Bab 1
Putri angkat Keluarga Edrick Sanjaya hanya tersedak air kolam renang.
Namun, dia mengikatku dan memasukkan tubuhku ke dalam kolam renang, hanya menyisakan celah kecil sekitar dua sentimeter yang kiranya bisa aku gunakan untuk bernapas.
Dia berkata.
"Kamu akan menanggung dua kali lipat penderitaan yang Cindy alami."
Aku tidak bisa berenang, jadi hanya bisa berusaha keras untuk tetap bernapas dan memohon bantuannya sambil menangis.
Namun, yang aku dapatkan sebagai balasan adalah teguran dingin darinya.
"Kalau nggak diberi pelajaran, kamu nggak akan bisa patuh."
Aku hanya bisa meronta dalam keputusasaan ....
Setelah lima hari, dia akhirnya luluh dan memutuskan untuk mengakhiri hukuman ini.
"Kali ini aku akan melepaskanmu, tapi kali, aku akan membuatmu sadar!"
Namun, yang tidak dia ketahui adalah mayatku sudah berubah menjadi lebih besar.
Putri angkat Keluarga Edrick Sanjaya hanya tersedak air kolam renang.
Namun, dia mengikatku dan memasukkan tubuhku ke dalam kolam renang, hanya menyisakan celah kecil sekitar dua sentimeter yang kiranya bisa aku gunakan untuk bernapas.
Dia berkata.
"Kamu akan menanggung dua kali lipat penderitaan yang Cindy alami."
Aku tidak bisa berenang, jadi hanya bisa berusaha keras untuk tetap bernapas dan memohon bantuannya sambil menangis.
Namun, yang aku dapatkan sebagai balasan adalah teguran dingin darinya.
"Kalau nggak diberi pelajaran, kamu nggak akan bisa patuh."
Aku hanya bisa meronta dalam keputusasaan ....
Setelah lima hari, dia akhirnya luluh dan memutuskan untuk mengakhiri hukuman ini.
"Kali ini aku akan melepaskanmu, tapi kali, aku akan membuatmu sadar!"
Namun, yang tidak dia ketahui adalah mayatku sudah berubah menjadi lebih besar.
...
Pukul sebelas siang, Edrick mengerutkan kening saat melihat makanan di atas meja.
"Kenapa dua hari ini wanita itu nggak datang nganter makanan? Bukannya selama ini dia selalu datang tepat waktu saat waktu makan?"
"Kenapa? Dihukum jadi berani malas-malasan? Siapa yang memberinya keberanian melakukan itu?"
Gerakan tangan sekretaris yang bernama Kemal, yang sedang menata piring dan sendok pun terhenti. Lalu, dia membalikkan badan dengan hormat.
"Pak Edrick, Nona Jenita ... masih di dalam kolam, belum diangkat naik."
Edrick yang sedang duduk pun menegang, kilatan keterkejutan melintas sekilas di matanya.
Namun, dia segera menekannya dan berkata dengan kesan asal.
"Nggak apa-apa, biarkan sampai beberapa hari lagi."
Kemal meliriknya dan ingin mengatakan sesuatu yang lain, tetapi dia ragu-ragu.
"Tapi, Pak Edrick. Tempat Nona Jenita ditahan sudah berbau busuk."
"Mungkin ...."
"Apa Anda ingin memeriksanya?"
Gerakan tangan Edrick tidak berhenti dan suaranya terdengar dingin.
"Bau? Itu hal yang normal."
"Kotoran dan air kencing dia tercampur, mana mungkin nggak bau?"
"Jangan khawatir, wanita seperti dia nggak akan melepaskan sedikitpun harapan untuk bertahan hidup. Dia akan baik-baik saja."
Kemal masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi langsung dipotong oleh Edrick yang mengerutkan kening.
"Makanlah, jangan membicarakan topik menjijikkan seperti itu saat sedang makan."
"Tapi ini sudah beberapa hari, harusnya dia juga sudah sadar akan kesalahannya. Selama dia mau minta maaf dengan benar kepada Cindy saat keluar nanti, masalah ini akan dianggap selesai."
Saat kata-kata itu terlontar, Cindy tiba-tiba mendorong pintu dan melangkah masuk.
"Kak ...."
Edrick menatapnya dengan lembut dan beranjak untuk memeluknya.
Dia berbicara dengan suara lembut.
"Cindy, kenapa kamu datang? Apa kamu takut di rumah sendirian?"
Sambil mengatakan itu, dia dengan lembut menggenggam tangan Cindy.
"Jangan takut, aku sudah menghukum Jenita."
"Cindy, jangan sedih lagi ya."
Cindy menundukkan wajahnya di depan Edrick dan berbicara dengan cemberut.
"Aku tahu kalau Kakak memang yang terbaik."
"Tapi, aku hanya ingin Kak Jenita minta maaf padaku. Aku nggak mau Kak Jenita dihukum. Apa Kak Jenita akan menyalahkanku kalau Kakak memperlakukannya seperti itu?"
