Bab 1

Anggur merah mengalir perlahan menyusuri leherku yang jenjang, turun hingga ke tulang selangka, lalu ke bagian dadaku yang putih dan berisi.

Cairan merah itu membasahi kedua buah dadaku, sebagian mengalir ke celah yang dalam di antaranya, lalu merembes ke kemeja putih yang kukenakan.

Pakaianku pun menempel erat di tubuhku, membuat dua tonjolan lembut di dadaku tampak samar di baliknya.

Tubuhku mulai bergetar pelan karena gugup, tetapi di saat yang sama, ada sensasi tegang yang sulit dijelaskan.

Ini pertama kalinya aku dengan sadar mencoba menggoda pria lain selain suamiku.

Setelah badai gairah mereda, aku terbaring di pelukan Evan Hermawan, tubuhku masih hangat dan berkeringat. Kedua kakiku melingkar manja di tubuhnya.

"Sayang, gimana kalau kita coba tukar pasangan?" gumam Evan pelan sambil memelukku dan mengepulkan asap rokok dengan tenang.

Namaku Niana Tanjaya. Kami sudah menikah lima tahun.

Belakangan ini, gairah kami saat bercinta mulai berkurang. Kami mulai menjalaninya seperti rutinitas yang harus dijalani, bukan dinikmati.

Aku tahu Evan punya fantasi sendiri dalam hal itu. Saat kami bercinta, dia sering memintaku membayangkan pria lain.

Awalnya aku sangat menolak, tetapi entah sejak kapan, sensasi aneh itu justru memicu gairah yang aneh.

Oleh sebab itu, saat Evan mengusulkan ide gila seperti itu, aku tidak langsung marah. Hanya sedikit gugup dan malu.

"Ah, mana mau aku. Aku cuma mau kamu, Sayang," ujarku sambil mencium pipinya.

"Aku cuma mau kita bisa kembali bergairah, Sayang. Ini untuk menambah sensasi. Kalau kamu belum siap untuk tukar pasangan, gimana kalau aku carikan satu pria gagah untukmu dulu? Aku dan dia bisa melayanimu bersama-sama. Kujamin kamu pasti akan ketagihan," ucap Evan.

Kata-katanya membuat bayangan liar muncul di benakku. Diapit oleh dua pria dalam satu waktu? Tubuhku langsung merespons kuat, nafsu yang baru saja kulepas kembali meningkat.

Melihat aku terdiam, Evan pun girang. "Diam berarti setuju ya. Biar kupilih pria gagah untukmu. Gimana kalau Rinto?"

Saat mendengar nama Rinto, wajahku refleks memerah.

Rinto Arya adalah rekan kerja Evan. Dia berusia 38 tahun, badannya kekar, tidak seperti perut Evan yang sedikit buncit.

Dia biasanya selalu berpakaian rapi, gaya bicaranya pun lembut, dan dia selalu memakai parfum pria yang memikat.

Hatiku sangat tergoda, tetapi bagaimana mungkin aku berani mengatakan itu kepada Evan?

Namun, Evan sangat memahamiku. Melihat reaksiku yang begitu, dia pun tersenyum nakal.

"Oke! Gadis nakal, nantikan saja kedatangannya," ujar Evan.

Hari-hari pun berlalu. Diam-diam aku menantikan sesuatu yang tidak pasti. Namun, Evan bersikap biasa saja.

Aku gelisah, tetapi juga gengsi untuk bertanya.

Sampai akhirnya malam Jumat itu, sepulang kerja, Evan berkata dengan santai, "Sayang, malam ini masak lebih banyak ya. Rinto mau makan malam di sini."

Jantungku langsung berdetak kencang. Aku menahan kegugupan itu dan mengangguk pelan, kemudian berpura-pura biasa sambil mulai menyiapkan semuanya.

Saat Rinto tiba, hari sudah malam. Makanan sudah siap, kami bahkan membuka sebotol anggur untuk melayaninya.

Evan dan Rinto mengobrol seperti biasa, sementara aku yang biasanya cerewet, malah duduk diam, makan tanpa suara. Aku merasa gugup sekali.

Namun, lama-kelamaan aku merasa aneh. Sepertinya Evan tidak memberi tahu Rinto terlebih dahulu tentang hal itu.

Terkadang saat aku bertatapan dengan Rinto, dia sama sekali tidak menunjukkan gelagat penuh nafsu seperti yang kubayangkan. Tatapannya hanya penuh kekaguman.

Saat Rinto pergi ke kamar mandi, aku pun tidak lagi tahan untuk bertanya. Aku mendekati Evan dan bertanya dengan suara pelan, "Kamu ... belum bilang ke dia?"

Evan malah tersenyum penuh kemenangan, lalu berkata, "Dasar nakal, akhirnya kamu nanya juga. Dari tadi kamu kelihatan kalem sekali di luar, ternyata dalamnya sudah nggak tahan, ya? Haha, jangan buru-buru, jadi begini ...."

Evan membisikkan sesuatu di telingaku.

