjalan mendekati Amanda dengan wajah dingin, nada suaranya sedikit tak senang, "Lain kali kalau ada orang seperti itu, langsung bilang kamu sudah punya pacar. Memangnya susah bilang begitu?"
Amanda menatapnya, merasa semuanya begitu konyol.
Katanya dia seumur hidup tidak akan suka sama padanya, tapi rasa memiliki yang tiba-tiba ini maksudnya apa?
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Ricky tiba-tiba mengajak Amanda ikut reuni teman sekolah.
Amanda tahu Ricky biasanya tidak ikut acara semacam ini, jadi waktu dia yang mengusulkan, jelas ada maksud lain.
Benar saja, sampai di tempat reuni, Amanda langsung melihat Luna.
Ricky kelihatannya bersikap dingin dan menjaga jarak dengan Luna, seolah-olah tidak terlalu akrab.
Tapi kalau benar-benar suka seseorang, itu tidak bisa disembunyikan.
Di tengah acara, Amanda pergi ke toilet.
Saat kembali, semua orang sedang bermain truth or dare.
Luna kalah dan harus menjawab pertanyaan pribadi.
Wajahnya canggung, baru mau bicara, Ricky tiba-tiba mengambil kartu dan berkata dingin, "Biar aku saja yang mewakili hukumannya."
Pertanyaannya adalah, "Siapa objek fantasi seksualmu? Sebutkan inisial namanya."
Semua orang mulai menggoda, "Soal begini gampang buat dia! Dia sudah punya pacar, pasti jawabannya pacar!"
Ricky terdiam sejenak, lalu berkata datar, "L."
Jantung Amanda terasa seperti jatuh ke jurang dan tangannya mulai gemetar.
L … Luna.
Dia tidak tahan lagi dan bergegas keluar dari tempat itu.
Sesampainya di luar, Amanda mengirim pesan ke Ricky.
[Aku tidak enak badan, jadi pulang duluan.]
Amanda berdiri di pinggir jalan, baru saja mengangkat tangan untuk memanggil taksi, suara yang familier terdengar dari belakangnya.
"Amanda!"
Dia terpaku sejenak, lalu menoleh. Ricky sedang berjalan cepat ke arahnya.
"Kamu kenapa keluar?" tanya Amanda.
Kening Ricky berkerut, matanya terlihat sedikit cemas, "Kamu bilang tidak enak badan. Sakit apa? Aku antar ke rumah sakit."
Amanda menatapnya, perasaannya campur aduk.
Dia menggeleng pelan, "Tidak serius, hanya pusing sedikit. Kamu tidak main lagi?"
"Kamu pacarku. Kalau pacarku bilang tidak enak badan dan pergi, untuk apa aku masih di sana?"
Lalu dia mengulurkan tangan, menyentuh kening Amanda, seolah memastikan apakah dia demam.
Amanda menatapnya, makin bingung dengan sikapnya.
Bukankah tadi dia datang hanya untuk bertemu Luna? Kenapa sekarang malah pergi gara-gara pesannya?
Tapi Amanda tidak bertanya, juga tidak merasa perlu lagi untuk bertanya.
Barusan, orang tuanya mengirim pesan, mengatakan semua dokumen sudah hampir selesai. Dua hari lagi, dia bisa pergi dari sini dan benar-benar meninggalkan semuanya.
Ricky melihat kening Amanda tidak panas, akhirnya lega, dan tidak bertanya lagi.
Dengan suara pelan, dia berkata, "Ayo pulang."
…
Tengah malam, Amanda tidur dalam keadaan setengah sadar dan samar-samar mendengar suara dari balkon.
Dia membuka mata, berjalan pelan-pelan ke arah balkon dan melihat Ricky sedang merokok di luar.
Ponselnya diletakkan di pagar, dalam mode speaker. Suaranya kecil, tapi kalau mendekat, masih bisa didengar jelas.
"kak Ricky, untuk balas dendam ke-99. Kali ini kita harus bikin yang kejam! Bukankah lusa hari peringatan kalian? Bilang aja ke Amanda kalau kamu mau kasih kejutan, lalu tutup matanya dan bawa dia ke vila kosong milikku. Setelah sampai, kamu cari alasan buat keluar dan kita bakar tempat itu dari luar! Kunci pintunya, biar dia tidak bisa keluar!"
"Wah, ide bagus! Dia pasti panik dan memukul pintu!"
"Benar! Biar dia tahu rasanya putus asa!"
Terdengar suara tawa ramai dari seberang, semua orang tampaknya menganggap ide itu sangat bagus.
Membayangkan kejadian itu, urat di pelipis Ricky mulai menegang, lalu dia berkata dengan marah, "Tidak bisa. Aku tidak setuju."