Edrick menepuk punggungnya dengan lembut, tetapi nada bicaranya cukup tegas.
"Jangan khawatir, dia nggak akan berani melakukan itu."
Menyaksikan interaksi keduanya yang jauh melebihi layaknya kakak dan adik, aku tidak bisa menahan diri dan langsung tertawa terbahak-bahak. Namun, tidak ada yang bisa mendengar tawaku.
Bagaimanapun, aku sudah mati.
Saat aku berada di ambang kematian, aku baru melangkah keluar dari kolam itu.
Saat ini bisa terlihat dengan jelas bahwa di dalam kolam renang yang luas itu, air kolam sudah berubah menjadi warna merah darah.
Bagian atas kolam renang dilas, seolah-olah mengunci orang di dalam kolam renang selamanya.
Mati dan tidak akan bisa dihidupkan lagi.
Bab 2
Setelah menjadi roh, aku masih terengah-engah saat menyaksikan pemandangan di depanku.
Seolah-olah pada detik berikutnya, aku akan kembali ke ruang yang menyesakkan itu selamanya.
Di sisi lain, Edrick membujuk Cindy dengan lembut.
"Jangan takut, makan yang banyak. Belakangan kamu terlihat lebih kurus."
Katanya, sambil tetap merangkul pinggang Cindy dan berbicara dengan penuh kesabaran.
"Kamu pasti sangat menderita sampai jadi kurus begini. Dibandingkan denganmu, penderitaan yang dia rasakan tidak ada apa-apanya. Jangan khawatir, dia berani melakukan ini padamu, aku pasti akan membuatnya membayar harga yang setimpal."
Aku berdiri di belakangnya, tetapi hatiku sudah penuh dengan luka.
Aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa meneteskan air mata.
Aku dirantai di kolam renang, menahan rasa sakit yang luar biasa.
Di matanya, semua itu bahkan tidak seberapa jika dibandingkan dengan sedikit tegukan air yang ditenggak Cindy di kolam renang.
Ini kolam renang.
Aku tidak bisa berenang. Aku mencoba untuk keluar, tetapi aku tidak bisa mendorong penutup di atas kepalaku.
Inilah akhir hidupku.
Aku masih sempat berdoa.
Berdoa agar dia membebaskanku dan menarikku keluar, berdoa agar aku masih memiliki kesempatan untuk hidup.
Namun, tidak ada yang terjadi kepadaku.
Aku meronta dengan panik, menggunakan tanganku untuk mati-matian mendorong penutup di atas kepalaku.
Namun sebagai balasannya, hanya ada ejekan tanpa ampun yang terdengar darinya.
"Kamu bisa setakut ini, tapi tega membuat Cindy tersedak air. Kamu harus merasakannya sendiri agar kamu bisa menyadari kesalahanmu."
Aku melihat sekeliling dengan ketakutan, dengan panik mengakui tuduhan yang tidak aku lakukan dan memohon agar dia melepaskanku.
Namun, tidak ada balasan yang aku dapatkan ....
Dalam keadaan sedikit linglung, aku bisa dengan samar mendengar perkataannya.
"Dia nggak mau patuh, kunci penutupnya. Biarkan dia merenungkan kesalahannya."
Aku menatapnya tanpa daya, tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa membiarkan penutupnya terkunci rapat.
Sampai darah keluar dari bawah tubuhku.
Hingga secercah cahaya terakhir di tengah-tengah kehidupan pecah.
Setelah membujuk Cindy hingga membuatnya kembali riang, Edrick baru memberikan perintah dengan lapang dada.
"Bawa Jenita keluar. Ingat, dia harus membersihkan diri sebelum datang ke mari. Jangan sampai keadaannya yang kotor membuat Cindy takut."
Edrick terlihat murah hati, seolah-olah perintah ini adalah sebuah bantuan besar bagiku.
Kemal menerima perintah itu dan langsung memerintahkan bawahannya.
Cindy berdiri di samping, menggandeng tangan Edrick dengan wajah cemberut.
"Kak, saat Kak Jenita keluar, kamu nggak boleh menyulitkannya lagi. Bagaimanapun, kalian itu suami istri yang akan menjalani sisa hidup bersama, jadi jangan memperkeruh suasana."
Mata Edrick berbinar dengan sedikit rasa sayang. Dia melingkarkan lengannya di bahu Cindy dan memberikan ciuman di keningnya.
"Jangan khawatir, itu nggak akan pernah terjadi."
"Kalau bukan karena dia mendorongmu ke dalam air, mana mungkin kamu bisa tersedak di kolam renang. Aku bahkan nggak bisa membayangkan setakut apa kamu saat itu."
"Cindy, kamu selalu berbaik hati dan memberi Jenita kesempatan."