Rencana yang dia katakan membuat wajahku langsung memerah. Dasar pria licik, bisa-bisanya dia memintaku untuk menggoda Rinto! Apa dia benar-benar Evan?

Aku menatapnya dengan kesal, tetapi dia malah berkata, "Kalau aku langsung bilang ke dia, nanti malah canggung. Kita jangan menakuti dia. Sayang, kalau kamu mau kami melayanimu bersama-sama, tentu saja kamu harus tunjukkan ketertarikanmu."

Belum sempat aku menjawab, Rinto sudah keluar dari kamar mandi. Kami langsung terdiam.

Evan memberiku pandangan penuh kode. Aku menarik napas panjang dan akhirnya memutuskan untuk melakukannya.

Bab 2

"Aku isi daya ponsel dulu ya, kalian makan duluan," ucapku sambil bangkit dan melangkah masuk ke kamar.

Begitu pintu tertutup, jantungku berdebar makin kencang.

Pertama-tama, aku membuka kancing bajuku, kemudian membuka bra juga. Sepasang tonjolan bulat di dadaku terbebaskan dan bergetar sedikit.

Aku sangat percaya diri dengan tubuhku yang menari. Biasanya saat berjalan-jalan di luar, seringkali aku sadar banyak mata yang melirikku.

Kuraih kemeja putih yang sedikit longgar lalu kupakai tanpa dalaman, dengan dua kancing atas sengaja tidak kukaitkan. Kulit putihku terlihat jelas di baliknya, termasuk celah dada yang dalam.

Untuk bawahannya, aku hanya memakai rok bermotif bunga yang panjangnya hingga lutut. Setelah melepas celana dalam, entah mengapa, aku tiba-tiba merasa girang.

Aku berdiri di depan cermin besar, lalu mengangkat pinggulku sedikit. Bokongku yang putih dan sedikit menonjol tampak sangat bulat. Bayangan di bawah rok tampak samar dan menggoda.

Sementara tonjolan dadaku yang berisi itu, tampak sangat penuh di balik kemeja dan hampir tumpah.

Wajahku memerah. Wanita di dalam cermin itu tampak seksi dan menawan, bahkan sedikit liar.

Berbeda sekali dengan aku yang biasanya berpakaian tertutup.

Setelah ragu untuk waktu yang lama, aku menarik napas dalam-dalam, lalu memberanikan diri untuk membuka pintu dan berjalan keluar.

Rinto awalnya belum sadar, dia masih asyik mengobrol dengan Evan. Mereka tertawa dan bersulang.

Hingga akhirnya aku duduk di seberangnya, menuangkan anggur ke dalam gelas, lalu mengangkatnya sambil tersenyum kecil.

Saat itulah pandangan Rinto tertuju padaku. Dia terdiam sesaat. Sorot matanya yang awalnya biasa saja, kini mulai berubah.

Aku gugup sekali. Untuk bersulang dengannya, aku harus berdiri dan mencondongkan tubuhku.

Posisi itu membuat pakaianku yang terbuka terlihat olehnya. Aku sendiri bisa merasakan kedua tonjolan dadaku yang berisi itu seakan-akan hampir tumpah.

Rinto di depanku tentu saja melihatnya.

"Rinto?" panggilku dengan suara lembut.

Rinto terpaku setelah itu. Aku merasa malu, lalu mencoba mengalihkan pandangannya.

Dia tersentak pelan, lalu tertawa canggung, "Ah, maaf, Kak. Kalian sudah membuat makan malam untukku, seharusnya aku yang bersulang dulu, bukan malah dilayani begini."

Rinto akhirnya sadar kembali dan buru-buru berdiri untuk bersulang denganku.

Evan mengamati kami dengan penuh perhatian, bahkan sempat melemparkan tatapan penuh isyarat padaku saat aku meminum anggur.

Aku tahu betul apa maksudnya. Aku menguatkan niatku, lalu mengangkat gelasku dan meminum anggur dengan cepat sambil menegakkan badanku. Kali ini, dengan sengaja kubiarkan sedikit anggur menetes dari sudut bibirku.

Setelah Rinto minum dan hendak kembali duduk, tiba-tiba tubuhnya kaku dan dia tercengang oleh gerakanku.

Aku merasa malu sekali. Aku bisa dengan jelas merasakan anggur merah itu mengalir turun perlahan menyusuri leherku, lalu menyentuh dadaku yang putih dan berisi.

Cairan merah itu membasahi kedua tonjolan bulat, melewati celah di antaranya, lalu membasahi kemeja putihku.

Kini kemejaku pun menempel di tubuhku.

Bahkan tanpa menunduk, aku tahu kemejaku sudah hampir transparan. Kedua tonjolan bulat di dadaku pasti tampak samar bagi mereka.

Tubuhku mulai bergidik karena gugup, tetapi anehnya, aku juga merasakan sensasi yang menyenangkan.

Ini pertama kalinya aku menggoda pria lain selain Evan, dan melakukannya di depan Evan.

Rinto terus menatapku, tubuhku mulai terasa panas. Sepasang buah dadaku juga mulai terasa penuh, membuat kemejaku makin sempit.