Nada bicara Edrick diwarnai dengan kemarahan, seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang kejam dan jahat.
Namun di mataku, kata-kata itu terdengar menusuk dan penuh ejekan.
Jelas-jelas seminggu yang lalu Cindy datang ke rumah untuk memprovokasi ku.
"Kudengar kau hamil, lalu kenapa memangnya?"
"Apa kamu percaya, dengan satu kata dariku, aku bisa membuat anakmu nggak akan pernah bisa dilahirkan."
Aku tidak ingin terlalu banyak berurusan dengannya dan hanya berbalik dan naik ke lantai atas.
Namun, dia malah pergi ke kolam renang di lantai bawah dan membasahi tubuhnya di sana.
Kemudian, dia memanggil Edrick sambil menangis.
"Kak, aku tahu Kak Jenita nggak suka denganku, tapi aku benar-benar takut saat dia mendorongku ke kolam renang."
"Tapi, kalau kematianku bisa membuat kalian bahagia, aku lebih baik tenggelam di sini."
"Kak, kamu harus bahagia."
Bab 3
Begitu menerima panggilan itu, Edrick langsung mengakhiri rapat.
Edrick bergegas pulang ke rumah, memeluk Cindy yang tersedak di kolam renang dan berteriak dengan panik.
"Cindy, Cindy, jangan tinggalkan aku, aku nggak bisa hidup tanpamu ...."
Saat itu aku berdiri di lantai atas, menyaksikan adegan di depanku dan menganggapnya lucu.
Bagaimana tidak? Cindy saja bisa berenang, tetapi dia malah bersikap seperti dirinya akan mati.
Namun, setelah Edrick menarik rambutku dan mendorongku ke dalam kolam renang, aku baru menyadari bahwa mereka berdua memang saling mencintai.
"Kenapa kamu kejam sekali! Kamu mendorong Cindy ke kolam renang? Apa kamu tahu, dia hampir mati karenamu! Aku hampir saja kehilangan dia selamanya."
"Jenita, kamu wanita kejam. Biar kuberitahu, kamu nggak punya hak buat bersikap seenaknya di tempat ini."
"Penderitaan yang dirasakan Cindy, aku ingin kamu merasakannya dua kali lipat! Kalau kamu masih nggak menyesal, jangan harap kamu bisa keluar dari sana selamanya!"
Sampai sekarang, dia masih percaya bahwa semua itu salahku dan aku harus menangis tersedu-sedu, mengakui kesalahanku padanya.
Sayangnya, hal itu tidak akan terjadi.
"Pak Edrick ... Pak Edrick, Nona Jenita ... dia ... tanda vitalnya sudah nggak ada lagi ...."
Gerakan tangan Edrick yang tengah membujuk Cindy untuk meminum yoghurt pun terhenti.
Aku memperhatikan ekspresinya, mengharapkan dia setidaknya merasa bersalah atau ketakutan.
Namun, tidak ada yang aku lihat dari keduanya.
Dia hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, kemudian menyuapkan yoghurt di tangannya ke mulut Cindy.
"Dia mati? Apa menurutmu itu mungkin? Kalau dia bisa mati dengan mudah, dia pasti sudah mati sejak lama."
"Katakan padanya, kalau dia terus berpura-pura, aku akan menelepon rumah duka dan mengremasinya."
Kemal terlihat masih ingin mengatakan sesuatu yang lain.
Namun, Edrick langsung berbicara dengan suara dingin.
"Waktunya setengah jam. Kalau dia nggak bisa membersihkan diri dan minta maaf sama Cindy, aku nggak keberatan untuk menghukumnya lagi."
Kemal berdiri di tempatnya dan terlihat bingung, tidak tahu harus bicara apa.
Edrick langsung mengambil hiasan vas bunga di atas meja dan menghantamkannya ke arahnya, berbicara dengan suara marah.
"Kenapa kamu diam saja! Cepat pergi dan sampaikan itu kepadanya!"
Kemal hanya bisa berjalan keluar dengan panik.
Edrick mencium sisa yoghurt di sudut mulut Cindy, membuat Cindy tertawa terbahak-bahak. Dia merangkul Cindy dan berbicara dengan lembut.
"Cindy, nanti kamu nggak boleh berbelas kasihan kepadanya. Aku akan membuatnya berlutut dan minta maaf kepadamu. Aku harus memberinya pelajaran, kalau nggak, dia pasti akan berani melakukannya lagi lain kali."
Cindy menunjukkan sikap seolah-olah dia sedikit enggan melakukannya.
"Kak, nggak baik kalau seperti itu."
"Nggak, kok."
Melihat semua ini di depanku, aku hanya tertawa terbahak-bahak.
Inilah orang yang kucintai selama beberapa tahun ....
Aku ingin melarikan diri, tetapi aku tidak bisa pergi dari sisinya. Jadi, aku hanya bisa melihat semua ini di depanku.
Menertawakan diriku yang dulu.