Setelah aku 'meminum' anggur hingga habis, lebih tepatnya menuang anggur hingga habis. Aku menenangkan diriku, meletakkan gelas, lalu melirik Rinto.

Napas Rinto tampak mulai tidak teratur. Sebab dia sedang berdiri, area selangkangan celananya tampak jelas mulai membesar.

Biarpun ditutupi oleh celana, aku bisa menilai bahwa yang Rinto miliki jauh lebih besar dari Evan.

Jantungku berdebar kencang, dadaku mulai naik turun dengan cepat. Aku melirik Evan tipis.

Dia tampak lebih bersemangat daripada aku, bahkan tanpa sadar menjilat bibirnya sendiri.

Dia benar-benar gila!

Bab 3

Suasana makan malam itu terasa aneh.

Aku berusaha menenangkan diri dan memecah keheningan dengan senyuman tipis, "Rinto, makan yang banyak ya. Ini semua masakan rumah biasa, nggak mewah. Jangan sungkan ya."

"Ini sudah cukup kok," jawab Rinto.

Dia menjawab sambil tersenyum canggung, baru sadar kalau tadi sempat terlalu lama menatapku.

Setelah itu, aku sudah tidak sanggup menikmati makanan.

Tatapan Rinto terus tertuju padaku yang terlihat penuh nafsu.

Dia sepertinya mulai menyadari ada yang berbeda antara aku dan Evan malam itu. Topik obrolan kami pun berubah.

"Kak Niana cantik sekali malam ini, badannya juga luar biasa. Kak Evan bahagia sekali," ujar Rinto.

Wajah Rinto yang mabuk tampak merah, dia sengaja memperjelas kata 'bahagia'.

Aku mengerti maksudnya dan merasa sangat malu.

Evan hanya terkekeh santai, lalu berkata, "Ah, mana. Istrimu juga nggak kalah menarik, lain kali ajak ke sini, ya."

Mereka tertawa dan bercanda, sementara aku yang masih dalam keadaan basah merasa sangat gugup.

Begitu teringat dengan misi yang direncanakan Evan, tubuhku terasa makin panas dan bagian bawah tubuhku terasa gatal.

Aku tanpa sadar menyilangkan kakiku karena merasakan ada cairan yang keluar.

Setelah beberapa putaran minum, Evan memberiku tatapan kode, lalu berpura-pura bersandar lemas di meja dan berkata, "Aduh, pusing sekali, aku nggak kuat lagi ...."

Setelah mengatakan itu, Evan pun berbaring begitu saja, seolah benar-benar mabuk berat.

Rinto sempat bingung. "Loh? Padahal kita baru minum sedikit, kenapa dia sudah tumbang?" ujar Rinto.

Tatapannya pun beralih padaku. Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya. Mungkin karena dia juga mabuk, matanya menelusuri tubuhku tanpa malu-malu.

Aku bahkan mendengar suaranya menelan air liur. Setelah itu, aku buru-buru mengalihkan pandangan dengan berkata, "Rinto, Evan mabuk, bisa bantu angkat Evan ke kamar nggak?"

Aku dan Rinto memapah Evan ke dalam kamar.

Jantungku berdebar kencang.

Begitu sampai di ranjang, Evan langsung merebahkan diri. Di saat itulah, aku pun menguatkan tekadku, kemudian membungkuk untuk melepas sepatu Evan. Aku sengaja membungkukkan pinggangku lebih rendah, merapatkan kedua kakiku, lalu mengangkat pinggulku sedikit.

Aku merasa gugup sekali saat melakukan itu.

Rokku memang pendek dan Rinto berdiri di belakangku. Aku tahu dia pasti telah melihat keagungan terindah di balik rokku.

Sesuai dugaanku, aku bisa merasakan tubuh Rinto menjadi kaku, bahkan suara napasnya pun berubah menjadi lebih berat.

Aku merasa malu sekali. Sebagai seorang guru, bisa-bisanya aku menggoda rekan kerja Evan!

Namun, di sisi lain, aku merasakan sensasi yang sulit dijelaskan.

Mungkin aku memang wanita yang liar. Aku sudah bisa merasakan bagian bawah tubuhku sudah basah dan ia butuh sesuatu yang bisa mengisinya.

Rinto pasti sudah melihat itu, memalukan sekali!

Saat pikiranku masih kacau, tiba-tiba tubuh yang kekar memelukku dengan erat.

"Kak Niana, kamu menggoda sekali. Aku nggak tahan lagi!"

Wajah Rinto menempel di samping wajahku, napasnya membelai kulitku, panas dan mendesak.

Aroma maskulin yang menyeruak, bercampur samar dengan bau alkohol, mulai tercium. Pada saat yang sama, aku bisa merasakan ada bagian tubuhnya yang hangat tiba-tiba menempel di belakang pinggulku.

Dengan satu sentuhan itu, tubuhku pun melemas. Aku jatuh dalam pelukannya seolah-olah tidak ada tenaga sedikit pun.

Milik Rinto terasa besar dan kuat sekali. Jauh lebih hebat dari Evan.

Permainan Mustahil

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya